Seminggu kematian mertuanya, Azalea dijatuhi talak oleh Reza, dengan alasannya tidak bisa memberikan keturunan kepadanya. Padahal selama tiga tahun pernikahan, Reza tinggal di kota, sementara Azalea tinggal di kampung mengurus mertuanya yang sakit-sakitan.
Azalea yang hidup sebatang kara pun memutuskan untuk merantau ke kota mencari pekerjaan. Ketika hendak menyebrang, Azalea melihat gadis kecil berlari ke tengah jalan, sementara banyak kendaraan berlalu lalang. Azalea pun berlari menyelamatkan gadis kecil itu.
Siapa sangka gadis kecil itu adalah Elora, putri dari mendiang kakaknya yang meninggal tiga tahun yang lalu.
Enzo, mantan kakak iparnya meminta Azalea menjadi pengasuh Erza dan Elora yang kekurangan kasih sayang.
Di kota inilah Azalea menemukan banyak kebenaran tentang Reza, mantan suaminya. Lalu, tentang Jasmine, mendiang kakak kandungnya.
Ketika Azalea akan pergi, Enzo mengajaknya nikah. Bukan karena cinta, tetapi karena kedua anaknya agar tidak kehilangan kasih sayang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Hari Minggu selalu terasa lebih damai di rumah itu. Cahaya matahari yang masuk malu-malu lewat jendela dapur dan suara burung yang bertengger di pagar belakang.
Azalea sudah sibuk sejak pagi. Di dapur, ia mengikat celemek sederhana, rambutnya tertutup rapi oleh jilbab. Tangannya cekatan menyiapkan bahan-bahan. Tepung, telur, daun bawang, daging cincang, semuanya ditata rapi di meja.
“Aromanya sangat enak,” gumam Azalea sendiri sambil tersenyum.
Erza dan Elora mondar-mandir di depan dapur seperti dua anak kucing kelaparan.
“Mommy bikin apa?” tanya Elora sambil berjinjit.
“Martabak telur,” jawab Azalea lembut. “Sama jus lemon.”
“Mmm!” Erza mengusap perutnya berlebihan. “Aku bisa makan tiga!”
Azalea tertawa kecil. “Pelan-pelan. Mommy bikin banyak.”
Hari itu Enzo ada di rumah. Ia duduk di ruang keluarga, membaca koran, tetapi sejak aroma masakan menyebar, matanya tak lagi fokus pada tulisan. Sesekali ia melirik ke arah dapur.
Tak lama kemudian, Azalea menyajikan martabak telur di meja makan. Warnanya keemasan, potongannya tebal, aromanya menggoda. Jus lemon dingin dituangkan ke dalam gelas-gelas bening.
“Ayo, sarapan,” kata Azalea sambil tersenyum.
Erza dan Elora bersorak kecil. Mereka makan dengan lahap, sampai mulut mereka penuh.
“Enak banget!” seru Elora.
“Ini martabak terenak di dunia!” tambah Erza tanpa ragu.
Azalea hanya tersenyum, menikmati pemandangan itu. Namun tanpa ia sadari, Enzo ikut duduk dan mengambil potongan martabak.
“Mas,” panggil Azalea refleks.
“Hm?” Enzo sudah menggigit.
Matanya sedikit membulat. “Ini … enak.” Kalimat itu keluar begitu saja, jujur, tanpa dibuat-buat.
Erza langsung protes. “Daddy jangan makan banyak-banyak! Itu punyaku!”
“Daddy cuma ambil satu saja,” sanggah Enzo, lalu mengambil satu lagi.
Elora ikut berebut. “Itu punya Elora!”
Azalea tertawa melihat pemandangan langka itu, seorang ayah berebut cemilan dengan anak-anaknya.
“Sudah, sudah,” kata Azalea sambil mengangkat tangan. “Mas mengalah dulu, ya.”
Enzo menoleh. “Ish, aku kan masih ingin makan,” gumamnya.
“Aku akan buatkan martabak telur khusus untuk Mas,” jawab Azalea ringan.
Erza dan Elora langsung bersorak. “Yaaay!”
Enzo terdiam sesaat. “Apa tidak merepotkan?” tanyanya.
Azalea menggeleng. “Tidak. Aku senang memasak.”
Dari tatapan matanya ada ketulusan di sana. Bukan kewajiban atau paksaan.
Enzo mengangguk pelan. “Ma-ka-sih.”
Azalea tersenyum lembut. Dulu, kata itu tidak pernah keluar dari mulutnya. Dia berharap Enzo seperti anak-anak yang sudah mulai terbiasa mengucapkan "terima kasih" dan "maaf" jika salah.
Azalea kembali ke dapur. Ia menyiapkan adonan baru, menyalakan kompor, dan menuang sedikit minyak ke teflon.
Tak lama kemudian, langkah kaki terdengar di belakangnya. Enzo berdiri di ambang dapur, menyandarkan tubuh pada kusen pintu.
“Kamu tidak capek?” tanya pria itu.
Azalea menoleh sekilas. “Tidak.”
Enzo melangkah masuk. “Aku mau lihat prosesnya.”
Azalea mengernyit heran. “Kenapa?”
“Biar tahu higienis atau tidak,” jawab Enzo datar.
“Aku tidak mau perutku dan perut anak-anak kemasukan makanan buruk.”
Azalea tersenyum kecil. “Tenang saja. Aku masak dengan bersih.”
Enzo mengangguk, lalu berdiri di samping kabinet dapur. Posisi mereka terlalu dekat.
Azalea sampai bisa mencium aroma parfum maskulinnya, lembut, tidak menyengat. Ia menuang adonan ke teflon, menaburkan isian, lalu melipatnya dengan cekatan.
“Dulu Jasmine juga suka masak?” tanya Enzo tiba-tiba.
Azalea terdiam sesaat, lalu mengangguk. “Iya. Kak Jasmine suka masak untuk orang yang dia sayangi.”
Enzo menelan ludah.
Azalea hendak mengangkat martabak dari teflon. Tangannya bergerak cepat, fokus. Namun, pada saat yang sama, Enzo reflek meraih sisi teflon.
“Mas, jangan—!”
Terlambat.
“Tss—!” Enzo tersentak. Tangannya mengenai martabak yang masih panas.
Azalea panik. Ia menjatuhkan spatula dan spontan menarik tangan Enzo. “Mas! Kamu kenapa sih!” suaranya bergetar.
Kulit jari Enzo memerah.
Tanpa berpikir panjang, Azalea mengangkat tangan itu dan mengemutnya. Gerakan itu refleks seperti seorang ibu yang biasa menenangkan luka kecil anak-anaknya. Namun, ini bukan tangan anak kecil. Ini tangan Enzo.
Enzo membeku. Napasnya tertahan. Dia merasakan bibir Azalea yang lembut dan lidah yang hangat.
Azalea juga terdiam. Baru beberapa detik kemudian ia sadar apa yang ia lakukan. Ia hendak melepaskan, tetapi sudah terlambat.
Mata mereka bertemu. Jarak mereka begitu dekat.
Sorot mata Enzo berubah, tidak lagi dingin, tidak lagi kosong. Ada sesuatu yang bergerak pelan di sana. Sesuatu yang selama ini terkunci.
Azalea bisa mendengar detak jantungnya sendiri. “Ma—maaf,” bisiknya akhirnya, melepaskan tangan Enzo dengan cepat. Wajahnya memanas. “E, tadi itu ... aku refleks.”
Enzo masih menatapnya. Tangannya masih tergenggam di udara, seolah kehilangan sesuatu. “Tidak apa-apa,” katanya pelan. “Aku juga kaget saja.”
Hening menyelimuti dapur. Hanya suara martabak yang masih mendesis pelan di atas teflon.
Azalea buru-buru membalik martabak, mencoba menutupi kegugupan. “Martabaknya hampir gosong,” ucapnya, berusaha terdengar normal.
Enzo mengangguk, lalu melangkah mundur sedikit. Namun sebelum pergi, ia berkata lirih, “Terima kasih.”
Azalea menoleh. “Untuk apa?”
“Untuk hal-hal kecil,” jawab Enzo. “Yang selama ini tidak pernah aku rasakan lagi.”
Kalimat itu menancap di dada Azalea.
Setelah Enzo keluar dari dapur, Azalea bersandar sejenak pada meja. Tangannya masih bergetar.
Dua hati yang sama-sama pernah hancur baru saja disentuh oleh kehangatan yang tak disengaja dan tak bisa lagi diabaikan.
Dan tanpa mereka sadari, dari martabak telur yang sederhana, sebuah perasaan mulai tumbuh secara pelan, hangat, dan semakin sulit disangkal.
yang pilih nikah lagi dengan orang kampung,,,jadi kalau orang kmpung semua menjijikan ya,,,anakmu suka dengan orang kampung 😇😇
Gak semua seperti dalam bayanganmu Elsa, 2 menantu mu itu wanita kampung yang baik dan berkelas.
Apakah Elsa akan terluka karena kecelakaan ?
Tdk tersentuh oleh pemandangan yg begitu menyejukkan
Rumah yg damai tanpa teriakan & suara benda pecah
Rumah yg tenang dlm sentuhan sholat & Qur'an
Hatimu hitam legam...lebih keras daripada batu bara
Semoga segera mendapat hidayah
Berapa lama lah lagi kau hidup di dunia ini...sdh tua tp hati msh terkunci mati
Ada kepuasan tersendiri jika kita bisa memberi
yang tidak angkuh dan somse,,, mungkin ketika badan sudah tak sanggup untuk bergerak atau ya semacamnya ,,,bukan mendoakan yat buruk Yo memang sudah buruk selalu merasa paling kaya paling cantik SE Bonbin mungkin ya ,,,,ahhh bodo amat n,,,amat saja pinter Yo ga,,, terpenting Enzo sudah menjadi kepala rumah tangga yang baik dan mempunyai tempat bukan hanya singgah tapi untuk
pulang,,, kebahagiaan adalah berkumpul keluarga canda tawa dan saling melengkapi. Sehat selalu penulis dan Pembaca, Aamin 🙏