NovelToon NovelToon
Rumah Yang Kami Pilih

Rumah Yang Kami Pilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Pengganti / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Healing / Chicklit / Dark Romance
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ika Anggriani

Alea mengira hidupnya sudah berakhir ketika cinta pergi meninggalkan depresi yang menyesakkan. Baginya, toko buku tua itu adalah bunker—tempat ia bisa menangis tanpa suara dan menghilang di antara deretan rak. Ia tidak butuh penyelamat, ia hanya butuh dibiarkan sendiri.
Sampai Aksa Pratama hadir setiap pukul empat sore.
Pria itu dingin, kaku, dan menyimpan luka broken home yang sama dalamnya. Aksa tidak datang dengan kata-kata manis. Ia hadir lewat kehadiran yang intens, lewat kopi hitam yang pahit, dan lewat sebuah catatan misterius yang membuat jantung Alea nyaris berhenti.
“Gerbang kost-mu tidak dikunci semalam. Ada seseorang yang berdiri di depan kamarmu selama satu jam sebelum aku datang. Hati-hati.”

Di tengah trauma masa lalu dan ketakutan akan rumah yang retak, Alea terjebak dalam tanya: Apakah Aksa adalah rumah yang bisa ia pilih untuk pulang? Ataukah pria itu adalah rahasia lain yang lebih berbahaya dari sekadar masa lalu yang menghantuinya?
Sebuah kisah tentang dua jiwa yang rapuh, bukan untuk saling menyembuhkan dengan keajaiban, tapi untuk saling menemani dalam luka—hingga mereka sadar bahwa rumah bukan sesuatu yang diwarisi, melainkan sesuatu yang dipilih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Anggriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1- Sesuatu Yang Berubah

Di toko kecil ini, aroma kopi yang pekat, wangi kertas buku lama, dan sisa-sisa lilin aromatik menyatu menjadi sebuah pelukan hangat yang familiar. Tempat ini selalu menjadi rumah keduaku, sebuah ruang di mana waktu seolah melambat di antara deretan rak buku kayu yang menjulang hingga ke langit-langit. Namun sore ini, kehangatan itu terasa asing. Alea Niskala berdiri di balik meja kasir, tangannya bergerak mengelap permukaan meja kayu yang sebenarnya sudah sangat bersih.

Matanya tak bisa berhenti melirik ponsel yang tergeletak pasrah di dekat mesin espresso. Benda itu diam membisu. Tidak ada kedipan lampu notifikasi, tidak ada getaran yang biasanya membuat jantung Alea berdesir kecil. Hanya ada pantulan lampu toko di permukaan layarnya yang gelap dan dingin.

Beberapa minggu terakhir, udara di sekitar Alea terasa bergeser. Perubahan itu tidak datang seperti badai yang menghancurkan segalanya dalam sekejap. Sebaliknya, ia datang seperti rembesan air di dinding tua—pelan, nyaris tak terlihat, namun perlahan merusak struktur di dalamnya. Pesan-pesan dari laki-laki yang biasanya mengisi sela-sela harinya kini datang makin jarang. Kata-kata yang dulunya penuh dengan candaan dan perhatian hangat kini berubah menjadi kalimat efektif yang pendek, seolah diketik dengan terburu-buru hanya untuk menggugurkan kewajiban.

Janji ketemu yang dulu selalu menjadi prioritas kini sering berakhir dengan alasan yang tidak jelas—rapat yang mendadak lama, urusan keluarga yang tiba-tiba mendesak, atau sekadar “Aku lagi capek banget, lain kali ya.” Alea selalu menjawab dengan “Iya, nggak apa-apa,” tapi di dalam hatinya, sebuah retakan mulai terbentuk. Sebagai seseorang yang tumbuh dalam keluarga yang tidak pernah benar-benar utuh, Alea memiliki insting yang tajam terhadap aroma perpisahan. Ia bisa mencium bau keretakan bahkan sebelum retakan itu muncul ke permukaan.

Alea menarik napas panjang, mencoba mengusir sesak yang mulai menghuni dadanya. Ia terus menggosok sudut meja yang sama, menekan kain lap itu seolah sedang mencoba menghapus kegelisahannya sendiri. Ia teringat bagaimana dulu, saat masih kecil, ia sering berdiri di balik pintu kamar orang tuanya, mendengarkan keheningan yang menyesakkan. Bukan teriakan yang menakutinya, melainkan suara pintu yang tertutup pelan dan langkah kaki ayah yang menjauh tanpa sepatah kata pun. Baginya, diam adalah ancaman paling nyata. Dan kini, diamnya ponsel itu terasa seperti pintu yang mulai tertutup rapat di hadapannya.

Pikirannya terus berputar pada satu pesan singkat yang dikirimnya tadi pagi.

“Aku lewat depan kantor kamu, mau dibawain kopi atau cemilan?”

Pesan itu terkirim pukul sembilan pagi. Sekarang jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Statusnya sudah read sejak tengah hari tadi. Hanya dua centang biru yang membisu. Alea menatap layar itu sampai matanya perih, menunggu barisan kata ‘typing...’muncul di sana. “Apa HP aku rusak ya? Atau internet di toko ini lagi gangguan?” pikirnya gelisah. Namun, ketika ia membuka aplikasi lain, semuanya lancar. Yang macet hanyalah balasan dari orang yang paling ia tunggu.

“Al, melamun terus. Lagi mikirin utang negara atau mikirin masa depan?” Suara Dinda tiba-tiba memecah lamunan Alea.

Alea tersentak, hampir menjatuhkan kain lap di tangannya. Jantungnya berdegup kencang karena kaget. Ia segera memaksakan sebuah senyum tipis, senyum profesional yang biasa ia berikan pada pelanggan. “Nggak, Din. Lagi mikir meja ini kayaknya kena tumpahan lengket, makanya aku gosok terus,” dalihnya asal, meski meja itu sudah mengilat sempurna.

Dinda menyipitkan mata, bersandar pada pilar kayu sambil menatap Alea dengan tatapan yang sulit dibaca. Dinda sudah bekerja bersama Alea selama dua tahun; dia tahu persis kapan Alea benar-benar bahagia dan kapan Alea hanya sedang memakai topeng.

“Yakin? Kamu sudah ngelap meja itu selama lima belas menit tanpa henti, Al. Permukaannya bahkan hampir tipis gara-gara kamu gosok terus.” Dinda berhenti sejenak, lalu suaranya merendah. “Kamu aneh aja hari ini, nggak kayak biasanya. Ada apa?”

Alea tertawa kecil, tapi tawanya terdengar hambar di telinganya sendiri. “Masa sih? Mungkin aku cuma lagi pengen mastiin debu-debu mikro nggak nempel di sini.”

“Ada masalah sama dia?”tanya Dinda langsung, tanpa basa-basi.

Alea menelan ludah, tenggorokannya terasa kering seolah baru saja menelan pasir. “Nggak kok, semua aman. Biasalah, mungkin dia lagi banyak tekanan di kantor. Aku cuma nggak mau ganggu aja.

“Tapi kamu keganggu, kan?” Dinda mencondongkan tubuhnya ke arah Alea. “Chat nggak dibalas? Atau janji jalan dibatalin lagi?”

Alea terdiam. Ia ingin mengelak, tapi matanya yang mulai berkaca-kaca hampir mengkhianatinya. Baginya, mengakui ada yang salah berarti mengakui kegagalan. Dan baginya, kegagalan dalam hubungan adalah momok yang menakutkan, bayang-bayang masa lalu yang selalu ia hindari. Baginya, jika sebuah hubungan retak, itu berarti ia tidak cukup baik untuk menjaganya tetap utuh. Sama seperti saat ia merasa gagal menjaga ayahnya untuk tetap tinggal di rumah dulu.

“Aku rasa dia cuma lagi sibuk, Din. Benar-benar sibuk."

Dinda menghela napas panjang, mengambil kain lap dari tangan Alea seolah menyuruhnya untuk berhenti berpura-pura sibuk. “Sibuk itu alasan paling klasik, Al. Orang sesibuk apa pun, kalau dia peduli, dia bakal kasih kabar. Minimal 'Aku lagi ribet, nanti aku kabari'. Bukan cuma centang biru.”

Ucapan Dinda menghujam tepat di ulu hati Alea. Kebenaran itu terasa pahit. Ia tahu Dinda benar, tapi mengakui hal itu berarti ia harus menghadapi kenyataan bahwa hubungannya sedang di ujung tanduk. Selama ia menyimpan alasan ‘sibuk’ itu di kepalanya, ia masih punya alasan untuk bertahan dan menjaga ‘rumah’ yang sedang ia bangun ini agar tidak runtuh.

Lonceng di atas pintu berdenting, menandakan seorang pelanggan masuk. Seorang wanita muda dengan wajah yang tampak lelah meminta satu latte hangat. Alea melayaninya dengan gerakan yang sangat efisien—menuangkan susu ke dalam jug, menyalakan mesin espresso yang mendesis nyaring, dan membuat sedikit art di atas busa. Namun, gerakannya terasa hampa. Ia menyerahkan minuman itu dengan senyum ramah yang dipaksakan. Di dalam, Alea merasa seperti robot yang hanya menjalankan program.

Pelanggan itu duduk di sudut dekat jendela, membuka sebuah buku tua, dan menyesap kopinya perlahan. Alea memperhatikannya dari jauh. Ada kedamaian di wajah wanita itu, sesuatu yang sangat Alea dambakan saat ini. Kedamaian yang berasal dari kenyataan bahwa tidak ada yang sedang ia tunggu, tidak ada pesan yang ia harapkan, dan tidak ada kebohongan yang ia takuti.

Setiap uap susu yang mengepul seolah mengepulkan juga rasa sesak di dadanya. Bau kopi yang biasanya menjadi penenang, kini malah terasa pahit di indranya. Ia kembali ke meja kasir, mencoba merapikan tumpukan buku catatan kecil di etalase, hanya agar tangannya punya pekerjaan.

“Kamu beneran oke, Al?” Dinda bertanya lagi saat pelanggan itu sudah fokus membaca. “Tampang kamu capek banget, Al. Beneran, kamu aneh aja, nggak kayak biasanya. Sini, biar aku aja yang selesaikan pesanan selanjutnya.”

Alea tertegun sejenak, memandangi uap yang mengepul dari sisa kopi di dalam mugnya. “Aku cuma… merasa ada yang bergeser, Din. Tapi aku nggak tahu apa yang salah. Nggak ada berantem, nggak ada kata-kata kasar. Semuanya cuma… jadi dingin tanpa alasan.”

“Nggak semua hal di dunia ini bisa kita kontrol sendiri, Al. Kadang kita cuma perlu napas dan menerima kalau ada yang memang sudah berubah,” ucap Dinda dengan nada yang lebih lembut sekarang.

“Perubahan itu nggak selalu berarti buruk, tapi pura-pura nggak lihat perubahan itu yang bikin sakit. Kalau kamu mau cerita, aku siap jadi telinga. Jangan disimpan sendiri sampai dada kamu sesak."

Alea hanya bisa mengangguk pelan. Ucapan Dinda terasa seperti pelita kecil di tengah kabut yang sedang menyelimuti pikirannya. Ia ingin bicara, ia ingin mengakui bahwa ia benci ketidakpastian ini. Ia benci bagaimana ia harus mengemis perhatian lewat sebuah chat yang diabaikan. Ia benci bagaimana perasaannya digantung seperti jemuran di tengah mendung.

Waktu merambat lambat, seolah sengaja ingin menyiksa Alea dengan setiap detiknya. Matahari mulai turun, menyisakan cahaya jingga yang masuk lewat jendela besar toko, menciptakan bayangan panjang di lantai kayu. Alea kembali menatap ponselnya sekali lagi sebelum ia bersiap menutup toko.

Tetap sama. Belum ada balasan. Centang biru itu masih di sana, membeku seperti es.

“Mau aku temenin pulang?” tawar Dinda saat mereka mulai merapikan barang-barang.

“Nggak usah, Din. Aku mau mampir ke minimarket bentar,” tolak Alea halus. Sebenarnya, ia hanya ingin sendiri. Ia takut jika Dinda terus berada di dekatnya, pertahanannya akan runtuh.

Alea mulai mematikan lampu satu per satu. Mesin espresso yang biasanya berisik kini sudah dingin dan diam. Toko yang tadi hangat kini perlahan tenggelam dalam kegelapan. Aroma kopi dan buku tetap tinggal, namun rasa aman yang biasanya ia rasakan di sini telah menguap. Sambil mengambil tasnya, ia menatap layar ponsel untuk terakhir kalinya malam itu. Harapan kecil yang tadinya ia jaga agar tetap menyala, kini terasa seperti abu yang dingin.

Ia mengunci pintu toko dengan gerakan yang lambat dan kaku, seolah seluruh tenaganya sudah tersedot habis oleh hari yang melelahkan. Tangannya yang dingin menggenggam kunci besi itu dengan erat, memastikan pintu benar-benar rapat sebelum ia berbalik pergi. Di tengah keheningan jalanan yang mulai sepi, Alea menyadari satu hal yang paling menyakitkan dari semua ini. Laki-laki itu masih ada di sana secara fisik, namun jiwanya sudah berpindah ke tempat yang tidak bisa lagi ia jangkau.

Tepat saat ia hendak melangkah pergi, ponsel di kantongnya bergetar panjang. Jantung Alea melonjak. Dengan gerakan cepat, ia merogoh ponselnya. Harapan bodoh itu muncul lagi, “Mungkin dia baru selesai kerja dan mau jemput aku.”

Namun, bukan chat darinya yang muncul.

Itu adalah sebuah unggahan Story dari salah satu teman kantor pacarnya yang tidak sengaja lewat di lini masa. Sebuah foto di sebuah restoran rooftop yang baru buka, memperlihatkan meja yang penuh dengan makanan dan tawa. Di pojok kiri foto yang sedikit buram, Alea mengenali jam tangan perak dengan strap kulit cokelat. Jam yang ia beli dengan menyisihkan uang gajinya selama tiga bulan sebagai hadiah ulang tahun laki-laki itu.

Tangan itu sedang menggenggam gelas, duduk bersisian dengan seseorang yang wajahnya terpotong bingkai foto, namun terlihat mengenakan dress berwarna krem yang anggun. Keterangan fotonya hanya satu kata: "Finally!"

Alea terpaku di trotoar. Dingin malam tiba-tiba menusuk hingga ke tulang, lebih tajam dari angin malam biasanya. Pesannya belum dibalas karena ‘sibuk’ tapi laki-laki itu punya waktu untuk berada di sana, tertawa di balik kamera yang tidak ia ketahui?

Tiba-tiba, sebuah notifikasi lain muncul di bagian atas layar. Kali ini benar-benar sebuah pesan darinya. Alea menahan napas, jarinya gemetar hebat saat menyentuh baris notifikasi itu.

Pesan itu berbunyi, “Baru selesai rapat, Al. Capek banget, ini baru mau jalan pulang. Malam ini aku langsung tidur ya, kepalaku pusing. Jangan dicari dulu.”

Alea menatap layar itu, lalu kembali menatap foto di Story teman pacarnya yang diunggah baru dua menit yang lalu. Kebohongan itu terpampang nyata, begitu telanjang di depan matanya. Dia tidak sedang rapat. Dia tidak sedang sakit kepala. Dia hanya sedang tidak ingin bersama Alea. Rasa hambar di mulutnya kini berubah menjadi rasa mual yang nyata. Setiap memori tentang janji manis yang pernah ia ucapkan terasa seperti racun yang mulai bekerja di dalam tubuhnya.

Lalu, sesuatu yang lebih ganjal terjadi. Sebelum Alea sempat membalas atau sekadar bernapas, pesan itu tiba-tiba ditarik.

Pesan ini telah dihapus.

Alea mengerutkan kening. Mengapa ditarik? Apakah dia sadar dia salah mengirimkan alasan? Atau dia baru saja menyadari bahwa berbohong pada Alea jauh lebih melelahkan daripada mengatakan yang sebenarnya?

Di tengah remang lampu jalan, Alea menyadari bahwa sesuatu yang berubah ini bukan lagi sekadar perasaan cemasnya. Ini adalah awal dari kehancuran yang selama ini ia takuti. Ia berdiri sendirian di depan pintu toko yang sudah terkunci, merasa seperti anak kecil yang sekali lagi kehilangan rumahnya sebelum ia sempat mengetuk pintu. Malam itu, bukan hanya pesan yang dihapus, tapi juga secercah kepercayaan yang selama ini ia jaga mati-matian.

1
Gaza Nesia
dewasa bnr si aksa
Gaza Nesia
tapi emang rata rata gitu gak sih, klo banyak masalah jdi nggak fokus kerja😓
falea sezi
Lea ini egois bgt males
Aviciena
thor, aku tinggal dulu ya,. nanti aku balik lagi klo sdh sengganng waktunya
AtNy Aby
😭apa sesulit itu alea keluaf dari zona itu
Ika Anggriani: orang klo kecintaan ya susah kak😭
total 1 replies
Aviciena
kayaknya lbh enak di baca dlm bentuk buku nih novel
Ika Anggriani: kenapa kak?😭
semoga yaa kak
total 1 replies
Aviciena
nungguin arahnya kmn
Aviciena
misterius
Ranita Rani
cwe bego gk pny otak,,,,jelas2 cwonya dh gk beres tetep ja ngemis2 kyak gk pny hrg dri ja,,,mbok yo sadar,pngalaman ortumu jgn d bikin truma tp bikin itu sebuah pelajaran,,,,
Ika Anggriani: emang ngeselin banget si alea ya kak😭
total 1 replies
Aviciena
karya sastra luar biasa
Aviciena
maaf thor, d awal penulisan , pake sudut pandang orang 1 ya... kemudian setelahnya jadi berubah
Ika Anggriani: tetap sudut pandang orang ketiga kok kak dari pertama juga
total 1 replies
falea sezi
wanita malu maluin aja ngemis2
Ika Anggriani: sabar kak😭
total 1 replies
Panda%Sya🐼
Aduh-aduh siapa ya
Panda%Sya🐼
giliran selingkuh gak malu tuch
Panda%Sya🐼
Kenapa sih lelaki selalu gini, udah bagi harapan malah di balas santapan 😤
Anonymous
brengseknya nggak kira" bangett tuh cowok
Anonymous
dominan banget auranya si aksa
Panda%Sya🐼
Alea please sadar, kamu gak kurang apa-apa dia aja yang tidak tahu menghargai 🤧
Ika Anggriani: Han yang kurang padahal😭
total 1 replies
Panda%Sya🐼
Ihhh Han lu benar-benar bego! 😡
Panda%Sya🐼
Dia laki-laki gak tahu apa itu wanita setia! emang kampret lu ya Han, gue masak lu campur seblak biar lu tahu panasnya hati Al yang selalu nungguin pesan-pesan chat lu 😤😤
Ika Anggriani: banyak modelan han di dunia nya wkwkw
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!