Xu Natalia, wanita yang diam-diam mengangkat keluarga Li dari rakyat biasa menjadi bangsawan, justru dihina saat suaminya, Li Adrian, pulang dari perang membawa istri lain. Tanpa banyak kata, ia memilih bercerai dan pergi hanya dengan harga dirinya.
Tak ada yang tahu wanita yang mereka remehkan adalah putri kaisar dari negeri seberang sekaligus ahli pengobatan yang mampu mengubah takdir.
Bagaimanakah saat keluarga Li tahu identitas Natalia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Frustasi
Di dalam tenda sederhana itu, cahaya lampu minyak bergoyang pelan diterpa angin malam. Natalia duduk di depan meja kayu, dipenuhi catatan dan botol-botol kecil berisi sampel.
Tangannya bergerak cepat, menulis dan sesekali mengamati cairan di dalam vial. Wajahnya serius, tanda ia belum benar-benar selesai dengan masalah wabah ini.
Wulan duduk di seberangnya, memperhatikan dengan cermat. Ia tampak ragu-ragu tapi rasa penasarannya besar, dan akhirnya membuka suara.
“Nona, tentang wabah yang bermutasi ini,” ucap Wulan pelan. “Apakah benar ini bukan wabah biasa?”
Natalia tidak langsung menjawab. Ia menutup salah satu botol, lalu menghela napas panjang.
“Bukan,” katanya singkat.
Wulan menelan ludah. “Lalu ini apa sebenarnya?”
Natalia mengangkat pandangannya. Tatapannya tajam dan penuh perhitungan.
“Ada seseorang yang sengaja menciptakan ini,” ucapnya tenang. “Seseorang yang ingin menghancurkan Kekaisaran Pedang Langit.”
Wulan langsung terkejut. “Menghancurkan?”
Natalia mengangguk pelan. “Wabah ini terlalu terstruktur untuk sesuatu yang alami.”
Hening sejenak memenuhi tenda.
“Kalau begitu .…” Wulan menggenggam tangannya sendiri. “Bagaimana kita bisa tahu siapa pelakunya, Nona?”
Natalia tersenyum tipis. Senyum yang membuat Wulan sedikit merinding. “Aku punya caranya,” katanya ringan.
Wulan mengerjap. “Cara apa?”
Natalia hanya mengangkat bahu kecil. “Besok kau akan tahu.”
Wulan terdiam. Ia tahu jika nona mudanya sudah berkata seperti itu, maka rencananya pasti tidak sederhana.
Namun beberapa detik kemudian, ekspresi Wulan berubah menjadi ragu. Ia tampak ingin mengatakan sesuatu lagi.
“Nona,” panggilnya pelan.
“Hm?” sahut Natalia tanpa mengalihkan fokus sepenuhnya.
“Bagaimana dengan Pangeran Kedua? Sepertinya dia menyukai Nona,” ujar Wulan hati-hati.
Gerakan tangan Natalia langsung berhenti. Ia perlahan mengangkat wajahnya. Ekspresinya berubah masam.
“Dia itu pangeran gila,” jawabnya tanpa ragu.
Wulan langsung meringis kecil. “Bisa-bisanya mengajak orang menikah begitu saja,” lanjut Natalia kesal. “Dan mengatakan aku lebih indah dari lebah.”
Wulan hampir tersedak. “Lebah, Nona?”
Natalia menghela napas panjang. “Entah bunga atau lebah, pokoknya aneh.”
Ia memijat pelipisnya pelan. “Seandainya dia bukan pangeran tiran .…”
Wulan menatapnya tegang.
“Aku mungkin sudah menyuntik mati dirinya,” lanjut Natalia datar.
Wulan langsung duduk tegak. “Nona .…”
Natalia menghela napas lagi. Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi.
“Aku kesal,” katanya pelan. “Tapi aku tahan.”
Wulan mengangguk kecil. Ia bisa memahami.
“Apalagi…” Natalia melanjutkan, suaranya lebih kecill. “Aku pernah mendengar rumor tentangnya.”
Wulan menelan ludah. “Rumor?”
Natalia menatap kosong ke arah lampu minyak. “Seorang gadis bangsawan pernah berpura-pura jatuh di dekatnya.”
Wulan mulai merasa tidak enak.
“Dan .…” Natalia berhenti sejenak. “Dia langsung menebasnya tanpa ragu.”
Hening.
Wulan merinding. “Seram sekali.”
Natalia mengangguk pelan. “Itulah kenapa aku tidak berani macam-macam.”
Ia menggosok lengannya sendiri, seolah mengusir rasa dingin yang tiba-tiba muncul.
“Pangeran itu .…” gumamnya. “Tidak bisa ditebak.”
Wulan menatapnya dengan hati-hati. “Tapi, sepertinya dia berbeda saat bersama Nona.”
Natalia langsung menatapnya tajam. “Jangan mulai.”
Wulan langsung menutup mulutnya. “Baik, Nona.”
Beberapa saat kemudian, Natalia menghela napas panjang. Ia merapikan semua catatannya.
“Sudahlah,” katanya. “Besok kita masih harus bekerja keras.”
Wulan mengangguk. “Benar, Nona.”
Natalia mengangkat tangannya sedikit. Dalam sekejap, sebuah kasur lipat empuk muncul dari ruang dimensinya.
Wulan langsung tersenyum kecil. “Ini selalu praktis.”
Natalia hanya mengangguk singkat. Ia sudah terlalu lelah untuk bercanda. Keduanya berbaring di atas kasur itu. Lampu minyak perlahan diredupkan.
Di luar, suara malam terdengar tenang. Namun di dalam tenda, pikiran mereka masih dipenuhi banyak hal.
Tak butuh waktu lama, kelelahan akhirnya menang. Natalia dan Wulan pun tertidur lelap.
*
Di sisi lain, di bawah langit malam yang gelap dan hanya diterangi cahaya bintang, Pangeran Tian duduk di depan api unggun yang mulai mengecil. Wajahnya datar, tetapi sorot matanya jelas menyimpan kekesalan yang sulit disembunyikan. Ia menatap bara api seolah berharap bisa menemukan jawaban di sana.
Reno yang duduk di seberangnya sesekali melirik, merasa suasana hati tuannya tidak biasa. Ia tahu, sejak peristiwa siang tadi, sang pangeran jadi lebih sering melamun. Namun kali ini, aura frustasi itu terasa jauh lebih nyata.
“Aku ini kurang tampan?” tanya Pangeran Tian tiba-tiba, tanpa menoleh.
Suaranya tenang, tetapi terdengar sangat serius. Reno langsung tersedak ludahnya sendiri karena pertanyaan itu.
“Ti–tidak, Yang Mulia!” Reno buru-buru menggeleng kuat. Ia bahkan mengangkat kedua tangannya, memperagakan dengan ekspresi dramatis. “Justru Yang Mulia sangat tampan! Para gadis biasanya menjerit hanya dengan sekali tatapan!”
Pangeran Tian akhirnya menoleh pelan, menatap Reno dengan tatapan datar. “Lalu apa aku kurang tegas? Kurang berwibawa?” tanyanya lagi, alisnya sedikit berkerut. Nada suaranya masih sama, tetapi kini ada sedikit tekanan.
Reno langsung duduk lebih tegak, wajahnya berubah serius. “Mustahil, Yang Mulia! Anda tegas, berwibawa, bahkan nyaris sempurna di mata siapa pun.” Ia mengangguk mantap, seolah bersumpah atas ucapannya sendiri.
Pangeran Tian menyipitkan mata, menatap Reno dari atas ke bawah. “Kau normal, bukan?” tanyanya tiba-tiba dengan nada curiga.
Reno langsung membeku sesaat sebelum tertawa kaku.
“Tentu saja, Yang Mulia! Saya sangat normal!” jawab Reno cepat, hampir panik. Ia bahkan menepuk dadanya sendiri untuk meyakinkan.
Pangeran Tian mengangguk pelan, tampak sedikit lega. Ia kembali menatap api unggun yang mulai redup, lalu menghela napas panjang. “Kalau begitu kenapa Nona Natalia tidak menyukaiku? Padahal aku sudah merayunya bahkan mengajaknya menikah,” gumamnya.
Reno terdiam sejenak, lalu menjawab dengan hati-hati. “Mungkin karena Nona Natalia masih memiliki ikatan dengan suaminya, Yang Mulia.” Ia melirik sekilas, memastikan reaksinya aman.
“Mantan suami,” koreksi Pangeran Tian.
“Belum mantan, Pangeran. Pria itu masih suaminya,” balas Reno dengan jujur, meski suaranya sedikit mengecil. Ia tahu topik ini cukup sensitif.
Pangeran Tian langsung mengangkat kepalanya, sorot matanya berubah tajam. “Sebentar lagi mantan,” katanya singkat dan tegas. Ia menyilangkan tangan di dada, seolah sudah memutuskan sesuatu.
“Anggap saja seperti itu,” lanjutnya santai, meski ada nada dingin terselip.
Reno hanya bisa tersenyum kaku, tidak berani menanggapi lebih jauh.
Namun saat Reno hendak membuka mulut lagi, tiba-tiba ia berhenti. Suasana malam yang semula tenang mendadak terasa berbeda, seperti ada sesuatu yang mengusik keheningan.
Langkah kaki samar terdengar dari kejauhan, ringan tapi sangat jelas bagi telinga mereka. Pangeran Tian langsung menegang, sementara Reno refleks menginjak api unggun hingga padam seketika.
Kegelapan langsung menyelimuti area itu, hanya menyisakan cahaya bulan yang redup. Keduanya kini diam, napas mereka tertahan, fokus sepenuhnya pada suara yang semakin mendekat.
Wajah Pangeran Tian berubah dingin, seluruh aura santainya lenyap tanpa sisa. Matanya menyipit tajam ke arah sumber suara, penuh kewaspadaan.
“Sepertinya ada seseorang yang ingin mencari masalah malam ini.”