Farhan bercerai dengan Sinta, wanita yang ia nikahi selama tiga belas tahun. . Farhan jatuh cinta dengan wanita lain,, maka Sinta memilih mundur.
Setelah perceraiannya Farhan menikahi wanita pujaannya itu. Rani seorang janda beranak satu bernama Claudia. Sosok wanita rapuh, yang selalu membutuhkan dirinya. Farhan ingin jadi seseorang yang dibutuhkan di dalam keluarga. Tidak seperti Sinta yang terlalu mandiri.
bagaimana kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
YANG DIKORBANKAN
Hujan deras mengurung kota sejak malam. Sinta menatap air yang jatuh dari langit dengan pandangan tak percaya.
Padahal hari ini, tokonya sedang kebanjiran pesanan. Leo dan Adrian yang sudah rapi dengan seragam sekolah berdiri sejajar di sampingnya, sama-sama bingung harus berbuat apa.
“Bunda… kita nggak sekolah?” tanya Adrian polos.
Sinta menarik napas.
“Hujan begini gimana kita mau pergi, Nak?”
Adrian menoleh, menatap ibunya dengan mata jujur.
“Kok waktu masih ada Ayah, Bunda nekat nerobos hujan?”
“Dek!” tegur Leo cepat.
Sinta terdiam, ia bukan tidak ingat. Dulu, bahkan banjir pun tak akan bisa menghalanginya pergi ke toko kebanggaannya. Ia merasa punya kendali dan sangat dibutuhkan.
"Maaf Bun ...," ujar Adrian lirih.
Sinta menggeleng, Sedikit demi sedikit, kesalahannya pada mantan suami mulai terlihat jelas.
Kini ia paham kenapa Farhan mencari perhatian di luar.
Karena dirinya terlalu sibuk mencintai pekerjaannya.
Tak lama, hujan sedikit reda. Ia mengajak kedua anaknya pergi. Walau sedikit kesiangan. Sinta tetap membawa Leo dan Adrian ke sekolah.
Tak lama, hujan mulai mereda. Meski masih gerimis, Sinta mengajak kedua anaknya berangkat. Walau sedikit kesiangan, ia tetap membawa Leo dan Adrian ke sekolah.
Sesampainya di sana, anak-anak lain pun baru berdatangan. Para guru juga masih mengenakan jas hujan. Sinta sedikit lega—ternyata bukan mereka saja yang terlambat hari ini.
“Pagi menjelang siang, Bu Ros!” sapanya saat melihat kepala sekolah baru turun dari motor.
Perempuan itu menoleh, tersenyum lembut.
"Selamat pagi menjelang siang, Bu. Wah ... Alhamdulillah anak-anak ibu. Kalian tetap sekolah padahal baru hujan!" pujinya melihat anak-anak yang datang dengan wajah basah.
"Ayo masuk-masuk!" suruhnya.
Semua berlarian ke kelas mereka masing-masing. Sinta hendak pergi tapi langkahnya dihentikan.
"Ibu nggak nunggu? Takutnya nanti hujan lagi loh?" ujar Bu Rosita mengingatkan.
Sinta menatap langit, matahari terlihat walau awan mendung masih menggantung.
"Nggak bakalan hujan kok, Bu!" jawabnya yakin.
"Aamiin, mudah-mudahan ya!' angguk Rosita ikut melihat langit.
Sinta pun pergi, sepanjang perjalanan sedikit macet karena banyaknya genangan air. Sampai dua puluh menit, baru ia sampai di tokonya.
Ia turun, beberapa karyawatinya baru turun dari kendaraan roda dua dengan jas hujan.
"Maaf, Bu Sin. Kita kesiangan!" seru Nina salah satu karyawati.
"It's Okay!" sahut Sinta tak masalah.
"Beruntung ya, kemarin kita udah rounding adonan. Tinggal langsung kita oven!" lanjutnya sedikit lega.
Mereka pun masuk ke bangunan itu dan mulai berkegiatan di dapur. Hingga waktu makan siang, semua pesanan sudah di packing
"Apa pemesan sudah datang?" tanya Sinta.
"Sudah, Bu. Dua menit lalu, kami hidangkan kopi macha, menu baru kita. Lumayan tester gratis. Mereka suka dan langsung kasih bintang lima!" jawab manager toko.
Sinta tersenyum puas.
Pesanan terus keluar masuk. Kue dan roti masih memenuhi oven. Aroma mentega dan terigu menguar hangat, membuat suasana terasa nyaman.
Matanya berbinar melihat pelanggan berdatangan. Terlebih melihat senyum kepuasan saat pelanggan menikmati kue dan menu baru yang dihidangkan secara gratis.
"Saya mau pesan kopi macha ini dalam keadaan hangat bisa?" tanya salah satu pelanggan.
"Maaf, Pak kami belum ...," belum selesai manager toko bicara, Sinta cepat memotong.
"Bisa ... Tapi biayanya lebih mahal!"
Pelanggan itu antusias, ia langsung menyanggupi. Ketika pergi, Ninda sang manager toko menatapnya.
"Apa, Nin?" tanya Sinta yang tersenyum melihat uang DP.
"Bu, pesanan lain juga banyak ...."
"Tapi kan kita bisa selesaikan dengan cepat selama ini?" ujar Sinta tak masalah.
"Saya tau Bu. Hanya takut kualitasnya turun karena kita udah kecapean ...," sahut Ninda lemah.
Sinta terdiam, ia menatap sepuluh karyawannya yang sibuk mengolah adonan roti dan kue. Ada dua tim dengan delapan oven.
"Saya akan tambah bonus dua ratus ribu! Ini hanya lima puluh cup tumbler, kita bisa sayang!" tambahnya semangat.
Ninda hanya mengangguk lemah, sebenarnya ia sudah lelah. Semakin hari, atasannya seperti gila kerja. Ia tau jika Sinta, baru saja menjadi janda.
"Mungkin buat hilangin stress kali ya?" gumamnya dalam hati.
Sementara di sekolah, hujan kembali turun lebat. Semua anak dan orang tua berteduh di teras sekolah. Leo dan Adrian juga menunggu sang ibu.
Lalu perlahan, semua anak pulang walau kondisi hujan lebat. Tinggal Leo dan Adrian yang masih menunggu dengan membekap tas erat-erat ke dada.
"Kak ... Lapar," bisik Adrian lirih.
"Sabar ya Dek,'' ujar Leo pelan.
Guru piket bolak-balik melihat dua anak murid yang belum pulang. Ia segera melaporkan pada kepala sekolah.
"Apa, jadi Nanda Leo dan adiknya belum dijemput?" tanyanya tak percaya.
'Iya, Bu. .. Ini udah mau jam dua. Kasihan. Mereka pasti lapar!" jawab guru piket iba. .
Rosita berdiri, mengambil bekal yang belum ia makan dari dalam tasnya berikut ponselnya. Ia berjalan mendatangi dua murid yang mungkin kedinginan dan kelaparan.
"Belum dijemput, Nak?" tanya Rosita ketika melihat Leo dan Adrian yang duduk di kursi kayu menunggu ibu mereka.
Keduanya menoleh, mata mereka berair. Rosita mendekat dan memberikan bekalnya.
"Makan saja ini dulu. Ibu telepon ibu kalian ya," suruhnya lembut.
Leo dan Adrian mengangguk, walau mengambil bekal itu sedikit ragu. Tetapi rasa lapar membuat mereka memakan makanan itu dengan lahap.
Rosita terenyuh, mengingat ia dulu awal jadi janda. Berat dan kelelahan karena ia menanggung semuanya sendirian.
Dering nada sambung terdengar, tetapi tak lama sambungan itu terputus karena tak diangkat.
Rosita menatap layar, memastikan nomor telepon itu benar. Setelah yakin, ia menekan tombol hijau kembali.
Sementara itu, ponsel Sinta ada di dalam laci kerjanya. Bergetar tanpa bunyi.
Di dapur toko yang bising oleh deru mixer dan denting loyang, Sinta sedang tertawa renyah. Ia baru saja mencicipi racikan kopi matcha hangat yang dimodifikasinya sendiri. "Sempurna," gumamnya.
Pikirannya dipenuhi angka keuntungan dan bayangan tokonya yang akan semakin viral. Ia sama sekali tidak mendengar getaran di dalam laci meja kerjanya.
Sementara itu, di teras sekolah yang dingin, Adrian tersedak nasi goreng saat petir menggelegar. Bu Rosita dengan sigap memberikan air minum.
"Pelan-pelan, Sayang," ujar Bu Rosita. Wajahnya mulai tampak cemas. Ini sudah panggilan kelima, dan tetap tidak ada jawaban.
"Leo, apa Ibu biasanya sesibuk ini kalau hujan?" tanyanya lagi.
Leo menunduk, memainkan ujung seragamnya yang lembap.
"Dulu... Ayah yang jemput kalau hujan, Bu. Bunda bilang, hujan itu waktu paling ramai di toko karena orang-orang ingin makan yang hangat."
Kalimat itu bagai tamparan bagi Bu Rosita. Ia tahu jenis ambisi ini—jenis yang membuat seseorang merasa sangat "dibutuhkan" oleh dunia, tetapi melupakan mereka yang paling membutuhkan kehadirannya di rumah.
Bersambung
Dih ... Sinta ...
Next?