NovelToon NovelToon
Cinta Terlarang Di Pabrik Sawit

Cinta Terlarang Di Pabrik Sawit

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Cinta Terlarang
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Siska Delvi

Nadia seorang gadis yang diterima kerja sebagai admin di sebuah pabrik sawit di kabupaten Dharmasraya sumatera Barat terlibat cinta terlarang dengan asisten manager di pabrik sawit tersebut yang bernama Arif, mereka sama-sama tidak bisa memendam perasaan karena sering bertemu di tempat pekerjaan, padahal mereka sama-sama punya tunangan di kampung nya masing-masing siapa kah nanti yang akan di pilih Nadia apakah Arif Assisten Manager atau Tunangannya yang bernama Rizki seorang guru sejarah di kampung halamannya di padang panjang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siska Delvi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 Hujan dan Korban Perjodohan

Sore jam lima, hujan turun deras di Dharmasraya.

Bukan hujan biasa. Hujan badai. Angin kencang, petir menyambar-nyambar, dan listrik pabrik mati total. Genset utama belum bisa nyala karena solarnya telat datang.

Semua karyawan disuruh pulang cepat ke mess masing-masing. Suasana gelap, hanya senter dan lilin.

Nadia masih di ruang administrasi, sendirian. Ia sedang bereskan laporan bulanan yang tadi siang berantakan karena ulah Karin di klinik. Rambut panjangnya yang biasanya diikat kuda, sekarang agak berantakan karena keringat dan capek.

Lampu mati. Laptop mati. Ruangan gelap.

"Ya Allah, mati lampu," gumam Nadia. Ia raba-raba meja cari senter kecil yang selalu dibawa Mbak Sari.

Pintu ruang administrasi terbuka. Arif masuk dengan senter besar dan jas hujan plastik yang basah kuyup.

"Nad? Masih di sini? Semua sudah disuruh pulang ke mess. Hujan badai," kata Arif, sorot senternya ke arah Nadia.

Nadia berdiri. "Iya, Pak. Saya bereskan laporan dulu. Tadi kan berantakan gara-gara... gara-gara cek kesehatan."

Arif mengangguk paham. Ia tahu Nadia masih sakit hati karena karung pupuk 25 kilo pagi tadi.

"Sudah, tinggalkan dulu. Tidak aman di sini. Genset mati. Kita ke ruang genset saja. Di sana ada genset kecil untuk lampu darurat. Lebih aman daripada di sini gelap," kata Arif.

Nadia ragu. Ruang genset itu di belakang pabrik, agak jauh, sepi.

Tapi petir besar menyambar di luar, bikin kaca jendela bergetar. Nadia kaget.

"Oke, Pak," kata Nadia akhirnya.

Mereka berdua jalan terobos hujan deras dengan satu jas hujan plastik dibagi berdua. Jarak dari ruang administrasi ke ruang genset sekitar 50 meter, tapi karena hujan deras, mereka berdua basah kuyup.

Sampai di ruang genset, ruangan itu kecil, bau solar, hanya ada satu genset kecil yang berdengung pelan untuk lampu darurat. Lampu kuning kecil menyala redup.

Mereka berdua duduk di atas karung bekas, basah, kedinginan.

Nadia rambut panjangnya basah kuyup, menempel di pipi. jadi rambutnya terlihat jelas basah. Ia kedinginan, dan memeluk lutut nya.

Arif melihat Nadia kedinginan, ia lepas jaket kerjanya yang agak kering dan memberikan ke Nadia.

"Pakai, Nad. Nanti masuk angin," kata Arif.

Nadia terima jaket itu. Jaket Arif bau oli dan keringat, tapi hangat.

"Terima kasih, Pak," kata Nadia pelan.

Hujan masih deras di luar. Petir masih menyambar. Mereka berdua terjebak di ruang genset yang sempit, hanya berdua, dengan lampu kuning redup.

Hening lama.

Akhirnya Arif buka suara duluan.

"Nad, maaf ya soal tadi pagi. Soal Karin suruh kamu angkat pupuk. Saya tidak tahu dia akan begitu. Saya sudah tegur dia," kata Arif pelan.

Nadia menggeleng, menatap lantai.

"Gak apa-apa, Pak. Saya sudah biasa. Dari kecil saya sudah biasa disuruh-suruh. Di rumah juga begitu. Mama suruh saya nikah sama Rizki, saya tidak bisa nolak. Di sini, Dr. Karin suruh saya angkat pupuk, saya juga tidak bisa nolak," kata Nadia, suaranya pelan, hampir hilang oleh suara hujan.

Arif menatap Nadia.

"Kamu tidak mau nikah sama Rizki, Nad?" tanya Arif hati-hati.

Nadia diam lama, lalu angguk pelan. Air matanya jatuh, bercampur air hujan di pipinya.

"Saya sebenarnya gak mau, Pak. Rizki orang nya baik, tapi saya tidak bisa mencintai dia. Saya cuma... saya cuma takut sama Mama. Mama bilang kalau saya tidak nikah sama Rizki, Mama malu sama tetangga. Pelaminan Ivory Cream sudah dipesan, undangan sudah disebar. Kalau batal, Mama yang malu. Jadi saya yang harus jadi korban," kata Nadia, akhirnya curhat semua yang ia pendam sebulan ini.

Arif mengangguk, paham betul.

"Sama, Nad. Saya juga sama," kata Arif pelan. "Saya gak cinta sama Karin. Karin cantik, dokter, tapi saya tetap gak bisa mencintai dia. Saya tunangan sama dia karena Mama saya dan Mama Karin teman arisan. Dari saya kuliah di Padang, sudah dijodohkan. Saya tidak pernah berani bilang tidak. Tiga tahun saya pacaran sama Karin karena terpaksa, bukan karena sayang. Sama seperti kamu."

Nadia menatap Arif, kaget. Ternyata Arif sama persis seperti dia.

"Jadi kita sama-sama korban perjodohan ya, Pak?" tanya Nadia dengan senyum sedih.

Arif tertawa kecil, pertama kalinya Nadia lihat Arif tertawa lepas, bukan senyum miring.

"Iya, Nad. Kita sama. Korban perjodohan. Bedanya, kamu korban pelaminan Ivory Cream, saya korban cincin berlian 2 karat," canda Arif.

"heee... hee.. "

Nadia ikut tertawa, padahal matanya masih basah.

Hujan masih deras, tapi suasana di ruang genset yang sempit dan bau solar itu jadi hangat. Bukan karena genset, tapi karena dua orang yang sama-sama terjebak akhirnya bisa curhat tanpa takut dihakimi.

"Pak, kalau kita sama-sama tidak mau dijodohkan, kenapa kita gak berani bilang tidak ya?" tanya Nadia polos.

Arif menatap lampu kuning redup di atas mereka.

"Karena kita sayang sama orang tua kita, Nad. Kita takut Mama kita sedih. Jadi kita pilih sedih sendiri daripada Mama sedih. Bodoh ya?" jawab Arif.

Nadia mengangguk. "Iya, bodoh. Tapi bodoh yang tulus."

Mereka berdua diam lagi, tapi diam yang nyaman, bukan diam yang canggung.

Di luar, hujan mulai reda sedikit. Lampu pabrik masih mati.

Arif berdiri. "Hujannya udah redah nad. Kita balik ke mess ya. Nanti dicari Pak Hendra."

Nadia berdiri juga, kembalikan jaket Arif.

"Terima kasih jaketnya, Pak."

"Pakai saja dulu sampai mess. Kamu masih basah," kata Arif.

Mereka berdua jalan keluar dari ruang genset, masih dengan satu jas hujan dibagi berdua, jalan pelan di lumpur yang becek.

Tidak ada yang pegangan tangan, tidak ada yang pelukan. Hanya jalan berdampingan, dengan jarak setengah meter.

Tapi di mata satpam yang jaga dari jauh dengan senter, mereka terlihat seperti dua orang yang sangat dekat.

Satpam itu foto diam-diam dari jauh. Foto Nadia dan Arif jalan berduaan di hujan, pakai satu jas hujan, dengan jaket Arif di bahu Nadia.

Foto itu, besok paginya, akan dikirim ke grup WA pabrik. Dan akan jadi awal dari kebocoran besar di Bab 23 nanti.

Tapi malam itu, di ruang genset yang bau solar, untuk pertama kalinya Nadia dan Arif merasa tidak sendirian lagi di pabrik Dharmasraya.

Mereka punya teman senasib. Korban perjodohan.

Bersambung

---

1
𝐀⃝🥀Weny
semoga kalian berjodoh🤲 tambah up lagi dong thor 😊
𝐀⃝🥀Weny: 😊😊😊😊😊
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!