Gian pergi ke desa untuk menghilangkan penat di kota. Tapi saat menikmati keindahan desa, dia bertemu dengan Anisa, wanita galak dengan paras alami yang cantik.
Pertemuannya dengan Anisa membuat Gian ingin cepat-cepat kembali ke kota, tapi suatu kejadian mengharuskan Gian untuk tetap bertahan di desa dan sering bertemu dengan Anisa.
Sampai suatu ketika, Anisa dan Gian terpergok oleh beberapa warga sedang berdua di sebuah gubuk di tengah sawah dengan minim pakaian, warga pun marah dan memaksa Gian dan juga Anisa untuk menikah.
Mereka menjalani pernikahan masih dengan perasaan saling membenci, bagaimana kelanjutan pernikahan mereka? Berpisah atau bertahan? Stay tuned!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fareed Feeza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23
Gian menutup telponnya dengan kesal, dia mengacak rambutnya frustasi.
Telpon tadi berasal dari Arabela ... Dia memberitahu bahwa dirinya terjebak masalah, kecelakaan lalu lintas dan menabrak beberapa mobil, Arabela memohon pada Gian untuk menolongnya kali ini ... Karena orang tuanya sudah tidak bisa di andalkan.
Arabela mengatakan jika nasibnya kini ada di tangan Gian, jika Gian tega tidak mau membantunya ... Arabela akan di tahan oleh pihak kepolisian dan masa depan karirnya akan hancur karena mempunyai riwayat sebagai narapidana.
"Sial ... Sial ... Sial!!!!!" Racau Gian.
Perlahan tapi pasti, Nisa berjalan mendekat pada Gian ... dia menggunakan dress yang di pesan oleh Gian di marketplace ... Dress kurang bahan ... Itulah yang Nisa sebut saat membuka paket dress tersebut.
"Kamu kenapa?" Tanya Nisa bingung, respon yang di harapkan Nisa dari Gian tidak dia dapatkan malam ini, suaminya tidak membahas sama sekali soal penampilan terbarunya malam ini.
"T-temanku ... Kecelakaan, bolehkah sebentar aku datang ke rumah sakit untuk menolongnya? Dia tak ada keluarga."
Raut wajah Nisa berubah panik, seketika kekecewaannya hilang. "Segera ... Ayo bantu dia, apa perlu aku temani?"
"T-tidak, kamu tunggu aku di rumah. Aku berangkat sekarang." Gian mencium kening Nisa sedikit lama, lalu tangannya meraih jaket dan juga kunci mobilnya yang tergeletak di meja kamar.
Semoga temannya tidak mengalami hal serius. Batin Nisa.
Malam itu juga Nisa mengganti kembali pakaiannya ... Karena tidak ada tujuannya jika Gian tidak ada di sampingnya saat ini.
***
"Gian aku tau kamu pasti datang, kamu peduli dan masih sayang kan sama aku?" Lirih Bela, tangannya terpasang infus dan juga perban di kepala.
Gian membuang pandangannya, dia terpaksa datang karena murni iba ... Karena kondisi ekonomi Bela saat ini memang mengkhawatirkan. "Langsung pada intinya saja, aku harus apa?" Ucap Gian dengan nada malas.
"Aku harus mengganti kerugian 3 mobil yang sudah aku rusak."
"Kenapa bisa begitu?"
"Aku muak naik taxi online, aku rindu menyetir dengan tanganku sendiri Gian, dan aku nekat menyewa mobil di rental hanya untuk mengabulkan keinginanku, dan imbas dari kecelakaan ini ... Aku harus mengganti semua total kerugian."
"Gila! Untuk apa kamu melakukan hal tidak berguna seperti itu ... Kamu fikir aku konglomerat?! Akupun sedang merintis."
"Bukankah keluargamu kaya raya Gian? Minta saja pada orang tuamu. Perlu kamu ingat Gian ... Dulu aku selalu kamu utamakan dalam hal apapun, tolong ... Sekali ini bebaskan aku dari masalah untuk yang terakhir kalinya." Rengek Bela.
"Pertanyaannya, saat ini ... Apa posisimu dalam hidupku? Hm?"
"Aku dulu pernah jadi ... "
"Ah sudahlah ... Tidak usah bahas dulu dulu, aku pulang! Buang - buang waktu saja."
"G-gian ... Sekali lagi, aku mohon ... "
"Apa?!"
"Antar aku pulang ke rumah, aku akan jujur dengan masalah ini pada orang tuaku, please sekali ini saja tolong aku."
Setelah meminta izin pada dokter untuk di pulangkan, dengan jaminan beberapa data pribadi agar Arabela tidak bisa kabur dengan tanggung jawabnya, Gian mendorong kursi roda Arabela keluar dari ruang IGD.
Tanpa di sangka, banyak wartawan yang sudah menunggu di lobby rumah sakit, karena kecelakaan yang Arabela perbuat sudah viral di sosial media.
Bukan hanya Arabela yang di cecar berbagai pertanyaan tapi juga Gian, Gian sama sekali tidak memperdulikan semuanya ... Dia fokus mendorong Arabela dan membelah wartawan yang berkumpul menuju mobilnya.
.
.
"Bisa jalan sendiri kan?" Gian memarkirkan mobil di depan gerbang rumah Arabela.
"Bantu aku, badanku sakit semua." Rintih Bela.
"Kalau memang sakit semua, kenapa memaksa pulang? Padahal kan bisa saja kamu menelpon orang tuamu untukndatang ke RS."
"Mereka pasti tidur, aku tidak mau menganggu istirahatnya."
"Cih ! Lalu apa kabar denganku? Hah?!" Protes Gian.
Karena ingin cepat menyelesaikan urusan yang tidak penting ini, Gian terpaksa membantu Arabela berjalan untuk memasuki rumahnya.
"Gian ... Aku takut."
"Apalagi?!"
"Aku takut orang tuaku marah karena ulahku ini."
"Ya memang seharusnya!"
"Temani aku sampai situasi aman."
Gian menghela nafasnya, lagi-lagi Arabela melunjak pada setiap kebaikannya.
"Mama ... Papa!" Bela memanggil dengan suara lumayan kencang dari arah ruang tamu.
"Ketuk saja pintu kamarnya." Perintah Gian.
Tak lama suara pintu kamar di buka, Papa Bela keluar dengan mata yang di sipitkan ke arah Gian dan juga Bela.
"Ada apa malam-malam seperti ini? Kenapa kamu bersama Gian?" Tanyanya sambil berjalan mendekat.
Bukannya menjawab, Arabela memasang wajah sedih sambil sesekali terisak.
"Kenapa kepalamu di perban seperti ini, apa yang sudah terjadi?!"
Gian geram betul dengan sikap Arabela yang hanya diam dan menimbulkan spekulasi buruk terhadapnya.
"Bela sudah menabrak beberapa orang, dan dia harus mengganti rugi akan semua kerusakan yang ditimbulkan. Dan aku disini hanya di minta untuk mengantar sampai rumah." Ucap Gian dengan lantang.
Arabela menangis makin menjadi, ini adalah jurusnya agar papanya tidak bermain kekerasan padanya, terlebih lagi dia membawa Gian sebagai perlindungan dirinya.
"Papa ... maafin Bela." Lirihnya.
"Bagaiman bisa kamu lakukan ini Bela?! Sedangkan kamu tidak mempunyai kendaraan! Kendaraan siapa yang kamu pakai?!"
Merasa sudah cukup membantu Bela, akhirnya Gian membalikan badannya dan pergi tanpa permisi pada keduanya.
Untuk apa aku mendengar mereka berdebat, lebih baik aku pulang ... padahal Nisa sudah berdandan cantik dan sexy untukku malam ini, semuanya gagal karena Bela! Batin Gian.
***
Sampai di rumah.
Gian menyingkap selimut yang sedang Nisa pakai dengan sangat pelan, dia tak ingin mengganggu istrinya yang sedang tertidur pulas, walaupun sebenarnya rasa ingin menyentuh Nisa sangat menggebu.
Dia mengganti bajunya, maafkan aku sayang. Batin Gian.
.
.
Pagi harinya.
"Morning istriku yang cantik." Ucap Gian saat kedua mata Nisa terbuka.
"Eugh ... Kamu pulang jam berapa? Gimana temanmu, selamat?"
"I-iya ... Dia selamat." Gian terpaksa berbohong, karena tak ingin Nisa berfikir jauh ke arah sana, karena memang dirinya tidak menaruh niat buruk untuk mengkhianati pernikahannya, semua ini Gian lakukan hanya tolong menolong sesama manusia.
"Syukurlah ... Kamu bawa mobilnya hati-hati, aku gamau sampai kamu kecelakaan juga." Nisa menelusupkan kepalanya pada dada Gian, karena wanita itu semalaman merindukan suaminya.
Gian mengembangkan senyumnya, tangannya mengusap lembut rambut istrinya. "Aku akan hati-hati ... Untuk kamu."
Nisa makin mengeratkan pelukannya, begitu juga Gian. "Rasanya aku ingin ... " Tangan Gian mulai merayap nakal, menyelusup ke dalam baju tidur Nisa.
"Sayang ... Sebentar lagi jam sarapan, Ibu dan ayah pasti mempertanyakan kita."
"Hm ... Baiklah, nanti malam. Oke?"
"Oke! Yuk mandi dulu." Kata Nisa sambil mengecup kedua pipi Gian, karena sudah mau bersabar.
***
Siang harinya, Saat ibu mertuanya tidur siang ... Nisa tetap terjaga, dia bosan dengan ponselnya, lalu dia mengambil remote tv yang tergeletak di meja lalu menyalakannya.
"Sudah lama tidak menonton tv, semenjak ada ponsel ... Apa kabar sinteron kesayanganku ya? Apakah sudah tamat?" Gumamnya sambil tangannya menekan tombol Chanel, mencari tayangan yang sesuai dengan seleranya.
Seketika tangannya berhenti menekan tombol Chanel, saat melihat berita kecelakaan yang terjadi semalam.
Maaf ya aku telat update 🙏