Haneen, mantan agen intelijen elit, dikhianati dan tewas di dunia modern. Namun, dia terbangun di tubuh gadis lemah yang namanya sama di dunia kultivasi, murid luar Sekte Pedang Langit dengan merdian rusak yang sering di-bully.
Beruntung, Haneen membawa Sistem Agen Bayangan yang memungkinkannya mengeluarkan senjata modern seperti pistol, drone intai, dan granat di dunia yang mengandalkan pedang dan jurus.
Awalnya hanya ingin bertahan hidup, Haneen justru mengungkap jaringan korupsi besar di dalam sekte. Para tetua yang terlihat suci ternyata saling melindungi sambil mencuri sumber daya. Bersama Yan Ling, murid luar yang juga jadi korban, Haneen mulai membongkar kejahatan satu persatu.
Namun setiap kebenaran yang terungkap, mereka semakin diburu. Dari tambang ilegal hingga ruang bawah tanah rahasia, Haneen dan Yan Ling harus terus berlari sambil mencari cara untuk bertahan.
Mampukah Haneen bertahan di dunia yang mengagungkan kekuatan spiritual sambil membongkar rahasia kelam para tetua?
Akankah teknologi modern dari sistemnya cukup untuk mengalahkan kultivator tingkat tinggi yang terus memburunya? Dan yang terpenting, bisakah dia dan Yan Ling saling percaya di tengah bahaya yang mengintai setiap langkah?
Penuh Aksi, strategi cerdas, dan intrik yang tak terduga.
Ikuti perjalanan Haneen membuktikan bahwa di dunia yang kejam ini, pinter dan siap bisa mengalahkan yang kuat.
Siapkah kamu mengikuti setiap langkah berbahaya mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sands Ir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 :
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jam dinding di kamar penginapan menunjukkan pukul dua pagi. Haneen bangun tepat sebelum alarm sistem berbunyi. Dia tidak butuh alarm untuk bangun. Instingnya sudah terlatih untuk bangun di waktu yang sama setiap hari.
Dia bangun pelan, tidak membuat kasur berdecit. Yan Ling sudah bangun duluan. Wanita itu sudah duduk bersila di sudut kamar, mata tertutup, sedang memulihkan energi spiritual.
"Sudah waktunya," bisik Haneen.
Yan Ling buka mata. Langsung berdiri. Tidak ada kata basa-basi. Mereka sudah satu frekuensi sekarang.
Haneen cek peralatan. Pistol tersembunyi di lengan. Pisau di sepatu bot. Topeng penyamaran masih aktif. Aura masih aman.
"Ingat aturannya," kata Haneen pelan. "Jangan bicara kecuali perlu. Jangan lihat mata penjaga terlalu lama. Kita adalah pedagang obat biasa."
"Siap," jawab Yan Ling. Dia pakai jubah hitam tebal untuk menutupi pedangnya.
Mereka keluar kamar lewat jendela belakang. Pintu depan terlalu risiko. Ada penjaga penginapan yang mungkin jaga malam. Mereka turun ke tanah dengan tali yang Haneen pasang dari dalam kamar.
Jalanan kota kecil ini sepi. Hanya ada lampu minyak di beberapa sudut. Bayangan bangunan tinggi membuat sudut-sudut gelap. Cocok untuk menyelinap.
Haneen pimpin jalan. Dia jalan di pinggir, dekat tembok bangunan. Langkah kaki tidak bersuara. Yan Ling ikuti di belakang, meniru gerakan Haneen.
"Ada patroli," bisik Haneen tiba-tiba. Dia tarik Yan Ling masuk ke celah antara dua toko.
Dua penjaga kota lewat membawa lentera. Mereka jalan malas. Ngobrol soal gaji yang belum cair.
Haneen tunggu sampai mereka lewat. Baru lanjut jalan.
"Kenapa kota kecil punya banyak penjaga?" tanya Yan Ling saat mereka jalan lagi.
"Perang di Kota Kabut Perak bikin semua kota sebelah siaga," jawab Haneen singkat. "Mereka takut kerusuhan menjalar."
"Mereka benar-benar takut," kata Yan Ling sambil tersenyum tipis.
Mereka sampai di tepi kota. Bau air asin tercium. Itu tanda pelabuhan sudah dekat. Suara ombak menghantam kayu terdengar dalam gelap.
Pelabuhan ini tidak besar. Hanya ada beberapa kapal dagang kecil dan satu kapal udara jenis lama. Kapal udara itu yang mereka target. Lebih cepat dari kapal laut. Bisa terbang rendah menghindari monster tanah.
"Tunggu di sini," perintah Haneen. Dia jalan sendirian menuju pos tiket.
Yan Ling tinggal di balik tumpukan peti penyimpanan barang. Dia jaga belakang. Kalau ada yang datang dari arah belakang, Yan Ling yang urus.
Haneen sampai di loket kayu kecil. Ada satu petugas tidur di kursi, kepala nunduk.
Haneen ketuk meja. ‘Tok. Tok.’
Petugas itu bangun kaget. "Apa? Kapal akan berangkat pagi!"
"Aku butuh tiket untuk malam ini," kata Haneen. Suaranya datar.
"Kau sudah gila? Tiket untuk malam ini sudah habis." omel petugas itu. Dia mau tidur lagi.
Haneen meletakkan satu kantong kecil di meja. Isinya batu spiritual tingkat menengah. Cukup untuk beli tiket sepuluh kali lipat.
Petugas itu melirik kantong. Matanya langsung melek. Dia buka kantong, cek isinya. Senyumnya menjadi lebar.
"Ah, tiba-tiba ada pembatalan tiket," kata petugas itu cepat. Dia ambil dua lembar tiket kertas. "Ke mana tujuanmu?"
"Kota Awan Putih," jawab Haneen. Itu kota terdekat dengan Sekte Pedang Langit.
"Oke. Nama?"
"Ren dan Lin," jawab Haneen. Pakai nama samaran yang sama. Risiko, tapi ganti nama malah mencurigakan kalau ada data lama.
Petugas itu catat. Cap tiket. "Naik lewat dermaga tiga. Jangan terlambat. Kapal berangkat satu jam lagi."
Haneen ambil tiket. Dia balik badan, mau jalan.
"Tunggu," panggil petugas itu tiba-tiba.
Haneen berhenti. Tidak menoleh. "Ada apa?"
"Identitas," kata petugas itu. Dia punya alat scan kecil di tangan. "Aturan baru. Sejak kerusuhan, semua penumpang harus scan aura."
Haneen tahan napas. Pil penyamaran aura masih aktif. Tapi alat scan ini mungkin versi baru.
"Sinari saja," kata Haneen tenang. Dia ulurkan tangan.
Petugas itu arahkan alat scan. Alat itu bunyi ‘nging.’ Lampu hijau menyala.
"Aura stabil. Tingkat rendah. Oke, boleh lewat," kata petugas itu. Dia sudah sibuk hitung uang batu spiritual.
Haneen jalan balik ke tempat Yan Ling. "Aman. Ayo ke dermaga tiga."
Mereka jalan menuju dermaga. Kapal udara sudah siap. Bentuknya seperti perahu besar dengan empat baling-baling di sisi. Mesinnya sudah berdengung pelan.
Penjaga dermaga memeriksa tiket mereka. Stempel. Mempersilakan naik.
Mereka naik tangga kayu ke dek kapal. Angin malam kencang di ketinggian ini. Beberapa penumpang lain sudah ada. Kebanyakan pedagang bawa barang. Tidak ada yang perhatian pada mereka.
Haneen pilih sudut gelap di dek belakang. Dekat mesin. Berisik, tapiprivasi lebih terjaga.
"Duduk. Jangan tidur," perintah Haneen.
"Kenapa?" tanya Yan Ling. Dia duduk bersandar pada dinding besi.
"Kita tidak tahu siapa lagi yang naik kapal ini," jawab Haneen. Matanya scan semua penumpang yang naik.
Ada keluarga petani. Ada pedagang senjata. Ada dua orang berbaju hitam yang jalan sendiri.
Haneen fokus pada dua orang berbaju hitam itu. Cara jalan mereka terlalu ringan. Tidak seperti pedagang biasa. Seperti kultivator.
"Awas yang baju hitam," bisik Haneen pada Yan Ling. "Mereka bukan pedagang."
Yan Ling lirik sekilas. "Aura mereka tertutup. Tapi langkah kaki terlalu halus."
"Kemungkinan pemburu," kata Haneen. "Atau anggota Naga Merah yang lari dari kota."
"Kita serang?" tanya Yan Ling. Tangannya menyentuh kepala pedang.
"Belum. Kita belum yakin. Kalau salah orang, kita yang jadi buronan kapal," tolak Haneen. "Kita pantau saja."
Kapal mulai bergerak. Mesin dengung lebih keras. Kapal naik perlahan dari dermaga. Kota kecil jadi semakin kecil di bawah.
Haneen memanggil sistem diam-diam. [Scan Penumpang. Analisis Ancaman.]
Sistem kerja cepat. Data muncul di retina Haneen.
[Penumpang: 40 Orang. Ancaman Tinggi: 2 Orang. Lokasi: Dek Depan. Identitas: Anggota Serikat Naga Merah.]
Haneen mengerutkan kening. Ternyata benar. Naga Merah. Mereka juga lari dari kota. Kebetulan satu kapal.
"Ada dua anggota Naga Merah di dek depan," bisik Haneen. "Mereka tidak tahu kita ada di sini."
"Kalau mereka tahu?" tanya Yan Ling.
"Kita lempar mereka keluar kapal," jawab Haneen datar.
Yan Ling hampir tertawa. "Kau serius?"
"Kapal terbang. Jatuh dari sini, mereka mati. Atau minimal luka berat. Kita beruntung berada di ketinggian.” jelas Haneen.
Tiba-tiba, salah satu anggota Naga Merah itu menoleh. Matanya melihat ke arah dek belakang. Seolah-olah dia rasa ada yang bahas dia.
Haneen langsung tutup mulut. Dia pura-pura tidur, kepala sandar di dinding. Yan Ling juga ikut pura-pura istirahat.
Anggota Naga Merah itu lihat sebentar. Tidak ada yang mencurigakan. Dua orang tidur lelah. Dia balik badan.
"Hampir ketahuan," bisik Yan Ling saat angin tutup suara mereka.
"Mereka punya insting tajam," kata Haneen. Mata masih tertutup. "Kita harus hati-hati. Jangan sampai mereka cek kita saat tidur."
"Ada rencana?"
"Kita jaga secara bergantian. Aku jaga dua jam pertama. Kau boleh tidur." perintah Haneen.
"Baik." jawab Yan Ling. Dia benar-benar pejamkan mata. Tapi tangan tetap dekat pedang.
Haneen jaga dengan mata terbuka sedikit. Dia pantau gerakan dua anggota Naga Merah itu. Mereka tidak tidur. Mereka duduk bersila, meditasi. Mungkin pulihkan energi setelah lari dari kota.
Haneen pikir tentang strategi. Kalau mereka ketahuan di kapal ini, pertarungan tidak bisa dihindari. Tapi bertarung di kapal udara sangat risiko. Satu salah langkah, jatuh ke kematian.
"Sistem," panggil Haneen dalam hati. "Apakah Ada item untuk situasi jatuh dari ketinggian?"
[Item Tersedia: Parasut Energi Mini. Harga: 200 IP per unit.]
"Bagus," gumam Haneen. Dia beli dua unit. Simpan di saku. Kalau terpaksa jatuh, mereka bisa selamat.
Waktu berjalan lambat. Angin malam makin dingin. Beberapa penumpang batuk karena dingin.
Dua jam berlalu. Haneen bangun Yan Ling.
"Sekarang giliranmu." bisik Haneen.
Yan Ling bangun langsung. Tidak ada masa transisi tidur. "Ada perubahan?"
"Belum. Mereka masih meditasi," lapor Haneen. Dia pindah posisi, pura-pura tidur.
Yan Ling jaga dengan mata waspada. Dia melihat sekeliling. Tidak ada gerakan mencurigakan selain dua anggota Naga Merah itu.
Tengah malam semakin dalam. Kapal terbang di atas awan. Bulan tertutup awan gelap.
Tiba-tiba, kapal goyang. Bukan karena angin. Ada sesuatu yang nabrak kapal.
‘Brak’
Suara benturan keras dari atas kapal. Penumpang bangun kaget. "Ada apa?"
"Ada serangan!" teriak salah satu awak kapal.
Haneen langsung bangun. Yan Ling sudah berdiri siap.
Dari atas kapal, tiga sosok turun pakai tali. Mereka pakai baju putih. Pemburu dari Sekte Pedang Langit.
"Mereka naik kapal!" teriak Haneen. "Semua turun!"
Penumpang panik. Lari ke sana kemari. Dua anggota Naga Merah juga bangun. Mereka lihat pemburu sekte.
"Musuh kita," bisik anggota Naga Merah itu pada rekannya.
Haneen lihat situasi. Tiga lawan dua (Naga Merah). Plus mereka berdua. Total tiga pihak di kapal sempit.
"Kita ikut campur atau diam?" tanya Yan Ling.
"Diam dulu," kata Haneen. "Biarkan mereka saling bunuh. Ini akan menguntungkan kita."
Pertarungan dimulai. Pemburu sekte pakai pedang energi. Anggota Naga Merah pakai racun dan jarum.
‘Zing. Brak.’
Suara benturan senjata terdengar di dek depan. Penumpang sudah sembunyi di bawah dek. Hanya Haneen dan Yan Ling yang masih berdiri di sudut gelap.
Salah satu pemburu sekte terlempar. Dia jatuh dari kapal. Teriakan hilang ditelan angin.
"Sisa dua," hitung Haneen.
Anggota Naga Merah satu tewas. Tinggal satu lawan dua pemburu sekte.
"Mereka kalah," kata Yan Ling.
"Belum," kata Haneen. Dia lihat anggota Naga Merah yang sisa keluarkan benda hitam. Bom asap.
‘Bum’
Asap hitam tebal keluar. Pandangan hilang.
"Sekarang," kata Haneen. "Saat mereka bingung, kita turun ke bawah dek. Kita tidak perlu ikut campur."
Mereka turun tangga ke ruang penyimpanan barang. Gelap dan penuh barang.
Dari atas, suara pertarungan masih terdengar. Tapi semakin lama semakin sepi.
Haneen duduk di atas peti penyimpanan barang. "Tunggu sampai kapal mendarat. Jangan keluar."
"Berapa lama?" tanya Yan Ling.
"Empat jam," jawab Haneen. "Kita akan sampai di Kota Awan Putih saat subuh."
Yan Ling duduk di samping Haneen. "Kau tidak khawatir mereka cek dek bawah?"
"Sudah aku atur," kata Haneen. Dia keluarkan item sistem. [Item: Pengalih Perhatian Petugas. Harga: 100 IP.]
"Alat itu bikin petugas lupa cek area ini," jelas Haneen singkat.
Yan Ling tidak tanya lagi. Dia percaya.
Mereka duduk dalam diam. Menunggu pagi. Di atas mereka, nasib pertarungan sudah selesai. Tapi perang mereka baru mulai.
Haneen lihat tangan nya. Ada bekas luka kecil dari pertarungan di atap kota dulu. Dia kepal tangan.
"Sekte Pedang Langit," gumam Haneen. "Aku datang."
Yan Ling dengar gumaman itu. Dia tahu apa yang ada di pikiran Haneen. Balas dendam. Kebenaran. Dan bertahan hidup.
Kapal terus terbang menembus malam. Membawa dua orang yang membawa badai di dalam dada mereka. Menuju tempat di mana semua dimulai dan dimana semua akan berakhir.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Bersambung…...
Jangan lupa like, komen dan share 😁