NovelToon NovelToon
Terjerat Cinta Sang Kapten

Terjerat Cinta Sang Kapten

Status: sedang berlangsung
Genre:Enemy to Lovers
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Rita Sri Rosita

Kirana, putri seorang menteri yang sedang naik daun, datang ke pedalaman demi meningkatkan citra politik ayahnya. Bersama reporter Carmen dan kameramen Dion, dia membuat konten kemanusiaan mengajar anak-anak desa dan memberi bantuan bersama prajurit TNI.
Kapten Damar ditugaskan mengawal kunjungan itu. sanf kapten menganggap Kirana hanyalah bagian dari panggung politik yang penuh pencitraan.
Semua berjalan lancar, hingga segerombolan pemberontak bersenjata menyerbu desa. Dalam kekacauan dan tembakan yang membabi buta, Damar harus membawa Kirana menyelamatkan diri ke dalam hutan.
Terpisah dari rombongan dan jauh dari sorotan kamera, Kirana untuk pertama kalinya menghadapi dunia tanpa privilese. Di tengah bahaya dan perjuangan bertahan hidup, tumbuh perasaan yang tak seharusnya ada antara seorang perwira yang terikat sumpah dan putri pejabat yang mulai melihat arti ketulusan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bermalam Di Kamar Sempit

Di tengah hutan, dua mayat tergeletak di antara semak dan tanah basah beberapa pria bersenjata berdiri mengelilinginya.

Salah satu dari mereka menendang tubuh yang sudah tak bernyawa itu dengan kesal.

“Mati,” gumamnya dingin.

“Jelas bukan target yang melakukannya,” sahut yang lain sambil menyipitkan mata.

“Sialan!” bentak seorang pria berwajah keras. “dia bunuh anak buah kita!”

Suasana langsung menegang.

“Siapa yang melakukan ini?” tanya pria itu lagi, nadanya berubah lebih rendah dan berbahaya.

“Belum tau,” jawab yang lain. “Tapi dia bersama target.”

Pria berwajah keras itu mengepalkan tangan.

“Kita harus cari tahu siapa dia,"

“Baik.”

Salah satu dari mereka ragu, “Orang ini, dia bisa menghabisi dua anggota terbaik kita.” Pria itu menatap tajam rekannya.

“Berarti dia bukan orang sembarangan.” Hening sesaat

“Kabari pusat, dan cari mereka Kali ini jangan sampai lolos.”

“Siap.”

Di tempat lain Damar dan Kirana keluar dari kamar, berniat pergi sebelum tempat itu semakin ramai.

Lorong masih remang-remang, suara tawa dan musik samar terdengar dari depan namun langkah Damar tiba-tiba terhenti.

Damar mengangkat tangan, memberi isyarat pada Kirana untuk diam.

“Ada apa?” bisik Kirana.

Damar tidak langsung menjawab dia menajamkan pendengarannya.

Suara itu sangat familiar suara dari radio komunikasi, di ujung lorong, seorang pria berambut gondrong terlihat berdiri sambil berbicara lewat radio di tangannya.

“Target tidak sendiri dia bersama seseorang” katanya. “Dia melumpuhkan teman kita.”

Jantung Kirana langsung berdegup kencang Damar menyipitkan mata.

“Itu Mereka ” bisik Damar sangat pelan.

“Sepertinya mereka tidak ada di sini,” lanjut pria itu. “Saya sudah periksa.” Pria itu mulai berjalan mendekat ke arah Damar dan Kirana jaraknya semakin dekat.

Kirana panik dia meremas lengan Damar, namun sebelum Kirana sempat berbicara, Damar tiba-tiba menariknya, tubuh Kirana terdorong ke dinding.

Dan dalam satu gerakan cepat Damar mencium Kirana, Kirana membeku, matanya membesar, napasnya tercekat.

Kirana tidak sempat berpikir hanya bisa merasakan detak jantungnya sendiri yang berdentum keras.

Tangan Damar menahan wajah Kirana menutup agar tak terlihat, langkah pria gondrong itu semakin dekat dia berhenti sejenak, Kirana hampir tidak bernapas lalu.

“Heh,” pria itu berdecak pelan. “Cari tempat lain kek,” Langkahnya kembali menjauh suara sepatu perlahan menghilang.

Beberapa detik setelah benar-benar sepi Damar langsung menjauh, Kirana masih terpaku tatapannya kosong.

“Maaf,” ucap Damar pelan, napasnya masih berat. “Saya tidak bermaksud," Kirana menoleh ke arah Damar tidak langsung menjawab.

Kiraan menunduk, mencoba memproses apa yang baru saja terjadi namun tanpa dia sadari dia tersenyum tipis nyaris tak terlihat.

“Ayo,” kata Damar cepat. “Kita kembali ke kamar.”

Damar menarik tangan Kirana, dan kali ini Kirana tidak bertanya.

Sesampainya di kamar, Damar langsung menutup pintu dan menguncinya.

“Kita tidak bisa pergi sekarang,” katanya tegas. “Terlalu berisiko.” Nafas Damar masih terdengar berat.

Kirana masih diam wajahnya seketika merona Damar menatapnya sekilas menyadari akan hal itu.

“Soal tadi, saya benar-benar minta maaf.” Damar mencoba membuat suasan cair.

Kirana akhirnya mengangkat wajah.

“Aku cuman terkejut,” katanya pelan. “Aku hampir lupa cara bernapas.” kata Kirana lagi.

Damar terdiam sejenak, lalu mengalihkan pandangan dari Kirana.

“Saya hanya mencoba menyelamatkan kita.” Jawab Damar mencoba terlihat tenang.

“Aku tahu , terimakasih,” jawab Kirana pelan suasan seketika jadi hening

“Kamu dengar tadi?” lanjut Damar. “Dia berbicara dengan orang yang sama seperti di hutan.” Kirana mengangguk.

“Mereka sudah tau kita masih hidup.” sahut Damar singkat.“Dan mereka mencari kita,”

Damar tidak berbicara lagi tapi ekspresinya nampak cemas.

“Kita sepertinya akan menginap disini, ” kata Damar santai. Kiran menunduk dia sedikit salah tingkah.

“Kita tunggu sampai subuh,” kata Damar lagi Kirana hanya mengangguk .

Lalu Kirana duduk di tepi ranjang menatap Damar sejenak.

"Saya percaya dengan Anda Kapten," ucap Kirana pelan.

“Kamu istirahat saja, aku jaga.”

Kirana menggeleng pelan mendengar ucapan Kapten Damar.

“Anda juga butuh tidur.” kata Kirana, dia tau betul yang paling kelelahan adalah Damar. Damar tersenyum tipis mendengar ucapan Kirana

“Saya sudah biasa.”

"Jangan keras kepala,” balas Kirana pelan. “Kalau kamu kenapa-napa kita berdua selesai.”

Damar menatapnya ada jeda kecil lalu Damar mengangguk.

“Baik kita bergantian.” ucap Damar sambil tersenyum.

Namun pada akhirnya mereka berdua sama-sama mencoba beristirahat meski tidak benar-benar tenang, dinding kamar yang tipis justru membuat suasana semakin canggung.

Suara-suara dari kamar sebelah terdengar jelas tawa, bisikan, dan hal-hal lain yang membuat wajah mereka memerah.

Kirana memalingkan wajah ke arah dinding, menutup telinga dengan bantal.Damar menelan ludah, lalu berbalik membelakangi Kirana.

“Tempat macam apa ini, ” gumam Kirana pelan.

“Tempat kita bertahan hidup,” jawab Damar singkat.

Hening lagi namun kali ini berbeda bukan hanya karena bahaya di luar sana tapi juga karena sesuatu di antara mereka mulai berubah.

Di tengah rasa takut, lelah, dan ketidakpastiaan mereka sama-sama memejamkan mata, berusaha tidur meski sadar nanti bisa menjadi awal pelarian atau akhir dari segalanya.

1
sitanggang
mcnya ternyata goblok🤦🤦
Rosie: Baca J.R.R Tolkien aja cocok buat anda jangan novel online.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!