Desa Langgur gempar. Tanah yang sudah basah, sumur berubah air merah, dan galian di bawah pohon mangga menemukan sesuatu yang seharusnya tidak ditemukan.
Ara tidak tahu, di bawah rumahnya ada tambang, di bawah pohon keramat Revan ada peti emas berdarah yang dijaga arwah leluhur.
Sejak peti itu dibuka, teror datang. Rumah Ara dibakar, sidang adat di kota, dan Langgur harus merdeka dari kutukan.
Pohon Revan yang tidak mau mati itu menuntut tumbal.
Apa isi peti emas di bawah akar itu? Dan kenapa bayi Revani bisa melihat Revan?
Kisah horor thriller tanah Maluku yang bikin merinding dari Bab 1 sampai Bab 35 Tamat!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Una Lam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 Mimpi terakhir Ara
Malam setelah peresmian Tugu Revan dan 12 rumah baru, Langgur tidur nyenyak semua karena capek gotong-royong seharian. Lampu genset baru sudah dimatikan jam sepuluh malam biar hemat solar, jadi Langgur gelap lagi tapi gelap yang tenang, bukan gelap yang takut seperti dulu ada peti emas.
Ara tidur di rumah barunya, rumah yang juga baru dibangun pakai uang warisan Dion, rumah batu bata putih dengan jendela kaca besar. Di samping tempat tidurnya, ada kotak kayu berisi jaket hitam robek Revan dan debu emas kalung R dan A.
Sudah satu tahun lebih satu bulan sejak Revan hilang selamanya setelah Pohon Revan ditebang. Satu tahun lebih Ara tidak pernah mimpiin Revan lagi, tidak pernah lihat bayangan Revan lagi, tidak pernah cium wangi bunga mangga lagi kecuali dari Pohon Revan Baru.
Tapi malam itu, jam dua belas malam tepat, angin laut bertiup masuk lewat jendela kaca rumah baru Ara yang sedikit terbuka, membawa wangi bunga mangga yang sangat harum, harum yang tidak ada di Langgur setahun ini, harum yang sama seperti jaket Revan dulu.
Ara yang sedang tidur pulas, tiba-tiba merasa dingin dan harum, dan dia membuka mata pelan-pelan.
Dia tidak ada di kamar rumah barunya lagi!
Dia ada di bawah Pohon Revan yang besar yang lama! Pohon Revan yang sudah tumbang setahun lalu! Pohon itu berdiri tegak lagi! Rimbun! Hijau mengkilap! Daunnya banyak!
Di bawah pohon itu, ada Tugu Revan yang baru dibangun itu, tapi tugunya masih baru mengkilap, tidak ada lumut.
Dan di samping tugu itu, duduk seorang pemuda pakai jaket hitam, jaket yang robeknya sudah hilang, sudah bagus lagi, jaket yang dipakai Ara dulu.
Pemuda itu membelakangi Ara, tapi Ara langsung kenal punggung itu, rambutnya, jaketnya.
"VAN?" bisik Ara dengan suara gemetar.
Pemuda itu berbalik pelan-pelan.
Itu Revan! Wajahnya yang sama seperti setahun lalu, senyumnya yang sama, tapi sekarang wajahnya lebih terang, lebih bersih, tidak pucat seperti hantu lagi, tapi seperti orang yang habis mandi dan wangi.
"Hai, Ra," kata Revan dengan suara yang masih sama, suara yang kangenin Ara setahun ini.
Ara langsung berlari dan memeluk Revan! Memeluk erat! Bukan memeluk tugu batu dingin lagi, tapi memeluk orang beneran! Hangat!
"VAN! VAN! KAMU DATANG LAGI! AKU KIRA KAMU HILANG SELAMANYA! KATA KAMU KALAU POHON DITEBANG KAMU TIDAK AKAN DATANG LAGI BAHKAN DI MIMPI!"
Revan membalas pelukan Ara dan mengelus rambut Ara pelan.
"Aku memang janji tidak akan datang lagi kalau pohon ditebang, Ra. Dan aku tepati setahun ini. Aku tidak datang. Tapi hari ini, kalian bangun tugu untuk aku, kalian bangun 12 rumah baru, kalian maafkan Dion, kalian rawat Pohon Revan Baru sampai berbuah. Kalian sudah buktikan Langgur bisa jaga diri sendiri tanpa aku. Jadi aku boleh datang satu kali lagi, untuk pamit beneran."
Ara yang dengar kata pamit beneran, langsung lepas pelukan dan menatap Revan dengan mata berkaca-kaca.
"Pamit beneran? Maksudnya kamu akan pergi lagi? Tidak akan datang lagi selamanya?"
Revan mengangguk pelan sambil tersenyum, senyum yang sedih tapi ikhlas.
"Iya, Ra. Ini mimpi terakhir kita. Setelah ini aku harus pergi ke tempat yang lebih jauh lagi, tempat penjaga-penjaga lain yang sudah selesai tugasnya. Tempat yang tidak bisa aku datangi lagi ke Langgur, bahkan lewat mimpi. Tapi aku tenang, Ra, karena Langgur sudah aman, sudah terang, sudah punya sekolah baru."
Revan mengeluarkan sesuatu dari saku jaket hitamnya. Itu adalah kalung batu kecil R dan A yang dulu pecah jadi debu emas, tapi sekarang sudah utuh lagi! Batu R dan A itu menyatu lagi, berkilau emas!
"Ini aku balikin, Ra. Batu R dan A yang dulu pecah karena lindungi kamu dari peti. Sekarang sudah utuh lagi, karena tugasnya sudah selesai. Simpan ini, bukan sebagai jimat, tapi sebagai kenangan kalau kita pernah jaga Langgur sama-sama."
Ara menerima batu R dan A yang utuh itu dengan tangan gemetar dan langsung kalungkan di lehernya.
"Van, aku masih kangen, Van. Walaupun Langgur sudah aman, aku masih kangen kamu jagain aku."
Revan memegang tangan Ara dan menaruh tangan Ara di dadanya, di jantungnya.
"Aku tidak akan hilang, Ra. Aku ada di sini. Di Pohon Revan Baru itu, di buah mangganya yang lima itu, di tugu batu hitam itu, di angin laut Langgur. Setiap kamu cium wangi bunga mangga, itu aku. Setiap daun Pohon Revan Baru bergoyang, itu aku yang elus kepala kamu."
Revan berdiri dan melihat ke arah laut Langgur yang gelap tapi ada lampu-lampu kecil dari perahu baru.
"Waktuku habis, Ra. Aku harus pergi sekarang."
Revan mulai berjalan menjauh dari Ara, menuju ke arah Pohon Revan besar itu yang daunnya mulai rontok lagi pelan-pelan, seperti mau tumbang lagi.
"VAN! JANGAN PERGI!" Ara berteriak dan mau kejar Revan, tapi kakinya tidak bisa bergerak, seperti terikat akar pohon.
Revan berbalik sekali lagi dan melambaikan tangan, dengan senyum terakhirnya.
"Jaga Langgur ya, Ra. Jaga Dion. Jaga Pohon Revan Baru. Dan jangan lupa, kalau kangen, makan mangganya. Manis."
Setelah itu, Pohon Revan besar itu tumbang lagi di dalam mimpi itu, BRAK! Dan Revan hilang bersama pohon itu, menjadi cahaya keemasan kecil yang terbang ke langit dan menjadi bintang paling terang di atas Langgur.
Ara terbangun di kamar rumah barunya dengan napas ngos-ngosan dan air mata penuh di pipi.
Jam di dinding menunjukkan jam 12.05 malam, hanya 5 menit dari jam 12 malam.
Di lehernya, kalung batu R dan A yang utuh itu masih ada! Bukan mimpi! Batu itu benar-benar kembali utuh!
Di luar jendela, Pohon Revan Baru yang di samping Tugu Revan itu bergoyang pelan walaupun tidak ada angin, dan dari arah tugu, terdengar suara lonceng kecil dari buah mangga yang bergoyang.
Ara keluar rumah dengan kalung R dan A di lehernya, berlari ke bawah Pohon Revan Baru dan Tugu Revan itu, memeluk tugu batu hitam yang dingin itu lagi, tapi kali ini tidak sedih, tapi senyum sambil nangis.
"Selamat jalan ya, Van. Terima kasih untuk mimpi terakhirnya. Aku janji jaga Langgur. Dan kalau kangen, aku makan mangganya."
Di langit malam Langgur, bintang paling terang yang tadi di mimpi Ara, sekarang ada beneran, bersinar sangat terang di atas Tugu Revan, berkedip-kedip seperti mata Revan yang bilang, "Aku sudah sampai di tempat tenang, Ra. Jangan khawatir."
Malam itu, Ara tidur lagi di bawah Pohon Revan Baru, memeluk Tugu Revan, dengan kalung batu R dan A yang utuh di lehernya, dan mimpi indah sampai pagi, tidak ada lagi mimpi buruk peti emas.
Mimpi terakhir Revan sudah selesai, dan Langgur benar-benar merdeka, tidak hanya dari peti emas, tapi juga dari rasa kehilangan, karena kenangan sudah jadi tugu yang tidak akan tumbang lagi.