Dengan wajah tenang, Mela tiba-tiba mengajukan perceraian pada suaminya, Rahman. Tentu saja, hal itu membuat Rahman dan ibunya terkejut, karena mereka merasa selama ini semua baik-baik saja.
Tapi, Mela sudah mengetahui semuanya, perselingkuhan Rahman dengan mantan kekasihnya yang sudah berjalan selama sepuluh tahun.
Hati Mela hancur, apalagi, saat ibu mertuanya dan putrinya sendiri justru membela selingkuhan suaminya yang bernama Camila.
"Ingat umur. Kau itu sudah tua, sudah mempunyai anak. Harusnya, kau bisa lebih fleksibel. Camila bisa membantu perkembangan bisnis keluarga. Sedangkan kau? Sudah bagus kami menampungmu."
"Kau bisa apa tanpa kami, hah?"
Ucapan ibu mertua dan suaminya, membuat Mela semakin mantap untuk bercerai.
Baginya, perceraian bukan pelarian, melainkan pintu keluar dari kebohongan panjang yang nyaris mematikan jiwanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 Luka Lama Yang Mulai Sembuh
Beberapa hari berlalu. Rutinitas mulai terbentuk dengan sendirinya.
Dini hari atau setelah subuh, Mela dan yang lain sibuk di lahan, memetik sayuran yang akan di ambil oleh Dino. Tergantung, berapa banyak pesanan Dino.
Hasil panen dipilah dan di ikat rapi. Untuk sayuran yang tahan lama seperti wortel dan kentang, mereka akan memanennya pada sore hari sebelumnya. Jadi, saat hari pengiriman tiba, semua sudah siap.
Dino juga biasa datang tepat waktu, tanpa banyak bicara langsung mengangkut semua sayuran Mela.
Terkadang, saat waktu luang, Dino akan membantu Mela di lahan.
Seperti hari ini, Dino tiba-tiba datang dan langsung menuju lahan Mela. Dia seolah sudah hapal jika wanita itu saat ini akan sibuk di sana.
"Ada yang bisa aku bantu?"
Kalimat itu sederhana, namun sudah menjadi kebiasaan.
Tanpa menunggu jawaban, ia langsung mengambil cangkul, mulai membantu menggali tanah di sisi lahan yang baru akan diperluas.
"Eh, kamu ini tamu atau pekerja, sih?" celetuk Yati.
Dino menjawab santai, "Tergantung dibayar atau tidak."
Darmi tertawa. "Kalau begitu, kamu pekerja gratis."
Mela yang berdiri tidak jauh hanya tersenyum kecil. Ia tidak melarang, juga tidak menyuruh. Namun, dari tatapannya terlihat jelas jika ia sangat menghargai Dino.
Hari itu, mereka bekerja bersama. Menggali, merapikan. Bahkan, Dino ikut membantu memperbaiki jalur air.
"Kalau alirannya begini, airnya bakal lebih rata," ucapnya sambil menunjuk saluran kecil.
Mela memperhatikan, lalu mengangguk paham. "Kamu tahu banyak hal, ya. Apa pernah bertani sebelumnya?" tanyanya.
Dino tersenyum tipis. "Ya, lumayan." Ia tidak banyak menjelaskan namun, cukup terlihat kalau ia tahu apa yang ia lakukan.
Menjelang sore, mereka beristirahat di bawah pohon. Angin berhembus pelan, membawa sedikit kesejukan setelah bekerja.
Asih duduk sambil memainkan ponselnya. Awalnya ia santai, melihat video di sosial media atau gosip-gosip terbaru para artis. Namun tiba-tiba, ia mengeryit, melihat salah satu berita.
Bibirnya bergerak tanpa mengeluarkan suara, membaca judul dari berita tersebut.
"Eh?" pekiknya
Semua yang ada di sana langsung menoleh.
"Ada apa?" tanya Yati.
Asih tidak menjawab. Matanya masih fokus menatap layar ponselnya. Hingga tidak berapa lama, matanya sedikit membesar.
"Ini... Be-berita ini... "
Darmi dan yang lain langsung mendekat karena penasaran.
"Apa, to?" tanya Darmi.
Asih ragu sejenak. Tapi, akhirnya memberikan ponselnya pada Darmi.
'Rahman Wijaya, pemilik perusahaan Wijaya dikabarkan akan segera melangsungkan pernikahan dengan Camila.'
"Oh My God!" Yati memekik keras.
Surti membungkam mulut Yati sambil melotot, memberi isyarat agar diam.
"Sudah!" Darmi langsung menutup ponsel itu. "Jangan sampai Mela tahu," bisiknya.
Namun terlambat, Mela yang duduk tidak jauh dari mereka, mendengar jelas saat mereka menyebut nama Rahman.
Hal itu membuat suasana seketika berubah tegang.
Mela hanya diam. Tidak ada ekspresi berlebihan. Namun, tangannya yang menggenggam botol air, terlihat sedikit mengencang.
Dino yang sejak tadi diam, akhirnya menoleh ke arahnya. Untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu yang berbeda di wajah Mela. Seperti, ada luka di sana.
Beberapa detik berlalu. Tidak ada yang berani bicara. Dino akhirnya menarik napas pelan dan berbicara dengan hati-hati.
"Mel! Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa tiba-tiba..."
Mela menoleh, namun tetap diam.
"Kalau kamu nggak mau cerita, nggak apa-apa," lanjut Dino.
Hening, hanya terdengar suara angin yang berhembus pelan dan, daun-daun bergesekan.
Semua mata tertuju pada Mela yang terdiam, seolah menimbang. Lalu, ia tersenyum kecil, bukan senyum bahagia.
"Aku tidak menyangka mereka benar-benar menikah," ucapnya tiba-tiba.
"Tapi, kenapa secepat itu?"
Mela kembali tersenyum. Pandangannya jauh, menatap kedepan. "Dia berselingkuh dengan mantan kekasihnya," suaranya tetap tenang, seolah menceritakan sesuatu yang sudah ia terima.
"Awalnya, aku tidak tahu. Dia selalu pulang larut dengan alasan sibuk, lembur, meeting dengan Klien dan banyak alasan lain." Mela terdiam sejenak, menarik napas, mencoba menghilangkan rasa sesak yang tiba-tiba menyergap. "Dan bodohnya... Aku percaya," lanjut Mela.
Ia menunduk sambil tertawa kecil, namun pahit. "Ternyata, aku salah," lirih Mela.
"Dan, lucunya... " Mela mengangkat kepalanya, menatap Dino dan yang lain. Senyum pahit terlihat jelas di bibirnya. "Semua orang tahu. Kecuali aku."…
Kalimat itu membuat suasana semakin berat.
"Dan, saat aku tahu... " Mela menarik napas pelan. "tidak ada yang membelaku."
Ia berhenti sejenak. Matanya mulai berkaca. "Mereka menyembunyikan hubungan itu selama 10 tahun. Bahkan, putriku sendiri, membela wanita itu. Jadi, aku memilih pergi."
Dino mengepalkan tangannya pelan. Namun, ia tidak berkata apa-apa. Begitu juga dengan Darmi dan yang lain. Mereka tahu, alasan Mela bercerai, tapi ini pertama kalinya Mela menceritakan semuanya pada mereka. Dan, raut wajah mereka jelas menyimpan rasa geram.
"Wong Lanang gemblung," geram Yati. "Kalau sampai aku ketemu dia, tak sunati pakai gobang."
"Hu'uh... Laki-laki kayak begitu, pasti dapat karmanya," imbuh Surti.
"Sudah bener kamu minta cerai, Mel. Laki-laki kaya banyak tingkah. Gak cukup satu lobang saja. Nanti, pasti bakal kena penyakit," seru Darmi.
Dino terbatuk, tersedak air liurnya sendiri. "Kalian serem juga, ya."
"Oh, jelas. Kami tidak terima temen kami di sakiti laki-laki modelan kayak Rahwana. Cuih!" geram Asih.
Mela tertawa pelan. "Tapi, sekarang sudah lewat," ucap Mela pelan. Ia menoleh dan kembali tersenyum. "Aku baik-baik saja. Aku merasa lega, seolah terlahir kembali seperti tanaman yang baru saja tumbuh."
Dino menatapnya lama lalu, mengangguk. Namun di dalam dirinya, ada sesuatu yang mulai bergerak. Bukan sekadar simpati dan kasihan. Tapi, sesuatu yang dulu pernah ada dan kini mulai hidup kembali.
atau ada yg lain mau mau jadi super Hiro nya mbak mela ??