NovelToon NovelToon
Surat Cinta Untuk Dinara

Surat Cinta Untuk Dinara

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu / Cinta setelah menikah
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: kaka_21

Pagi di Surabaya tidak pernah benar-benar tenang. Suara klakson yang bersahutan di kejauhan dan deru mesin kendaraan dari arah Jalan Ahmad Yani menjadi latar musik rutin yang menemani aroma kopi dari dapur kecil apartemen lantai tujuh itu.

Dimas mengencangkan ikatan sarungnya, baru saja menyelesaikan dzikir setelah shalat Subuh berjamaah dengan istrinya. Ia menoleh ke samping, menatap Dinara yang masih bersimpuh di atas sajadah bunga-bunganya. Gadis itu tampak khusyuk, kepalanya tertunduk dengan mukena putih yang membingkai wajah polosnya.

Ada sesuatu yang selalu membuat dada Dimas berdesir setiap kali melihat pemandangan ini. Setahun lalu, ia hanyalah seorang pria yang dipaksa menyerah pada ego orang tuanya di Blitar. Kini, ia adalah seorang suami yang merasa menemukan rumahnya dalam diri gadis yang usianya dua tahun di bawahnya ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kaka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Hujan dan Jas Hujan

Surabaya siang itu tampak muram. Langit yang semula biru cerah berubah menjadi kelabu pekat dalam hitungan menit, dan tak lama kemudian, curah hujan yang deras mengguyur kota seperti tumpahan air dari langit yang jebol.

Dimas mematikan mesin SUV-nya di garasi apartemen dengan helaan napas panjang. Mesin itu baru saja mogok di tengah jalan tadi pagi, memaksa ia harus segera mencari alternatif kendaraan. Ia teringat Dinara yang sebentar lagi akan selesai kelas di kampus. Tanpa pikir panjang, ia mengeluarkan motor matic tuanya dari gudang penyimpanan.

Ia memandangi jas hujan poncho besar—jenis yang memiliki dua kepala—di sudut lemari. Sebuah seringai kecil muncul di wajahnya. Ini memang bukan pilihan paling praktis, tapi entah mengapa, ide gila itu terasa jauh lebih menarik daripada mencari rental mobil.

"Bismillah," gumamnya, lalu memacu motor itu menembus tirai hujan menuju kawasan kampus.

Setibanya di gerbang, ia melihat Dinara berdiri di bawah naungan halte yang sudah penuh sesak. Istrinya itu tampak gelisah, memegang tas dengan erat sementara jilbabnya sedikit basah terkena tempias. Ketika melihat Dimas datang dengan motor matic dan jas hujan poncho raksasa, Dinara sempat terdiam sejenak, lalu tertawa kecil di balik kerumunan mahasiswa lainnya.

"Mas! Mobilnya kenapa?" tanya Dinara saat Dimas menepi tepat di depannya.

"Mogok, Sayang. Kayaknya dia cemburu lihat kita terlalu sering pakai AC," canda Dimas. Ia menyodorkan helm ke arah Dinara. "Nih, pakai helmnya. Terus masuk ke dalam sini."

Dimas membentangkan jas hujan poncho itu. Dinara tersenyum, menyadari rencana konyol suaminya. Ia segera melangkah masuk ke dalam ruang luas jas hujan itu dan duduk tepat di belakang Dimas. Dimas menyampirkan bagian depan jas hujan ke atas kepala Dinara, sementara ia sendiri memakai kepala yang satunya. Kini, mereka berada di dalam satu "tenda" plastik yang sama.

"Rapat banget, Mas," protes Dinara sambil mencoba mengatur posisi.

"Ya namanya juga jas hujan satu kepala—eh, maksudnya satu untuk berdua. Ojo kakehan protes (Jangan banyak protes), nanti basah beneran baru tahu rasa," balas Dimas sambil tertawa.

Motor melaju kembali membelah hujan. Dinara yang awalnya mencoba menjaga jarak, akhirnya mau tidak mau merapat ke punggung Dimas agar tidak tersapu angin. Dinginnya udara Surabaya yang tersapu air hujan membuat pelukan Dinara semakin erat. Ia menyandarkan dagunya di bahu Dimas, merasakan detak jantung suaminya yang teratur di balik jaket tebal yang ia kenakan.

"Mas dingin banget ya?" bisik Dinara, suaranya teredam oleh bunyi hujan yang menghantam jas hujan plastik mereka.

"Enggak kok, malah panas ini," jawab Dimas sambil menatap jalanan yang tertutup genangan. "Soalnya ada yang peluknya kencang banget. Ini beneran takut jatuh, atau memang modus biar bisa peluk Mas?"

Dinara mencubit pinggang Dimas. "Ih, Mas ini tetap saja jahil! Orang lagi kedinginan malah dikira modus."

"Ya kan Mas cuma memastikan. Soalnya kalau pelukannya kayak begini, Mas jadi ngerasa kayak tokoh utama film romantis yang lagi shooting di tengah badai," Dimas tertawa lagi.

Sepanjang perjalanan, Dinara tidak melepaskan pelukannya. Ia menikmati setiap detik di balik jas hujan itu. Dunia di luar sana terlihat buram, hanya bayangan lampu-lampu kendaraan yang lewat, namun di dalam sini, terasa sangat hangat dan privat. Ia bisa mencium aroma kayu manis dan sisa kopi dari jaket Dimas, aroma yang kini menjadi identitas rumah bagi dirinya.

"Mas," panggil Dinara saat mereka terjebak di lampu merah perempatan besar.

"Dalem?"

"Makasih ya. Harusnya Mas nggak perlu jemput kalau hujannya sederas ini."

"Apa sih yang nggak buat kamu, Sayang? Lagian, kalau Mas nggak jemput, nanti kamu pulang naik ojek terus kena cipratan air dari mobil lain, kasihan. Kalau sama Mas, kan bisa pelukan begini. Double untung," ujar Dimas dengan nada jenaka.

Dinara tersenyum dalam diam. Ia mengeratkan pelukannya lagi, membenamkan wajahnya di punggung suaminya. Ia sadar, kehidupan pernikahan yang mereka jalani memang tidak selalu berjalan mulus seperti jalur tol. Ada mogoknya, ada hujannya, dan ada momen-momen kikuk seperti ini. Namun, dengan Dimas, bahkan momen konyol terjebak hujan di bawah satu jas hujan pun terasa seperti petualangan yang layak dikenang.

Sesampainya di parkiran apartemen, hujan mulai mereda menyisakan gerimis tipis. Saat mereka melepas jas hujan, rambut Dinara sedikit berantakan dan pipinya merona karena suhu dingin. Dimas segera melepaskan jaket luarnya dan menyampirkannya ke bahu Dinara.

"Masuk, Dek. Habis ini buat teh hangat. Mas nggak mau kamu kena flu, nanti kalau kamu sakit, Mas harus masak rendang beneran lho," goda Dimas sambil mematikan mesin motor.

Dinara tertawa, berjalan beriringan menuju lobi apartemen. "Mas kalau ngomongin rendang terus, nanti kita malah makan rendang setiap hari."

"Ya nggak apa-apa, asal masaknya sama kamu. Wis, ndang mlebu (Sudah, cepat masuk)," Dimas menggandeng tangan Dinara, menuntunnya masuk ke dalam lift yang hangat.

Di dalam lift yang sepi, mereka berdiri berdampingan. Dimas menatap bayangan mereka di pintu lift yang tertutup. Baginya, momen tadi adalah salah satu momen paling romantis yang pernah mereka lalui. Bukan karena jas hujannya, bukan karena romantisnya hujan, tapi karena di tengah dunia yang bising dan basah, mereka tetap menjadi satu kesatuan yang saling menghangatkan.

"Mas," panggil Dinara lagi saat mereka sampai di depan pintu unit apartemen.

"Ya, Sayang?"

"Nanti kalau mobil sudah bener, kita sering-sering pakai motor saja ya kalau hujan?"

Dimas tersenyum lebar, ia membuka pintu dan membiarkan istrinya masuk lebih dulu. "Siap, Bos kecil. Asal jangan lupa, jas hujannya kita upgrade ya, biar nggak terlalu sempit kalau mau pelukan kencang."

Dinara masuk ke dalam sambil tersipu, meninggalkan Dimas yang masih berdiri di depan pintu dengan perasaan menang. Ia baru saja menyadari bahwa dalam sebuah pernikahan, terkadang hal-hal yang paling merepotkan justru menjadi alasan paling kuat bagi dua orang untuk terus mendekap satu sama lain. Dan bagi Dimas, hujan Surabaya hari ini bukanlah hambatan, melainkan kesempatan untuk memastikan bahwa istrinya akan selalu merasa aman, terlindungi, dan dicintai—bahkan di balik plastik jas hujan yang murah sekalipun.

1
Wardah Saiful
bagus ceritanya,semangat thor
kaka_21: siap kakak! (kaka)
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!