NovelToon NovelToon
Aturan Main Sang CEO

Aturan Main Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Identitas Tersembunyi / Pernikahan Kilat / CEO / Office Romance / Balas Dendam
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

Lyra Graceva hanyalah seorang sekretaris teliti yang hidup dalam bayang-bayang trauma ibunya dan status "anak haram". Namun, dunianya runtuh sekaligus bangkit saat bosnya yang obsesif, Sean Nathaniel Elgar, menjeratnya dalam sebuah pernikahan kontrak yang berubah menjadi kepemilikan mutlak. Di balik gairah panas dan sikap posesif Sean, tersembunyi rahasia kelam masa lalu yang melibatkan kedua orang tua mereka. Lyra yang awalnya rapuh, bertransformasi menjadi "Ratu" yang dingin demi membalaskan dendam ibunya dan mengungkap kebenaran tentang asal-usulnya, sementara Sean bersumpah akan menghancurkan siapa pun—termasuk keluarganya sendiri—demi menjaga Lyra tetap di sisinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30. Penebusan Terakhir Gunawan

Klinik rehabilitasi di pinggiran Jakarta itu biasanya sangat tenang, hanya suara kicauan burung dan desis angin yang melewati pepohonan jati. Namun sore itu, udara terasa sangat berat. Di dalam kamar paviliun yang luas, Gunawan Wijaya duduk di samping tempat tidur Hana. Ia tidak lagi mengenakan jas mahal atau jam tangan mewah. Pria itu tampak sangat sederhana, dengan raut wajah yang hanya dipenuhi oleh satu hal: penyesalan.

Ia memegang tangan kurus Hana, mengusapnya perlahan. "Hana... sudah tiga puluh tahun. Aku tidak berharap kau memaafkanku. Aku hanya ingin kau tahu bahwa sisa napasku adalah milikmu."

Mata Hana yang biasanya kosong, tiba-tiba bergerak. Ia menoleh perlahan ke arah Gunawan. Bibirnya yang pucat gemetar, mencoba membisikkan sesuatu yang sudah lama hilang dari ingatannya.

"Gu... na... wan..."

Suara itu sangat lemah, nyaris seperti embusan angin. Namun bagi Gunawan, itu adalah suara guntur yang meruntuhkan tembok pertahanannya. Air mata pria tua itu jatuh membasahi sprei. Hana mengenalinya. Setelah sekian lama berada dalam kegelapan mental, Hana menyebut namanya bukan dengan jeritan ketakutan, melainkan dengan pengakuan yang tenang.

"Ya, ini aku, Hana. Aku di sini," isak Gunawan.

Namun, momen haru itu hancur seketika saat pintu paviliun ditendang terbuka dengan kasar. Beberapa pria berbadan tegap masuk, dipimpin oleh seorang pria dengan senyum licik yang sangat familiar: Vasco Wijaya.

"Sangat menyentuh, Paman Gunawan," Vasco bertepuk tangan pelan, matanya berkilat penuh keserakahannya. "Reuni dua orang yang sudah rusak. Sayangnya, waktu kalian sudah habis."

Gunawan langsung berdiri, menghalangi tempat tidur Hana dengan tubuhnya. Auranya kembali mengeras, mencoba melindungi wanita yang dulu ia hancurkan hidupnya. "Vasco! Apa yang kau lakukan di sini?! Keluar!"

"Aku butuh Hana, Paman. Dia adalah kunci terakhir untuk membatalkan pengalihan aset Wijaya Group kepada anak haram itu," Vasco melangkah maju, mengeluarkan sepucuk pistol dari balik jasnya. "Lyra tidak akan bisa mengklaim apa pun jika ibunya menandatangani surat pernyataan bahwa dia ditekan secara mental saat menyerahkan sahamnya."

"Kau gila! Hana sedang sakit! Dia tidak tahu apa-apa!" raung Gunawan.

"Justru karena dia tidak tahu apa-apa, dia akan sangat mudah dipaksa," Vasco menyeringai. "Minggir, Paman. Jangan biarkan hubungan darah kita terputus di sini."

"Langkahi mayatku dulu, Vasco!" Gunawan menerjang maju, mencoba merebut pistol dari tangan keponakannya itu.

DOR!

Suara tembakan meletus, memecah kesunyian klinik. Hana menjerit histeris, menutupi telinganya. Gunawan terhenti, ia menatap dadanya yang mulai basah oleh darah merah pekat. Ia terhuyung, namun tangannya masih berusaha meraih kaki Vasco agar pria itu tidak mendekati Hana.

"Larilah... Hana... lari..." bisik Gunawan dengan sisa tenaganya.

Vasco menatap paman kandungnya dengan jijik. Ia melepaskan satu tembakan lagi tepat di jantung Gunawan untuk memastikan pria itu tidak menghalanginya lagi. Gunawan Wijaya, sang CEO perkasa yang dulu begitu sombong, tewas di lantai klinik yang dingin demi melindungi wanita yang pernah ia sakiti.

Hanya berselang lima belas menit setelah kejadian, tiga mobil SUV hitam melesat masuk ke halaman klinik dengan kecepatan tinggi. Sean, Lyra, dan Arsen turun dengan wajah yang dipenuhi kecemasan.

"Ibu!" Lyra berlari masuk, mengabaikan teriakan Sean yang mencoba menahannya.

Saat Lyra sampai di depan pintu paviliun, ia terpaku. Dunia seolah berhenti berputar. Bau mesiu dan darah menyengat indra penciumannya. Di sana, di atas lantai, Gunawan Wijaya tergeletak tak bernyawa dengan mata yang masih setengah terbuka, seolah-olah masih mengawasi keselamatan Hana.

"Ayah..." bisik Lyra tak percaya. Meski ia membenci pria itu, melihat Gunawan tewas bersimbah darah tetap menghancurkan hatinya.

Hana duduk meringkuk di pojok tempat tidur, gemetar hebat sambil menatap mayat Gunawan. Ia tidak berteriak lagi, ia hanya menatap kosong, kembali masuk ke dalam cangkang traumanya.

Sean masuk ke ruangan, matanya berkilat dengan amarah yang mematikan saat melihat mayat Gunawan dan kondisi Hana. Ia mendekat, memeluk Lyra dari belakang untuk menopang tubuh istrinya yang nyaris ambruk.

"Vasco..." desis Sean. Ia melihat jendela yang terbuka dan sebuah dokumen yang tercecer di lantai—surat pernyataan yang berlumuran darah.

Arsen melangkah masuk, ia segera memeriksa nadi Gunawan lalu menggeleng perlahan ke arah Sean. Sebagai detektif, Arsen langsung mengamati arah peluru. "Vasco melakukannya secara terencana. Dia tidak hanya ingin menculik Hana, dia ingin melenyapkan siapa pun yang memiliki hak suara di Wijaya Group."

Lyra melepaskan diri dari dekapan Sean, ia berjalan gemetar ke arah mayat Gunawan. Ia berlutut di samping pria yang selama ini ia anggap sebagai 'Harimau Jahat'.

"Dia... dia menjagamu, Bu," isak Lyra sambil menoleh ke arah ibunya.

Sean mengepalkan tinjunya hingga buku jarinya memutih. Ia menoleh ke arah Arsen dengan tatapan yang sangat gelap. "Arsen. Gunakan semua koneksimu. Aku ingin Vasco ditemukan dalam satu jam. Aku tidak peduli dia hidup atau mati, tapi aku ingin dia merasakan setiap inci rasa sakit yang dia buat pada keluarga istriku."

Arsen mengangguk tegas. "Aku sudah melacak sinyal ponselnya. Dia bergerak ke arah pelabuhan."

Sean berbalik ke arah Lyra, mengangkat wajah istrinya agar menatapnya. "Lyra, dengarkan aku. Penebusan Gunawan sudah selesai. Dia mati sebagai pahlawan untuk ibumu. Sekarang, biarkan aku menjadi iblis yang akan membalaskan kematiannya."

Sean mencium kening Lyra dengan sangat dalam, sebuah ciuman yang mengandung janji kematian bagi siapa pun yang telah menumpahkan darah di sana. Di tengah duka yang mendalam, aliansi antara sang CEO dan sang Detektif kini tidak lagi hanya soal bisnis atau rahasia masa lalu, melainkan soal balas dendam berdarah yang akan meruntuhkan sisa-sisa kejayaan Wijaya.

1
aditya rian
sean punya sodara nih pasti...
umie chaby_ba
😍😍😍😍
Ariska Kamisa
semoga para pembaca menikmatinya ,
aditya rian
😍😍😍😍😍
Uthie
bakal nyesel gak tuhhh 😁
Uthie
coba mampir 👍
umie chaby_ba
ini penjahat bersahabat dengan penjahat..🫣🫣
umie chaby_ba
what? /Sob/
umie chaby_ba
lalu anak siapa??
umie chaby_ba
what??? apa jangan-jangan Lyra.... anak Edward?🫣
umie chaby_ba
waduh...
umie chaby_ba
oh... cinta pada pandang pertama 🤭
umie chaby_ba
🫣
umie chaby_ba
ulasan pertama /Good/
Rame sih ....
shack... shick.... shock..
cepet terungkapnya ... jebreet jebret...
umie chaby_ba
waah waah udah ada yang baru lagi ... tema posesif posesif gitu aku suka.... 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!