NovelToon NovelToon
Aturan Nomor 1 Jangan Jatuh Cinta Dengan Dosen

Aturan Nomor 1 Jangan Jatuh Cinta Dengan Dosen

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Diam-Diam Cinta / Teen
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ziziyuuu

Aturan Nomor 1: Jangan pernah jatuh cinta dengan dosen sendiri.
Aturan yang dibuat Kila sendiri, dan kemudian dia langgar di detik berikutnya.
Kehidupan kampus Kila yang tadinya membosankan, berubah total setelah dosen baru itu masuk.
Tiba-tiba penuh dengan hal-hal mendebarkan. Bimbingan yang bikin jantung mau copot, jemputan mobil hitam di gerbang kampus, sampai makan malam canggung di mana dia dipanggil "calon mantu".

Dosen baru itu adalah Pak Rhaegar. Dosen dingin kayak kulkas, dan... orang yang paling Kila hindari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ziziyuuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Hari itu harusnya menjadi hari biasa. Hari pertama ujian akhir semester.

Tapi bagi Kila, itu menjadi hari paling sial dalam hidupnya.

Ia baru sampai di parkiran, langsung lari. Napasnya tersengal-sengal, rambutnya berantakan tertiup angin. Dari jauh, ia sudah bisa melihat sosok itu berdiri tepat di depan pintu ruang ujian. Tegap, dengan kemeja putih yang licin tanpa cela.

Dosen tampan sejuta umat itu. Dosen yang sama yang membuatnya malu setengah mati di parkiran minggu lalu.

Sialnya, hari ini Pak Rhaegar yang menjaga ujian.

Langkah Kila yang tadi berlari kencang langsung ia rem. Berganti menjadi jalan cepat sok kalem, padahal jantungnya rasanya mau copot dari tempatnya.

"Selamat pagi, Pak, maaf saya terlambat," katanya sambil menunduk dalam, tidak berani menatap sama sekali.

Lama tidak ada jawaban. Hanya keheningan yang membuat tengkuk Kila merinding.

Kila akhirnya memberanikan diri mengangkat kepala.

Pak Rhaegar menatapnya dengan ekspresi datar. Dingin. Tidak ada lagi sisa senyum manis dengan gigi gingsulnya yang kemarin ia lihat di lapangan.

"Iya, saya juga tahu kamu terlambat. Kamu tidak perlu masuk. Tunggu di luar sampai ujian selesai," ucapnya, suaranya tegas tanpa celah untuk dibantah.

"Tapi kan, Pak, tadi itu..." Kila mencoba membela diri, suaranya hampir berbisik.

Belum selesai ia menjelaskan, Pak Rhaegar sudah berbalik masuk ke dalam ruang ujian, meninggalkan Kila sendirian di luar pintu.

Dengan perasaan kesal dan tidak terima yang bercampur jadi satu, Kila berjalan gontai ke kursi yang ada di depan ruangan. Duduk. Kakinya ia hentak-hentakkan ke lantai dengan kesal.

"Padahal cuma terlambat 15 menit, itu juga nggak sengaja," gerutunya pelan.

Padahal sialnya hari itu bukan karena ia bangun kesiangan. Pagi tadi ban motor kesayangannya kempes. Robek. Ia harus mendorong motornya jauh mencari tukang tambal ban, dan belum ada satu pun yang buka. Makanya ia terlambat.

Sial bertubi-tubi.

Lama menunggu dengan rasa pegal dan kesal, akhirnya satu per satu anak kelas keluar dari ruangan, tanda ujian telah selesai. Kila langsung berdiri tegak, menunggu Pak Rhaegar keluar.

Tiba-tiba ada yang merangkulnya dari belakang.

"Kenapa tadi nggak masuk ujian??" tanya Elvano, sahabatnya, dengan wajah panik.

"Aku terlambat, dan nggak diizinin masuk," jawab Kila manyun, bibirnya maju beberapa senti.

"Kasian, memangnya kenapa bisa terlambat??" Elvano sambil iseng mengacak-acak rambut Kila yang sudah berantakan.

Belum sempat Kila menjawab, dari sudut matanya ia melihat Pak Rhaegar sudah keluar dari ruangan.

"Nanti aku jelasin, dahhh!" Kila langsung meninggalkan Elvano, buru-buru merapikan rambutnya, dan menyusul Pak Rhaegar yang sudah berjalan duluan.

"Pak? Bagaimana dengan ujian saya?" panggilnya.

"Tidak usah banyak tanya, ikut saya ke ruangan," jawab Pak Rhaegar tegas tanpa menoleh.

_Dia kenapa sih, PMS kali ya, sensi amat,_ gumam Kila dalam hati sambil mengepalkan tangan.

Kila hanya mengikuti dari belakang, takut kalau disemprot lagi. Sampai di ruangannya, Pak Rhaegar duduk di kursinya dan meletakkan lembar soal serta lembar jawaban kosong di atas meja.

"Kenapa masih berdiri di situ?"

Kila langsung duduk di depan Pak Rhaegar. Gugupnya bukan main. _Jangan bilang aku akan ujian di sini. Sendirian. Sama dia._ Dan benar saja firasatnya.

"Silahkan kerjakan, waktu kamu 60 menit dari sekarang," katanya sambil menunjuk timer di ponselnya yang sudah mulai berjalan.

"Kok 60 menit, Pak, soalnya aja ada 90 nomor harusnya 90 menit dong, Pak?" protes Kila spontan, tidak terima.

"Itu tidak berlaku untuk mahasiswa yang terlambat. Masih bagus saya masih izinkan kamu ujian," jawabnya tanpa melihat Kila sama sekali, sibuk dengan laptopnya.

DOARRRR! — suara meja dipukul keras.

"YA UDAH, SEKALIAN AJA NGGAK USAH UJIAN, UDAH NUNGGU LAMA DI KASIH WAKTU UJIAN JUGA SEBENTAR GIMANA SAYA BISA MENGERJAKAN SEMUA SOALNYA KALAU WAKTUNYA CUMA SEGITU HAH??" Kila menggebrak meja dan melempar lembar soal tepat ke wajah tampan Pak Rhaegar.

Tapi sayangnya, itu hanya khayalan Kila saja. Di dunia nyata, ia tidak punya nyali sebesar itu.

Pak Rhaegar menegurnya lagi karena waktu sudah berjalan terus tapi Kila belum menulis satu soal pun. Kila tersadar dari lamunan beraninya dan mulai mengerjakan dengan tangan yang sedikit gemetar.

Tanpa terasa, waktu habis. Kila hanya berhasil menyelesaikan 70 nomor dari 90 soal. Dengan lemas, ia pun menyerahkan lembar jawabannya.

"Lain kali jangan telat lagi. Saya tidak ingin melihat kamu mengerjakan ujian di ruangan saya lagi. Dan untung saja hari ini saya masih berbaik hati," katanya panjang lebar sambil mengambil lembar jawaban yang Kila sodorkan.

Kila tersenyum sopan. Senyum yang sangat dipaksakan. Dalam hati sudah meledak-ledak.

_What?? Berbaik hati dari Hongkong?? Dari segi mananya coba? Udah disuruh nunggu sampai pegel, dikasih waktu cuma 60 menit, baik dari mana?? Kalau bapak nggak mau lihat saya lagi, saya lebih nggak mau lagi kalii!_

"Kenapa bengong, dan kenapa masih di sini?" tanya Pak Rhaegar dengan nada yang terdengar seperti cewek-cewek hits yang lagi ngejulid.

Kila pamit dan langsung keluar dari ruangan itu. Rasanya ia sudah tidak tahan lagi melihat wajah tampan tapi menyebalkan itu.

Baru beberapa langkah ia keluar dari ruangan...

"Arggghhh, kok bisa ada dosen modelan gitu sih di kampus ini, aku kayaknya udah salah nilainya. Iya ganteng sih tapi kepribadiannya bermasalah," Kila mengeluarkan semua unek-unek yang sejak tadi ia tahan, menggerutu dengan suara yang cukup keras.

Tapi tiba-tiba,

"Apa? Kamu bilang apa?" sebuah suara laki-laki yang sangat familiar dari belakangnya berhasil membuat Kila kaget setengah mati. Darahnya seketika berhenti mengalir.

Kila membalikkan badan dengan pelan. Pak Rhaegar ada tepat di belakangnya, dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana, menatapnya tajam.

"Ehhh, bapak... hmmm, engg... engga kok, saya cuma bilang bapak ganteng, heheheh," jawabnya terbata-bata, ngeles sebisa mungkin dengan senyum paling palsu yang pernah ia buat.

Pak Rhaegar diam sebentar. Menatap Kila dari atas ke bawah. Lalu tiba-tiba senyum itu muncul lagi. Senyum tipis dengan gigi gingsul yang menjadi ciri khasnya.

"Ohh, kalau itu saya sudah tahu," jawabnya santai dan penuh percaya diri.

Kila yang mendengar jawaban itu spontan tertawa. Antara malu, kaget, dan... ya ampun, percaya diri banget orang ini.

"Kalau begitu saya pamit ya bapak ganteng," kata Kila masih dalam keadaan tertawa canggung.

Tanpa menunggu izin, Kila sudah berjalan cepat meninggalkannya. Tidak berani menoleh ke belakang sedikit pun.

Pikirnya, setidaknya ia tidak akan bertemu lagi dengan Pak Rhaegar di semester berikutnya. Soal nilai, dipikirkan lain kali saja. Ia sudah tidak sanggup lagi berurusan dengan dosen tampan tapi cacat kepribadian itu.

Apalagi setelah kejadian ujian tadi.

1
Rini Hanindya Salma Nurazizah
bagus
Linda Natalia
lanjut kak,crita nya bagus
Rian Moontero
mampiiirr😍👍
Wien Ibunya Fathur
ceritanya lumayan seru...
ayok ada dibaca🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!