Alya Kirana menerima Arga Pratama sebagai suaminya dengan harapan membangun rumah tangga yang bahagia. Namun, dia tidak pernah tahu bahwa sebelum menikah dengannya, Arga telah lebih dahulu memiliki seorang istri bernama Nadira Permata. Di antara rahasia yang disembunyikan, janji yang tak kunjung ditepati, dan cinta yang terbagi, Alya dihadapkan pada kenyataan pahit yang tak pernah dia bayangkan. Dia tidak ingin menjadi musuh bagi perempuan lain. Namun, apakah itu berarti dia harus mengorbankan kebahagiaannya sendiri? Sementara Arga berusaha mempertahankan dua pernikahannya, seorang pria dari masa lalu Alya kembali hadir membawa perasaan yang tak pernah benar-benar padam. Ketika cinta terasa manis di awal, siapa yang harus menanggung pahitnya di akhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nittagiu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kunjungan Ibu Mertua
Menjelang tengah hari, Nadira masih duduk di salah satu kursi lobi apartemen. Sejak melihat mobil Arga memasuki kawasan gedung itu, ia belum beranjak pergi. Sesekali ia memeriksa ponselnya, berharap ada pesan dari Arga yang bisa menjelaskan keberadaan laki-laki itu.
Namun, tidak ada pesan baru. Nadira mulai merasa tidak nyaman dengan keputusannya sendiri. Ia tidak pernah membayangkan akan mengikuti Arga seperti ini. Selama ini, ia selalu menunggu laki-laki itu pulang, percaya bahwa kesibukan pekerjaanlah yang membuat mereka jarang menghabiskan waktu bersama. Tetapi pesan dari gadis bernama Alya pagi tadi membuatnya penasaran.
Nadira baru saja hendak mengambil ponsel ketika seorang perempuan paruh baya memasuki lobi. Penampilannya rapi, dengan tas tangan yang menggantung di lengannya. Perempuan itu berjalan menuju meja keamanan dan menyampaikan sesuatu kepada petugas yang berjaga.
“Permisi, Pak. Saya mau berkunjung ke apartemen putra saya. Bisa dibantu menunjukkan arah menuju unitnya?”
Petugas keamanan mengangguk sopan.
“Boleh, Bu. Atas nama siapa, ya? Dan siapa nama penghuni yang akan Ibu temui?”
“Putra saya bernama Arga Pratama.”
Tangan Nadira yang semula hendak membuka ponsel mendadak berhenti.
Arga Pratama.
Tidak mungkin ia salah dengar. Nama itu sudah begitu akrab di telinganya.
Nadira perlahan mengangkat wajah, memperhatikan perempuan yang sedang berbicara dengan petugas keamanan tersebut.
“Kalau boleh tahu, Ibu ini hubungan keluarganya dengan Pak Arga apa?” tanya petugas itu untuk memastikan informasi kunjungan.
“Saya ibunya, Pak.”
Nadira terdiam.
Jadi, perempuan itu adalah ibu Arga.
Selama beberapa detik, Nadira hanya memandangi perempuan tersebut dari tempat duduknya. Ada perasaan aneh yang sulit ia jelaskan. Ia telah menjalin hubungan dengan Arga selama ini, tetapi belum pernah bertemu langsung dengan kedua orang tua laki-laki itu.
Bukan berarti Arga tidak pernah bercerita tentang keluarganya. Nadira tahu Arga memiliki ayah dan ibu yang tinggal tidak terlalu jauh dari tempat tinggal mereka. Hanya saja, perkenalan resmi tidak pernah terjadi.
Arga selalu memiliki alasan ketika pembicaraan mengenai keluarganya muncul. Kadang ia mengatakan belum menemukan waktu yang tepat, kadang ia menyebut kesibukan pekerjaan sebagai penghalang.
Nadira tidak pernah memaksanya. Ia mengira suatu hari nanti Arga akan membawanya menemui keluarga ketika semuanya sudah siap.
Kini, melihat ibu Arga berdiri hanya beberapa meter darinya, Nadira merasakan jarak yang selama ini tidak pernah benar-benar ia pikirkan.
Ia tidak berniat menghampiri perempuan itu. Bagaimanapun, Arga belum pernah memperkenalkannya secara resmi kepada keluarga laki-laki itu. Nadira juga tidak ingin membuat keadaan menjadi canggung dengan tiba-tiba mengaku sebagai seseorang yang memiliki hubungan dekat dengan putra perempuan itu. Akhirnya, ia kembali menunduk, berpura-pura sibuk dengan ponselnya.
Sementara itu, Ratna selesai berbicara dengan petugas keamanan. Ia mengucapkan terima kasih, lalu berdiri tidak jauh dari meja resepsionis sambil memeriksa ponselnya.
Beberapa saat kemudian, seorang perempuan berhijab muncul dari arah lift.
“Ibu!”
Ibu Ratna menoleh. Senyumnya langsung mengembang ketika melihat Alya berjalan menghampirinya.
“Alya, Nak.”
Alya menyalami tangan Ratna dengan sopan, lalu membantu membawakan tas kecil yang dibawa ibu mertuanya.
“Maaf ya, Bu, sudah menunggu. Tadi ada sedikit yang harus saya selesaikan di atas.”
“Tidak apa-apa. Ibu juga baru sampai.” Ratna mengusap lembut lengan Alya. “Kamu sehat, Nak?”
“Alhamdulillah, sehat, Bu. Ibu sendiri bagaimana? Perjalanan ke sini lancar?”
“Lancar. Tadi jalanan memang agak ramai, tetapi tidak masalah.”
Nadira memperhatikan percakapan mereka dari tempat duduknya.
Perempuan bernama Alya itu kini berada tepat di hadapan ibu Arga. Sikap mereka terlihat begitu akrab. Ratna bahkan menyentuh lengan Alya dengan penuh kasih sayang, sedangkan Alya berbicara dengan santun seolah sudah terbiasa menemani perempuan tersebut.
Tidak ada kecanggungan di antara keduanya.
Nadira kembali mengingat pesan yang dilihatnya pagi tadi. Alya meminta Arga memindahkan barang-barang pribadinya ke kamar utama sebelum Ibu Ratna datang.
Sekarang, semuanya tampak saling berhubungan, meskipun Nadira belum mengerti apa sebenarnya hubungan mereka.
Apa Alya sepupu Arga?
Pikiran itu muncul begitu saja. Mungkin Alya memang kerabat dekat keluarga Arga yang dipercaya membantu mengurus apartemen. Bisa jadi perempuan itu sering menemani ibu Ratna, sehingga keduanya terlihat akrab.
Dugaan tersebut terasa cukup masuk akal bagi Nadira. Ia tidak ingin langsung memikirkan hal-hal buruk hanya karena sebuah nama dan dua pesan yang kebetulan terbaca.
Namun, ia tetap memperhatikan ketika Alya meraih tangan ibu Ratna dan mengajaknya menuju lift.
“Sudah siap naik, Bu?” tanya Alya.
“Sudah. Ibu penasaran ingin melihat apartemen kalian setelah ditata.”
Alya tersenyum. “Semoga Ibu suka. Kami sudah menyiapkan sedikit makanan untuk makan siang.”
Ratna tertawa kecil. “Wah, Ibu jadi tidak sabar.”
Mereka berjalan menuju lift bersama. Sebelum pintunya tertutup, Nadira sempat melihat Ratna mengatakan sesuatu kepada Alya yang membuat perempuan muda itu tersenyum.
Pemandangan itu membuat Nadira semakin penasaran. Namun, ia tetap duduk di tempatnya. Ia tidak punya alasan untuk mengikuti mereka ke atas. Ia juga belum ingin melakukan sesuatu yang bisa membuat dirinya terlihat mencurigakan.
Nadira menunduk dan membuka percakapan dengan Arga. Jemarinya sempat mengetik beberapa kata, tetapi kemudian berhenti. Ia ingin bertanya sedang berada di mana Arga sekarang. Namun, jika laki-laki itu memang sedang mengurus pekerjaan atau keluarga, pertanyaan tersebut hanya akan membuatnya terlihat tidak percaya.
Akhirnya, Nadira menghapus pesan yang belum sempat dikirim. Ia kembali meletakkan ponselnya di pangkuan. Untuk sementara, ia akan menunggu.
Nadira masih percaya bahwa Arga akan pulang dan menjelaskan semuanya seperti biasa. Ia belum tahu bahwa ada rahasia yang jauh lebih besar daripada yang bisa ia bayangkan. Nama Alya masih tertinggal di pikirannya. Mungkin perempuan itu memang sepupu Arga. Setidaknya, itulah dugaan yang ingin dipercayai Nadira untuk saat ini.