NovelToon NovelToon
Rumah Untuk Ibu Susu Bayi Bos Sawit

Rumah Untuk Ibu Susu Bayi Bos Sawit

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Cinta Seiring Waktu / Ibu susu
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: Anna

“Untung bapak kamu banyak duit, mun mak, dak sudi nyak nyusui nikeu.”

Kelebihan kadar hormon proklaktin dan pertemuan tidak sengajanya dengan Rizal membawa Nadya pada pilihan nekat—menjadi ibu susu untuk Adam putra Rizal yang mengalami kelainan dan alergi susu formula.

Namun, siapa sangka kehadiran Rizal dan juga sang putra Adam justru memberi kenyamanan untuk Nadya. Meski disertai fitnah dan anggapan buruk Sartini—Ibu mertua Rizal, yang menginginkan Rizal turun ranjang dengan Dewi adek kandung Almarhum istri Rizal.

Bagaimana Nadya menjalani kehidupan barunya dan akankah dia menemukan apa yang dia cari pada diri Rizal dan Adam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Susu 12

Uhukkk!

Nadya seketika tersedak air yang sedang di minumnya. Mata gadis manis itu memicing, sudut bibirnya terangkat sedikit.

“Ngapa pula saya mikirin Hasna itu, kenal juga nggak,” sahutnya, kemudian.

Rizal membeliak sesaat, bibirnya bergumam, namun suaranya tercekat di tenggorokan. Laki-laki yang baru menyadari ucapannya itu, nampak begitu salah tingkah, ia lalu cepat-cepat berjalan menuju tempat sholat yang ada di sudut ruang tengah rumah itu.

“Jangan bilang Abang takut Nadya cemburu?” celetuk Nadya, dengan senyum nakal di sudut bibirnya.

Rizal berbalik cepat tanpa menyadari Nadya berdiri tepat di belakangnya. Wajah mereka pun nyaris bertubrukan.

Suasana sunyi sesaat, hanya detak jantung dan gemerisik tirai yang tertiup kipas angin yang mendominasi. Sampai suara polos Nadya kembali memecah suasana.

“Jadi, bener Abang takut Nadya cemburu? Atau takut Nadya salah paham terus minggat dari sini?” ucap gadis itu, pelan.

Ia kemudian berjinjit—mendekatkan wajahnya tepat di telinga kanan Rizal.

“Jangan terlalu perhatian, Bang. Apalagi posesif, bisa-bisa Nadya tambah baper nanti,” pungkasnya sambil meniup pelan cuping telinga Rizal, lalu berjalan meninggalkan Rizal yang sudah memerah wajahnya.

Namun, langkah gadis manis itu terhenti oleh cekalan tangan Rizal di pergelangan kirinya. Manik keduanya kembali beradu.

“Kamu yang bikin Abang baper,” balas Rizal.

Ia kemudian memutar pergelangan tangan Nadya, menatap lekat tato semicolon yang tercetak samar di urat nadi gadis itu, mengusapnya lembut seraya berucap pelan.

“Apa maksud gambar ini, Nad?”

Nadya buru-buru menarik pergelangan tangannya, matanya menyapu sekitar—menghindari tatapan Rizal yang penuh tanya. Ia lalu menjawab dengan suara dingin, namun ada getaran yang tertahan di nada bicaranya.

“Bukan urusan Abang.”

Rizal masih manatap nanar punggung Nadya yang sudah hilang di balik pintu kamar, laki-laki itu menghela napas berat. Hatinya semakin diliputi rasa penasaran tentang latar belakang Nadya.

Cara Nadya menghindar tiap kali ia bertanya tentang kehidupan pribadinya, juga penolakan gadis itu tiap kali ia ingin menyelesaikan uang perjanjian mereka, semakin membuatnya yakin bahwa Nadya bukan gadis urakan yang hanya mencari keuntungan lewat uang.

Ia kemudian berjalan menuju ruang sholat, berniat melakukan sholat isya, namun suara Bu Harmi yang sedari tadi memperhatikan dari kamarnya membuatnya terdiam seketika.

“Ambil air wudhu lagi, Zal. Nadya ‘kan belum sah jadi muhrim kamu.”

.

.

.

Gerimis mulai mengalun lembut saat mobil tukang pasang wifi meninggalkan pelataran rumah Rizal. Senyum cerah mengembang di wajah Nadya yang langsung menghidupkan ponselnya.

Seketika, puluhan pesan dan beberapa e-mail masuk ke ponsel gadis manis itu. Nadya menatap dengan saksama pesan-pesan yang di dominasi nama Rizka. Ia lalu mengetik balasan singkat sebelum meletakkan ponselnya di meja, kemudian mengambil laptopnya dari dalam lemari.

Sambil sesekali menatap Adam yang tertidur lelap, Nadya mulai menghidupkan laptopnya, namun gerakannya terhenti saat suara melengking Bu Sartini menyapa dari depan pintu kamar.

“Aduh … makin kaya Nyonya, ya, kamu Nadya ada wifi. Di kamar aja main hp sama …,” Bu Sar melirik sekilas laptop yang ada di depan Nadya, sudut matanya memicing tajam. “Begaya sekali pakai laptop segala, kaya ngerti aja,” cibirnya kemudian.

Nadya memutar bola matanya malas, bibirnya berdecak kesal. “Bisa nggak sih kalo mau masuk kamar orang itu ketuk pintu dulu?! Kebiasan betul!”

Alis lancip Bu Sar menukik tajam, satu tangannya bertopang di pinggang satu lagi mengacung ke wajah Nadya. “Siapa kamu berani ngatur saya.”

“Yang punya kamar ini,” sahut Nadya santai.

Bu Sar semakin menaikkan dagunya, sorot matanya menusuk ke arah Nadya. “Heh Nadya, jangan semakin seenaknya sendiri kamu mentang-mentang Rizal sama Bu Harmi selalu membela kamu. Kamu itu nggak ada apa-apa nya di banding Sukma.”

Nadya menghela napas lelah, lalu duduk di sisi ranjang sambil menepuk pelan paha Adam yang menggeliat—pertanda mulai terganggu dengan kebisingan itu.

“Sapa pula yang mau di bandingkan sama anak Ibu,” sahutnya kemudian.

Senyum remeh melengkung dari bibir tipis Bu Sar, tatapannya melunak. “Baguslah kalo kamu sadar diri. Tinggal tunggu waktu aja kamu diusir sama Rizal dari sini.”

Nadya masih fokus dengan Adam yang semakin gelisah di tidurnya, gadis manis itu lalu mengangkat tubuh mungil anak susunya, menimangnya pelan, sambil mencoba kembali menenangkan.

“Ibu sudah puas ngocehnya? Kalau sudah silahkan keluar, saya mau netek’in Adam. Atau mau saya lempar lagi, mumpung ada laptop ini samping saya, lebih mantep kayanya kalo saya lempar ke muka Ibu,” ucap Nadya.

Senyum licik terulas di wajah manis Nadya saat melihat air muka Bu Sar sedikit memucat. Ia lalu meletakkan Adam kembali ke kasur, setelah itu beranjak dari tempatnya dan berdiri tepat di hadapan Bu Sar yang masih berkacak pinggang.

Tatapannya menjurus ke netra Bu Sar yang sedikit bergetar. “Ndak usah nunggu diusir, kalo urusan saya di sini sudah selesai, saya bakal pergi sendiri, itupun kalo…,” Nadya menggantungkan ucapannya, menangkap jelas senyum puas yang tergaris samar di wajah Bu Sar.

Ia kemudian maju satu langkah, mengikis jarak hingga tersisa beberapa senti dari wajah Bu Sar yang keriput. Ujung bibirnya terangkat sedikit.

“Itupun kalo Bang Rizal mau ngelepasin saya,” lanjutnya sambil berjalan ke arah pintu.

“Sekarang keluar dari kamar saya, duduk tenang di luar, tunggu sampai urusan saya selesai dan lihat siapa yang bakal diusir dari rumah ini,” imbuhnya dengan senyum remeh di akhir ucapannya.

“Kam—”

Oeekk!

Baru saja Bu Sar ingin melayangkan balasan tangis Adam menyela dengan begitu nyaring. Ia menoleh sekilas ke arah cucunya lalu memilih keluar kamar dengan langkah berat. Ekor matanya melirik sinis wajah Nadya yang masih mengulas senyum.

Di luar kamar Bu Sar terus menggerutu, bibirnya mengoceh sambil berjalan ke arah dapur, memeriksa apapun yang mungkin bisa dia bawa pulang.

Mata wanita paruh baya itu menyapu isi dalam kulkas, memeriksa tiap barang yang terbungkus plastik.

“Banyak sekali stok ikan sama sayuran, bisa-bisa busuk ini kalo terlalu lama di kulkas,” gumamnya, lalu mengambil beberapa bungkus ikan dan segenggam cabai.

Bu Sar masih asik memilih bahan makanan yang di inginkannya saat suara Yessy mengejutkan dari arah belakang.

“Mau buat apa ikan itu di keluarkan, Wak?” tanya gadis dengan suara cempreng itu.

Bu Sar menengok sekilas, ujung matanya memicing sinis. “Ya di masaklah, Rizal kan paling suka pindang bikinan mamahnya.”

Yessy terbelalak, bibirnya bergumam lirih. “Kapan pula kamu pernah masakin buat Bang Rizal.” Yessy lalu berjalan mendekat, memeriksa apa saja yang di keluarkan oleh Bu Sar.

Mata gadis itu menyipit saat melihat isi bungkusan di plastik merah yang baru di keluarkan Bu Sar, tangan kanannya dengan cepat mengambil plastik berisi ikan betok dan lempok(ada juga yang menyebut lais) yang kusus di pesan Bu Harmi untuk Nadya.

“Wak, ini punya Yuk Nadya, jangan dibawa. Ibu saja pesannya berhari-hari sama Mang Ujang,” seru Yessy, lalu berniat memasukkan kembali bungkusan itu ke dalam kulkas.

Bu Sar dengan cepat mengambil bungkusan ikan itu, sambil menatap galak ke arah Yessy.

“Ini di beli pake duit Rizal. Duit mantu saya, jadi terserah saya mau ambil yang mana. Lagi pula, siapa Nadya kok sampe di belikan makanan khusus? Nyonya di rumah ini?! Yang ngelahirin keturunan Rizal juga anak saya bukan dia, itu artinya ini semua punya anak saya,” oceh wanita itu sambil memasukkan beberapa bungkusan ke plastik yang lebih besar lalu beranjak pergi.

“Astagfirrallah … sudah ngelebihin kucing nyuri ikan asin itu manusia, Ibu sama Bang Rizal ngapa pula lama betul perginya, bisa habis ini isi rumah kalo itu manusia nggak cepet pergi,” gumam Yessy.

Ia kemudian mengikuti langkah Bu Sar, berniat memastikan wanita paruh baya itu benar-benar akan pulang, namun langkah gadis belia itu terhenti saat melihat seseorang berdiri di ambang pintu.

“Ayuk Hasna.”

Bersambung.

1
Ita Nuryani
gak pernah dobel up tor
Anna: Lagi ngerjain 2 judul, Kak, jadi hemat bab biar bisa up setiap hari. 🙏
total 1 replies
Ratih Tupperware Denpasar
nenek lampir sewot lihat nad nad dikasi ATM.
Anna: kita bikin makin jantungan. 😄
total 1 replies
Ratih Tupperware Denpasar
akankah setelah ini trio kwek kwek yg selalu berisik tahu siapa sebenarnya nadia?
Anna: siap, terima kasih sarannya, Kak. 🫶
total 4 replies
SooYuu
ih dikitnya upnya kak, berasa ngedip dah bersambung aja😩
Anna: istigfar.
total 1 replies
SooYuu
suruh isep ppnya😭 eh lah keceplosan😩😩
Anna: Hehh, otewe kata Bang Rizal. 😗
total 1 replies
SooYuu
dih🤣🤣
Anna: ape luu. Kata Dewi🫢
total 1 replies
Ratih Tupperware Denpasar
kok up nya cuma sedikit. up yg banyak dong kak...kukasi secangkir kopi deh
Anna: inginnya begitu, tapi apalah daya otak tak sampai ... 😖
total 1 replies
Linceu thea
nah zal hayoo ... tanya hasna sana 😂😂😂
Anna: Rizal menggaruk tengkuk yang tak gatal.
total 1 replies
gendhis jawi
hbs ini adam sakit gr2 sufor
Anna: kita bikin panik Bang Rizal.
total 1 replies
Dae_Hwa💎
Jangan sampai mulut ibu, saya bekap pakai kaos partai.
Anna: Yang ada bantengnya, biar sekalian nyruduk.
total 1 replies
SooYuu
kirain glundung dari kasur 🤣
Anna: glundung??? trauma eyy 🫢
total 2 replies
Linceu thea
tenang nad masih ada mas rijal 😂😂😂
Dae_Hwa💎
Selamat untuk karya barunya, Kak Anna 🥰
Semangat 🔥
Anna: Awwww 🫶
total 1 replies
SooYuu
udahlah Has iklhas saja, kali ini pun kau takkan menang. instingku mengatakan demikian🤣
SooYuu
wah, memang abang rizal ini macam buaya2 pada umumnya
SooYuu
iyuh R&H 😭😭
Anna: pake benang emas.catet.
total 1 replies
Linceu thea
ya bersambung ga jadi deh ikut nimpuk pala ma sur nih 😄😄😄
Linceu thea: 😂😂 biar amunisi ny kuat lanjut thor
total 2 replies
Rehan Atar
widih nunggu lagi ..... gasss kenceng nulisnya thor dah nyandu penasaran sama preman2 yg ngejar nadya 😄
Anna: Preman sedang war THR🌴
total 1 replies
nayla tsaqif
Ujian cinta kita katanya,, cinta kamj aja kali naa hasna,, 🤭
Anna: Jatuh cinta memang manis .... apalagi .... 🌴
total 1 replies
Yessi Kalila
pengin coba pindang baung.... kaya apa rasanya y
Anna: nikmat betull, Kak. Apalagi kepalanya behhhh ... mertua betamu juga nggak bakal saya bukain pintu. 🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!