NovelToon NovelToon
Warisan Saudara Kembar

Warisan Saudara Kembar

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / CEO / Janda
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Hero dan Awan adalah dua sisi mata uang yang berbeda. Hero begitu hangat dan penuh kasih, sementara Awan sedingin es dan tak tersentuh. Namun, maut merenggut Hero terlalu cepat, meninggalkan Jasmine yang sedang hamil muda dalam kehancuran.
Sebelum napas terakhirnya, Hero menitipkan "warisan" yang paling berharga kepada Awan: istri dan calon anaknya.
Kini, Jasmine harus terjebak satu atap dengan pria yang paling ia hindari. Awan yang ketus, kaku, dan sudah memiliki kekasih matre bernama Celine. Bagi Awan, menjaga Jasmine adalah beban wasiat yang menyebalkan. Bagi Jasmine, melihat wajah Awan adalah luka yang terus terbuka.
Di tengah duka dan tuntutan harta, mampukah Awan menjalankan wasiat kembarannya? Ataukah kebencian di antara mereka justru berubah menjadi benih cinta yang tak seharusnya ada?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10

Pagi itu, suasana di rumah terasa sedikit berbeda. Tidak ada lagi gedoran pintu dari Celine, tidak ada lagi ponsel yang bergetar karena cacian orang asing. Awan telah benar-benar menyapu bersih kekacauan itu dengan kekuasaan dan tangannya yang dingin. Namun, ketegangan tetap ada, hanya saja bentuknya berubah menjadi rasa gugup yang tak kasatmata.

Jasmine sudah siap. Ia mengenakan daster hamil berwarna sage yang lembut, dipadukan dengan kardigan rajut tipis untuk menghalau dinginnya AC mobil. Di sampingnya, Suster Lastri dengan sigap memeriksa tas perlengkapan Jasmine—air mineral, buku kesehatan ibu dan anak, serta camilan kecil untuk berjaga-jaga jika Jasmine mual.

Di luar, suara deru mesin mobil Range Rover milik Awan terdengar rendah, memanaskan suasana pagi. Awan berdiri di samping pintu mobil, melirik jam tangannya berkali-kali. Ia memakai kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, tampak rapi namun auranya tetap kaku dan judes seperti biasa.

"Lama banget. Gue ada jadwal kontrol jam sembilan, sekarang udah jam delapan lewat lima belas!" ketus Awan saat melihat Jasmine keluar.

"Maaf, Kak... tadi aku harus ganti daster dulu," sahut Jasmine pelan sambil menunduk.

Awan tidak menjawab. Ia hanya membukakan pintu mobil dengan gerakan cepat, memastikan Jasmine masuk dengan aman sebelum ia sendiri berputar ke kursi kemudi. Sepanjang jalan, Awan tidak banyak bicara. Ia hanya fokus menyetir, namun matanya sesekali melirik ke arah kaca spion tengah, memastikan Jasmine tidak tampak kesakitan atau pucat.

Rumah sakit itu tidak terlalu ramai. Mereka segera dipanggil masuk ke ruangan Dokter Arini, seorang dokter spesialis kandungan senior yang sudah menangani Jasmine sejak awal kehamilan. Dokter Arini tersenyum hangat, namun senyumnya sedikit memudar saat melihat pria yang mendampingi Jasmine bukan lagi sosok Hero yang lembut, melainkan pria lain yang wajahnya identik namun beraura jauh lebih tajam.

"Selamat pagi, Jasmine. Dan... Pak Awan?" sapa Dokter Arini ragu.

"Saya kembarannya Hero. Panggil Awan saja," jawab Awan pendek sambil duduk di kursi samping tempat tidur periksa. Tangannya bersedekap, wajahnya datar tak terbaca.

"Baik, mari kita lihat perkembangan bayinya ya. Silakan berbaring, Jasmine," instruksi Dokter Arini.

Jasmine berbaring dengan bantuan Suster Lastri. Saat daster bagian perutnya disingkap dan gel dingin mulai dioleskan, Jasmine merasa jantungnya berdegup kencang. Ia merindukan Hero. Di saat-saat seperti ini, biasanya Hero akan menggenggam tangannya erat-erat, membisikkan doa, dan mencium keningnya berkali-kali.

Awan memperhatikan layar monitor yang masih buram. Ia tidak pernah berada di posisi ini sebelumnya. Baginya, bayi hanyalah sebuah konsep abstrak tentang penerus warisan. Namun, melihat perut Jasmine yang mulai membuncit dan raut wajah Jasmine yang penuh harap, ada sesuatu yang bergejolak di dadanya.

"Nah, ini dia," ucap Dokter Arini.

Di layar hitam putih itu, muncul sebuah bentuk kecil yang mulai terlihat jelas. Kepala, tangan, dan kaki-kaki mungil yang bergerak aktif.

"Bayinya sangat sehat, Jasmine. Posisinya bagus, ukurannya pas untuk usia empat bulan lebih," Dokter Arini menjelaskan dengan nada menenangkan.

"Sekarang, mari kita dengarkan detak jantungnya ya," lanjut Dokter Arini.

Ia menekan sebuah tombol di mesin USG. Detik berikutnya, suara yang sangat cepat dan kuat memenuhi ruangan itu.

Dug-dug, dug-dug, dug-dug, dug-dug...

Suara itu begitu jernih. Suara kehidupan. Suara masa depan yang sedang berjuang di dalam rahim Jasmine.

Jasmine langsung menutup mulutnya dengan tangan, air matanya tumpah seketika. "Mas Hero... anak kita..." isaknya lirih.

Awan, yang sejak tadi hanya diam seperti patung, mendadak kaku. Suara detak jantung itu... terdengar begitu mirip dengan detak jantung Hero saat terakhir kali ia memeluk kembarannya di ICU. Sangat hidup, sangat nyata, namun sekaligus sangat menyakitkan.

Awan merasakan tenggorokannya tercekat. Ia mencoba mempertahankan wajah datarnya, namun matanya mulai memanas. Ia tidak tahan melihat titik kecil di layar itu yang seolah-olah sedang memanggil ayahnya yang sudah tidak ada.

Awan memalingkan mukanya ke arah dinding, menjauh dari layar monitor dan tatapan Dokter Arini. Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, mencoba menahan Isak tangis yang mendesak keluar. Satu tetes air mata akhirnya jatuh membasahi pipinya yang tegas, namun ia segera menyapunya dengan kasar menggunakan punggung tangan.

"Kenapa lo nggak nunggu dia lahir aja sih, Hero? Bego! Kenapa lo ninggalin mereka sendirian?!" batin Awan meraung marah.

Ia merasa sangat benci pada takdir. Ia benci karena ia harus menjadi orang yang mendengarkan detak jantung ini, bukan Hero. Ia benci karena ia harus melihat air mata Jasmine, bukan tawa bahagianya bersama Hero. Di balik sikap kaku dan judesnya, Awan merasa hancur berkeping-keping.

"Bapak Awan? Ingin melihat lebih dekat?" tanya Dokter Arini lembut.

Awan tidak menoleh. Ia hanya berdeham untuk menetralkan suaranya yang serak. "Nggak usah. Gue liat dari sini juga kelihatan."

Meskipun ucapannya ketus, Jasmine bisa melihat bahu Awan yang bergetar halus. Ia tahu Awan sedang menangis. Ia tahu pria kaku di depannya ini sedang memikul beban kesedihan yang sama besarnya dengan dirinya.

Setelah sesi USG selesai, Dokter Arini memberikan beberapa lembar foto hasil cetakan. Jasmine menerimanya dengan tangan gemetar, memandangi sosok kecil itu dengan penuh cinta.

Mereka keluar dari ruangan dokter menuju parkiran. Awan berjalan jauh di depan, langkahnya cepat seolah ingin segera kabur dari atmosfer emosional di rumah sakit itu. Namun, saat sampai di mobil, ia berhenti dan membukakan pintu untuk Jasmine dengan gerakan yang jauh lebih lambat dan hati-hati dari biasanya.

"Kak Awan... makasih ya udah temenin," ucap Jasmine pelan saat mereka sudah di dalam mobil.

Awan tidak langsung menyalakan mesin. Ia memegang kemudi dengan erat, matanya menatap lurus ke depan. "Gue nggak mau lo nangis lagi gara-gara suara itu," ucapnya tanpa menoleh.

"Suara detak jantungnya?"

"Suara itu... suara tanggung jawab gue," sahut Awan berat. "Lo nggak usah takut. Meskipun Hero bego karena pergi duluan, gue bakal pastikan anak itu nggak akan pernah ngerasa kehilangan sosok ayah. Gue bakal lakuin apa pun, Jas. Apa pun."

Awan menyalakan mesin mobilnya. Ia mengemudi dengan sangat tenang, sangat stabil, seolah ia sedang membawa harta karun yang paling berharga di seluruh dunia.

Jasmine menatap profil samping wajah Awan. Pria ini memang bukan Hero yang lembut, tapi Awan adalah gunung karang yang kokoh. Dan di saat dunianya hancur, mungkin memang gunung karanglah yang Jasmine butuhkan untuk bersandar.

Tanpa Jasmine sadari, di saku celana Awan, tangan pria itu menggenggam erat foto USG keponakannya yang sempat ia ambil satu lembar tadi. Sebuah janji baru telah terpatri di hatinya: tidak akan ada lagi air mata Celine, tidak akan ada lagi penderitaan untuk Jasmine. Karena detak jantung itu kini telah menjadi detak jantungnya juga.

Celine yang makin tersudut karena kasus hukum mulai bertindak nekat. Ia nekat menyewa orang untuk menculik Jasmine demi memeras Awan.

1
pdm
semangat lanjutkan💪
Reni Anjarwani
lanjutt thorrr
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
Reni Anjarwani
lanjut trs thor makin seru ceritanya
Reni Anjarwani
lanjut thorr
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up thor
Siti Dede
Ungkapin aja atuh Waaan...daripada senewen nggak keruan
pdm
aduh ini potongan bwg merahny bikin mata berair/Cry//Cry/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!