Rahmat hanyalah siswa SMA biasa—miskin, bodoh, diremehkan, dan dipaksa menanggung hutang satu miliar yang ditinggalkan ayahnya.
Ibunya terbaring di rumah sakit, deb collector bernama tomy terus mengancamnya, memukuli Rahmat sampai hampir mau mati, ia diberi waktu lagi selama dua bulan.
Waktu hanya tersisa dua bulan. Saat segalanya terasa mustahil, sebuah suara muncul di kepalanya.
[Sistem Analisis Nilai Aktif.]
[Menampilkan nilai sebenarnya dari segala hal]
Dari jam tangan rongsok bernilai jutaan, hingga saham perusahaan raksasa yang diam-diam akan runtuh—Rahmat kini bisa melihat apa yang tak terlihat orang lain.
Namun dunia investasi bukan taman bermain.
Satu kesalahan berarti kehancuran.
Satu langkah terlambat berarti ibunya menjadi “jaminan”.
Bisakah seorang bocah 16 tahun membalikkan nasibnya, menembus dunia finansial yang penuh manipulasi, dan menumbangkan perusahaan yang menghancurkan keluarganya?
(bismillah, ayo ramai, support penulis kecil ini yaallah 😭🙏wkw)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21.5—Izin Seorang Gentleman
**
Waktu berlalu.
Alya akhirnya memilih gaun sederhana berwarna biru muda. Tidak terlalu mencolok, tapi cukup membuatnya tampak berbeda. Rambutnya ditata sesuai saran Dhea—tidak berlebihan, tidak pula terlalu santai.
“Sudah selesai …”
Ia menatap cermin.
Ini pertama kalinya ia benar-benar ingin terlihat cantik untuk seseorang.
Suara klakson terdengar pelan di halaman rumah, ia melihat dari jendela mengecek siapa yang ada di sana.
Sebuah mobil mclaren terparkir di sana. Alya mengucek matanya agar ia tidak salah lihat, lalu membuka matanya masih mclaren.
Sultan dari mana yang seenaknya memarkirkan mobil mclaren di depan rumah, timothy ronald atau semacamnya mungkin?
Tetangga pada ribut, langsung ramai rumah dia karena banyak orang yang mau lihat mobil itu, gak aneh itu seharga belasan miliar di Indonesia.
Lalu Alya melongo, Rahmat turun dari mobil dengan pakaian rapi—kemeja hitam sederhana dan jam tangan elegan yang tak mencolok tapi jelas mahal. Tatapannya tenang seperti biasa.
Alya tidak menyangka bahwa akan dijemput pakai kendaraan yang semencolot itu.
Ia segera turun, keluar rumah. Namun sesampainya disana.
Armand sudah berdiri terlebih dahulu, ingin memastikan tekad si anak muda karena sudah berani ajak anak gadisnya main.
Rahmat menunduk sopan. “Selamat malam, pak tua.”
Armand menatapnya beberapa detik. Mengukur. “Lagi-lagi kamu membuat badai, anak muda!”
Rahmat terkekeh.
“Sebut alasanmu kesini!”
Mendadak suasana jadi tegang, Rahmat terkejut.
“ Jika ingin main sama anak gadis orang minimal minta izin, itulah aturan pria nomer 1, benarkan, anak muda?”
Ramat mengerutkan kening. Gak lucu sama sekali, bukan karena perkataan Armand gak masuk akal, hanya saja jadi aneh sendiri karena pak tua ini tiba-tiba jadi tegas, padahal biasanya gitu, sungguh watak yang tidak cocok untuknya.
Tapi, Rahmat tidak menghindar. “Iya, Om. Saya ingin mengajak Alya menonton konser. Saya akan mengantarnya pulang tepat waktu.”
Nada suaranya stabil. Tidak gemetar. Tidak sok berani.
Armand menyilangkan tangan. “Kamu tahu tanggung jawabnya?”
“Udah-udah, ih!” Alya menarik lengan ayahnya pelan. Wajahnya merah campur malu dan kesal. “Pa, jangan lebay gitu, katanya mau dukung! Kayak sama siapa saja, kan ayah udah kenal dia.”
Armand mendengus, tapi sudut bibirnya hampir naik. Ia memang sengaja.
Hubungannya dengan Rahmat bukan benar-benar asing, malah sebaiknya. Bermulai dari hubungan jual jam kuno, menjual motor, dan ikut serta dalam lelang, bahkan di masa lalu ada lagi yang lebih istimewa–tapi besar kemungkinan Rahmat tidak ingat kejadian itu.
Masalahnya sekarang beda.
Sekarang Rahmat bukan sebagai kenalan bisnis kecil-kecilan. Tapi sebagai pria yang menjemput putrinya.
Rahmat tersenyum, ia memahami maksud dari Armand. “Menarik sekali, pak tua. Akan kutunjukan kejantananku !”
“Tunjukkan itu, nak! Tunjukkan tekadmu!” Seru Armand.
“Dih, kenapa kamu malah ikut-ikutan,” sahut Alya sebal. “Drama ini terlalu dilebih-lebihkan, udah ayo! Keburu telat kita.”
Bagaimanapun Alya tidak dianggap.
“Jam berapa selesai konser?” tanya Armand lagi.
“Sekitar jam sepuluh, Om. Saya antar Alya sebelum sepuluh tiga puluh.”
Armand mengangguk pelan. “Jawaban cerdas.”
Ia melangkah mendekat, suaranya diturunkan sedikit—cukup hanya Rahmat yang bisa mendengar.
“Kamu tahu saya tidak suka keributan?”
Rahmat balas menatap, tenang. “Saya juga, Om.”
“Kamu tahu saya tidak suka anak yang cuma pamer?”
Rahmat menjawab tanpa jeda dengan wajah serius“Kalau saya ingin pamer, saya tidak akan bawa mclaren sendirian, makanya aku butuh gadis, biar gak pamer.”
Armand terdiam sepersekian detik. “Jawaban cerdas.”
“CERDAS DARIMANA??! ALASAN GAK MASUK NALAR GITU! LAGIAN JAWABAN PAPA CUMA CERDAS DOANG” seru Alya memotong. “Duh, kalian ini benar-benar aneh.:
Dhea yang dari tadi diam dan menyimak, ngakak tanpa henti, dia seperti melihat komedi antara calon mertua dan menantu yang dibuat-dibuat, jadinya cringe minta ampun, tapi berhasil membuat dia tertawa, selera humor ibu ini emang rada-rada.
Armand menghela napas panjang, lalu menepuk bahu Rahmat. “Baiklah. Saya titip anak saya.”
“santai, akan kujaga, pak tua.”
**
Mobil melaju perlahan meninggalkan halaman rumah Alya.
Lampu-lampu teras masih menyala. Beberapa tetangga pura-pura menyiram tanaman padahal selang airnya tidak mengarah ke mana-mana, tujuannya simpel untuk lihat mobil mclaren. Anak kecil menunjuk mobil itu sambil berbisik heboh.
Di dalam mobil, suasananya… canggung.
Bukan canggung yang tidak nyaman. Lebih ke canggung karena keduanya sama-sama sadar ini “pertama kali”.
‘Bangsat canggung banget, ini pertama kali gw main sama cewe berduaan, mana dia jadi bening banget lagi! Sistem berikan ide kata-kata manis’ batin Rahmat meminta tolong.
Tapi jawaban sistem cuek minta ampun.
[Pikir sendiri tuan]
Alya yang tidak tahan akhirnya membuka suara.
“Kamu serius banget sih…”
Rahmat melirik sekilas. “Serius apanya?”
“Itu.” Ia menunjuk dashboard. “Mobilnya.”
“Oh.” Rahmat mengangguk kecil. “Kamu nggak suka?”
Alya mendesah pelan. “Bukan nggak suka. Cuma… ini tuh kayak levelnya terlalu tinggi buat sekadar nonton konser.”
Rahmat menahan senyum. “Harusnya pakai apa? Motor bebek?”
“Minimal motor biasa kek! Udah cukup” balasnya cepat, lalu terdiam beberapa detik sebelum menambahkan pelan, “
Alya masih menatap sekeliling mobil. Semenjak kejadian lelang dan Rahmat menjual koin itu, dia berpikir kalau Rahmat itu orang kaya raya, ia bisa menghasilkan 600 juta diusia muda, tapi nggak nyangka bisa sampai punya mobil ginian.
Beberapa detik kemudian suasana kembali tenang. Mesin mobil berdengung halus. Lampu kota memantul di kaca depan.
Alya meliriknya diam-diam.
Rahmat berbeda malam ini.
Bukan cuma karena pakaian rapi atau mobil mahal. Ada sesuatu di caranya memegang setir. Tenang. Pasti. Seperti tidak ragu sedikitpun.
“Rahmat…”
“Hm?”
“aku udah lama mau ngomong ini tapi ….”
“Kenapa?”
Alya menghirup napas sebelum melanjutkan,” terima kasih udah nyelamatin aku waktu itu, aku bisa bingung sendiri kalau benar benar kena Jambret.”
“Oh masalah lama itu … hm gak usah khawatir, aku cuma melakukan hal semestinya.*
Alya tersenyum. Ia menyerahkan tas tote bag. “Aku tahu ini mungkin tidak seberapa, tapi ini bagian dari rasa terima kasihku. Kuharap kamu mau menerimanya.”
Rahmat melirik, sebuah Tote bag. Entah isinya apa, ia tidak bisa melihat dengan jelas karena ia masih fokus menyetir, jadi ia akan melihatnya nanti.
“Terima kasih, akan kuterima dengan senang hati.”