NovelToon NovelToon
EMOSI BERJILID

EMOSI BERJILID

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Penyesalan Suami
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Maya Melinda Damayanty

Farhan bercerai dengan Sinta, wanita yang ia nikahi selama tiga belas tahun. . Farhan jatuh cinta dengan wanita lain,, maka Sinta memilih mundur.

Setelah perceraiannya Farhan menikahi wanita pujaannya itu. Rani seorang janda beranak satu bernama Claudia. Sosok wanita rapuh, yang selalu membutuhkan dirinya. Farhan ingin jadi seseorang yang dibutuhkan di dalam keluarga. Tidak seperti Sinta yang terlalu mandiri.

bagaimana kisahnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KECAMUK

Pagi menjelang, hari minggu. Farhan mengajak Asih dan dua putrinya jalan-jalan sekalian ingin mendaftarkan Rafna ke sebuah klinik terapi bayi, untuk tumbuh kembangnya.

"Mas ...," Rani menatapnya memelas, ada rasa kecewa dan marah ketika melihat istrinya, terlebih kemarin Rani menelantarkan dua anak mereka.

"Aku minta maaf ... Hiks ... Aku ... Aku khilaf ... Hiks! Hiks!" lelehan airmata jatuh satu-satu dari pelupuk matanya. Terlihat jelas kantung mata yang menghitam di sana. Tanda Rani tak tidur semalaman.

"Ayah ... Kasihan Mama," bisik Claudia iba, ia menarik celana Farhan.

Pria itu menghela nafas panjang, lalu mengangguk. Rani langsung memeluk Farhan, tangisannya pecah, ia balas pelukan istrinya.

"Jangan lagi seperti kemarin ya Ma. Aku hancur melihatmu begitu pada kedua anak kita ...," pinta Farhan dengan penuh permohonan.

Rani mengangguk kuat, ia akan berusaha sebisa mungkin merubah sifatnya. Ia menyesal tadi malam karena semua meninggalkannya.

"Mas mau kemana?" tanyanya melihat semuanya rapi.

"Aku mau ajak Claudia jalan-jalan dan ingin mendaftarkan Rafna ke klinik terapi ...."

"Kalau aku menawarkan diri untuk menjadi terapis Rafna ...."

"Tidak perlu Ran!' potong Farhan cepat.

"Mas ...," lagi-lagi airmata Rani jatuh.

"Aku akan melakukan yang terbaik untuk Rafna. Aku yakin perkembangan Rafna akan jauh lebih baik di tangan ahlinya!" sambung Farhan tegas.

Lalu ia menatap Claudia, lalu menggandeng tangannya.

"Sayang, ayo kita pergi. Pamit sama Mama dulu!" suruhnya.

"Ma ... Aku pergi dulu ya ... Dag Ma!" Claudia pamit dengan wajah ceria dan ia melambaikan tangannya ke arah Rani saat Farhan membawanya ke mobil.

Rani terdiam, ia berdiri kaku. Farhan masih kecewa padanya, terbukti Rani tak diajak serta. Terlebih tolakan Farhan atas permintaan dirinya untuk jadi terapis bagi Rafna.

Mobil itu keluar gerbang, Rani masih terpaku di teras sambil menatap kendaraan roda empat itu melaju meninggalkan hunian mereka.

Airmata Rani meluncur deras, ia benar-benar ditinggal sendirian di rumah.

"Mas ... Claudia!" teriaknya.

Tapi hanya angin lalu yang menyahuti teriakannya. Tubuh Rani merosot ke lantai teras yang dingin. Sedingin tatapan suaminya saat masuk mobil.

"Mas ... Huuuu ... Uuuu ... Hiks ... Hiks!"

Sementara di dalam mobil, hanya keheningan tercipta. Claudia duduk di depan, ia menatap pemandangan jalanan yang dilewati. Senyum terus terukir di wajahnya. Bayangan permainan di sebuah wahana sudah ada di mimpinya sejak semalam.

"Ayah ... nanti aku boleh main apa saja kan?" tanyanya sekali lagi memastikan.

"Iya sayang, asal itu tidak berbahaya!" jawab Farhan lembut.

"Hore ... makasih Yah. Soalnya kemarin temen aku cerita kayaknya seru banget. Jadi aku kepingin!" ujar Claudia ceria.

"Iya sayang, Ayah pasti nemenin kamu bermain sama Bi Asih dan Adek Rafna!" jawab Farhan senang.

"Asik!" Claudia bertepuk tangan mendengar jawaban ayahnya.

Suasana di dalam mobil berbanding terbalik dengan kebekuan yang ditinggalkan di teras rumah. Farhan mencoba membuang sesak di dadanya demi senyum Claudia, sementara Bi Asih di kursi belakang terus menimang Rafna yang nampak lebih tenang pagi ini.

Farhan melirik Claudia dari spion tengah. Hatinya mencelos. Ternyata kebahagiaan anak ini begitu sederhana—hanya ingin ditemani bermain.

Selama ini, Farhan terlalu percaya bahwa kemewahan yang ia berikan melalui Rani sudah cukup, tanpa tahu bahwa figur "Ibu" yang diharapkan Claudia justru sering absen secara emosional.

"Ayah, nanti kita beli es krim yang besar ya? Untuk Bi Asih juga!" seru Claudia riang.

"Boleh, Sayang. Apapun untuk tuan putri Ayah hari ini," jawab Farhan tulus.

Di kursi belakang, Bi Asih tersenyum haru. Ia melihat Rafna mulai mencoba meraih kancing bajunya—sebuah gerakan motorik kecil yang sangat berarti.

"Pak, lihat. Neng Rafna sepertinya semangat mau jalan-jalan," bisik Asih lembut.

Farhan menoleh sekilas, matanya berkaca-kaca.

"Alhamdulillah. Kita harus optimis, Bi. Rafna pasti kuat!" ujarnya haru.

Asih mengangguk, Claudia di depan ikut menoleh ke belakang.

"Sayang ayo duduk yang benar," suruh Farhan lembut.

Claudia membalikkan tubuh dan duduk dengan baik. Lalu perlahan terdengar senandung dari bibirnya yang mungil.

"🎶Kulihat awan ... Seputih kapas ... Arak-berarak di langit luas ... Andai kudapat ke sana terbang. Kan ku ambil dan ku bawa pulang !" suara Claudia yang murni mampu menembus semua hati yang keras.

Farhan menahan diri agar tidak menangis, ia mencengkram stir mobil dan menggigit bibirnya kuat-kuat.

Perjalanan pun akhirnya berhenti di sebuah lahan parkir di sebuah wahana bermain. Claudia sudah bersorak kegirangan. Farhan mengeluarkan stroller dari bagasi.

"Dudukkan Rafna di sini, Bi!' suruhnya dan Asih meletakkan bayi dalam gendongannya secara hati-hati.

"Kakak, ayo duduk sini. Biar kamu nggak lelah berjalan!" Farhan mengangkat Claudia dan mendudukkan di sisi stroller yang lain.

Farhan mendorong kereta itu dan Claudia sudah berteriak kesenangan.

"Wahaha ... Keretanya jalan!"

Berbanding terbalik dengan suasana rumah. Rani masih duduk di lantai dengan tatapan kosong. Isakan dan airmata sudah ti oodak ada, hanya kehampaan yang melanda dirinya.

Tiba-tiba melintas di pikirannya, wajah Asih yang panik, tangisan Claudia yang kelaparan dan mencari dirinya juga tangisan Rafna yang merindukan pelukannya. Kemarin, ia benar-benar meninggalkan ketiganya begitu saja di klinik. Mencari kesenangan dan pelampiasan hati dengan berbelanja sepuasnya.

"Ibu macam apa aku ini ...," gumamnya lirih.

Lalu tiba-tiba matanya menangkap sepeda motor yang melintas di depan pagar rumahnya. Ia sangat kenal dengan motor itu. Tiba-tiba ia ketakutan, Rani langsung berdiri dan masuk rumah lalu menutup pintu rapat-rapat.

Nafasnya tersengal, ia mengintip dari jendela, pintu gerbang sudah tertutup rapat dari tadi. Ia menggeleng keras.

"Tidak mungkin Mas Iqbal!" gelengnya kuat.

Sebuah ancaman langsung ia rasakan. Dengan cepat ia berlari ke lantai atas di mana kamarnya berada.

Sampai sana, ia buka pintu dengan keras. Sesekali kakinya tersandung akibat tas-tas belanjaan yang masih berserak di lantai.

Tangannya gemetar saat meraih ponsel di atas meja. Nama Farhan terpampang jelas di layar.

Untuk beberapa detik, ia hanya menatapnya.

Rani menggigit bibirnya. Ragu. Ego dan takut saling bertabrakan di dalam dadanya.

“Aku harus… telepon…,” bisiknya lirih.

Jarinya hampir menyentuh tombol panggil— tapi ibu jarinya menggantung di udara. Keberaniannya pupus saat teringat penolakan Farhan semalam.

"'Apa jawabku ketika Mas Farhan tanya siapa Mas Iqbal?" gumamnya pelan.

Keringat dingin mengucur, jantungnya masih berkebit takut. Nama Farhan masih ada di layar dan belum ia sentuh.

Hingga ... Ting! Satu notifikasi pesan masuk.

Rani menutup mata, ia tak berani membuka pesan tersebut.

Drrt! Drrtt! Ponselnya bergetar tanda ada yang meneleponnya. Degup jantungnya tambah keras, wajahnya semakin pucat. Rani memberanikan diri mengangkat telepon itu.

"Ha ..."

"Rani ... Kok kamu lari?" sebuah suara seperti ejekan di seberang telepon dan sangat ia kenali.

"Jangan lari ... Aku punya ide yang luar biasa untuk kamu. Kamu pasti suka dan setuju!" ujar pria di seberang telepon.

"A-apa ...?" tanya Rani gugup.

"Aku akan menunggumu di kafe dekat rumahmu. Aku tunggu!"

Klik! Sambungan terputus, airmata Rani kembali menetes.

"Arrgghhhh!" teriaknya frustrasi.

Bersambung.

Ah ... Kamu yang cari penyakit Ran.

Next?

1
vania larasati
lanjut kak
Atik Marwati
kan..kan..mau selingkuh lagi cari yg katanya sempurna...😤😤
Atik Marwati
anak orang kaya tapi kekurangan gizi🥺🥺
Atik Marwati
anak anaknya Sam binasih ditinggal akhirnya Farhan yang jemput
Atik Marwati
anaknya empat ya... kasihan yang 2 masak ga di ingat sih..
Serli Ati
ah...pasti Rani buat alasan sambil bermanja dengan Farhan dan Farhan pasti percaya apa yg dikatakan rani dan masalah selesai dech, Rani merasa aman.
Serli Ati
ah....istri Soleha yg manja dan penurut Farhan memang selalu membutuhkan uang Farhan ya, semoga Rani bisa membuka mata dan hati Farhan utk melihat keburukan dan tipu muslihat Rani yg telah menjerat leher dan meruntuhkan rumah tangganya terdahulu.
Atik Marwati
kelihatan belangnya sekarang...rasakan Farhan
Atik Marwati
🧐🧐🧐
vania larasati
lanjut kak
Serli Ati
sungguh malang nasib Farhan istri tua yg setia tapi mandiri dan ambisius istri muda yg manja, tamak dan rakus hanya ingin menguasai harta saja Farhan saja.
dewi: tp ms mending yg pertama lah mnrt aq ms bisa di beri pengertian pelan2 dr pd istri kedua
total 1 replies
nurry
lanjuuuuttt
nurry
nah sekarang puyeng kan Bu Rani 😄
nurry
sama-sama gila kakak 😄😄😄
nurry
wah wah wah Rani mulai gak jujur sama Farhan, hati2 main api kalo kebakar gosong 😄
nurry
set dah Rani 😬
nurry
astaga Rani 😬
Atik Marwati
berharap dapat berlian ternyata krikil...
vania larasati
lanjutt kak
vania larasati
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!