NovelToon NovelToon
Oh! Mantan Kekasihku

Oh! Mantan Kekasihku

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Perjodohan / Menikahi tentara / Tamat
Popularitas:191.2k
Nilai: 5
Nama Author: elaretaa

Menjadi Dokter sukses di usia 31 tahun ternyata tidak cukup bagi Hazel untuk membeli satu hal yang paling ia inginkan yaitu kebebasan dari kekangan Ibunya, hingga ia dipaksa untuk pergi ke daerah perbatasan demi ambisi sang Ibu mencari menantu tentara.

Namun, takdir punya rencana lain. Di tempat itulah Hazel kembali dipertemukan dengan seorang pria yang sudah lama ia kenal, pria yang mampu menggoyahkan perasaan Hazel setelah 14 tahun lamanya.

Bagaimana kelanjutan ceritanya? Siapakah pria itu? Bagaimana nasib Hazel?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menolak?

Di sisa jam kerjanya, Hazel tidak lagi fokus. Pikirannya melayang-layang pada lembar kertas di dalam map tebal yang kini tersimpan di dalam tasnya. Setiap kali ia melangkah melewati koridor, menyapa pasien atau menulis resep, dadanya terasa sesak seolah pasokan oksigen di rumah sakit itu tiba-tiba menipis.

​Hazel ingin segera pulang dan berteriak di depan wajah Mama Vivian, menuntut sisa-sisa hak hidup yang masih ia miliki. Namun, separuh dari dirinya tahu, semuanya hanya akan berakhir dengan tamparan lain, makian lain atau kurungan yang lebih lama.

​Ketika jam menunjukkan pukul lima sore, Hazel melangkah keluar dari rumah sakit. Alih-alih langsung pulang ke rumah, ia mengemudikan mobilnya tanpa arah dan membelah kemacetan kota yang mulai mengular, air matanya mengalir dalam diam dan membasahi pipi hingga kerah blus kerjanya.

Di usia 31 tahun, saat wanita lain mungkin sedang menikmati puncak karier atas pilihan hidupnya sendiri atau menimang anak, Hazel justru terjebak dalam kekangan Ibunya.

​Hazel menghentikan mobilnya di tepi sebuah taman kota yang sepi. Di bawah rintik gerimis yang mulai turun membasahi kaca mobil, Hazel merogoh tasnya, mengeluarkan map berlogo militer itu dan membacanya sekali lagi dengan detail.

Hazel pun segera mencari lokasi tersebut melalui ponselnya. Begitu hasil pencarian keluar, jantungnya berdegup kencang, karena daerah tersebut adalah daerah pedalaman yang dikelilingi hutan, jalur transportasinya sulit dan fasilitasnya sangat terbatas.

Hazel tidak habis pikir dengan Mama Vivian, Hazel yang sejak lahir dibesarkan dengan kemewahan, kamarnya selalu ber-ac dan pakaiannya yang selalu disetrika rapi oleh pelayan harus berada di tempat seperti itu. Pikiran tentang serangga, air bersih yang terbatas dan sinyal langsung membuat kepalanya pusing.

"Mama bener-bener ya, sebenarnya apa yang ada di pikiran Mama?" gumam Hazel.

Setelah menenangkan diri, Hazel pun melanjutkan perjalanannya, ia mencengkeram kemudi mobilnya begitu erat. Di bawah guyuran gerimis yang kian menderu membasahi kaca depan, bayangan tentang hutan belantara, barak-barak pengungsian yang kumuh dan malam-malam tanpa listrik membuat sekujur tubuhnya meremang. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan keberanian yang selama 31 tahun ini selalu terkikis habis oleh kekuatan ibunya.

​"Cukup, kali ini aku harus menolaknya," gumam Hazel pada dirinya sendiri, ia menyeka air mata yang menghalangi pandangannya sebelum kembali menginjak pedal gas menuju kediaman Ganendra.

​Sesampainya di rumah, suasana tegang langsung menyambut Hazel saat ia melangkah melewati pintu. Di ruang keluarga, Mama Vivian sedang duduk anggun di sofa beludru sembari membolak-balik majalah bisnis kelas atas. Di seberangnya, Papa Darius tampak duduk terdiam, pura-pura sibuk dengan beberapa berkas kantor.

​Melihat Mama Vivian, tanpa basa-basi lagi Hazel melangkah lebar mendekati meja kaca di hadapan Mama Vivian. Dengan tangan yang sudah berkeringat, ia membanting map tebal berlogo militer tepat di atas majalah yang sedang dibaca Mama Vivian.

​Brak!

​Bunyi benturan itu menggema di ruangan yang luas hingga membuat Papa Darius tersentak kaget, sementara Mama Vivian hanya mengangkat pandangannya perlahan dan menatap map tersebut lalu beralih menatap wajah Hazel dengan tatapan yang sangat tenang.

"Apa-apaan ini, Hazel? Di mana sopan santunmu?" tanya Mama Vivian, suaranya masih tampak tenang.

​"Justru Hazel yang mau tanya, apa-apaan ini, Ma?" tanya Hazel dan menunjuk map itu dengan telunjuknya yang bergetar.

"Pengabdian kesehatan ke daerah perbatasan utara? Enam bulan di daerah pedalaman? Mama memalsukan tanda tangan Hazel dan mendaftarkan Hazel tanpa persetujuan Hazel!" lanjut Hazel.

​Mama Vivian menutup majalahnya dengan gerakan perlahan lalu bersandar pada sofa, "Oh, jadi Om kamu sudah memberitahumu. Baguslah, itu menghemat waktu Mama untuk menjelaskan," balas Mama Vivian.

​"Hazel gak mau ikut, Ma! Hazel menolaknya!" tolak Hazel tegas.

"Menolak?" tanya Mama Vivian yang masih tenang.

"Mama tahu sendiri gimana Hazel, sejak kecil Hazel dibesarkan di lingkungan yang nyaman. Memikirkan daerahnya saja sudah membuat Hazel nggak nyaman! Jalur transportasi sulit, dikelilingi hutan, fasilitas terbatas... Hazel tidak akan sanggup, Ma!" ucap Hazel.

​Mama Vivian berdiri dari duduknya dan membuat tinggi badannya kini sejajar dengan Hazel, aura intimidasi langsung menguar kuat dari tubuh wanita paruh baya itu.

​"Kamu sanggup atau tidak sanggup, kamu tetap harus berangkat. Mama melakukan ini buat kebaikan kamu, supaya pengalamanmu sebagai Dokter bertambah dan mental kamu yang lembek bisa ditempa jadi lebih tangguh. Ini saat yang tepat, biar kamu tidak menjadi wanita manja!" ucap Mama Vivian penuh penekanan.

​"Kebaikan Hazel? Mama selalu mengatur hidup Hazel sejak kecil. Hazel jadi Dokter ini juga karena keputusan Mama, padahal Mama tahu Hazel takut d*r*h dan Hazel pengennya jadi pelukis! Sekarang, setelah Hazel menuruti kemauan Mama menjadi Dokter, Mama masih mau melempar Hazel ke hutan terpencil? Hazel bukan boneka, Ma! Hazel punya batas!" ucap Hazel.

​Melihat perdebatan yang kian memanas, Papa Darius akhirnya meletakkan berkasnya dan mencoba memberikan solusi. "Ma, sudahlah... Hazel ada benarnya. Daerah perbatasan itu terlalu berbahaya untuk dia, fasilitas di sana sangat minim, bagaimana kalau Hazel sakit atau terjadi sesuatu karena konflik di sana?" bela Papa Darius.

​Mama Vivian menoleh tajam ke arah suaminya dan membuat Papa Darius seketika bungkam, "Diam, Pa! Jangan ikut campur, kamu tidak tahu apa-apa tentang rencana masa depan yang sudah Mama susun untuk anak ini!" ucap Mama Vivian.

Mama Vivian ​kembali menatap Hazel, ia melipat kedua tangannya di dada. "Tidak ada bantahan, Hazel. Surat keputusan dari markas besar militer sudah turun atas namamu, semua berkas sudah selesai. Kalau kamu nekat menolak atau kabur, Mama pastikan izin praktik medismu dicabut di seluruh rumah sakit di negara ini. Kamu tidak akan pernah bisa menjadi Dokter lagi dan jangan harap kamu bisa menyentuh kuas lukismu karena Mama akan mengawasimu dua puluh empat jam, bahkan Mama akan dengan senang hati mengambil seluruh hidupmu," ancam Mama Vivian.

​Hazel terpaku mendengarnya, ancaman Mama Vivian bukan sekadar gertakan, ia tahu betul seberapa besar kekuatan dan relasi kekuasaan yang dimiliki Mama Vivian, menghancurkan karier seorang Dokter Umum seperti dirinya adalah perkara mudah bagi sang pewaris konglomerat.

"Kenapa Mama tega sama Hazel? Kenapa hidup Hazel harus seburuk ini di tangan Ibu kandung sendiri?" tanya Hazel parau, seluruh tenaganya seolah menguap begitu saja.

​"Suatu hari nanti kamu akan berterima kasih sama Mama, sekarang kamu masuk ke kamar dan mulai kemasi barang-barang yang sekiranya kamu butuhkan, karena satu minggu lagi kamu harus berangkat," jawab Mama Vivian tanpa belas kasihan.

​Hazel tidak menjawab lagi. Dengan sisa-sisa harga diri yang hancur, ia membalikkan badan dan melangkah lemah masuk kedalam lift menuju kamarnya di lantai dua.

.

.

.

Bersambung.....

1
merry yuliana
jd inget jaman sma wkt kemping anggota osis sm pelatihan menwa kuliah dl euy...
Mini Amora
brati Gavin n Hazel blum pernah ada kata putus dong yaaaa...

🤭🤭🤭
elaretaa: Belum Kak🤭
total 1 replies
Mini Amora
malahan 6 bulan bisa lepas tekanan dari seseorang yg katanya mama mu hazel...

aneh + kaget aja sih.. ada yaaa seorg ibu tp sikapnya bgtu...
May Maya
bagus ceritanya thor
May Maya
bagus ceritanya
elaretaa: Terima kasih atas dukungannya Kak🥰🥰🥰🥰❤️
total 1 replies
May Maya
emak nya hazel gila hormat , kekuasaan merasa ingin paling wahhhh paling hebat selain itu GK ada yg penting bagi nya termasuk kebahagiaan anaknya sendiri
May Maya
baru mampir
Reni Setia
selamat udah tamat karyanya ya
Aidil Kenzie Zie
makasih tor akhir yang manis 🥰🥰🥰
Syifa Fauziah
ahh suka bgt sama cerita nya Thor. 😍🙏
elaretaa: Terima kasih Kak🥰🥰🥰🥰❤️
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
welcome baby Papa Gavin dan Mama Hazel 🥰🥰
Icka R
waktu tugas g konsisten kak.. skrg 2thun, awalnya 6bln..itu aja kak..
selebihnya bagus..👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Kukun Sabarno
semoga kedua mempelai samawa penuh keberkahan
Kukun Sabarno
suatu penghinaan dan penderitaan akan membekas selamanya. kasihan
Kukun Sabarno
orang yang sama untuk diperkenalkan sang jendral dan hazel
Aidil Kenzie Zie
selamat buat calon orang tua 💪💪
Syifa Fauziah
hazel hamil yeayyy.. bntr lg ada Gavin junior😄
Aidil Kenzie Zie
crazy up donk tor
Raisha
kok menantu sih Thor? hazel kan anaknya mama Vivian & apa Darius kan,tp di 2 paragraf ini kok jadi menantunya?🤔🤔...salah ketok ya Thor?
Raisha: 😂😂 gpp kak
total 2 replies
falea sezi
manja amat jalan gt doank aja ngeluh nona kaya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!