Satu tabrakan mengubah segalanya.
Aluna Prasetya tidak pernah membayangkan kecelakaan kecil akan menjebaknya dalam kontrak 6 bulan dengan Arsen Mahendra, pengusaha kaya raya yang dingin, berkuasa, dan obsesif.
Aturan ketat. Kontrol total. Kepemilikan mutlak.
"Kamu milikku, Aluna. Hanya milikku."
Arsen bukan sekadar menginginkannya sebagai asisten. Ia menuntut kepemilikan penuh jiwa, raga, dan hati. Sentuhan possesifnya membakar, obsesinya mencekik, namun Aluna terjerat terlalu dalam untuk kabur.
Ketika masa lalu kelam Arsen terungkap dan ancaman datang menghampiri, Aluna menyadari satu hal, melarikan diri dari Arsen Mahendra adalah mustahil.
Tapi apakah ia masih ingin melarikan diri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora_Minji, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 34: Kehamilan
Dua garis merah itu muncul dalam hitungan detik, tapi Aluna menatapnya selama hampir lima menit penuh, berdiri di depan cermin kamar mandi dengan tangan gemetar dan napas yang terasa berat di dadanya. Test pack kedua. Hasilnya sama. Dua garis yang tipis tapi jelas, seperti kalimat yang tidak bisa dihapus.
Ia hamil.
Aluna duduk di tepi bathtub, test pack masih tergenggam di tangannya. Pikirannya berputar, bukan karena ia tidak menginginkan ini, tapi karena ia tahu, begitu Arsen mengetahuinya, segalanya akan berubah. Dan tidak semua perubahan itu akan terasa seperti kebaikan.
Ia menyimpan test pack di dalam tas kecilnya, menguburnya di balik lipstik dan dompet, lalu keluar dari kamar mandi dengan wajah yang ia usahakan sekuat tenaga untuk tampak biasa.
Arsen sedang duduk di ruang kerja saat Aluna turun. Laptopnya terbuka, secangkir kopi hitam di sisi kanan mejanya, tapi matanya langsung terangkat saat Aluna melewati pintu. Seperti biasa, ia selalu tahu.
"Kamu kenapa?" tanyanya langsung, tanpa basa-basi.
"Tidak apa-apa," jawab Aluna ringan, terlalu ringan. "Mau ambil air."
Arsen tidak berkata apa-apa, tapi sorot matanya mengikuti setiap langkah Aluna sampai ia menghilang ke dapur.
Tiga hari Aluna menyimpan rahasia itu sendirian.
Tiga hari yang terasa seperti berjalan di atas kaca, setiap makan pagi dijaga agar ia tidak terlihat mual, setiap kali Arsen menyentuh perutnya secara tidak sengaja saat memeluk, jantungnya nyaris berhenti. Ia belum siap bicara. Ia belum tahu harus mulai dari mana.
Tapi alam semesta rupanya tidak memberinya pilihan.
Hari keempat, Aluna pingsan di dapur.
Bukan pingsan dramatis seperti di film, ia hanya merasakan lantai seperti bergerak, pandangannya memutih, lalu tahu-tahu punggungnya membentur kabinet bawah dan ia sudah duduk di lantai dengan kepala berdenyut. Arsen yang sedang di lantai atas turun dalam hitungan detik, suara langkahnya tergesa di tangga, dan ekspresi yang menyambut Aluna saat pandangannya kembali fokus adalah sesuatu yang belum pernah ia lihat di wajah Arsen sebelumnya.
Kepanikan.
"Aluna." Suaranya bukan perintah kali ini. Suaranya patah. Ia berlutut di lantai, tangannya menyentuh wajah Aluna dengan hati-hati, terlalu hati-hati untuk seorang Arsen yang biasanya menggenggam segala sesuatu dengan penuh klaim. "Hei. Lihat aku."
Aluna menatapnya, mata masih sedikit berputar. "Aku baik-baik saja..."
"Kamu tidak baik-baik saja." Nada itu kembali, tapi kali ini berbeda. Bukan dingin. Bukan kontrol. Ada sesuatu yang retak di baliknya. "Ini sudah ketiga kalinya kamu terlihat pucat dalam seminggu. Kamu makan sedikit. Kamu mual setiap pagi." Tangannya berhenti di pipi Aluna, ibu jarinya mengusap perlahan, dan mata birunya tidak bergerak dari wajahnya. "Ada apa, Aluna?"
Aluna menutup matanya sejenak.
Dan kemudian ia menyerah.
"Aku hamil," bisiknya.
Keheningan.
Tidak ada suara selama beberapa detik, hanya suara kulkas berdengung dan detak jantung Aluna yang terasa terlalu keras. Lalu Arsen menarik napas panjang, satu tarikan yang berat, seperti ia baru saja mengetahui sesuatu yang mengubah gravitasi di sekitarnya.
Tangannya bergerak dari pipi Aluna ke perutnya, menyentuhnya dengan ringan, hampir tidak terasa, tapi gestur itu mengandung sesuatu yang membuat tenggorokan Aluna sesak. Arsen tidak berkata apa-apa. Tapi ia tidak perlu.
Ia tahu.
Dan dari cara tangannya tidak bergerak dari perut itu, Aluna tahu bahwa mulai hari ini, segalanya akan berbeda.
Dalam dua hari berikutnya, rumah itu berubah.
Arsen memesan prenatal vitamins terbaik yang ada, dua merek berbeda, dengan riset yang ia lakukan sendiri tengah malam. Kulkas penuh dengan makanan yang ia pilih sendiri berdasarkan daftar nutrisi yang ia cetak dari jurnal kesehatan. Ia mengganti kasur dengan yang lebih empuk, menambah bantal, memastikan suhu ruangan tidak terlalu panas atau dingin.
Dan ia tidak pernah jauh dari Aluna.
"Kamu tidak perlu angkat itu," katanya setiap kali Aluna menyentuh sesuatu yang beratnya lebih dari sepuluh ons. Tangannya selalu muncul lebih dulu, mengambil alih, memindahkan, menyelesaikan.
"Aku bisa ambil sendiri," protes Aluna suatu pagi saat Arsen mengambil gelas air dari tangannya dan menggantinya dengan yang sudah ia siapkan, lengkap dengan irisan lemon.
"Ini lebih baik untukmu," jawabnya singkat, tidak ada ruang untuk negosiasi.
Protectiveness Arsen bukan hal baru, tapi sekarang ia berevolusi menjadi sesuatu yang lebih intens, lebih menyeluruh, lebih tidak bisa ditembus. Setiap janji temu dokter kandungan ditemaninya. Ia duduk di kursi di sebelah Aluna, mendengarkan setiap kata yang dokter ucapkan dengan konsentrasi yang sama seperti ia membaca kontrak bisnis senilai miliaran rupiah. Pertanyaannya tajam, terperinci, dan tidak ada satu pun detail yang ia lewatkan.
Di sisi lain, kendalinya juga ikut bertumbuh.
"Siapa yang menelepon tadi?" tanyanya suatu malam saat Aluna keluar dari kamar dengan ponsel di tangan.
"Mama."
"Kamu cerita ke dia?"
"Belum." Aluna meletakkan ponselnya di meja. "Aku belum siap."
Arsen mengangguk pelan, tapi ada sesuatu di matanya. "Bagus. Kita umumkan kalau sudah trimester kedua. Lebih aman."
Aluna mengerutkan dahi. "Itu keputusanku juga, Arsen."
"Dan keputusanku untuk melindungi kamu berdua." Suaranya tenang, tapi finally nya tidak bisa diganggu gugat. Ia menyentuh perut Aluna, ringan, seperti ritual yang sudah menjadi kebiasaan dalam dua hari ini. "Ini bukan hanya tentang kamu lagi."
Kalimat itu menggantung di udara.
Aluna merasakan sesuatu di dadanya, campuran antara kehangatan karena ia tahu Arsen melakukan ini dari tempat yang nyata, dari kecemasan yang sesungguhnya, dan sesuatu yang lebih berat karena ia juga tahu bahwa bagi Arsen, kehamilan ini bukan hanya hadiah. Ini adalah alasan baru untuk mengunci Aluna lebih dalam ke dalam orbit yang sudah ia bangun selama ini.
Anaknya ada di sana sekarang.
Dan Arsen tidak akan pernah membiarkan siapa pun, termasuk Aluna sendiri, keluar dari lingkaran yang ia jaga.