NovelToon NovelToon
Dua Hati Mencintai

Dua Hati Mencintai

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Romantis
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Agustin Hariyani

Cinta tidak pernah salah.
Yang salah… hanya waktunya.
Zara mencintai Kenzy dengan cara yang tenang.
Seperti rumah yang selalu menunggu untuk ditinggali.
Seperti doa yang diucapkan pelan setiap malam.
Ia tidak pernah menuntut masa lalu Kenzy.
Ia hanya ingin menjadi masa depan yang dipilihnya.
Namun takdir tidak pernah sesederhana itu.
Karena sebelum Zara… ada Eve.
Perempuan yang pernah menjadi dunia Kenzy.
Yang mencintainya ketika hidup belum dipenuhi luka.
Yang menggenggam tangannya sebelum badai menghancurkan segalanya.
Eve tidak pergi karena tidak mencintai.
Ia pergi karena mencintai terlalu dalam.
Dan ketika ia kembali,
Ia tidak datang untuk merebut.
Ia hanya datang dengan hati yang belum selesai.
Kenzy berdiri di antara dua perempuan yang sama-sama mencintainya dengan cara yang berbeda.
Satu adalah masa lalu yang penuh pengorbanan.
Satu adalah masa kini yang penuh ketulusan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agustin Hariyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 35

Beberapa minggu berlalu, Zara jarang sekali ke rumah Ken karena banyak pekerjaan, dan Ken yang selalu pulang cepat membuat waktu mereka sedikit tersita. Ken yang fokus pada kakek dan Zara yang fokus pada pekerjaan di Kantor.

Namun hari ini, Zara ingin sekali menemui kakek dan ingin memiliki waktu dengan Ken di luar kantor.

Ia pulang lebih awal dari kantor dan memasak untuk kakek.

Ia membawa sup hangat kesukaan Kakek Jo.

Ia ingin menyuapi sendiri hari ini.

Ingin duduk lebih lama.

Ingin merasa dibutuhkan.

Tapi saat ia membuka pintu kamar.

Eve sudah di sana dan Ken pun juga berada di dalam kamar itu.

Eve sedang menyeka sudut bibir Kakek dengan lembut.

Ken berdiri di sampingnya, memegang bahu Kakek.

“Kakek tadi mau ke taman, tapi capek,” kata Eve pelan.

Zara terdiam.

“Oh… ya sudah.”

Sup di tangannya terasa berat.

“Zara, kamu nggak usah capek-capek, tadi aku sudah siapkan makanannya,” lanjut Eve lembut.

Lagi…

Selalu begitu.

Selalu satu langkah lebih dulu.

Zara tersenyum kecil.

“Iya.”

Tapi malam itu, Ia tidak tahan.

Di ruang kerja Ken,  setelah Kakek tidur.

Zara berdiri dengan wajah lebih tegang dari biasanya.

“Ken, boleh aku bicara?”

Ken mengangguk lelah.”Boleh, ada apa? Dikantor ada masalah?”

“Aku merasa eve sering kali seperti menghalangiku mendekat pada kakek.”

“Dia tidak membiarkanku melakukan apapun untuk kakek.”

Ken mengernyit.

“Maksud kamu?”

“Setiap aku ingin dekat dengan kakek… dia selalu lebih dulu, Dia selalu mendahuluiku, Aku merasa seperti orang asing di rumah ini...”

Sunyi.

Ken menghela napas.

“Zara…”

“Aku cuma ingin punya waktu juga Bersama kakek Bersama kamu.” Zara menyela

Ken berdiri.

Nada suaranya mulai berubah.

“Kamu tahu nggak…Eve ngelakuin apa setiap hari.”

Zara terdiam.

“Dia bangun lebih pagi dari siapa pun. Dia urus obat kakek. Dia yang mengurus makanan kakek . Dia bantu terapi. Dia nggak pernah ngeluh.”

Zara menelan ludah.

“Aku nggak bilang dia nggak baik.”suara zara rendah

“Tapi kamu komplain tentang sikapnya.”Nada Ken kini lebih tajam.

“Ini bukan waktu yang tepat untuk cemburu.”

Kalimat itu jatuh keras.

Zara membeku.

“Aku nggak cemburu.”

Ken menatapnya.

“Lalu apa? Kamu merasa tersaingi?”

Zara terdiam.

Ia bahkan tidak tahu harus menjawab apa.

Ken mengusap wajahnya frustasi.

“Eve sudah baik merawat Kakek dengan tulus. Kita harusnya berterima kasih. Bukan malah menghakimi dan menuduhnya nggak baik.”

Zara menatap Ken.

Matanya mulai berkaca-kaca.

“Kamu harusnya tahu itu, Zara.”

Nada Ken tidak berteriak.

Tapi cukup untuk menyayat hati kecilnya.

“Aku sudah memilihmu. Kamu.. bukan dia atau yang lain. Jadi untuk apa cemburu?”

Zara terdiam lama.

Lalu pelan berkata,

“Aku cuma ingin merasa dibutuhkan dan punya waktu Bersama kamu dan kakek.”

Ken terdiam.

Tapi egonya masih berdiri.

“Tolong mengertilah.”

Kalimat terakhir itu lebih lembut.

Tapi sudah terlambat.

Zara mengangguk pelan.

“Kalau begitu aku pamit pulang.”

Ia keluar ruangan tanpa menatap Ken lagi.

“ Aku antar...”

“ Tidak usah…”

Di dekat tangga, Eve berjalan pelan.

Seolah baru saja lewat.

Seolah tidak mendengar apa-apa.

Tapi sudut bibirnya nyaris tak bisa menahan lengkungan tipis.

“Zara…semua baik-baik saja?” tanyanya lembut.

Zara tersenyum pahit.

“Iya.”

Dan langsung keluar rumah untuk pulang.

Ia tidak ingin meneteskan air matanya di depan eve.

Lalu…Eve masuk ke ruang kerja Ken.

Ken masih berdiri, wajahnya lelah.

“Zara kenapa ken? Kalian bertengkar ya…apa karena aku?” tanya Eve pelan.

Ken menggeleng.

“Bukan salah kamu.”

Eve mendekat sedikit.

“Aku nggak mau jadi penyebab masalah kalian.”

Nada itu penuh rasa bersalah.

Palsu..Tapi sempurna.

Ken menghela napas panjang.

“Ini cuma salah paham saja.”

Eve menunduk.

“Kalau kamu butuh bantuan, ingat…aku selalu ada untuk kamu.”

Dan di dalam hatinya.

Ia merasa menang.

Ini yang dia harapkan, ia akan terus menciptakan jarak antara ken dan zara.

Malam itu hujan turun pelan.

Rumah terasa lebih sunyi dari biasanya.

Kakek sudah tidur lelap.

Dan Ken…

Masih duduk sendiri di ruang keluarga.

Pikirannya berat.

Ucapan pada Zara tadi terngiang-ngiang.

Ini bukan waktu yang tepat untuk cemburu.

Ia memejamkan mata.

Merasa bersalah.

Tapi egonya masih membuatnya diam.

Langkah kaki pelan terdengar.

Eve muncul membawa secangkir teh.

“Aku bikin teh buat kamu.”

Ken menatapnya lelah.

“Terimakasih.”

Eve duduk di sampingnya.

Tidak terlalu dekat.

Tapi cukup untuk merasakan hangat tubuh satu sama lain.

“Kamu capek ya…”

Ken mengangguk.

“Aku nggak pernah lihat kamu selemah ini dulu.”

Kalimat itu lembut, mengandung nostalgia.

Ken tertawa kecil pahit.

“Aku juga nggak pernah ngerasa seberat ini.”

Eve menatapnya lama.

“Kamu selalu kuat. Bahkan waktu semuanya gagal dulu… kamu tetap berdiri.”

Ken terdiam.

Kenangan lama seperti diputar ulang.

Masa-masa mereka saling menguatkan.

Masa ketika hanya ada mereka berdua.

Eve mendekat sedikit.

Tanpa terburu.

“Aku masih di sini, Ken.”

Kalimat itu jatuh pelan.

Dan untuk sesaat,

Ken merasa tidak sendirian.

Pelan-pelan eve mendekati Ken dan...memeluknya...hangat.

Pelukan yang awalnya ragu akan ia lakukan...namun kini penuh keyakinan, ketenangan.

Dan Ken...membalas.

Rapuh.

Lebih erat.

Lebih lama.

Ken menutup mata.

Hujan di luar semakin deras.

Eve mengangkat wajahnya perlahan.

Jarak mereka sangat dekat.

Napas bertemu.

Dan sebelum Ken sempat berpikir.

Eve menyentuhkan bibirnya.

Lembut.

Pelan.

Ken terdiam satu detik.

Lalu…

Tanpa sadar membalas.

Ciuman itu hangat.

Penuh kenangan.

Penuh rasa yang dulu pernah begitu besar.

Eve merasakan dadanya bergetar.

Dunia seperti kembali ke tempatnya.

Ini milikku.

Ini yang seharusnya terjadi.

Tangannya naik ke dada Ken, menariknya lebih dalam lagi.

Ken semakin larut.

Hingga tiba-tiba…

Bayangan wajah Zara muncul di pikirannya.

Tatapan kecewa itu.

Kepercayaan itu.

Ken tersentak.

Ia menjauh cepat.

Napasnya memburu.

“Apa yang kita lakukan…”

Eve menatapnya, masih terhanyut.

“Ken…”

Tapi Ken berdiri.

Wajahnya berubah.

Penuh penyesalan.

“Ini salah eve.”

Eve terdiam.

“Kurang ajar…” Ken marah pada dirinya sendiri.

Ken mengacak rambutnya frustrasi.

Ken mundur beberapa langkah.

“Aku hampir menghancurkan semuanya.”

Eve berdiri.

“Ken kita Cuma...”

“Eve…aku adalah calon suami Zara.”

Sunyi.

Hujan masih turun.

Ken menatap Eve sekali lagi.

Lalu berbalik.

Langkahnya cepat menuju kamarnya.

Pintu tertutup.

Dan untuk pertama kalinya malam itu.

Ken merasa dirinya gagal.

Ia bersandar di balik pintu.

Menutup wajahnya.

Merasa telah merusak sesuatu yang seharusnya ia jaga.

Di ruang keluarga,

Eve masih berdiri.

Menyentuh bibirnya sendiri.

Perlahan.

Senyum tipis muncul.

Ia tidak marah.

Tidak kecewa, Justru…Bahagia.

Ken membalas.

Itu cukup.

Artinya perasaan itu belum mati.

Ia mendekati tangga perlahan.

Memandang ke arah kamar Ken.

“Perlahan, Eve…”

Ia berbisik pada dirinya sendiri.

“Sebentar lagi.”

Sebentar lagi Ken akan ragu.

Sebentar lagi jarak dengan Zara makin lebar.

Sebentar lagi…

Ia yakin, Cinta lamanya akan kembali sepenuhnya.

Dan kali ini…

Ia tidak akan melepaskannya.

1
Azahra Wicaksono
🤣🤣😄
Retno Isusiloningtyas
jodoh Ken ore nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!