“Aku akan bantu ungkap perselingkuhan suamimu, tapi setelah itu, ceraikan dia dan menikahlah denganku.”
Sekar tak pernah menyangka kalimat itu keluar dari mulut adik iparnya, Langit Angkasa. Lima bulan menikah dengan Rakaditya Wiratama, ia tengah hamil dan merasa rumah tangganya baik-baik saja. Sampai noda samar di kemeja suaminya dan transfer puluhan juta rupiah ke rekening-rekening asing membuka satu per satu kebohongan yang selama ini tersembunyi.
Sekar harus memilih: bertahan dalam luka, atau menyetujui ide gila yang bisa menghancurkan semuanya.
Dan ketika balas dendam berubah menjadi pernikahan, siapa yang sebenarnya akan terluka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hashifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesalahan yang Terulang
Raka menoleh ke arah Sekar, lalu terkekeh pelan.
“Ngaco, kamu. Mana mungkin Anita mau sama laki-laki seperti Langit.”
“Loh, memangnya kenapa, Mas? Mas Langit juga baik, kok. Siapa tahu jodoh, kan?” Suara Sekar masih terdengar tenang.
“Dia? Jodoh sama Langit? Ya nggak mungkin lah. Dia—”
Raka terhenti. Lidahnya kelu, menyadari ia hampir saja keceplosan.
Sekar masih menatapnya, mengerutkan keningnya sedikit bingung.
“Kenapa nggak mungkin, Mas?” tanyanya pelan. “Mas kenal dia baik? Atau … Mas tahu tipe laki-laki seperti apa yang Mbak Anita suka?”
Ia memberi jeda sejenak. “Mungkin yang seperti Mas?” lanjutnya sambil tersenyum.
Raka sontak tergagap. Namun cepat-cepat ia menutupinya dengan tawa ringan.
“Kamu ngomong apa, sih, Sayang? Ngaco, ah.” Ia mengalihkan. “Yuk, masuk. Sudah malam. Nggak baik ibu hamil di luar lama-lama.”
Raka menggiring Sekar masuk ke dalam rumah, tepat saat Ayunda dan Langit keluar hendak pulang.
“Loh, Mama nggak nginep aja? Ini sudah malam, loh,” tahan Sekar.
Ayunda tersenyum, menggeleng pelan. “Mama pulang dulu, ya. Sama Langit juga. Kamu istirahat, sudah malam.”
Sekar mengangguk. Ia memeluk mertuanya hangat. Namun matanya sempat melirik ke arah Langit. Tatapan pria itu begitu intens dan dalam. Seakan-akan ingin mengatakan sesuatu. Sekar membalas tatapan itu sekilas.
Setelah mereka pergi, Sekar beranjak menuju kamar.
“Sayang, Mas ke ruang kerja dulu, ya. Ada kerjaan sebentar,” ucap Raka.
Sekar hanya mengangguk. “Iya, Mas.”
Wanita itu menatap punggung suaminya yang semakin menjauh hingga menghilang di balik lorong. Senyum di wajahnya perlahan luntur.
“Sampai kapan kamu mau terus bermain sandiwara, Mas?”
Tangannya naik, mengusap perutnya pelan. Bibirnya sedikit bergetar.
“Nak … yang kuat, ya. Papamu benar-benar keterlaluan.” Ia menelan ludah. “Tapi Mama janji … apa pun akan Mama lakukan untuk mendapatkan keadilan untuk kita berdua.”
Ia memejamkan mata sejenak. “Tolong bersabar sedikit lagi, ya, Sayang.”
Di dalam ruang kerja, Raka membuang napas kasar. Ia meraup wajahnya, mencoba menenangkan diri.
“Nggak … aku nggak boleh gegabah,” desisnya pelan. “Aku nggak mau menghancurkan semua yang sudah aku bangun.”
Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi. Mata terpejam. Namun bukannya tenang, justru satu suara kembali muncul di kepalanya.
“Aku hamil, Mas.”
Napas Raka tercekat. Matanya terbuka perlahan. Tatapannya kosong, tapi pikirannya sudah kembali ke masa lalu.
Kania Aghnia Putri. Gadis manis dengan senyum sederhana yang dulu diam-diam ia incar sejak masa putih abu-abu. Tapi gadis itu justru memilih Langit.
Selalu Langit. Langit yang pendiam. Langit yang tidak pernah melawan. Langit yang selalu terlihat “cukup” tanpa harus berusaha keras seperti dirinya.
Raka mengembuskan napas pelan. Rahangnya mengeras. Ia memang selalu unggul dalam hal apa pun. Kebanggaan Papa. Anak yang dibanggakan di mana-mana. Prestasi, relasi, kekuasaan—semua ada di tangannya.
Tapi tetap saja, Langit memiliki sesuatu yang tidak pernah bisa ia rebut sepenuhnya. Ketulusan. Dan orang-orang yang mencintainya tanpa syarat.
“Aku suka sama Kania.”
Suara itu di masa lalu terdengar jelas di kepalanya.
Langit hanya menoleh saat itu. Wajahnya datar. “Bukannya kamu sudah punya pacar?”
“Aku bosan,” jawab Raka enteng. “Aku suka sama Kania sejak SMA. Tapi dia malah pilih kamu.”
Langit menutup bukunya perlahan.
“Kamu sudah punya semuanya, Kak,” ucapnya tenang. “Kepercayaan Papa, kebanggaan semua orang … apalagi yang kurang?”
Ia menatap Raka lurus.
“Kamu masih mau ambil satu-satunya yang aku punya?”
Raka tidak menjawab. Ia hanya menyeringai tipis.
“Lihat saja nanti.”
Dan ia benar-benar melakukannya. Tapi ia tidak sadar, ia melakukannya bukan karena cinta, melainkan hanya karena ingin menang.
Saat Kania akhirnya berpaling saat itulah untuk pertama kalinya Langit melawan dan bertengkar dengannya. Raka merasa puas Bukan karena mendapatkan Kania, tapi karena berhasil menjatuhkan Langit.
Dan ketika Kania berdiri di hadapannya, dengan wajah pucat dan suara gemetar mengatakan kalau dia hamil. Ia hanya menatapnya datar.
“Gugurkan.”
Tanpa ragu ia mengucapkan satu kata yang sama yang ia katakan pada Anita beberapa jam yang lalu. Kalimat itu meluncur ringan, seakan itu bukan hal yang besar. Seolah itu keputusan paling biasa dalam hidupnya. Raka membuka mata. Napasnya terasa berat.
Tangannya mengepal di atas meja. “Apa aku harus mengulangi hal yang sama?”
***
Bagas menemui Langit diam-diam keesokan harinya. Ekspresinya berubah-ubah saat mendengar cerita Langit tentang apa yang ia lihat dan dengar di ruang kerja Raka malam sebelumnya.
“Ya Tuhan… jadi perempuan itu hamil?” tanya Bagas tak percaya.
Langit mengangguk pelan. “Dan aku yakin… ini bukan cuma soal kehamilan, Bagas.”
Bagas menatapnya bingung.
“Aku tahu siapa Anita,” lanjut Langit, suaranya lebih rendah. “Dan… ada kemungkinan itu bukan anak Raka.”
Bagas mengernyit. “Maksud Bapak…?”
“Bisa saja itu anak Sandy,” jawab Langit tenang, meski tatapannya tajam. “Tapi itu baru dugaan. Kita butuh bukti.”
Bagas mengembuskan napas berat. Kepalanya terasa penuh.
“Lalu… kita harus gimana, Pak?”
“Biarkan dulu,” potong Langit cepat. “Kamu tetap awasi gerak-gerik Raka. Aku yakin dia nggak akan diam. Dia pasti cari cara untuk mengamankan dirinya.”
Langit menatap lurus ke depan.
“Untuk sekarang, kita fokus ke satu hal dulu—video kecelakaan itu. Kita harus tahu apa yang sebenarnya terjadi.”
Bagas mengangguk pelan. Tangannya mengepal di atas paha.
Kabar kehamilan Anita membuat dadanya semakin sesak. Rasa muak itu muncul lagi.
Raka benar-benar sudah melewati batas.
***
Sementara itu Anita tersenyum penuh kemenangan saat Raka menemuinya di apartemen siang itu.
“Aku tahu kamu pasti datang, Mas ...,” ucapnya sambil merangkul leher pria itu dengan mesra.
Raka berusaha menghindar.
“Langsung saja, kita selesaikan sekarang. Kamu mau apa?”
Anita tersenyum tipis. Dengan tidak tahu diri ia memeluk Raka lembut. “Aku sudah bilang. Tanggung jawab.”
Pria itu kembali mendorongnya perlahan.
“Selain menikah.” Ia mengatakan itu dengan itu cepat dan tegas.
Anita sedikit mengernyit, tapi tidak kaget. Ia sudah menduga arah Raka akan mengatakan hal itu. Ia menghembuskan napas panjang, lalu melangkah ke arah sofa. Duduk di sana menyilangkan kaki.
“Masih nawar?” tanyanya tenang.
“Aku realistis,” balas Raka dingin. “Kamu juga harusnya begitu.”
Anita tertawa kecil. “Itu realistis versi kamu, Mas? Membuang aku, membuang anak ini, terus kamu hidup tenang sama istri kamu?”
Raka mengeratkan rahangnya, namun berusaha untuk tidak terpancing.
“Aku bisa kasih kamu semuanya, Anita. Seperti biasanya—kecuali pernikahan.”
Anita terdiam. Kali ini ia benar-benar memperhatikan Raka.
“Maksud kamu dengan semua itu apa? Harta kamu, kekayaan kamu?”
“Kamu maunya apa? Uang. Tempat tinggal. Fasilitas. Rasa terjamin.” Raka mendekat satu langkah. “Aku tanggung semua hidup kamu dan anak itu kalau kamu mau anak itu tetap lahir. Tapi … bukan sebagai anakku secara publik. Nggak ada pengakuan, nggak ada pernikahan.”
Anita menatapnya lama, tak langsung menjawab. Nada suara Raka berubah. Lebih rendah. Lebih berbahaya.
“Kamu tahu kalau ini sampai keluar, bukan cuma aku yang hancur. Perusahaan papa kamu nggak akan punya penopang lagi. Reputasi aku jatuh, perusahaan kena, semua aset bisa ikut terseret. Kamu pikir kamu akan aman di tengah semua kekacauan itu?”
Tatapan Anita menyipit. “Kamu ngancam aku?”
“Bukan mengancam, hanya mengingatkan.”
Keduanya saling menatap tajam dan penuh kendali. Lama keduanya terdiam dengan pemikiran masing-masing.
Hingga Anita menghembuskan napas panjang, ia membuka suara. “Kalau aku tetap mau kita menikah?”
Anita mengembuskan napas panjang. Ia bersandar dengan santai.
“Kalau…” ucapnya pelan.
Ia sengaja memberi jeda.
“Aku tetap mau kita menikah?”
gile nih ulet bulu ya kali bikin rusuh dipengajian 4 bulan an
bang Langit kau dimana ih lagi sibuk ama mahasiswa mu kah😂
ap mungkin foto Kaina Raka🙄
ish kebiasan si othor😂