NovelToon NovelToon
Target

Target

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:189
Nilai: 5
Nama Author: Rick Tur

Fred Tucker, mahasiswa kedokteran diparis, penampilan biasa, agak gempal dan bukan pusat perhatian. satu kali menjadi dirinya menjadi target pembunuh bayaran. Dia harus melarikan diri tanpa tahu penyebabnya. bukan miliarder, bukan siapa-siapa, orang tua biasa saja namun menjadi target mati. hidupnya hancur, orang tua nya mati. Untuk mengetahui apa yang terjadi hidupnya maka Fred harus menjadi pembunuh bayaran. berlatih dan menjadi kuat Dia harus ke berbagai negara sebagai Assassin

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rick Tur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sudah Siap

Pisau adalah pelajaran terakhir yang Mercer tahan paling lama.

Fred baru sadar alasannya ketika pelajaran itu dimulai.

Tinju bisa dipelajari dengan rasa sakit yang jelas: memar, bengkak, napas habis. Senjata apipisau, meski mengerikan, punya jarak; ada ruang antara peluru dan tubuh. Bahkan jiu-jitsu, dengan semua kedekatan dan tekanan di leher, masih punya aturan tubuh yang bisa dihafal.

Tapi pisau…

Pisau menuntut satu hal yang tidak pernah bisa dilatih dengan nyaman:

keputusan di jarak nol.

Pagi itu, di ruang bawah tanah, Mercer menaruh dua benda di atas meja.

Satu pisau latihan dari karet keras. Satu pisau asli, sederhana, tidak terlalu besar, tapi cukup untuk mengubah napas orang menjadi hening.

Mercer menunjuk pisau latihan.

“Mulai dari ini,” kata Mercer.

Fred mengangguk, menggenggam gagangnya. Tangannya sudah kuat sekarang—telapak tangannya kasar, bekas kapalan dari barbel dan latihan berjam-jam. Tapi begitu pisau berada di tangannya, ada rasa lain yang naik: bukan takut, melainkan kesadaran bahwa benda ini bukan alat olahraga. Ini alat final.

Mercer berdiri di hadapannya, tangan kosong, postur santai. Seolah ia sedang mengajari cara memotong roti.

“Gerakanmu selama ini besar,” kata Mercer. “Itu bagus untuk lari. Buruk untuk pisau.”

Fred menelan ludah. “Jadi?”

“Jadi kamu belajar kecil,” jawab Mercer. “Cepat. Dan… rapi.”

Latihan dimulai.

Bukan dengan duel dramatis, bukan dengan gerakan film. Mercer membuat Fred melakukan ayunan pendek, dorongan, dan putaran pergelangan yang terlihat sepele, sampai Mercer tiba-tiba masuk jarak, menempel dekat, dan “menyentuh” titik-titik vital Fred dengan ujung pisau karet.

“Kalau ini asli,” kata Mercer datar, “kamu sudah selesai.”

Fred berkeringat meski ruangan dingin. Mercer menuntut agar jarak lebih rapat.

Ia mencoba lagi, lebih cepat. Mercer menghindar, bergerak seperti bayangan, lalu menyentuh leher Fred dengan ujung karet.

“Kamu masih besar,” kata Mercer. "lebih rapat. "

Fred menggertakkan gigi. Ia mengulang. Berulang-ulang.

Dan ketika Mercer akhirnya mengganti pisau karet itu dengan pisau asli—bukan untuk “bertarung sungguhan,” melainkan untuk membuat Fred merasakan berat dan rasa hormat—Fred melakukan kesalahan yang pertama.

Gerakannya terlalu yakin.

Ujung pisau menyentuh kulitnya sendiri.

Robekan kecil di pangkal jari, tidak dalam, tapi cukup membuat darah muncul cepat. Fred menahan napas, refleks menarik tangan.

Mercer tidak panik. Mercer tidak memaki.

Mercer hanya memandang darah itu, lalu menatap mata Fred.

“Pisau tidak peduli kamu latihan atau perang,” kata Mercer. “Dia hanya peduli kamu lengah.”

Fred mengikat lukanya dengan perban kecil, lalu kembali menggenggam pisau.

Darah membuatnya sadar, tapi juga membuatnya marah—bukan pada pisau, melainkan pada dirinya sendiri.

Hari-hari setelah itu, jari Fred sering punya luka kecil. Bukan luka besar. Luka “bodoh”hasil dari kecepatan yang belum matang, hasil dari otak yang telat setengah detik dibanding tangan. Mercer membiarkannya, tapi Mercer juga tidak membiarkan Fred tenggelam dalam rasa bersalah.

“Bersih,” kata Mercer setiap kali luka muncul. “Balut. Kembali.”

Tidak ada drama.

Karena di dunia Mercer, drama hanya membuatmu lambat.

Latihan menembak juga berubah.

Jika dulu Mercer melatih Fred agar “tidak mati dalam lima menit,” sekarang Mercer melatihnya agar bisa memilih lima menit itu terjadi pada siapa.

Mercer sering mengajak Fred ke hutan.

Bukan hutan romantis, tapi hutan yang sunyi, tempat suara paling kecil bisa terdengar jauh. Mereka membawa tas, target kertas, dan rangkaian latihan yang membuat Fred belajar tentang kesabaran yang kejam.

Mercer tidak mengajari “gaya.” Mercer mengajari disiplin: fokus, tenang, dan tidak terburu-buru. Ia membuat Fred duduk menunggu dalam diam, kadang sampai kaki kesemutan, hanya untuk menguji apakah pikiran Fred bisa tetap jernih ketika tubuh ingin bergerak.

“Di lapangan,” kata Mercer suatu kali, “kamu tidak kalah karena kamu lemah. Kamu kalah karena kamu ingin cepat selesai.”

Fred mulai mengerti bahwa kecepatan bukan selalu gerakan. Kadang kecepatan adalah keputusan yang tidak ragu.

Ada hari-hari di mana Fred pulang dengan pundak sakit, bukan karena recoil atau teknik, melainkan karena ia menahan diri terlalu keras. Ada juga hari-hari di mana Mercer memintanya mengulang dari awal karena satu hal sederhana: Fred menembak dengan emosi.

“Kalau kamu menembak dengan marah,” kata Mercer dingin, “kamu sedang memberi musuhmu kesempatan.”

Fred tidak pernah lagi menyebut latihan itu “seru.”

Ia menyebutnya “perlu.”

Di antara semua latihan itu, ada rutinitas lain yang tidak pernah masuk jadwal resmi, rutinitas yang lebih berat daripada ban truk dan lebih hening daripada hutan.

Maëlle.

Fred beberapa kali melihat tubuh Maëlle yang “setengah hidup.” Itu istilah yang muncul di kepala Fred sendiri, karena sulit menyebut “koma” setiap hari tanpa merasa lidahnya ikut mati.

Maëlle terbaring, hidupnya dipegang alat dan ketekunan Mercer. Ada hari-hari di mana kulit Maëlle tampak lebih hangat, napasnya lebih stabil. Ada hari-hari di mana wajahnya pucat seperti kertas, dan Fred harus memaksa dirinya percaya bahwa Maëlle masih di sini.

Suatu hari, Mercer memanggil Fred ke ruang steril.

“Aku butuh kamu bantu,” kata Mercer.

Fred menelan ludah. “Apa?”

Mercer menunjuk alat cukur listrik. “Cukur rambutnya. Bagian samping.”

Fred membeku. “Kenapa aku?”

“Karena tanganmu sudah stabil,” jawab Mercer. “Dan karena ini bagian dari merawat pasien.”

Fred mendekat dengan ragu. Ia memakai sarung tangan, menutup sebagian wajah Maëlle dengan handuk kecil agar tidak membuatnya tampak “dipamerkan.” Fred mencukur dengan hati-hati—gerakan lambat, fokus—bukan karena ia takut Maëlle marah jika bangun, tapi karena ia tidak ingin melukai.

Aneh, pikir Fred. Ia belajar membunuh untuk bertahan… tapi di sini ia belajar merawat seseorang agar hidup.

Hari lain, Mercer berkata sesuatu yang lebih sulit.

“Mandikan dia.”

Fred menoleh cepat, kaget. “Aku nggak”

Mercer menatapnya datar. “Kamu akan.”

Fred menegang. “Ini… ini nggak perlu aku”

Mercer memotong, bukan dengan marah, tapi dengan logika yang kejam.

“Suatu saat kamu bertugas,” kata Mercer. “Kamu akan berada di ruangan sempit. Kamu mungkin harus menyamar. Kamu mungkin harus dekat dengan seorang wanita. Kalau kamu gemetar karena gugup atau malu, kamu akan terlihat sebagai pemula bodoh. Kamu kembali jadi peti mati.”

Kalimat itu menusuk karena Mercer tidak salah.

Fred menggertakkan gigi. Ia melakukannya—dengan cara paling klinis yang bisa ia pakai. Ia menjaga privasi Maëlle, menutup bagian-bagian yang tidak perlu terlihat, membersihkan cepat dan bersih seperti merawat pasien. Tidak ada hal erotis. Tidak ada rasa “memanfaatkan.”

Hanya rasa malu yang berubah menjadi profesionalitas, dan rasa takut yang berubah jadi kontrol.

Setelah itu, Fred duduk lama di tangga, kepala di tangan.

Mercer lewat dan hanya berkata, “Bagus.”

Itu mungkin pujian terbesar yang Fred dapat selama bertahun-tahun.

Waktu terus berjalan.

Hari demi hari menjadi minggu. Minggu menjadi bulan. Bulan menjadi tahun.

Empat tahun genap sejak Fred pertama kali memegang pistol dengan tangan gemetar di pickup. Empat tahun sejak ia masih “target yang mudah.” Sekarang, tubuhnya atletis, gerakannya tidak lagi canggung. Matanya lebih tajam. Wajahnya lebih tenang.

Namun Fred juga tahu satu hal:

Di dalam dunia ini, “siap” tidak pernah mutlak.

Suatu malam, setelah latihan yang panjang, Mercer duduk di ruang bawah tanah, menatap papan foto—FOX, UMBRELLA, COOL, SCORE, PARTY—yang semakin penuh garis dan catatan.

Fred berdiri di sebelahnya, keringat masih menempel di leher.

“Kamu bilang aku setengah siap,” kata Fred pelan. “Kapan aku jadi siap?”

Mercer menatap Fred tanpa ekspresi. “Ketika kamu berhenti bertanya itu.”

Fred menghela napas pendek.

Mercer berdiri, mengambil satu map tipis, lalu meletakkannya di meja. Di dalamnya ada beberapa lembar kertas—bukan manual, bukan catatan kuliah, tapi profil singkat jaringan, kebiasaan, titik kontak.

Mercer menunjuk satu poin.

“Kamu akan minta pekerjaan di Mercer Café.”

Fred membeku. “Di London?”

Mercer mengangguk.

“Kamu mau aku kembali ke tempat itu?” suara Fred rendah.

“Ya,” jawab Mercer. “Tapi bukan sebagai ‘Fred Tucker.’”

Fred menelan ludah.

Mercer menatapnya tajam. “Kamu akan masuk sebagai pemula. Penjahat karbitan.”

Fred mengerutkan kening. “Kenapa harus begitu?”

“Karena orang seperti Fox tidak memberi tugas berat pada orang baru,” kata Mercer. “Dan orang seperti Fox suka memakai orang yang merasa tidak penting.”

Fred merasakan ironinya: hidupnya dulu memang “tidak penting” sampai seseorang memutuskan ia harus mati.

Mercer melanjutkan, “Kamu tidak datang untuk membunuh. Kamu datang untuk melihat. Mendengar. Mengukur. Kamu datang untuk mengerti jalurnya.”

Fred menatap map itu lama. “Dan kalau mereka tanya kenapa aku mau kerja?”

Mercer tidak memberi skrip detail. Mercer hanya berkata, “Kamu butuh uang. Kamu butuh masuk jaringan. Kamu butuh merasa ‘diakui.’ Jadikan itu alasanmu. Jangan terlalu pintar. Jangan terlalu bersih. Tapi juga jangan terlihat putus asa.”

Fred mengangguk pelan. Ini bukan rencana heroik. Ini rencana orang yang ingin selamat dulu.

“Kamu akan diberi pekerjaan mudah,” kata Mercer.

Fred menelan ludah, lalu matanya bergerak ke arah pintu ruang steril di atas.

“Maëlle…” kata Fred pelan.

Mercer menghela napas. “Maëlle belum bangun.”

Fred menutup mata sebentar. “Berarti ini tanpa dia.”

Mercer menatap Fred, suara lebih rendah. “Dia memilih kamu jadi bagian keluarga. Ini caramu membuktikan kamu bukan cuma beban.”

Kalimat itu menekan, tapi juga menyalakan sesuatu dalam dada Fred.

Fred membuka mata lagi. “Kapan kita berangkat?”

Mercer menatapnya seperti menilai kesiapan yang tidak terlihat.

“Besok pagi” kata Mercer. "Bukan kita, tapi kamu. "

Fred mengangguk.

Di kepala Fred, ada bayangan Maëlle terbaring diam, dan ada nama Fox seperti noda hitam yang tidak pernah hilang.

Empat tahun latihan tidak membuatnya jadi Maëlle.

Tapi empat tahun itu membuatnya cukup kuat untuk melangkah ke pintu yang dulu ia tak berani dekati.

Dan ketika Fred naik ke kamar malam itu, ia berdiri sebentar di depan ranjang Maëlle, menatap wajah dingin yang kini tenang.

“Aku akan bawa kita keluar dari lubang ini,” bisik Fred. “Kalau kamu bangun… aku mau kamu lihat aku bukan lagi orang yang kamu harus selamatkan.”

Lampu monitor tetap berbunyi pelan.

Bip… bip… bip…

Seolah menyetujui, atau menertawakan.

Dan di luar rumah, malam menutup ladang, menutup jalan, menutup dunia yang tenang—karena besok, Fred akan masuk lagi ke dunia yang mematok nyawa sebagai harga normal.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!