Satu malam.
Tanpa rencana.
Tanpa nama.
Tanpa masa depan.
Aluna tidak pernah berniat masuk ke dalam hidup pria itu. Ia hanya menggantikan sahabatnya yang sakit, mengenakan seragam hotel, dan berharap bisa pulang dengan selamat. Namun di balik pintu kamar hotel mewah, ia terjebak dalam situasi berbahaya—tarikan paksa, ketakutan, dan batas yang nyaris hancur.
Malam itu bukan tentang cinta.
Bukan tentang rayuan.
Melainkan tentang dua orang asing yang sama-sama terperangkap dalam keadaan salah.
Aluna melawan. Menolak. Tak pasrah.
Namun ketika segalanya berhenti di titik abu-abu, sebuah keputusan keliru tetap tercipta—dan meninggalkan luka yang tak langsung terlihat.
Ia pergi tanpa menoleh.
Tanpa tahu nama pria itu.
Tanpa ingin mengingat malam yang hampir menghancurkan dirinya.
Lima tahun kemudian, Aluna telah menjadi wanita tangguh—cantik, elegan, dan berdiri di atas kakinya sendiri. Ia membesarkan tiga anak kembar dengan kelebihan luar biasa, tanpa sosok ayah, tanpa cerita masa lalu. Bersa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurizatul Hasana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 : Malam Yang Salah
Aluna sebenarnya sudah rebahan ketika ponselnya bergetar keras di samping bantal.
“Luna…,” suara Aruna di seberang sana terdengar serak dan putus-putus. “Aku nggak bisa masuk kerja. Badanku panas banget. Kayaknya aku tumbang.”
Aluna duduk, mengusap wajahnya. Jam menunjukkan hampir pukul tujuh malam.
“Kamu ga ke dokter?”
“Udah. Tapi aku masih pusing. Luna… bisa nggak kamu gantiin aku? Cuma malam ini. Tolong.”
Aluna terdiam. Ia tahu betul kerja di hotel itu bukan main-main. Tapi Aruna bukan sekadar teman kerja. Mereka sudah seperti saudara—sama-sama yatim piatu, sama-sama jatuh bangun dari nol.
“Iya,” jawabnya akhirnya. “Aku siapin diri sekarang.”
“Serius? Ya Tuhan, makasih, Luna. Aku utang nyawa.”
Aluna tersenyum tipis. “Istirahat yang bener. Jangan mikirin apa-apa.”
Telepon ditutup. Aluna bangkit, mandi cepat, lalu mengenakan seragam pelayan hotel yang masih tergantung rapi—seragam Aruna.
Ia sama sekali tidak tahu… keputusan kecil itu akan mengubah seluruh hidupnya.
Hotel Arvella selalu terlihat berbeda di malam hari. Sunyi, dingin, dan terasa mahal. Aluna mendorong troli minuman menyusuri lorong lantai dua belas. Hak sepatunya beradu pelan dengan lantai marmer.
Lorong lantai dua belas Hotel Arvella terasa dingin dan sepi. Aluna mendorong troli minuman sambil menghafal nomor kamar.
“Suite 1208,” gumamnya.
Ia mengetuk pintu sekali.
Tidak ada jawaban.
Ia mengetuk lagi. Lebih keras.
Tok. Tok. Tok.
Tiba-tiba pintu terbuka—dan sebelum Aluna sempat mundur, lengannya ditarik keras ke dalam.
“HEY—!”
Tubuhnya terbanting ke dinding. Troli jatuh. Botol-botol beradu keras di lantai. Pintu ditutup dengan hentakan yang membuat jantung Aluna hampir copot.
“LEPASIN SAYA!” Aluna meronta, menendang, memukul sebisanya.
Pria itu jauh lebih kuat. Tangannya menekan lengan Aluna ke atas, napasnya berat dan panas. Tatapannya liar, tidak fokus.
“DIAM!” bentaknya rendah.
Aluna menjerit. Air mata jatuh bukan karena lemah—tapi karena takut.
"Lepaskan saya Tuan, saya mohon." ucap Aluna dan sekuat tenaga menyadarkan pria itu. Aluna hampir saja kehabisan nafas dalam pelukan pria itu.
Pria itu lalu menarik tagan Aruna ke arah kasur dan mengungkungnya di bawah tubuhnya. kedua kaki menjepit dan mengunci paha gadis malang itu sehingga kesulitan untuk bergerak dan memberontak.
"tolooongggg tuann.. lepaskan saya.."
Teriakan dan permohonan Aruna tidak dapat menyadarkan pria itu.
Tiba-tiba pria itu mencium mulut Aruna secara brutal dan kasar
"diamlah bict. Tenang dan nikmati saja."
" mmmmpppphhhh.....mmmmppppphhhh..."
Aruna terus memberontak dan ingin memberontak di selah ciuman pria itu. Tapi pria itu tidak memberikan kesempatan kepada Aruna. Sementara kedua tangan pria itu memengangi kedua tangan Aruna dan membuatnya tidak bisa berkutik sama sekali.
Aruna suda putus asa, cairan bening terus mengalir dari matanya. Dia berharap ini hanya mimpi. Tapi sepertinya itu mustahil. Aruna terus berdoa di dalam hati. Paling tidak pengelolah hotel akan datang ke kamar ini untuk memeriksa pekerjaannya.
dengan rakus pria itu melumat bibir Aruna.
Aruna sudah lemas kehabisan tenGa karena memberontak.
pria itu suda menghentikan ciuman di bibir Aruna dan turun keleher. Pria itu juga membuka paksa pakaian Aruna hingga bajunya sobek. Dan nampaklah dua gundukan di dada Aruna
Pria itu kemudian meremas kedua dada Aruna dan menghisapnya dengan kasar.
pria itu suda kehilangan kendari atas dirinya dari pengaruh obat laknat itu.
Dia terua bergerilya di badan Aruna tanpa menghiraukan tangis Aruna.
"tolong jangan lakukan itu tuan." lirih Aruna dengan Isak tangisnya.
Tapi laki-laki itu tidak mendengarnya.
Kemudian laki-laki ituwnckba membobol kewanitan Aruna dengan paksa. Hingga dengan hentakan kuat pusaka pria itu masuk kedalam kewanitaan Aruna.
"awww..sakit..tolong...hentikan.." lirih Aruna dengan air mata yang terus mengalir.
"sebentar lagi baby kamu akan ketagihan. Nikmatilah"..
Aruna memejamkan mata menahan sakit.
nafas pria itu membutuhkan dan terus bergerak maju mundur dengan cepat tanpa menghiraukan permohonan Aruna. Kringanya suda bercucuran dan bafasnya terengah engah.
"ahhh...ahhhh...ahhhh sabar lah sebentar lagi" ucap pria itu dengan mempercepat gerakannya kembali
"hentikan tuan, sakitt...."
"ahhhhh.aaahhhh...ini nikmat sekalih"...
Aruna terus menangis di sela gempuran pria itu tidak ada rasa nikmat yang dirasakan cuman rasa sakit. Penyesalan. Dan rasa trauma.
Tapi pria itu tidak menghiraukan Aruna dia terus memompa dan membalik badan Aruna hingga beberapa gaya yang dilakukan
Badan Aruna suda lemas dengan permainan pria itu .
"ahhhhh...." lengu pria itu setelah menumpahkan semua cairan kentalnya di dalam perut Aruna. Dia membuang semua cairannya di rahim Aruna tanpa memikirkan sebab akibatnya.
pria itu kemudian melepaskan Aruna dan kemudian tertidur di samping Aruna dengan nyenyak.
Aruna terus menangis, meratapi nasibnya, merutuki kebodohannya yang tidak bisa melawan sama sekali. Seluru badanga gemetar dan susah untuk berjalan.
Aruna segera memakai pakaian pria itu karena pakainnya suda dirobek.