Jingga pernah percaya bahwa pernikahannya dengan Rangga Cendana adalah kisah cinta yang sempurna. Namun, setelah kehilangan putra kecil mereka, Jingga justru kehilangan suami yang dahulu begitu mencintainya. Ia baru menyadari bahwa selama ini dirinya hanyalah alat bagi Rangga untuk membuat Dira, istri mendiang kakak Rangga, merasa cemburu.
Pengkhianatan, penghinaan, dan kehilangan membuat Jingga hancur. Puncaknya, ia dituduh mencelakai Varel, keponakan yang begitu disayangi Rangga, hingga sebuah tamparan menyadarkannya bahwa sudah cukup baginya menjadi wanita yang terus tersakiti.
Jingga pun bangkit dan memilih mengakhiri pernikahan yang hanya menyisakan luka. Ia akan membuktikan bahwa dirinya bukan wanita lemah yang bisa diinjak sesuka hati.
Ketika Jingga mulai menata hidup dan menemukan cinta baru yang tulus, penyesalan Rangga dan keluarganya datang terlambat. Jingga telah memilih jalannya sendiri, sebab tidak semua luka harus disembuhkan dengan memaafkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Kabar itu membuat Rangga membeku. Suara percakapan pengunjung lain terdengar jauh, seolah seluruh ruangan mendadak kehilangan bunyi.
“Apa?!” Hanya itu yang mampu keluar dari mulutnya.
“Aku sudah melakukan tes dua kali.” Dira membuka tas dan mengeluarkan foto hasil tes serta lembar pemeriksaan awal. “Aku juga pergi ke rumah sakit. Dokter bilang aku perlu menjalani pemeriksaan lanjutan, tapi kemungkinan besar aku memang hamil.”
Rangga menatap benda-benda di atas meja tanpa menyentuhnya. Kepalanya dipenuhi hitungan waktu, pertemuan rahasia mereka, dan keputusan bodoh yang terus mereka ulang meski tahu risikonya.
“Kamu yakin ini anakku?”
Wajah Dira langsung berubah dingin. “Teganya kamu bertanya begitu!”
“Aku sedang mencoba memahami situasi ini.” Rangga menekan suaranya agar tidak menarik perhatian. “Kita harus memastikan semuanya sebelum mengambil keputusan.”
“Aku tidak datang untuk meminta uang atau memerasmu, Rangga. Aku datang karena kamu ayah dari anak ini dan harus bertanggung jawab.”
Rangga tertawa pendek tanpa humor. “Bertanggung jawab bagaimana? Kamu tahu keadaan keluargaku sekarang. Skandal kita saja belum selesai. Kalau Mama dan Papa tahu, semuanya akan hancur.”
“Jadi kamu hanya memikirkan keluargamu?”
“Aku memikirkan akibat dari semua ini!”
Dira tersentak, lalu menunduk. Matanya mulai berkaca-kaca. “Aku juga takut, tapi aku nggak mungkin menghadapi ini sendirian. Aku tak memintamu menikahiku besok pagi. Aku hanya ingin tahu apa yang akan kamu lakukan.”
Rangga berdiri, berjalan beberapa langkah, lalu kembali duduk. Ia ingin menyalahkan Dira, tetapi ia tahu dirinya bukan korban. Ia telah memilih hubungan terlarang itu berulang kali, bahkan setelah mengetahui betapa besar kerusakan yang mereka timbulkan.
“Untuk sementara, jangan katakan kepada siapa pun,” ujarnya akhirnya. “Kita pastikan dulu kondisi kehamilanmu. Aku akan mengurus biaya pemeriksaan.”
Dira mengamati wajahnya. “Lalu setelah itu?”
“Aku belum tahu.”
“Aku tidak bisa terus bersembunyi tanpa kepastian.”
“Kamu pikir aku punya jawaban sekarang?” Rangga menatapnya tajam, kemudian segera menurunkan suara. “Beri aku waktu.”
Dira menyeka air matanya. Ia tidak mendapatkan janji yang diinginkan, tetapi setidaknya Rangga tidak meninggalkannya malam itu. Ia mengangguk dengan berat, lalu menyimpan kembali dokumen pemeriksaannya.
Ketika mereka berpisah, Rangga pulang dengan kepala berdenyut. Ia merasa terperangkap oleh perbuatannya sendiri. Ia ingin mempertahankan rahasia itu, menjaga nama keluarga, dan menghindari kehancuran yang lebih besar. Namun, ada seorang anak yang mungkin akan lahir, dan ia tak bisa berpura-pura bahwa masalah ini akan lenyap jika diabaikan.
Pagi berikutnya, Rangga datang ke kantor dengan wajah kusut. Pekerjaannya menumpuk, tetapi ia tidak mampu berkonsentrasi. Setiap kali ponselnya menyala, ia berharap bukan pesan dari Dira. Setiap kali tidak ada pesan, ia justru gelisah memikirkan apa yang akan dilakukan perempuan itu.
Di rumah, Bu Farah menyadari perubahan sikap putranya ketika Rangga datang terlambat untuk sarapan.
“Kamu sakit?” tanyanya.
“Tidak, Ma. Hanya kurang tidur.”
“Kalau ada masalah, jangan selesaikan dengan membuat masalah baru.”
Rangga menegang. Ia tidak tahu apakah ibunya mencurigai sesuatu, tetapi kalimat itu terasa seperti peringatan. Ia segera berpamitan, menghindari tatapan Bu Farah yang semakin lama semakin sulit ia hadapi.
Sementara itu, Jingga menjalani pagi yang jauh lebih ringan. Setelah menyelesaikan tugasnya, ia menerima foto dari Samudera. Dalam foto itu, Arka mengangkat beruang cokelatnya dengan bangga.
Samudera: [Dia bersikeras menunjukkan bahwa beruangnya sudah dijahit kembali. Katanya, kamu yang paling mengerti soal itu.]
Jingga tersenyum dan membalas bahwa jahitannya memang terlihat rapi. Tak lama kemudian, Samudera mengirim pesan lain, mengajaknya makan malam bersama Arka di rumahnya akhir pekan nanti jika Jingga tidak memiliki jadwal.
Jingga membaca pesan itu beberapa kali. Ia ingin datang, tetapi masih ada sedikit ketakutan untuk membiarkan dirinya terlalu dekat dengan kebahagiaan baru.
Jingga: [Aku mau, Mas. Asal tidak merepotkan kalian.]
Samudera: [Kamu tidak merepotkan, kami akan senang kalau kamu datang.]
Jingga tersenyum sepanjang sisa pagi.
Siang harinya, Leo menghampirinya di dekat ruang perawat. “Aku dengar kamu semakin dekat dengan Samudera.”
Jingga mengangkat alis. “Sejak kapan kamu mengurus kehidupan pribadiku?”
“Aku tidak mengurusnya, aku hanya bertanya.”
“Kalau begitu, jawabannya bukan urusan pekerjaan.”
Leo menerima teguran itu tanpa tersinggung. “Baik, aku nggak akan memaksamu. Tapi aku masih berharap kamu bersedia makan malam denganku suatu hari nanti.”
“Aku tidak ingin memberi harapan yang salah, Leo.”
Senyum pria itu meredup sesaat, lalu ia mengangguk. “Aku menghargai kejujuranmu.”
Percakapan itu disaksikan Rangga yang kebetulan datang ke rumah sakit untuk menemui salah satu dokter. Ia melihat Leo mundur dari Jingga, lalu melihat Jingga kembali bekerja dengan tenang. Rasa cemburu menggerogotinya, tetapi ia tidak bisa mendekat tanpa mengakui bahwa dirinya sudah tidak punya tempat di sisi perempuan itu.
Rangga pergi sebelum Jingga menyadari kehadirannya. Ponselnya bergetar saat ia mencapai parkiran, pesan dari Dira hanya berisi satu kalimat:
Dira: [Aku sudah membuat janji pemeriksaan lanjutan kandunganku. Kamu harus ikut.]
Rangga memejamkan mata, menggenggam ponselnya erat-erat. Di satu sisi, Jingga perlahan membangun kehidupan yang tidak lagi melibatkannya. Di sisi lain, rahasia yang ia pelihara bersama Dira kini tumbuh menjadi tanggung jawab yang tak bisa ia hindari.
Saat ini, Rangga merasa masa depannya bukan lagi sesuatu yang bisa ia kendalikan dengan perintah atau uang. Setiap pilihan buruk yang ia buat kini menuntut balasan, dan ia harus menghadapinya sendiri.
lanjut Thor👍
thor ngomong" masa ga ketauan si yg nyebarin berita ga bertanggung jawab itu, biar keluarganya Rangga tau seberapa manipulatif nya mantan menantunya yg sblah itu