NovelToon NovelToon
Aluna Milik Arsen

Aluna Milik Arsen

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / CEO
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora_Minji

Satu tabrakan mengubah segalanya.

Aluna Prasetya tidak pernah membayangkan kecelakaan kecil akan menjebaknya dalam kontrak 6 bulan dengan Arsen Mahendra, pengusaha kaya raya yang dingin, berkuasa, dan obsesif.
Aturan ketat. Kontrol total. Kepemilikan mutlak.
"Kamu milikku, Aluna. Hanya milikku."

Arsen bukan sekadar menginginkannya sebagai asisten. Ia menuntut kepemilikan penuh jiwa, raga, dan hati. Sentuhan possesifnya membakar, obsesinya mencekik, namun Aluna terjerat terlalu dalam untuk kabur.

Ketika masa lalu kelam Arsen terungkap dan ancaman datang menghampiri, Aluna menyadari satu hal, melarikan diri dari Arsen Mahendra adalah mustahil.

Tapi apakah ia masih ingin melarikan diri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora_Minji, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Draft

# ALUNA MILIK ARSEN

**Part 25: Konfesi**

 

Pagi terakhir di pulau. Matahari baru saja terbit, mewarnai langit dengan gradasi oranye dan merah muda yang memukau. Aluna terbangun dengan cincin berlian di jarinya yang berkilauan terkena cahaya pagi pengingat nyata dari lamaran Arsen semalam.

Ia menatap cincin itu dengan senyum lembut, lalu menoleh ke samping menemukan Arsen sudah terjaga, menatapnya dengan tatapan yang sangat intens.

"Sudah berapa lama Anda menatap saya seperti itu?" tanya Aluna dengan suara yang masih serak.

"Sejak matahari terbit," jawab Arsen tanpa rasa malu. "Aku tidak bisa tidur. Aku terus memikirkan... bagaimana aku bisa seberuntung ini. Mendapatkan Mu. Memilikimu."

Tangannya terangkat, menyentuh pipi Aluna dengan lembut.

"Dan aku terus memikirkan... bagaimana aku hampir kehilanganmu. Saat Darren menculik mu. Saat kamu memberikan ultimatum untuk pergi. Setiap kali aku hampir kehilanganmu, aku merasakan... kehancuran yang tidak bisa dijelaskan."

Aluna menatap mata kelam Arsen yang dipenuhi dengan emosi yang kompleks cinta, ketakutan, possessiveness, semuanya bercampur jadi satu.

"Arsen..."

"Biarkan aku bicara," potong Arsen dengan lembut. "Ada sesuatu yang perlu aku katakan. Sesuatu yang perlu kamu dengar sebelum kita kembali ke Jakarta. Sebelum kita menghadapi dunia nyata lagi."

Ia menarik napas dalam, seolah mengumpulkan keberanian.

"Aku perlu mengakui sesuatu," lanjutnya dengan suara yang bergetar sedikit. "Tentang cintaku padamu. Tentang... obsesiku."

Aluna duduk, bersandar pada headboard tempat tidur, menatap Arsen dengan penuh perhatian. Arsen mengikuti, duduk menghadap Aluna dengan kaki menyilang.

"Saat pertama kali melihatmu di kafe itu enam bulan lalu," mulai Arsen dengan suara pelan, "aku langsung tahu. Ada sesuatu tentangmu yang... menarik ku dengan cara yang tidak wajar. Bukan hanya karena kamu cantik meskipun kamu sangat cantik. Tetapi ada... aura tentangmu. Cara kamu tersenyum saat membaca. Cara kamu begitu fokus pada duniamu sendiri. Cara kamu terlihat... damai."

Tangannya mengepal di pangkuannya.

"Dan aku, yang sudah tiga tahun hidup dalam kegelapan sejak kehilangan Anjani, tiba-tiba merasakan... cahaya. Kecil. Tetapi cukup untuk membuatku ingin lebih dekat."

Ia menatap Aluna dengan tatapan yang penuh rasa sakit.

"Tetapi aku tidak mendekatimu dengan cara yang normal. Aku tidak menperkenalkan diri, tidak mengajakmu kencan. Aku... menguntit mu. Mengawasi Mu. Mempelajari setiap detail tentang hidupmu tanpa kamu sadari."

Aluna sudah tahu ini Arsen pernah mengakuinya sebelumnya. Tetapi mendengarnya lagi dengan detail membuat dadanya sesak.

"Dan saat kamu menabrak mobilku," lanjut Arsen dengan senyum pahit, "aku tidak marah. Aku... bersyukur. Karena akhirnya aku punya alasan untuk membawamu masuk ke dalam hidupku. Kontrak itu, aturan-aturan ketat itu, semua itu... aku sengaja buat sedemikian rupa agar kamu tidak bisa pergi."

Ia menatap tangan Aluna yang ada di pangkuannya.

"Aku bilang itu untuk kompensasi kerusakan mobil. Tetapi kenyataannya? Aku sudah merencanakan untuk memilikimu jauh sebelum kecelakaan itu. Kecelakaan itu hanya... memberiku kesempatan emas."

Air mata mulai menggenang di mata Arsen.

"Aku manipulatif, Aluna," bisiknya dengan suara pecah. "Aku memanfaatkan situasimu keluargamu yang tidak punya uang, kebutuhanmu untuk kuliah. Aku tahu kamu tidak punya pilihan. Dan aku... aku menggunakannya."

Aluna merasakan dadanya sesak, tetapi ia tidak menyela. Arsen perlu mengeluarkan ini semua.

"Saat kamu mulai tinggal di mansion, saat kamu mulai berada di dekatku setiap hari," lanjut Arsen, "obsesiku semakin parah. Aku memasang CCTV di mana-mana bukan hanya untuk keamanan. Tetapi karena aku butuh melihatmu setiap saat. Aku butuh tahu apa yang kamu lakukan, dengan siapa kamu bicara, bahkan... apa yang kamu pikirkan dari ekspresi wajahmu."

Tangannya gemetar di pangkuannya.

"Dan saat Dimas mendekatimu di kampus, saat aku melihat kamu tertawa bersamanya di kafe..." suaranya menjadi lebih gelap, "aku merasakan amarah yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Bukan hanya cemburu biasa. Tetapi... keinginan untuk menghancurkan. Untuk memastikan tidak ada pria lain yang bisa membuatmu tersenyum seperti itu."

Ia menatap Aluna dengan mata yang memerah.

"Aku tahu itu salah, Aluna. Aku tahu aku seharusnya membiarkanmu punya teman, punya kehidupan sosial. Tetapi setiap kali aku melihat kamu dengan orang lain, setiap kali kamu tersenyum pada orang lain... aku merasa seperti kehilanganmu. Dan aku... aku tidak bisa menerimanya."

Air mata mulai mengalir di pipinya.

"Cintaku padamu bukan cinta yang sehat, Aluna," akuinya dengan suara bergetar. "Ini obsesi. Ini kegilaan. Ini... kepemilikan yang melampaui batas normal."

Ia meraih tangan Aluna, menggenggamnya dengan erat.

"Kamu milikku," bisiknya dengan intensitas yang menakutkan dan memabukkan sekaligus. "Hanya milikku. Bukan milik keluargamu, bukan milik teman-temanmu, bukan milik dunia. MILIKKU."

Suaranya menjadi lebih keras, lebih putus asa.

"Dan aku akan menghancurkan siapa saja yang berusaha mengambil mu dariku," lanjutnya dengan mata yang berkilat berbahaya. "Darren sudah merasakannya. Dan siapa pun yang berani mencoba setelah dia... akan merasakan hal yang sama atau lebih buruk."

Ia menarik tangan Aluna, meletakkannya di dadanya tepat di atas jantungnya yang berdetak kencang.

"Jantung ini," bisiknya dengan suara serak, "berdetak hanya untukmu. Setiap napas yang aku ambil adalah untukmu. Setiap pikiran di kepalaku adalah tentangmu. Kamu bukan hanya bagian dari hidupku, Aluna. Kamu ADALAH hidupku."

Tangisnya semakin keras sekarang tangis seorang pria yang mengakui kegelapan terdalamnya.

"Aku tahu aku monster," isaknya. "Aku tahu aku possessive berlebihan. Aku tahu aku mengontrol mu dengan cara yang salah. Tetapi aku... aku tidak bisa berhenti. Aku tidak bisa melepaskan mu. Karena tanpamu, aku tidak akan selamat. Tanpamu, aku akan kembali menjadi mayat hidup seperti setelah Anjani meninggal atau lebih buruk."

Ia jatuh berlutut di depan Aluna yang masih duduk di tempat tidur, kepalanya bersandar di pangkuan Aluna, tubuhnya gemetar karena tangis yang tidak terkontrol.

"Maafkan aku," isaknya di pangkuan Aluna. "Maafkan aku karena mencintaimu dengan cara yang salah. Maafkan aku karena tidak bisa menjadi pria normal yang bisa mencintaimu dengan sehat. Maafkan aku karena... menjadikanmu obsesiku."

Aluna merasakan air matanya sendiri mengalir. Tangannya bergerak ke rambut Arsen, mengelus dengan lembut gerakan yang menenangkan.

"Arsen," bisiknya dengan suara yang bergetar. "Lihat saya."

Arsen perlahan mengangkat kepalanya, menatap Aluna dengan mata yang memerah dan basah oleh air mata.

Aluna mengusap air mata di pipi Arsen dengan kedua tangannya.

"Saya tahu," bisiknya dengan lembut. "Saya sudah tahu sejak awal bahwa cinta Anda... berbeda. Lebih gelap. Lebih intens. Lebih... obsesif."

Ia tersenyum tipis senyum yang penuh dengan penerimaan.

"Dan ada waktu di mana saya takut dengan itu. Ada waktu di mana saya merasa tercekik. Ada waktu di mana saya hampir kabur karena tidak tahan."

Ia menatap dalam ke mata Arsen.

"Tetapi ada juga waktu di mana saya merasa... aman. Dicintai dengan intensitas yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya. Dilindungi dengan cara yang membuat saya tahu bahwa tidak ada yang bisa menyakiti saya selama Anda ada."

Tangannya bergerak ke dada Arsen, merasakan detak jantung pria itu.

"Dan saat Darren menculik saya," lanjutnya dengan suara bergetar, "saat saya terikat di gudang gelap itu, takut dan sendirian... yang saya pikirkan hanya satu hal: Arsen akan datang. Arsen akan menyelamatkan saya. Karena cintanya yang obsesif itu berarti dia tidak akan pernah membiarkan saya hilang."

Air mata mengalir lebih deras di pipinya.

"Dan Anda datang," bisiknya. "Anda kn lari."

Ia tersenyum senyum yang penuh dengan cinta yang gelap.

"Tetapi saya tidak lari. Karena saya menyadari... saya mencintai pria itu juga. Pria yang possessive. Pria yang obsesif. Pria yang akan menghancurkan dunia untuk saya."

Ia menarik wajah Arsen lebih dekat, dahi mereka menyentuh.

"Jadi saya tidak perlu memaafkan Anda," bisiknya. "Karena tidak ada yang perlu dimaafkan. Anda mencintai saya dengan cara Anda. Dan saya... saya menerima cinta itu. Semua cinta itu. Dengan semua obsesi, dengan semua possessiveness, dengan semua kegelapan."

Ia mencium Arsen dengan lembut ciuman yang penuh dengan penerimaan, dengan cinta yang tulus meski gelap.

Saat mereka terpisah, Aluna tersenyum dengan air mata yang masih mengalir.

"Saya juga punya konfesi," ucapnya pelan.

Arsen menatapnya dengan tatapan penuh perhatian.

"Saya juga obsesif dengan Anda," lanjut Aluna dengan jujur. "Mungkin tidak sebesar obsesi Anda pada saya. Tetapi setelah penculikan, setelah trauma itu... saya tidak bisa bernapas tanpa Anda. Saya tidak bisa tidur tanpa memastikan Anda masih bernapas di samping saya. Saya panik setiap kali Anda pergi ke toilet lebih dari lima menit."

Ia tertawa kecil tawa yang ironis.

"Jadi kita berdua rusak, Arsen," bisiknya. "Kita berdua obsesif. Kita berdua tidak bisa hidup tanpa satu sama lain dengan cara yang tidak sehat. Tetapi... apa saya menyesal?"

Ia menggelengkan kepala.

"Tidak. Karena saya lebih memilih hidup dalam obsesi gelap ini bersama Anda daripada hidup 'normal' tanpa Anda."

Arsen merasakan sesuatu di dadanya meledak campuran lega, cinta yang membara, dan rasa syukur yang luar biasa.

Ia bangkit dan menarik Aluna ke dalam pelukannya yang sangat erat pelukan yang putus asa, yang possessive, yang penuh dengan cinta yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

"Terima kasih," isaknya di rambut Aluna. "Terima kasih karena menerimaku. Terima kasih karena mencintai monster ku. Terima kasih karena... menjadi sama rusaknya denganku."

Aluna membalas pelukan itu dengan erat.

"Kita milik satu sama lain," bisiknya. "Sepenuhnya. Selamanya. Dengan semua kegelapan kita."

"Sepenuhnya," ulang Arsen sambil mencium puncak kepala Aluna. "Selamanya."

Mereka berpelukan lama di tempat tidur itu, dengan matahari pagi yang menyinari mereka, dengan suara ombak yang menenangkan, dengan konfesi yang sudah diucapkan dan diterima.

Tidak ada lagi rahasia.

Tidak ada lagi penyangkalan.

Hanya ada kebenaran telanjang tentang cinta mereka cinta yang gelap, yang obsesif, yang salah di mata dunia tetapi sempurna untuk mereka.

Dan dengan konfesi itu, dengan penerimaan itu, mereka siap untuk kembali ke Jakarta.

Kembali ke dunia nyata.

Dengan ikatan yang lebih kuat dari sebelumnya.

Ikatan yang tidak bisa diputus oleh apa pun bahkan tidak oleh ancaman Darren, tidak oleh pandangan dunia, tidak oleh apa pun.

Karena mereka sudah melewati api dan keluar bersama-sama.

Dan tidak ada yang bisa memisahkan dua jiwa yang sudah bersatu dalam kegelapan.

...Jangan lupa VOTE ⭐ COMMENT 💬 dan SHARE 🔄 ya!...

...OH MY GOD! 😭💔 KONFESI YANG PALING JUJUR! Arsen mengakui SEMUA manipulasi, obsesi, possessiveness SEMUANYA! Dan Aluna... MENERIMANYA!...

..."Saya tidak perlu memaafkan Anda karena tidak ada yang perlu dimaafkan" INI ACCEPTANCE LEVEL MAKSIMAL! 😱💕...

...Dan ternyata Aluna JUGA OBSESIF sekarang! Mereka berdua rusak dan mereka ACCEPT kerusakan satu sama lain!...

..."Kita milik satu sama lain. Sepenuhnya. Selamanya. Dengan semua kegelapan kita" - COUPLE GOALS yang TWISTED tapi BEAUTIFUL! 🖤...

...Sekarang mereka balik ke Jakarta dengan ikatan yang lebih kuat... tapi Darren masih out there... 😰...

...Kalian siap nggak buat arc terakhir mereka? Drama besar menunggu!...

...Follow untuk update part selanjutnya!...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!