NovelToon NovelToon
Aturan Main Sang CEO

Aturan Main Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Identitas Tersembunyi / Pernikahan Kilat / CEO / Office Romance / Balas Dendam
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

Lyra Graceva hanyalah seorang sekretaris teliti yang hidup dalam bayang-bayang trauma ibunya dan status "anak haram". Namun, dunianya runtuh sekaligus bangkit saat bosnya yang obsesif, Sean Nathaniel Elgar, menjeratnya dalam sebuah pernikahan kontrak yang berubah menjadi kepemilikan mutlak. Di balik gairah panas dan sikap posesif Sean, tersembunyi rahasia kelam masa lalu yang melibatkan kedua orang tua mereka. Lyra yang awalnya rapuh, bertransformasi menjadi "Ratu" yang dingin demi membalaskan dendam ibunya dan mengungkap kebenaran tentang asal-usulnya, sementara Sean bersumpah akan menghancurkan siapa pun—termasuk keluarganya sendiri—demi menjaga Lyra tetap di sisinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

33. Ruang Hampa di Balik Dendam

Bau antiseptik yang tajam menyengat indra penciuman saat Lyra melangkah masuk ke ruang perawatan intensif. Di atas tempat tidur dengan sprei putih yang kaku, Hana duduk bersandar pada tumpukan bantal. Matanya tidak lagi menatap kosong ke arah taman, melainkan terpaku pada tangannya sendiri yang gemetar.

"Ibu..." bisik Lyra, suaranya parau karena sisa tangis di dermaga tadi.

Hana perlahan mengangkat wajahnya. Tidak ada teriakan histeris. Tidak ada sebutan 'harimau jahat'. Hanya ada genangan air mata yang jatuh perlahan melintasi kerutan di pipinya.

"Lyra," suara Hana terdengar lebih jernih dari biasanya, meski sangat lemah. "Pria itu... pria yang menjagaku... dia sudah benar-benar pergi, kan?"

Lyra berlutut di samping tempat tidur, menggenggam tangan ibunya yang terasa sedingin es. "Iya, Bu. Pak Gunawan... dia sudah tidak ada."

Hana menarik napas panjang yang terdengar sangat berat, seolah oksigen di ruangan itu terlalu sulit untuk ia hirup. Di ambang pintu, Sean berdiri dalam diam dengan lengan yang masih terbalut perban, sementara Arsen bersandar di dinding koridor, mengamati pemandangan itu dengan tatapan penuh simpati.

"Kenapa, Lyra?" Hana bertanya lagi, suaranya bergetar. "Kenapa dia harus berdiri di depan peluru itu? Dia menghancurkan hidupku tiga puluh tahun lalu. Aku menghabiskan seluruh waktuku dalam kegelapan karena membencinya... tapi kenapa dia menutup matanya sambil tersenyum padaku?"

"Dia ingin menebus dosanya, Bu," jawab Lyra lembut. "Dia memberikan segalanya untuk memastikan Ibu aman."

Hana tertawa kecil, sebuah tawa getir yang lebih menyakitkan daripada tangisan. "Tebusan? Dia sangat egois. Dia pergi dan membawa seluruh kebencianku bersamanya. Selama ini, kebencian pada Gunawan adalah satu-satunya hal yang membuatku merasa 'hidup' di tengah kegilaanku. Aku benci dia, aku takut padanya, aku ingin dia menderita..."

Hana menjeda kalimatnya, air matanya kini mengalir deras tak terbendung. "Tapi sekarang, saat dia mati untuk melindungiku, kebencian itu menghilang. Hilang begitu saja, Lyra. Dan yang tersisa hanya... kehampaan. Hatiku terasa sangat kosong. Rasanya seperti aku kehilangan satu-satunya orang yang benar-benar mengenalku, meski dia mengenalku melalui rasa sakit."

Sean melangkah masuk ke dalam ruangan, ia berdiri di belakang Lyra. Hana menatap Sean cukup lama. Biasanya, Hana akan menjerit saat melihat wajah yang mirip dengan Martha itu, tapi kali ini ia hanya menatapnya dengan lelah.

"Kau putranya Martha, kan?" tanya Hana pelan.

Sean mengangguk pelan, rahangnya mengeras. "Benar, Bibi Hana. Aku Sean."

"Kau sangat mirip dengan wanita itu, tapi matamu... matamu memiliki luka yang sama dengan Gunawan," Hana mengulurkan tangannya yang gemetar ke arah Sean. "Jangan ikuti jejak ibumu. Jangan hancurkan wanita yang kau cintai hanya karena kau ingin memilikinya. Gunawan terlambat menyadari itu, dan dia harus membayar dengan nyawanya."

Sean terdiam, ia merasakan remasan di jantungnya. Ia melirik Lyra yang sedang menatapnya dengan penuh harap. "Aku tidak akan membiarkan itu terjadi, Bibi. Aku akan menjaga Lyra dengan caraku sendiri, bukan dengan cara Martha atau Gunawan."

Arsen masuk ke ruangan, mendekati Kirana yang berdiri di sudut. "Ibu Hana, Vasco sudah tertangkap. Dokumen yang dia curi sudah kembali ke tangan Lyra. Wijaya Group sekarang sepenuhnya milik putrimu. Tidak akan ada lagi yang bisa mengganggumu."

Hana menoleh ke arah Arsen, lalu tersenyum tipis. "Kau... anak kecil yang dulu sering membawakanku bunga liar di taman, kan? Kau sudah besar, Arsen. Terima kasih sudah menjaga putriku dari jauh."

"Itu tugasku, Bibi," sahut Arsen singkat, menyembunyikan sisi emosionalnya di balik wajah datarnya.

Hana kembali menatap langit-langit kamar. "Gunawan... pria bodoh itu. Dia pikir mati untukku akan membuatku memaafkannya. Dia salah. Aku tidak memaafkannya, aku hanya... kehilangan alasan untuk membencinya. Dan itu jauh lebih menyakitkan daripada kemarahan."

Malam itu, di ruang perawatan yang sunyi, Hana mulai bercerita. Ia menceritakan potongan-potongan ingatannya yang mulai kembali—tentang masa lalu di panti asuhan, tentang pengkhianatan Martha, dan tentang cinta terlarang yang akhirnya hancur berantakan.

Lyra mendengarkan dengan seksama, menyadari bahwa kemenangan mereka atas Vasco dan Martha adalah kemenangan yang pahit. Mereka mendapatkan harta dan keadilan, tapi mereka kehilangan kedamaian yang sederhana.

"Sean," panggil Lyra saat mereka akhirnya keluar dari ruangan untuk memberi waktu Hana beristirahat.

"Ya?"

"Bisa kau berjanji satu hal?" Lyra menatap mata suaminya yang gelap. "Jangan pernah biarkan obsesimu menjadi penjara bagiku. Aku sudah melihat bagaimana Gunawan menghancurkan Ibuku, dan aku tidak ingin kita berakhir seperti mereka—saling mencintai namun hanya menyisakan kehampaan."

Sean menarik Lyra ke dalam pelukannya, mencium puncak kepalanya dengan sangat lama. "Aku berjanji, Lyra. Jika suatu saat kau merasa aku adalah penjara bagimu, aku sendiri yang akan memberikan kuncinya padamu. Tapi selama kau masih ingin bersamaku, aku akan menjadi benteng yang tak akan pernah bisa ditembus oleh siapa pun."

Di koridor rumah sakit, Arsen menatap pasangan itu dari kejauhan. Ia tahu badai besar mungkin sudah berlalu, tapi sisa-sisa ombaknya masih akan terus menghantam mereka. Ia melirik Edward Elgar yang masih duduk di bangku tunggu, tampak merenungi seluruh dosa masa lalunya.

"Pulanglah, Ayah," ujar Arsen, menyebut kata itu untuk pertama kalinya. "Ibu Kirana menunggumu di rumah. Mari kita mulai dari awal, sebelum kehampaan ini menelan kita semua."

Edward mendongak, matanya bersinar dengan harapan baru. Babak baru kehidupan mereka telah dimulai, bukan di atas tumpukan harta, melainkan di atas puing-puing penyesalan yang coba mereka rakit kembali menjadi sebuah keluarga.

1
aditya rian
sean punya sodara nih pasti...
umie chaby_ba
😍😍😍😍
Ariska Kamisa
semoga para pembaca menikmatinya ,
aditya rian
😍😍😍😍😍
Uthie
bakal nyesel gak tuhhh 😁
Uthie
coba mampir 👍
umie chaby_ba
ini penjahat bersahabat dengan penjahat..🫣🫣
umie chaby_ba
what? /Sob/
umie chaby_ba
lalu anak siapa??
umie chaby_ba
what??? apa jangan-jangan Lyra.... anak Edward?🫣
umie chaby_ba
waduh...
umie chaby_ba
oh... cinta pada pandang pertama 🤭
umie chaby_ba
🫣
umie chaby_ba
ulasan pertama /Good/
Rame sih ....
shack... shick.... shock..
cepet terungkapnya ... jebreet jebret...
umie chaby_ba
waah waah udah ada yang baru lagi ... tema posesif posesif gitu aku suka.... 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!