Cinta tidak pernah salah.
Yang salah… hanya waktunya.
Zara mencintai Kenzy dengan cara yang tenang.
Seperti rumah yang selalu menunggu untuk ditinggali.
Seperti doa yang diucapkan pelan setiap malam.
Ia tidak pernah menuntut masa lalu Kenzy.
Ia hanya ingin menjadi masa depan yang dipilihnya.
Namun takdir tidak pernah sesederhana itu.
Karena sebelum Zara… ada Eve.
Perempuan yang pernah menjadi dunia Kenzy.
Yang mencintainya ketika hidup belum dipenuhi luka.
Yang menggenggam tangannya sebelum badai menghancurkan segalanya.
Eve tidak pergi karena tidak mencintai.
Ia pergi karena mencintai terlalu dalam.
Dan ketika ia kembali,
Ia tidak datang untuk merebut.
Ia hanya datang dengan hati yang belum selesai.
Kenzy berdiri di antara dua perempuan yang sama-sama mencintainya dengan cara yang berbeda.
Satu adalah masa lalu yang penuh pengorbanan.
Satu adalah masa kini yang penuh ketulusan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agustin Hariyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 1
Kenzy Maheswara
Kenzy Maheswara tumbuh dengan nama besar yang selalu berjalan satu langkah di depannya.
Nama itu membuka pintu.
Nama itu menundukkan kepala orang-orang.
Nama itu menjanjikan masa depan tanpa harus meminta.
Namun Kenzy tidak pernah merasa bangga berdiri di baliknya.
Sejak usia tujuh belas tahun, hidupnya berubah menjadi sunyi yang terlalu cepat dewasa. Kecelakaan itu merenggut kedua orang tuanya dalam satu malam yang tak pernah benar-benar ia lupakan. Rumah megah keluarga Maheswara yang dulu terasa hangat berubah menjadi bangunan besar yang hanya menyisakan dua penghuni.
Dirinya.
Dan kakeknya.
Jonathan Maheswara.
Pendiri Maheswara Corp. Sosok yang dikenal tegas, visioner, sulit dikalahkan dalam negosiasi. Dunia bisnis mengenalnya sebagai pria yang tak pernah ragu mengambil keputusan besar.
Namun bagi Kenzy, ia hanyalah lelaki tua yang diam-diam menunggu cucunya pulang lebih awal setiap malam.
“Apa kau sudah memikirkan tawaranku?”
Pertanyaan itu kembali terdengar di ruang kerja utama mansion keluarga.
Kenzy berdiri tegap di hadapan meja kayu besar yang telah menjadi saksi puluhan keputusan penting perusahaan.
“Aku sudah memikirkannya, Kek.”
Jonathan mengangkat wajahnya perlahan.
“Kau tahu direksi sudah siap mengumumkanmu sebagai penerus.”
Kenzy mengangguk. Ia tahu. Semua orang tahu. Pasar sudah berspekulasi. Media bahkan mulai menebak kapan ia resmi duduk di kursi utama.
Tapi jawaban Kenzy tetap sama.
“Maaf kek…aku tidak bisa mengambilnya, belum”
Sunyi memenuhi ruangan.
Bukan karena ia tidak mampu. Sejak kuliah, Kenzy sudah membantu menganalisis laporan, membaca pasar, bahkan memperbaiki strategi investasi keluarga.
Ia mampu.
Justru karena itu ia menolak.
“Aku ingin membangun sesuatu dari nol,” lanjutnya tenang. “Kalau suatu hari aku memimpin Maheswara Corp, itu karena aku memang pantas. Bukan karena aku cucu kakek.”
Tatapan Jonathan tajam, tetapi di baliknya tersimpan sesuatu yang lebih lembut.
“Kau keras kepala.”
Kenzy tersenyum tipis. “Mungkin warisan paling jujur dari keluarga ini.”
Hari itu tidak ada persetujuan resmi. Tidak ada restu yang diucapkan lantang.
Namun seminggu kemudian, Kenzy pindah dari kantor pusat keluarga ke sebuah ruang kerja sederhana di pusat kota.
Tanpa papan nama Maheswara.
Tanpa fasilitas istimewa.
Tanpa pengumuman publik.
Ia membangun perusahaan rintisan di bidang konsultan digital dan strategi branding. Timnya hanya empat orang. Modalnya tidak seberapa dibandingkan kekayaan keluarganya. Bahkan sebagian orang mengira ia hanya bermain-main sebelum akhirnya “kembali ke rumah”.
Kenzy tidak pernah menjelaskan apa pun.
Ia hanya bekerja.
Enam bulan setelah perusahaan kecilnya berdiri, Kenzy mulai mencari klien di industri fashion lokal. Ia ingin memperluas portofolio branding dan strategi digital perusahaannya.
Nama itu muncul dalam salah satu daftar rekomendasi:
Caliandra Boutique.
Brand lokal yang sedang naik daun. Desainnya feminin, berkelas, tapi punya sentuhan modern yang kuat.
Kenzy datang sendiri ke butik yang terletak di salah satu kawasan strategis kota. Tanpa sekretaris. Tanpa pengawal. Tanpa kartu nama keluarga Maheswara.
Hanya Ken.
Butik itu tidak terlalu besar, tapi tertata indah. Aroma lembut bunga melati menyambutnya begitu pintu kaca terbuka.
Di sudut ruangan, seorang perempuan sedang memeriksa jahitan pada gaun berwarna sage.
“Kami belum buka untuk klien hari ini,” ucapnya tanpa menoleh.
“Saya bukan klien.”
Perempuan itu menoleh.
Tatapan mereka bertemu untuk pertama kali.
“Lalu?”
“Saya ingin menawarkan kerja sama.”
Alis perempuan itu sedikit terangkat. “Kami sudah punya tim pemasaran.”
“Tim Anda bagus,” jawab Ken tenang. “Tapi brand Anda bisa jauh lebih besar dari ini.”
Biasanya, orang akan tersinggung dengan kalimat seperti itu.
Namun perempuan itu justru tersenyum tipis.
“Dan kamu pikir kamu bisa membantu?”
“Saya tidak berpikir,” jawab Ken. “Saya sudah menyiapkan proposal.”
Itulah pertemuan pertama Kenzy Maheswara dan Cali…..pemilik Caliandra Boutique.
Bukan di tangga darurat.
Bukan karena proposal ditolak.
Melainkan karena dua orang ambisius bertemu di tengah mimpi masing-masing.
Cali menyukai cara Ken berbicara, tidak berlebihan, tidak menjual mimpi kosong. Ia berbicara berdasarkan data, tren, dan strategi yang masuk akal.
Ken menyukai cara Cali mempertahankan idealismenya.
Ia tidak mau brand-nya hanya menjadi angka penjualan.
Kerja sama itu akhirnya dimulai.
Dan untuk pertama kalinya, perusahaan kecil Kenzy mendapatkan klien fashion yang serius.
Cali tidak pernah bertanya tentang latar belakang Ken.
Ia hanya menilai dari hasil kerja.
Dan Ken… untuk pertama kalinya merasa dihargai tanpa embel-embel Maheswara.