NovelToon NovelToon
Rewind: Side B

Rewind: Side B

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Teen Angst / Teen School/College / Romantis / Fantasi / TimeTravel
Popularitas:345
Nilai: 5
Nama Author: Vorlagh

17 Agustus 1996.
Bagi Julian "Lian" Pratama, hari ini seharusnya menjadi titik akhir. Di balik senyum sempurna sang Ketua OSIS, jiwanya telah lama kosong. Ia menaiki rooftop sekolah, siap untuk pergi selamanya.

Namun, alih-alih keheningan, yang terdengar hanya bunyi "KLIK" dari sebuah Walkman tua.

Lian terbangun kembali di pagi yang sama. Upacara yang sama. Kebosanan yang sama. Terjebak dalam loop waktu yang tak berujung, dunia Lian perlahan memudar menjadi hitam-putih. Hingga ia menemukan satu anomali: Kara Anjani.

Gadis pecinta musik grunge itu adalah satu-satunya yang tetap berwarna di mata Lian. Anehnya, setiap kali hari berulang, ada detail kecil pada Kara yang tidak ikut terhapus.

Apa hubungan Kara dengan putaran waktu ini? Dan jika Lian berhasil menekan tombol Stop pada kaset misterius itu, apakah ia akan bebas... atau justru kehilangan segalanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vorlagh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jantung Kabel

Sisa Waktu: 25 Menit.

Lorong menuju Ruang Server terasa semakin dingin. Bukan dingin karena AC, tapi dingin yang tidak wajar seperti udara di dalam lemari es.

Lian dan Kara berjalan merunduk di balik deretan loker besi. Langkah mereka dibuat seringan mungkin.

Lampu koridor sudah mati total. Satu-satunya cahaya berasal dari kilatan listrik statis yang sesekali muncul dari kabel-kabel yang menyembul keluar dari dinding, memercikkan bunga api biru.

"Lihat itu," bisik Kara, menunjuk ke arah Aula Utama yang pintunya terbuka sedikit.

Lian mengintip.

Bulu kuduknya meremang.

Di dalam aula yang gelap gulita, di atas panggung yang luas, Paduan Suara Sekolah berdiri berbaris rapi. Sekitar lima puluh siswa, lengkap dengan jubah merah marun.

Wajah mereka tidak terlihat karena tertutup bayangan, tapi mulut mereka terbuka lebar.

Mereka bernyanyi.

Tapi lagu yang mereka nyanyikan adalah lagu wajib Mengheningkan Cipta yang diputar dengan kecepatan 0.5x (sangat lambat). Nada rendahnya menggetarkan lantai kayu aula.

"Dea... ngaaaaaan... seluruuuuuuh..."

Suaranya bukan seperti manusia. Lebih seperti suara gerinda mesin yang dipaksa menyerupai vokal.

"Mereka menjaga Aula," bisik Lian ngeri. "Jalan ke Ruang Server ada di balik panggung itu."

"Kita harus lewat mereka?" Kara menelan ludah, wajahnya makin pucat.

Lian menggeleng. "Nggak. Kita lewat bawah. Ruang orkestra (orchestra pit)."

Lian menarik Kara, berbelok masuk ke pintu samping panggung yang kecil. Mereka menuruni tangga sempit yang berdebu tebal, masuk ke kolong panggung.

Di sini gelap total, pengap, dan berbau kayu lapuk serta... oli mesin?

Baunya menyengat.

Kara menyalakan senter kecil dari korek api gas yang dia temukan di saku Lian. Cahaya api kecil menerangi jalan mereka.

Dan saat itulah mereka melihatnya.

Ini bukan kolong panggung biasa.

Dinding-dinding di bawah panggung bukan terbuat dari bata, tapi dari tumpukan hardware komputer tua tahun 80-an yang berdengung panas. Kabel-kabel setebal lengan orang dewasa menjalar di lantai seperti ular piton hitam, berdenyut pelan seolah memompa darah.

"Kak..." Kara menyentuh dinding "bata" itu. Itu adalah deretan motherboard yang disusun vertikal. "Sekolah ini... mesin?"

"Gue rasa kita ada di dalem walkman raksasa," jawab Lian, teringat teori kaset kusutnya. "Ayo. Kabel besar ini pasti ngarah ke pusatnya."

Mereka mengikuti kabel raksasa itu, merangkak di bawah balok-balok penyangga panggung. Di atas kepala mereka, hentakan kaki anak-anak paduan suara terdengar bum-bum-bum, seiring dengan lagu yang makin sumbang.

Sisa Waktu: 15 Menit.

Mereka sampai di ujung terowongan kabel.

Sebuah pintu baja berat dengan tulisan pudar: RUANG DISTRIBUSI ARUS - BAHAYA TEGANGAN TINGGI.

Gemboknya besar dan berkarat.

Lian mencoba mendobraknya dengan bahu. Keras. Tidak bergerak satu milimeter pun.

"Sial! Dikunci dari dalem!"

Kara maju. Dia meraba saku bajunya, tempat Walkman perak itu disembunyikan.

Dia merasakan benda itu panas.

"Kak, coba pake kunci itu," kata Kara. "Kunci Inggris."

"Hah?" Lian bingung. "Mana ada kunci Inggris?"

Kara menunjuk Walkman yang menyembul dari saku Lian (bukan yang Kara pegang, tapi yang asli ada di saku celana Lian di loop sebelumnya, oh tunggu—Kara yang pegang Walkman).

"Bukan, maksudku Walkman-nya," ralat Kara cepat. "Deketin Walkman-nya ke gembok."

Lian menatap Kara skeptis, tapi tidak punya pilihan lain. Dia membiarkan Kara mengeluarkan Walkman perak itu.

Kara menempelkan sisi belakang Walkman ke gembok besi.

Zrrrt!

Suara listrik menyengat.

Indikator lampu REC di Walkman menyala merah terang.

KLAK!

Gembok besar itu terbuka sendiri, jatuh ke lantai dengan suara berdentang keras. Besi tuanya meleleh sedikit seperti mentega kena pisau panas.

"Anjir," umpat Lian takjub. "Lo bawa kunci master segala gembok."

Lian mendorong pintu baja itu.

Angin dingin yang menusuk tulang langsung menyambut mereka. Uap putih keluar dari mulut mereka saat mereka melangkah masuk.

...----------------...

JANTUNG SEKOLAH.

Mereka terpaku di ambang pintu.

Ruangan ini luasnya seperti lapangan basket indoor. Langit-langitnya tinggi, hilang dalam kegelapan.

Suhu ruangan mungkin di bawah nol derajat.

Dan isinya...

Ribuan.

Ribuan mesin pemutar pita reel-to-reel (pita open reel besar) berjejer dalam rak-rak server yang menjulang sampai ke atas.

Setiap mesin memiliki dua roda pita magnetik besar yang berputar: Kiri ke Kanan.

Suara dengungan whirrr ribuan pita yang bergesekan memenuhi ruangan itu seperti suara sarang lebah raksasa.

Setiap rak memiliki label nama siswa.

Lian berjalan dengan kaki gemetar menyusuri lorong rak. Matanya membaca label-label itu.

Rak A-102: Dinda P. (Aktif)

Rak B-005: Riko S. (Aktif)

Rak C-330: Pak Surip (Loop Mode)

"Mereka semua..." bisik Lian horor. "Semua orang di sekolah ini... cuma rekaman?"

Lian melihat pita milik Riko. Roda pitanya berputar normal, lalu tiba-tiba skip (loncat) sedikit.

Itu pasti momen saat Riko mengulang kalimat yang sama setiap hari.

"Kak! Sini!" panggil Kara dari ujung lorong lain. Suaranya bergema.

Lian berlari menghampiri Kara.

Gadis itu berdiri di depan sebuah rak yang berbeda. Rak ini terbuat dari besi hitam legam, terisolasi dari yang lain. Lampu indikatornya bukan hijau, tapi merah berkedip-kedip cepat.

Labelnya: SUBJECT: 001 - JULIAN PRATAMA.

Lian menatap mesin itu. Mesin "hidup"-nya sendiri.

Pita reel di mesin Lian sangat aneh. Pitanya kusut parah. Ada bagian yang disambung selotip manual. Ada bagian yang terbakar.

Dan roda pitanya tidak berputar maju.

Roda itu bergerak maju mundur... maju mundur... dalam interval pendek.

Cekit... Cekit... Cekit...

Gerakan maju mundur yang konstan. Stuck di tempat yang sama.

Time Loop.

"Ini dia," Lian menyentuh kaca penutup mesin itu. Dingin. "Ini alasan gue nggak bisa mati. Pitanya nyangkut."

Dia melihat panel kontrol di bawahnya. Ada layar digital kecil dengan tulisan:

ERROR: SIDE B NOT FOUND. AUTO-REPLAY ACTIVATED.

Lian tertawa getir. "Teori kita bener, Ra. Sistemnya maksa muter ulang karena Sisi B-nya kosong. Dia nggak tau harus lanjut ke mana, jadi dia balik ke intro."

"Kalau gitu..." Kara mengeluarkan Walkman perak dari saku bajunya. Benda itu sekarang bergetar, resonansi dengan mesin induk di depan mereka.

Kara menyodorkan Walkman itu ke arah Lian.

"Kita harus transfer isinya, Kak. Kita harus masukin rekaman kita ke mesin itu."

Lian menatap panel mesin besar itu. Ada slot Audio Input (colokan kabel) tipe jack 3.5mm kuno.

"Kita butuh kabel aux," kata Lian panik. Dia merogoh sakunya, tapi dia tidak punya kabel penghubung.

Walkman itu tidak bisa ditransfer nirkabel. Ini teknologi 90-an. Harus fisik. Kabel ketemu lubang.

"Cari kabel! Di meja operator itu!" Lian menunjuk meja kontrol di tengah ruangan.

Mereka berlari ke meja itu. Lian mengacak-acak laci.

Buku manual. Obeng. Kertas log. Tidak ada kabel Aux.

Sialan!

Teknologi secanggih ini dikalahkan oleh ketiadaan satu kabel bodoh?!

Sisa Waktu: 05 Menit.

Tiba-tiba, suara alarm meraung keras di seluruh ruangan. Lampu merah di langit-langit berputar.

"PERINGATAN. INTRUSI DI DETEKSI. PENGHAPUSAN MEMORI DIMULAI."

Rak-rak server di sekeliling mereka mulai berasap. Pita-pita magnetik milik siswa lain mulai berputar super cepat—kecepatan penghapusan.

Dari pintu masuk tempat mereka datang tadi, sesosok bayangan muncul.

Bukan siswa. Bukan guru.

Sosok itu tinggi, terbuat dari jalinan kabel hitam yang membentuk tubuh manusia tanpa wajah.

THE KEEPER (Sang Penjaga).

Monster kabel itu melangkah masuk. Setiap langkahnya membuat lantai bergetar. Tangannya berubah bentuk menjadi cambuk kabel listrik yang menyala biru.

"Kak! Lari!" teriak Kara.

"Gak bisa! Kita harus perbaiki pita gue sekarang atau nggak akan pernah!" Lian berteriak frustrasi, masih mengaduk laci terakhir.

"Nggak ada kabel, Kak!"

Lian menatap Walkman di tangan Kara. Lalu menatap mesin induknya yang berjarak 5 meter.

Tanpa kabel penghubung, mereka tidak bisa mentransfer "Data Side B" ke "Mesin Induk".

Kecuali...

Kecuali pitanya dipindahkan secara manual.

Mata Lian melebar. Ide gila.

"Ra! Buka Walkman-nya! Keluarin kasetnya!"

Kara menurut. Dia menekan Eject, mengeluarkan kaset pita transparan itu.

Lian menyambar kaset itu.

Dia berlari kembali ke Rak Julian Pratama.

Dia membuka paksa kaca pelindung mesin induk dengan memecahkannya menggunakan siku tangannya.

PRANG! Kaca pecah berantakan.

Tangan Lian berdarah terkena pecahan kaca, tapi dia tidak peduli.

Dia menahan putaran roda mesin reel-to-reel yang kuat itu dengan tangan kosong. Gesekan pitanya membakar kulit telapak tangannya.

"Argh!" Lian mengerang. Dia menarik pita kusut di mesin induk, merobeknya putus.

HAPUS.

Lian mengambil kaset kecil dari Walkman. Dengan giginya, dia menggigit casing plastik kaset itu sampai pecah. Dia menarik keluar gulungan pita magnetik cokelat yang rapuh dari dalamnya.

Dia akan melakukan Splicing Manual (Penyambungan Pita).

Monster Kabel itu semakin dekat. Jaraknya tinggal 3 meter. Cambuk listriknya menyabet udara, menghancurkan rak server di sebelahnya.

"Kara! Tahan dia!" teriak Lian gila.

"Hah?! Gimana caranya?!" Kara histeris. Dia cuma gadis SMA, bukan pahlawan super.

"Pake suara lo! Lo Anchor-nya! Nyanyi! Teriak! Apa aja! Bikin dia bingung!"

Kara berdiri gemetar di antara Lian dan Monster itu.

Dia menutup mata rapat-rapat. Dia tidak tahu harus berbuat apa.

Tapi dia ingat lirik puisi di mading. Dia ingat lagu instrumental di Side A.

Kara membuka mulutnya. Dia bernyanyi.

Bukan lagu nasional. Bukan lagu pop.

Dia menyenandungkan melodi Lagu Hujan dan Gitar yang ada di kaset itu.

"Naaa... naa... naaa..."

Suara Kara bergema di ruangan dingin itu. Jernih. Penuh emosi. Merah.

Gelombang suara Kara tampak secara visual—seperti riak air berwarna merah muda di udara.

Monster Kabel itu berhenti. Dia meraung kesakitan, seolah suara Kara adalah frekuensi yang menyakitkan baginya. Tubuh kabelnya bergetar dan melonggar.

Sementara itu, Lian bekerja dengan kecepatan dewa.

Tangan berdarah-darah.

Dia menempelkan ujung pita putus mesin induk dengan ujung pita dari kaset Walkman. Dia menggunakan selotip yang ada di meja kontrol.

Tempel. Sambung.

Pita dari kaset Walkman itu (yang berisi rekaman pengakuan Kara dan memori hari ini) kini tersambung fisik ke dalam sistem mesin induk Lian.

Lian memutar roda reel itu manual.

Digulung. Digulung.

Monster Kabel itu pulih dari kagetnya. Dia mengangkat cambuknya tinggi-tinggi, siap menghantam Kara yang sedang bernyanyi dengan mata tertutup.

"SELESAI!" teriak Lian.

Lian menekan tombol merah besar di panel mesin induk.

RESUME PLAYBACK.

Mesin bergetar hebat.

Roda besar itu mulai berputar. Kiri ke Kanan. Mulus.

Pita sambungan (warna pita kaset Walkman lebih gelap) mulai masuk ke Head pemutar.

Suara dari speaker Ruang Server yang menggelegar bukan lagi alarm peringatan.

Tapi suara Kara.

"Sebenarnya aku udah suka sama Kak Lian..."

Suara itu meledak di seluruh ruangan, diperkuat ribuan kali lipat oleh mesin induk.

Gelombang suara raksasa itu menghantam Monster Kabel seperti angin topan. Tubuh kabelnya tercerai berai, meledak menjadi ribuan potongan karet hitam.

Ruangan bergoncang. Lampu-lampu meledak.

Mesin induk Lian bersinar putih menyilaukan.

Output-nya sudah diubah.

Lian jatuh terduduk, lemas. Tangannya hangus dan berdarah.

Kara berlari memeluknya.

"Berhasil, Kak?" tanya Kara di tengah gemuruh ruangan yang runtuh.

Lian menatap layar mesin induk.

Tulisannya berubah.

SIDE B LOADED.

PROCEED TO: AUGUST 18TH?

[Y] / [N]

Lian tersenyum lemah.

Dia mengangkat tangannya yang gemetar, mendekati tombol "Y".

Tapi sebelum dia menekannya, lantai di bawah mereka retak terbuka.

Sebuah lubang hitam (glitch hole) muncul, menyedot semua benda.

Lian dan Kara jatuh ke dalam kegelapan tanpa dasar itu, tepat saat jari Lian menekan tombol "Y".

Dunia padam.

1
Adhiefhaz Fhatim
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!