Aku Laila, santriwati hafizah yang dianggap calon ustadzah. Malam itu, tangan yang biasa memegang tasbih merobek kerudungku di ruang khusus pondok. Aku lapor, aku malah diusir dan dibilang fitnah kyai.
Aku kabur ke Seruyan, melepas hijabku, dan menyamar jadi cewek nakal demi satu tujuan: membongkar topeng Kyai Rahman, sugar daddy berkedok agama yang sudah menghancurkan banyak santriwati.
"Tuhan, izinkan aku berdosa sekali saja, untuk membuka dosa orang suci."
Dengan HP jadul dan nyali yang tersisa, ia masuk ke dalam lingkarannya. Ia merekam, mengumpulkan bukti transfer, chat mesum berkedok dalil, dan daftar korban lain yang jumlahnya belasan.
Tujuannya cuma satu: naik ke panggung pengajian akbar yang dihadiri ribuan orang, dan memutar semua kebusukan itu di depan mata sang kyai.
Mampukah seorang santriwati yang sudah dilepas hijabnya mengalahkan seorang kyai yang dianggap wali?
Atau justru Laila yang akan hancur untuk kedua kalinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ulva k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 19
Jam 6.15 pagi. Pintu rumah papan terbuka lebar.
Bapak sudah jalan ke kebun , bawa pisau,
Aku masih berdiri di depan pintu.
Kata Bapak tadi "Sholat lah dulu nak, semenjak kejadian itu kamu tidak kenal lagi siapa Tuhanmu, kalau kamu sudah sholat baru Bapak kasih izin."
Sejak kejadian itu. Kejadian itu maksudnya malam hujan di pondok Al-Hidayah waktu awal dari kehancuran mimpi ku.
Malam dimana aku difitnah, dibilang gila, diusir , Malam itu aku lari dengan koperku.
Bukan karena tidak mau. Karena tiap mau ambil wudhu, aku lihat kaca di kos pink pudar. Lihat bibir ku yang pakai lipstik merah buat nulis 4 nama di dinding. Lihat kerudung ku yang aku lepas. Aku malu sama Tuhan.
Hari ini Bapak suruh sholat lagi.
Aku masuk ke kamar ibu. Kasur pandan tempat ibu meninggal masih ada. Di atas kasur ada mukena putih ibu. Mukena yang sobek di ujungnya, yang ibu pakai tiap tahajud jam 3 subuh. Mukena yang ibu pakai pas setrika gamis putih ku jam 3 subuh sebelum meninggal.
Mukena itu belum dicuci. Masih bau ibu.
Aku ambil mukena itu. Aku bawa ke sumur bawah pohon jambu. Tempat ibu biasa cuci piring.
Air sumurnya dingin. Jernih. Sudah tidak becek lagi.
Aku buka keran sumur. Aku mau wudhu.
Aku cuci tangan dulu.
Aku wudhu. Pelan-pelan.
Wajah. Tangan. Kepala. Kaki.
Aku balik ke kamar ibu. Pakai mukena putih ibu yang sobek ujungnya.
Aku gelar sajadah yang ada di kamar ibu. Sajadah yang warnanya sudah pudar.
Aku berdiri. Mau takbir.
Tapi tidak bisa.
Mulut ku tidak bisa ngomong Allahu Akbar. Lidah ku kelu.
Karena flashdisk merah itu masih ada. Dan di dinding kamar ibu, ada foto kecil ibu yang sobek pinggirnya.
Aku lihat foto ibu.
Aku ingat tulisan kecil di kertas lecek di saku ku Laila, kalau kamu pulang, pakai ini. Ibu kangen sama kamu.
Akhirnya aku takbir. Kecil. Suara ku pecah.
Allahu Akbar.
Air mata ku jatuh ke mukena putih ibu. Mukena yang sobek ujungnya jadi basah.
Aku sholat Subuh jam 6.30 pagi. Padahal Subuh sudah lewat jam 5 tadi. Tapi aku sholat aja. Sendirian di kamar ibu. Pakai mukena ibu.
Di luar, Bapak belum pulang dari kebun. Tapi dari jendela kayu Bapak lihat aku sholat. Bapak berdiri di kebun jambu , pegang pisau, lihat ke jendela kamar ibu.
Bapak tidak ngomong. Bapak cuma angguk pelan.
Jam 7 pagi. Aku selesai sholat. Mukena putih ibu aku lipat lagi, taruh di kasur pandan.
Aku keluar rumah papan. Jalan ke kebun jambu air. Baju gamis putih yang sudah kucuci di sumur tergantung dijemuran .jadi putihnya kelihatan lagi, tapi masih ada bayangan merah dikit.
Bapak masih di kebun. Duduk di bawah pohon jambu. Duduk bersandar ke batang pohon.
"Bapak, Laila sudah sholat," aku bilang. Pelan. Masih malu.
Bapak lihat aku.
"Sudah?" Bapak tanya.
"Sudah, Pak. Di kamar ibu. Pakai mukena ibu."
Bapak diam lama. Petik daun jambu satu.
"Laila, Bapak kasih izin merantau ke Jawa," Bapak akhirnya ngomong. "Tapi tidak sekarang. Seminggu lagi."
Aku kaget.
"Kenapa seminggu lagi, Pak?"
"Karena flashdisk merah itu masih panas, Laila. Bapak lihat dari tadi di saku kamu. Kalau masih panas, berarti isinya masih marah. Kalau kamu bawa ke Jawa pas masih marah, nanti kamu sebar ke sosmed pas lagi emosi. Bukan waktu yang pas,
Bapak benar. Tadi pas aku wudhu, flashdisk merah di saku ku panas lagi. Padahal tidak dicolok ke mana-mana.
"Seminggu di rumah, cuci gamis putih itu sampai benar-benar putih. Tidak ada bayangan merah lagi. Sholat lagi 5 waktu. Biar tidak kenal Tuhanmu cuma pas Subuh kesiangan aja. Kalau sudah 7 hari sholat, kalau flashdisknya sudah dingin, Bapak antar sendiri ke terminal. Bapak yang belikan tiket bus ke Jawa.
Bapak berdiri. Jalan pelan ke rumah papan.
"Bapak tidak malu punya anak LC, Laila. Bapak malu punya anak yang tidak sholat. Itu aja."
Pintu rumah tetap terbuka lebar.
Jam 7.15 pagi. Aku masih berdiri di kebun jambu air.
Dan Ustadz Mahmud di pondok Al-Hidayah masih tunggu aku datang bawa flashdisk merah itu ke pondok.
Apakah aku jadi merantau untuk melupakan semuanya ataukah dendam ini masih bergejolak ingin kembali balas dendam kepada orang munafik itu?