hayyyyy hayyyy hayyyyy semuanya jangan lupa follow aku dulu biar enak ahayyyy !!! 👋🤍
Siapa sangka, di kehidupan yang cuma sekali ini, kamu malah harus dipaksa menikah sama seseorang yang bahkan nggak kamu kenal?
Itulah yang terjadi sama Ema.
Awalnya Ema pikir pernikahan ini cuma urusan bisnis antara keluarganya dan keluarga Damian. Setelah menikah, mereka bisa menjalani kehidupan masing-masing seperti biasa.
Tapi ternyata, Ema salah besar.
Semenjak tinggal bersama Damian dan keluarganya, Ema mulai merasa ada yang aneh.
Mereka terlalu banyak menyimpan rahasia.
Dan semakin Ema mencoba mencari tahu, semakin ia sadar kalau keluarga yang sekarang menjadi keluarganya itu... sama sekali bukan keluarga biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon crowell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 8
“Lepaskan dia, sialan! Lepaskan dia kalau kau nggak mau aku membunuhmu detik ini juga!” bentak Damian dengan suara dingin yang mengandung ancaman.
Tatapan mata merahnya menajam, menatap tajam vampir asing yang masih berani mencengkeram tubuh Emma. Rahang Damian mengeras, sementara kedua tangannya mengepal kuat menahan amarah yang kian meluap.
Namun, vampir aneh itu justru menyeringai tipis. Alih-alih takut, dia malah semakin mengeratkan pegangannya pada Emma seolah sengaja memancing kemarahan Damian.
“Memangnya kau pikir perempuan ini sudah menjadi milikmu?” ejeknya dengan nada meremehkan. Dia melirik Emma sekilas sebelum kembali menatap Damian. “Kau dan dia bahkan belum memiliki ikatan apa pun dalam dunia vampir. Jadi, atas dasar apa kau mengklaim perempuan ini sebagai milikmu?”
“Va-vampir?” Emma mengulang perkataan pria itu dengan suara terbata-bata.
Matanya membulat sempurna. Dia menoleh ke arah Damian, kemudian ke arah Raina yang berdiri tak jauh darinya. Wajah Emma perlahan memucat ketika menyadari bahwa pria asing itu bukan satu-satunya orang yang memiliki mata merah dan taring tajam.
“Jadi, kalian benar-benar vampir?” tanyanya lirih, nyaris tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
Jantung Emma berdegup semakin kencang. Selama ini, dia mengira semua hal tentang vampir hanyalah cerita fiksi yang sering dibacanya. Namun, sekarang dia justru berada di tengah-tengah mereka, bahkan menikah dengan salah satunya!
Vampir asing itu terkekeh mendengar pertanyaan Emma. Dia memiringkan kepalanya, lalu menatap gadis itu dengan senyum mengejek.
“Jadi, kau belum tahu kalau suamimu dan seluruh keluarganya adalah vampir?” tanyanya pura-pura terkejut. “Oh, astaga. Ternyata kau manusia manis yang begitu polos. Saking polosnya, kau bahkan bisa ditipu dan diperdaya oleh vampir seperti mereka.”
“Diam! Apa yang sedang kau bicarakan kepada menantuku?!” teriak Raina dengan wajah memerah karena amarah.
Perempuan itu melangkah maju, sorot matanya berubah tajam saat melihat Emma yang semakin ketakutan dalam cengkeraman vampir asing tersebut.
“Jangan berani-berani menanamkan pikiran buruk di kepalanya!” lanjut Raina dengan suara lantang. “Kalau kau masih menyayangi nyawamu, lepaskan Emma sekarang juga!”
“Cih, kau masih saja banyak bicara, Ratu Raina,” balas vampir itu sambil menyeringai. Dia bahkan sama sekali tidak terlihat gentar menghadapi ancaman Raina.
Mendengar pria itu menyebut nama Raina dengan nada mengejek, Emma semakin bingung. Siapa sebenarnya pria ini? Dan mengapa dia berani memperlakukan keluarga Damian seperti itu?
Belum sempat Emma melontarkan pertanyaan lain, Damian kembali bersuara. Kali ini, suaranya terdengar jauh lebih rendah, tetapi justru terasa semakin mengerikan.
“Berani sekali kau menyentuh milikku,” desis Damian sambil menatap tangan pria itu yang masih mencengkeram Emma.
Dia melangkah mendekat. Udara di sekitar mereka seolah berubah dingin, sementara tatapan Damian tak pernah lepas dari wajah vampir yang telah menguji kesabarannya.
“Lepaskan dia sebelum aku benar-benar kehilangan kesabaran,” ancamnya, memberikan kesempatan terakhir kepada pria itu.
Vampir asing tersebut malah tertawa kecil. “Milikmu? Kau terlalu percaya diri, Damian. Jangan-jangan kau sendiri belum tahu bagaimana cara mengikat seorang manusia agar benar-benar menjadi milikmu di dunia vampir.”
Seketika, ekspresi Damian berubah semakin kelam.
“Sepertinya kau memang sudah bosan hidup,” gumamnya dingin.
Damian tak lagi peduli dengan perkataan pria itu. Baginya, satu hal yang paling penting saat ini adalah melepaskan Emma dari cengkeramannya. Dia tidak suka melihat orang lain menyentuh gadis itu, terlebih lagi jika orang tersebut sengaja melakukannya untuk memancing amarahnya.
“Dengar baik-baik,” ucap Damian, menatap lawannya tanpa sedikit pun keraguan. “Kalau kau masih berani menyentuhnya sekali lagi, akan ku pastikan tak ada seorang pun yang berani menyentuh jasadmu setelah aku selesai denganmu.”
Ancaman itu terdengar begitu tenang, tetapi justeru sangat mematikan Emma menelan ludah dengan susah payah. Dia benar-benar tidak tahu harus merasa lega karena Damian berusaha melindunginya atau justru takut karena pria yang kini berdiri di hadapannya ternyata bukan manusia biasa.
Ya Tuhan, aku menikah dengan vampir sungguhan? batinnya panik.
Dan yang lebih mengerikan, sepertinya suaminya itu bukan vampir biasa.
“Kalau kau masih punya keinginan untuk hidup, jangan pernah menyentuh istriku lagi,” desis Damian dengan tatapan mengerikan.
Vampir itu justru tertawa meremehkan. Tangannya masih mencengkeram lengan Emma, seolah sengaja memperlihatkan bahwa ancaman Damian sama sekali tidak membuatnya takut.
“Cih, kau pikir aku takut padamu? Jangan lupa, Damian, aku bukan vampir sembarangan. Lagipula, perempuan ini bahkan belum sepenuhnya menjadi milikmu.”
BUGH!
Satu pukulan keras mendarat tepat di wajah vampir itu.
Emma terpekik ketika tubuh pria yang mencengkeramnya terhuyung ke samping. Pegangannya terlepas, tetapi sebelum Emma sempat menjauh, Damian sudah menariknya ke belakang tubuhnya.
“Emma, mundur!” perintah Damian tajam.
Tanpa membantah, Emma segera berlari kecil ke arah Raina yang langsung meraih tangannya.
“Ya Tuhan, Damian!” seru Raina, tetapi matanya tak lepas dari putranya.
Sementara itu, vampir asing tersebut perlahan menegakkan tubuhnya. Dia menyeka sudut bibirnya, lalu menatap Damian dengan wajah penuh amarah.
“Berani sekali kau memukulku!”
Damian memiringkan kepalanya, kemudian menyeringai dingin.
“Dan kau masih berani bicara?”
Dalam sekejap, Damian kembali menerjangnya.
Keduanya bertarung dengan kecepatan yang sulit diikuti mata manusia. Suara benturan terdengar bertubi-tubi ketika mereka saling menyerang. Vampir asing itu berusaha membalas, tetapi Damian tak memberinya banyak kesempatan.
Brak!
Tubuh vampir itu terhempas ke lantai.
Belum sempat dia bangkit, Damian sudah mencengkeram kerah bajunya dan menariknya berdiri hanya untuk menghantamkannya kembali ke dinding.
Dinding itu bergetar akibat benturan keras tersebut.
“Damian, cukup!” teriak Raina.
Namun, seolah tak mendengar suara ibunya, Damian kembali melayangkan pukulan. Wajahnya begitu dingin, tetapi sorot matanya menyimpan amarah yang nyaris tak terbendung.
“Kau berani menyentuhnya?” geram Damian.
Satu pukulan kembali mendarat.
“Kau berani membuatnya ketakutan?”
Pukulan berikutnya membuat vampir itu terjatuh berlutut.
“Dan kau masih punya keberanian untuk menyebutnya bukan milikku?!”
Damian mencengkeram bagian depan pakaian pria itu, lalu mengangkatnya hingga kedua kaki vampir tersebut nyaris tak menapak lantai.
“Aku akan membuatmu menyesali hari ketika kau memutuskan untuk mendekati istriku.”
“Da-Damian...” Emma bergumam dari kejauhan.
Namun, Damian tak menoleh sedikit pun.
Dia melemparkan vampir itu ke lantai, lalu melangkah mendekat dengan tatapan yang membuat siapa pun enggan berada di hadapannya.
Vampir asing itu mencoba bangkit, tetapi Damian segera menginjak bagian depan pakaiannya, menahannya agar tidak bisa melarikan diri.
“Sekarang, siapa yang akan kau hina?” tanyanya lirih.
Pria itu mendongak dengan napas memburu. Untuk pertama kalinya sejak tadi, tak ada lagi senyum mengejek di wajahnya.
“Damian, hentikan!” Raina berteriak sambil bergegas menghampiri putranya. “Kau bisa membunuhnya!”
“Aku memang berniat melakukannya, Ma!” balas Damian dingin.
Jawaban itu membuat Emma membelalak.
Damian menunduk, kembali mencengkeram kerah vampir tersebut. Jari-jarinya mengencang, sementara tatapannya tak menunjukkan sedikit pun belas kasihan.
“Seharusnya aku menghabisimu sejak tadi,” bisiknya penuh ancaman. “Sayangnya, aku masih memberimu kesempatan untuk meminta ampun.”
“Aku tidak akan pernah memohon kepadamu!” balas vampir itu, berusaha mempertahankan harga dirinya.
Damian terkekeh pelan.
“Bagus. Berarti kau sudah menentukan nasibmu sendiri.”
Dia mengangkat tangannya sekali lagi.
“DAMIAN!”
Suara Emma mendadak terdengar begitu jelas di tengah ketegangan itu.
Gerakan Damian terhenti.
Dengan napas gemetar, Emma menatap suaminya. Wajahnya pucat, kedua tangannya saling meremas, tetapi dia tetap berusaha bersuara.
“Cukup... aku takut,” ucapnya lirih.
Untuk beberapa detik, Damian tak bergerak.
Tatapannya masih tertuju pada vampir yang berada di bawahnya. Amarahnya belum mereda, bahkan setiap kali mengingat bagaimana pria itu mencengkeram Emma, keinginannya untuk menghabisinya kembali membara.
Namun, ketika mendengar suara Emma yang bergetar, tangannya perlahan turun.
Damian melepaskan cengkeramannya, lalu berdiri tegak.
“Anggap dirimu beruntung,” katanya dingin kepada vampir itu. “Istriku baru saja menyelamatkan nyawamu.”
Dia berbalik dan berjalan menghampiri Emma. Tanpa banyak bicara, Damian menarik gadis itu ke dalam pelukannya, satu tangannya melindungi kepala Emma agar wajahnya tersembunyi di dada bidangnya.
“Sudah. Aku di sini,” gumamnya pelan untuk pertama kalinya entah mengapa ada rasa ketidak relaan nya jika Emma di sentuh oleh lelaki lain padahal baru satu hari mereka menjadi suami istri.
Emma mencengkeram pakaian Damian erat-erat.
Sementara itu, Raina menatap vampir yang terkapar di lantai dengan ekspresi muram.
“Bawa dia pergi dari hadapanku,” perintahnya kepada para pelayan yang mulai berdatangan. “Dan pastikan dia tidak pernah menginjakkan kaki di kediaman ini lagi.”
Namun, sebelum diseret pergi, vampir itu mendongak dan menatap Damian dengan senyum tipis.
“Ini belum berakhir, Damian.”
Damian menoleh sekilas.
“Kalau kau masih ingin mencoba keberuntunganmu, datanglah lagi.”ucap nya Tatapannya berubah tajam.“Kali berikutnya, Emma tidak akan berada di sini untuk menyelamatkanmu.”
eh thor update gih utusan istrahat nanti di akhirat 😍🤭