NovelToon NovelToon
Kontrak Rahim Sang CEO Miliarder

Kontrak Rahim Sang CEO Miliarder

Status: tamat
Genre:CEO / Showbiz / Dikelilingi wanita cantik / Tamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Alvaraby

"Di dunia para penguasa, segalanya bisa dibeli—termasuk keturunan. Namun, apa jadinya jika rahim yang disewa justru membawa cinta yang tak terduga?"

Adrian Ardilwilaga adalah definisi sempurna dari kekuasaan dan kekayaan. Sebagai CEO Miliarder dari Ardilwilaga Group, ia memiliki segalanya, kecuali satu hal yang sangat dituntut oleh dinasti keluarganya: seorang pewaris. Pernikahannya dengan Maya Zieliński, wanita sosialita kelas atas yang anggun namun menyimpan rahasia kelam tentang kesehatannya, berada di ambang kehancuran karena tekanan sang mertua yang otoriter.

Demi menjaga status dan cinta Adrian, Maya merancang sebuah rencana nekat—sebuah kontrak rahim ilegal. Pilihan jatuh kepada Sasha Vukoja, seorang mahasiswi seni berbakat asal Polandia yang sedang terdesak kesulitan ekonomi. Sasha setuju untuk menjadi ibu pengganti, tanpa pernah menyangka bahwa ia akan jatuh hati pada sang pemberi kontrak.
Ketegangan memuncak saat Arthur, sang pangeran mahkota, lahir.Bagaimana kelanjutannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sandiwara di Ambang Badai

Apartemen penthouse rahasia di kawasan Dharmawangsa menjadi sangkar emas bagi Sasha. Di sana, waktu seolah berjalan melambat seiring dengan perutnya yang mulai membuncit di bulan keempat. Namun, di luar dinding marmer itu, dunia Adrian dan Maya mulai berguncang.

Kabar mengenai "kehamilan" Maya telah menyebar di kalangan elite Jakarta. Namun, kecurigaan mulai muncul dari dua arah yang paling berbahaya: Keluarga Ardilwilaga dan Keluarga Zieliński.

________________________________________

Suatu sore, Adrian dipanggil ke kediaman utama Ardilwilaga. Ayahnya, Haryo Ardilwilaga, seorang pria tua dengan tatapan mata setajam elang, duduk di kursi kebesarannya. Di sampingnya, ibu Maya, Helena Zieliński, yang sengaja terbang dari Polandia, menatap mereka dengan selidik.

"Adrian, sudah empat bulan, tapi ibumu bilang Maya selalu menolak saat diajak melakukan pemeriksaan ke dokter keluarga kita," suara Haryo berat dan penuh tuntutan. "Bahkan Helena merasa aneh karena Maya tidak mengizinkannya menginap di apartemen kalian."

Maya, yang duduk di samping Adrian dengan bantal prostetik yang tersembunyi sempurna di balik gaun longgar rancangan desainer, tersenyum tenang. "Maafkan aku, Papa Haryo, Mama Helena. Ini adalah masa yang rentan. Aku merasa sangat mual jika terlalu banyak orang di sekitarku. Aku hanya ingin ketenangan."

"Ketenangan atau rahasia?" sahut Helena dengan aksen Polandia yang kental. "Maya, aku ibumu. Aku tahu tubuhmu. Kamu tidak terlihat seperti wanita yang sedang mengandung cucuku. Di mana cahaya di wajahmu itu?"

Adrian merasakan keringat dingin di tengkuknya. Ia harus segera mengambil kendali. "Papa, Mama, tolong hargai privasi Maya. Kami menggunakan dokter spesialis terbaik dari Singapura. Jika kalian terus menekan, itu hanya akan membuat Maya stres dan membahayakan janinnya."

Adrian memberikan pembelaan yang begitu meyakinkan, membuat kedua orang tua itu terdiam sejenak. Namun, ia tahu ini hanya gencatan senjata sementara.

________________________________________

Tekanan itu membuat Adrian merasa tercekik. Begitu keluar dari rumah ayahnya, ia tidak pulang ke The Obsidian Towers. Ia memacu mobilnya menuju apartemen rahasia Sasha.

Di sana, ia menemukan Sasha sedang duduk di balkon, menggambar sketsa kota Jakarta di bawah sinar bulan. Melihat kehadiran Adrian, wajah Sasha berubah cerah.

"Kamu terlihat sangat lelah, Adrian," bisik Sasha, bangkit perlahan sambil memegangi perutnya yang mulai menonjol.

Adrian mendekat, berlutut di depan Sasha, dan menyandarkan kepalanya di perut gadis itu. Di sana, ia bisa merasakan kehidupan—darah dagingnya sendiri. "Hanya di sini aku merasa bisa bernapas, Sasha. Di luar sana, semuanya adalah kebohongan."

Sasha mengusap rambut Adrian dengan lembut. Ada cinta yang membara di antara mereka, sebuah tarikan jiwa yang murni. Namun, Sasha teringat janji Maya. Ia adalah orang luar. Ia hanya "inang".

"Pulanglah, Adrian. Istrimu menunggumu. Jangan biarkan mereka curiga karena kamu terlalu sering di sini," ucap Sasha dengan hati yang hancur. Ia mencintai pria ini, tapi ia tahu ia sedang menjaga anak yang takkan pernah bisa ia panggil "anakku".

________________________________________

Adrian pulang dengan perasaan kacau. Ia merasa bersalah pada Sasha, muak pada kebohongan Maya, namun terikat pada warisan keluarganya. Saat ia melangkah masuk ke kamar utama, lampu redup dan aroma lilin aromaterapi sandalwood menyambutnya.

Maya berdiri di dekat tempat tidur. Ia telah melepaskan perut palsunya, melepaskan topeng Nyonya Ardilwilaga yang kaku. Ia hanya mengenakan lingerie sutra merah tua yang sangat provokatif.

"Aku tahu kamu stres, Mas. Aku tahu Papa dan Mama membuatmu sulit," ucap Maya lembut, mendekati Adrian dan mulai membuka kancing kemeja suaminya satu per satu.

"May, aku sedang tidak ingin—"

"Sshhh..." Maya meletakkan jarinya di bibir Adrian. "Malam ini, lupakan Sasha. Lupakan kontrak itu. Ingatlah siapa aku. Aku adalah wanita yang pertama kali kamu cintai. Aku adalah wanita yang menemanimu membangun semua ini."

Maya mulai memberikan perhatian yang luar biasa. Ia melayani Adrian dengan gairah yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya—sebuah upaya maksimal untuk mengklaim kembali wilayahnya. Ia menggunakan setiap inci keanggunan dan keahliannya untuk membuat Adrian tenggelam dalam sensasi fisik yang memabukkan.

Dalam balutan gairah yang membara malam itu, Maya memberikan segalanya. Ia ingin membuktikan bahwa meski rahimnya kosong, ia tetaplah ratu yang tak tergantikan di hati Adrian.

Usai malam yang penuh intensitas itu, Adrian terbaring diam, memeluk Maya yang tertidur di dadanya. Ia merasa berterima kasih. Bagaimanapun, Maya adalah bagian dari sejarahnya, cinta pertamanya yang rela melakukan hal gila untuk mempertahankannya.

Namun, saat ia menatap langit-langit kamar, bayangan mata abu-abu Sasha dan detak jantung kecil di perut gadis itu tidak bisa hilang dari pikirannya.

"Terima kasih, May," bisik Adrian lirih, meski dalam hatinya ia tahu, rasa terima kasih tidak akan pernah sama dengan rasa cinta yang kini telah terbagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!