Fred Tucker, mahasiswa kedokteran diparis, penampilan biasa, agak gempal dan bukan pusat perhatian. satu kali menjadi dirinya menjadi target pembunuh bayaran. Dia harus melarikan diri tanpa tahu penyebabnya. bukan miliarder, bukan siapa-siapa, orang tua biasa saja namun menjadi target mati. hidupnya hancur, orang tua nya mati. Untuk mengetahui apa yang terjadi hidupnya maka Fred harus menjadi pembunuh bayaran. berlatih dan menjadi kuat Dia harus ke berbagai negara sebagai Assassin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rick Tur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pembunuhan Pertama
Pagi di kampus kedokteran selalu punya ritme yang sama: langkah cepat di lorong, bau kopi murah bercampur disinfektan, dan suara halaman buku yang dibuka terburu-buru sebelum dosen masuk. Untuk Fred, ritme itu menenangkan. Itu seperti janji bahwa hidup masih punya jalur normal—meski semalam ia hampir mati di gang gelap.
Ia duduk di barisan tengah aula anatomi, menyalakan laptop, lalu menatap slide kosong yang belum dimulai. Teman sekelasnya, Léa, menepuk pundaknya.
“Kamu keliatan kayak habis digulung truk,” kata Léa, setengah bercanda.
Fred tersenyum tipis. “Kurang tidur.”
“Klasik. Semua dari kita kurang tidur. Tapi kamu… beda. Mata kamu kayak… waspada.”
Fred tertawa kecil, memaksakan ringan. “Mungkin aku kebanyakan kopi.”
Léa mengangkat alis, tapi tidak memaksa.
Saat itu pintu aula terbuka. Seorang pria masuk, rapi, dengan jas abu-abu, sepatu mengilap, rambut disisir seperti iklan parfum. Ia bukan dosen yang biasa Fred lihat. Dosen di sini biasanya membawa tumpukan kertas atau kantong bawah mata yang sama parahnya dengan mahasiswa. Pria ini tidak terlihat lelah sama sekali.
Ia tersenyum, lalu bergerak menyusuri lorong, seolah sudah tahu siapa yang dicari.
Tatapan Fred tak sengaja bertemu dengan tatapan pria itu.
Hanya sepersekian detik.
Tapi cukup untuk membuat perut Fred mengencang, tanpa alasan jelas.
Pria itu mendekat.
“Fred Tucker?” suaranya hangat. Terlalu hangat.
Fred menoleh, menahan refleks untuk melihat sekeliling. “Iya.”
“Ah, bagus sekali.” Pria itu menjabat tangan Fred dengan tekanan yang pas—tidak terlalu kuat, tidak terlalu lemah. “Saya Marc Delon. Dosen tamu. Saya mengisi sesi keterampilan klinis minggu depan. Saya dengar kamu punya minat besar di bidang emergensi?”
Fred berkedip. “Saya… ya, maksud saya, saya sedang pertimbangkan.”
Pria itu tertawa kecil, seperti tawa orang yang sudah sangat terbiasa membuat orang lain nyaman. “Saya suka mahasiswa yang punya arah. Saya dulu juga seperti itu. Kamu punya semangat yang bagus.”
Léa menatap Fred, bingung: kamu kenal orang ini? Fred mengangkat bahu pelan: tidak.
Marc—atau siapa pun dia—menepuk lengan Fred dengan akrab, lalu mencondongkan badan.
“Kalau kamu ada waktu setelah kelas, saya ingin bicara sebentar. Mungkin soal peluang magang. Kamu tinggal di area sini, kan?”
Fred merasakan jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Bukan karena senang.
Karena kalimat itu terasa seperti umpan.
“Iya,” Fred menjawab, berhati-hati. “Saya tinggal dekat sini.”
“Bagus.” Marc tersenyum lebih lebar. “Nanti kita ngobrol.”
Ia meninggalkan Fred seolah baru saja menyemangati seorang mahasiswa berbakat. Tapi begitu ia berjalan pergi, Fred baru sadar telapak tangannya lembap.
“Apa itu?” Léa berbisik, mendekat. “Dia dosen tamu? Kok cari kamu spesifik?”
Fred mengangkat bahu, menahan rasa tidak nyaman. “Nggak tahu. Mungkin salah orang.”
Léa mencibir. “Salah orang? Dia nyebut nama kamu.”
Fred memaksakan tawa. “Mungkin dia baca daftar.”
Di luar aula, di antara kerumunan yang bergerak, Maëlle berdiri jauh. Tangannya masuk saku coat, tapi matanya bekerja cepat. Ia tidak melihat Fred seperti teman atau orang yang harus dipeluk. Ia melihat Fred seperti titik pusat lingkaran ancaman.
Dan pria itu—“Marc Delon”—membuat lingkaran itu menyempit.
Maëlle tidak mendengar isi percakapan mereka, tapi ia melihat semuanya: cara pria itu menutup jarak terlalu cepat, cara ia menyentuh lengan Fred dengan akrab, cara ia tersenyum tanpa melibatkan mata.
Senyum seperti itu hanya ada di dua jenis orang, menurut pengalaman Maëlle.
Penjual.
Atau pembunuh.
Maëlle menurunkan pandangan ke tangan pria itu saat pria itu berjalan pergi.
Tidak ada cincin.
Tidak ada jam tangan mahal.
Tapi ada sesuatu yang lebih menarik: ujung jari telunjuknya sedikit kasar, seperti orang yang sering menekan pelatuk atau menggeser logam.
Maëlle bergerak.
Tidak cepat. Tidak mencolok.
Seperti bayangan yang memilih sudut gelap sendiri.
Kelas berlangsung seperti biasa: tulang, tendon, pembuluh darah, dan perdebatan kecil tentang metode pemeriksaan trauma. Fred mencoba fokus, tapi pikirannya melompat-lompat. Ia berkali-kali menatap pintu aula, menunggu pria itu masuk lagi, menunggu sesuatu terjadi.
Tidak ada.
Sampai jeda kelas.
Mahasiswa keluar, menuju kafe kampus, toilet, atau sekadar udara segar. Fred berdiri, mengangkat tas, lalu merasa ada tangan menepuk bahunya lagi.
Marc Delon.
“Tucker,” katanya, kini lebih pelan, seolah mereka sahabat lama. “Kita bicara sebentar? Di koridor sana lebih tenang.”
Fred ragu, tapi menolak terasa aneh. Ini kampus. Ada orang banyak. Apa yang bisa terjadi?
“Oke,” kata Fred.
Marc berjalan duluan. Fred mengikuti.
Koridor itu kosong di ujung, dekat toilet staf. Lampunya lebih redup, dan suara dari aula terdengar jauh. Marc berhenti, menoleh.
“Kamu tahu,” katanya, “di dunia kedokteran, orang yang punya potensi sering… diincar banyak pihak.”
Fred menahan ekspresi. “Diincar?”
Marc tertawa kecil. “Bukan begitu. Maksud saya, kamu akan punya banyak pilihan. Tapi pilihan itu… bisa berbahaya kalau kamu salah percaya orang.”
Ada jeda, cukup lama untuk membuat kata-kata itu terasa seperti ancaman yang disamarkan jadi nasihat.
Fred menelan ludah. “Saya… tidak mengerti.”
Marc mengangkat tangan, menenangkan. “Tenang. Saya hanya ingin memastikan kamu aman. Kamu tampak… stres. Ada masalah belakangan ini?”
Fred merasakan bulu kuduknya meremang. Cara pria itu menanyakan “masalah” terdengar seperti orang memancing informasi.
Fred memaksa tersenyum. “Cuma tugas kuliah.”
Marc menatap Fred, seperti menilai apakah jawaban itu bohong. Lalu ia mengangguk, seolah puas.
“Baik. Kalau begitu, kita sambung nanti. Saya harus ke toilet sebentar.” Marc menunjuk pintu toilet staf. “Setelah itu, mungkin kita bisa bicara soal magang.”
Fred mengangguk kaku. “Ya.”
Marc masuk.
Pintu toilet menutup.
Fred berdiri sendirian di koridor, mendadak merasa bodoh. Ia menoleh ke arah keramaian—jauh. Ia ingin kembali ke sana, tapi kakinya seperti tertahan oleh rasa penasaran yang tidak sehat.
Ini cuma dosen tamu, pikirnya. Kamu paranoid.
Namun, ada sesuatu yang membuat Fred tidak bisa langsung pergi: kata “aman” tadi. Cara pria itu memandangi wajahnya. Seperti sedang memastikan sesuatu.
Fred akhirnya memutuskan kembali ke aula.
Baru dua langkah, ia mendengar suara: pintu toilet terbuka sedikit.
Fred menoleh.
Tapi yang keluar bukan Marc.
Tidak ada siapa-siapa.
Pintu itu seperti bergerak sendiri, lalu berhenti.
Fred menahan napas.
Koridor itu tiba-tiba terasa lebih dingin.
Ia berjalan lebih cepat, ingin menjauh. Di belakangnya, pintu toilet menutup pelan—tanpa bunyi.
Kepanikan meledak lima belas menit kemudian.
Seorang staf kebersihan menjerit dari toilet staf. Suaranya menusuk, membuat beberapa mahasiswa berlari mendekat, lalu berhenti mendadak ketika melihat darah mengalir tipis dari celah pintu.
Polisi kampus datang duluan. Lalu polisi kota.
Aula dibubarkan. Lorong disegel. Orang-orang berkumpul seperti lebah, berbisik, merekam dengan ponsel, mengirim pesan.
Fred berdiri di antara kerumunan, tubuhnya kaku.
“Ada apa?” Léa bertanya, wajahnya pucat.
“Katanya… ada orang mati,” jawab mahasiswa lain, suara gemetar.
Fred merasakan tenggorokannya mengering. Ia menatap pintu toilet staf dari jauh. Pita garis polisi kuning terpasang. Petugas memakai sarung tangan, keluar-masuk.
Ia mendengar potongan percakapan:
“Tidak ada saksi.”
“Tidak ada CCTV di dalam.”
“Korban tewas cepat… sangat cepat.”
“Tidak ada dompet?”
“Tidak ada ID yang valid.”
Fred memejamkan mata, berusaha menelan rasa mual.
Marc.
Sesuatu di dalam dirinya berbisik: itu orang yang tadi.
Tapi bagaimana?
Dan kenapa?
Ia menoleh ke sekeliling tanpa sadar, mencari Maëlle—entah kenapa ia yakin perempuan itu akan muncul sebagai jawaban. Tapi Maëlle tidak terlihat. Tidak ada.
Yang ada hanya wajah-wajah panik.
Polisi mulai memanggil beberapa mahasiswa untuk ditanya. Nama-nama dicatat. Pertanyaan sederhana:
“Kamu melihat korban masuk toilet?”
“Kamu bicara dengannya?”
“Kamu tahu siapa dia?”
Saat giliran Fred, seorang polisi wanita dengan mata lelah menatapnya.
“Nama?”
“Fred Tucker.”
“Kamu mengenal korban?”
Fred ragu, lalu memutuskan jujur setengah. “Dia mengaku dosen tamu. Namanya Marc Delon.”
Polisi itu mencatat, lalu mengangkat alis. “Mengaku?”
Fred mengangkat bahu, mencoba terlihat normal. “Saya… baru bertemu tadi. Dia menyebut nama saya, bicara soal magang.”
Polisi itu menatapnya lama, seperti menimbang apakah Fred menyembunyikan sesuatu.
“Kamu punya konflik dengannya?”
“Tidak. Saya bahkan tidak kenal.”
Polisi itu menutup buku catatan. “Oke. Jangan pergi jauh. Kami mungkin akan tanya lagi.”
Fred mengangguk, langkahnya lemas.
Sore hari, berita menyebar lebih cepat daripada flu di asrama.
Korban bukan Marc Delon.
Nama itu palsu.
Sidik jari korban—yang entah bagaimana polisi dapatkan—cocok dengan salah satu buronan: pria yang dicari karena keterlibatan jaringan pembunuh bayaran dan pemalsuan identitas lintas negara.
Itu membuat kampus semakin panik, tapi juga memberi “jawaban” yang nyaman.
“Oh, dia kriminal. Pantas.”
“Syukurlah dia mati.”
“Mungkin dia kabur dari polisi, terus bunuh diri?”
Semua orang berusaha menempelkan logika pada sesuatu yang tidak logis.
Fred duduk di kantin kampus, memegang sendok tapi tidak makan. Pikiran berputar.
Seorang buronan. Di kampusnya. Mendekatinya. Menyebut namanya.
Léa duduk di depannya, menatap Fred dengan wajah serius.
“Kamu yakin kamu nggak kenal dia?” tanya Léa pelan.
Fred menghela napas. “Aku yakin.”
Léa mencondongkan tubuh. “Terus kenapa dia cari kamu?”
Fred ingin menjawab dengan jujur total: karena aku target. Tapi itu terdengar gila. Itu terdengar seperti orang yang ingin jadi penting.
Fred menatap kopi yang dingin. “Mungkin… kebetulan.”
Léa mengerutkan dahi. “Kebetulan macam apa?”
Fred tersenyum kecil, memaksa ringan. “Kebetulan Paris memang kota aneh.”
Léa tidak puas, tapi ia tidak memaksa lagi.
Di dalam kepala Fred, pertanyaan berputar: Apa ini ada hubungannya dengan aku?
Satu bagian dari dirinya—bagian yang masih merasakan dingin pisau semalam—ingin menjerit: iya.
Tapi bagian lain yang lebih besar, lebih keras kepala, lebih “Fred” berkata: tidak.
Fred bukan anak orang kaya. Bukan saksi penting. Bukan putra pejabat. Ia cuma mahasiswa kedokteran yang hidup dengan mie instan dan jadwal kacau.
Tidak ada yang spesial darinya.
Tidak ada yang pantas diburu.
Dan karena itulah, ketika ia keluar dari kampus sore itu, Fred memutuskan hal yang sama seperti pagi tadi:
Ia akan hidup normal.
Ia akan kuliah.
Ia akan berpura-pura bahwa gang gelap, Maëlle, catatan, dan buronan yang mati di toilet… hanyalah rangkaian kebetulan yang terlalu dramatis.
Di atap gedung seberang jalan, Maëlle berdiri diam, menatap kampus melalui celah ventilasi.
Tangannya memegang ponsel burner, layar menyala singkat: daftar nama palsu yang baru saja ia konfirmasi.
Buronan itu memang pembunuh.
Dan dia memang datang untuk Fred.
Maëlle menutup layar, memasukkan ponsel ke saku.
Di dalam dirinya, ada dua suara yang berkelahi.
Satu berkata: tinggalkan. Ini bukan urusanmu. Kamu sudah bayar utang dengan menyelamatkan dia semalam.
Satu lagi berkata: kalau kamu tinggalkan, dia mati. Dan kamu tidak suka utang yang belum lunas.
Maëlle menatap Fred yang berjalan pulang, tampak biasa di antara orang-orang biasa.
“Dasar bodoh,” bisiknya, entah menghina atau melindungi.
Lalu ia melangkah mundur ke bayangan, menghilang sebelum ada yang sadar ia ada.
Karena mulai hari ini…
Fred tidak cuma punya target di punggungnya.
Ia punya bayangan yang memutuskan untuk membunuh demi menjaga dia tetap hidup.