NovelToon NovelToon
Sabar Berujung Bahagia

Sabar Berujung Bahagia

Status: sedang berlangsung
Genre:Suami Tak Berguna / Wanita Karir / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Selingkuh / Janda
Popularitas:813
Nilai: 5
Nama Author: Sherly

Setiap luka punya masa jeda, dan setiap kesabaran punya batas indah yang telah dijanjikan.

Ini adalah kisah tentang perjalanan panjang yang penuh air mata, tentang bagaimana hati dipaksa bertahan di tengah badai yang memilukan. Kadang, hidup terasa begitu tidak adil saat kehilangan dan rasa sakit datang bertubi-tubi tanpa permisi. Namun, Yani dan Ratih membuktikan bahwa ketabahan bukan sekadar menunggu badai berlalu, melainkan tentang bagaimana tetap melangkah meski kaki terasa berat.

Di balik setiap tawa canggung dan momen manis di persimpangan jalan, tersimpan kenangan pahit yang pernah menguji logika dan perasaan. Namun, bagi mereka yang bersedia mendekap luka dengan keikhlasan, semesta selalu punya cara untuk menyembuhkannya. Sebuah narasi tentang perjuangan, keluarga, dan keajaiban yang tumbuh dari benih kesabaran yang paling pedih.

Ternyata, bahagia tidak pernah datang terlambat; ia hanya datang di waktu yang paling tepat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sherly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hening dalam Penantian

Pagi hari, aku bangun subuh untuk menjalankan kewajibanku sebagai umat Muslim. Setelah itu, aku menyempatkan diri berjalan santai di pinggir jalan tanpa alas kaki untuk menghirup udara segar.

Begitu matahari mulai menampakkan diri, aku berjemur sejenak sebelum akhirnya kembali ke kamar untuk bersiap-siap pulang ke kampung halaman.

"Sudah siap?" tanya suamiku yang tiba-tiba datang menghampiri.

"Sudah," jawabku singkat.

Setelah berpamitan kepada mertua, kami pun berangkat. Di sepanjang perjalanan, suasana hening menyelimuti kami; tak ada satu kata pun yang terucap.

Namun, rasa sepi itu luruh saat kendaraan kami memasuki gang desa. Senyumku mengembang melihat wajah-wajah yang tak asing.

Banyak orang desa yang masih mengenalku, sehingga aku pun bisa menyapa dengan hangat orang-orang yang sedang duduk santai di depan rumah mereka.

Sesampainya di rumah, aku disambut hangat oleh adik dan Mamak. Kalau Kakak, biasalah, namanya juga anak muda pasti jarang di rumah.

"Kamu istirahat sebentar saja, ya? Nanti langsung ke kebun," pinta Bapak kepada menantunya. Ahmad pun mengangguk setuju.

Dari kejauhan, aku hanya melirik sekilas ke arah mereka, lalu lanjut asyik mengobrol dengan adikku.

"Mamak mau ke kebun, ya? Aku ikut, Mak," ucapku, yang langsung dijawab dengan anggukan oleh Mamak.

Aku mengambil selendang yang agak panjang, lalu kami berjalan memasuki kawasan kebun. Di sana, aku melihat banyak pohon sengon yang sudah ditebang. Tanpa menunggu lama, aku naik ke area penebangan itu.

Melihat Mamak yang awalnya hendak menggendong kayu besar tapi mengurungkan niatnya karena ingin membantu Simbah terlebih dahulu, tanganku mendadak terasa gatal.

Karena tidak sabaran, aku pun segera bersiap untuk mulai menggendong kayu itu sendiri.

Segera setelah mengambil selendang, aku langsung mengangkat kayu itu. Aku mengikatkan selendang di depan dan menggendong beban kayu tersebut di punggung.

Namun, tindakanku itu seketika memicu teriakan panik dari Simbah dan Mamak.

"Ehh, Yani! Turunkan kayu itu! Itu terlalu besar, nanti bisa kena janinmu. Nurut kenapa kalau dibilangi!?" omel Mamak sambil berusaha merebut kayu itu kembali.

Wajar saja orang tua itu panik, kayu yang aku angkat memang besar, lingkarannya saja seukuran pelukan tangan orang dewasa. Beruntung, aku baru membawanya berjalan dua langkah.

"Entah anak ini maunya apa, ada-ada saja kelakuannya. Sudah, sana kamu turun saja! Tunggu di pinggir jalan," sahut Simbah yang sudah lebih dulu menggendong seikat besar kayu bakar.

"Ayo turun!" ajak Simbah lagi, sepertinya ia khawatir aku akan berulah lagi jika ditinggal sendirian di sana.

Aku hanya bisa menyengir kuda, lalu mengekor di belakang Simbah turun menuju pinggir jalan. Di sana, aku diminta diam memperhatikan saja.

Tak lama kemudian, kayu-kayu itu mulai dipotong kecil-kecil untuk dijadikan kayu bakar. Melihat tumpukan kayu dan dahan di sana, para tetangga yang memiliki hewan ternak pun datang menghampiri.

Ada yang meminta dedaunannya untuk pakan, ada pula yang meminta sedikit kayu bakarnya.

****************

Waktu sudah menunjukkan pukul 16:48. Satu per satu orang yang meminta dedaunan tadi mulai beranjak pulang, menyisakan satu keluarga saja di sana.

Mamak pun mengajakku pulang, sementara para laki-laki masih bertahan di kebun untuk menyelesaikan pekerjaan.

Dalam tradisi Jawa, ada kepercayaan bahwa wanita yang sedang hamil tidak boleh berada di luar rumah saat menjelang Maghrib hingga malam tiba.

Waktu yang diperbolehkan untuk beraktivitas di luar hanyalah dari pagi hingga sore hari, maksimal pukul 16:48 seperti saat ini.

Sesampainya di rumah, aku segera mandi dan masuk ke dalam. Aku menghabiskan waktu dengan menonton televisi dan menikmati makan malam bersama keluarga.

Setelah selesai makan dan menunaikan salat, aku kembali bersantai sejenak di depan televisi.

Tak lama kemudian, aku memutuskan masuk ke kamar untuk beristirahat sambil asyik bermain game ular di ponselku.

Suamiku pulang sebelum jam enam sore. Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, ia menghampiriku dan mengajak untuk kembali ke rumah orang tuanya.

"Dek, pulang yuk? Mas ada urusan, ada yang mencari di rumah," ajaknya.

Aku melirik ke arah jam dinding; jarum masih menunjukkan pukul 17:10 dan suara azan dari masjid pun belum terdengar. Aku segera bersiap untuk berpamitan.

Namun, sebelum pergi, aku sempat melihat Kakak yang baru saja pulang kerja membawa dua ponsel. Sementara aku, aku sama sekali tidak memiliki ponsel sendiri—satu-satunya ponsel yang kupakai adalah milik suamiku.

Aku pun menghampiri kamar Kakak dan mengetuk pintunya. "Mas?" panggilku.

"Iya, kenapa?" sahutnya sambil membuka pintu dan mempersilakanku masuk.

"Pinjam ponselmu satu dong, Mas," ucapku, mencoba membujuknya baik-baik.

Tanpa diduga, ia langsung menyodorkan salah satunya. "Ya sudah, pakai yang ini saja. Tapi ingat, nanti kembalikan lengkap dengan casnya, ya."

Setelah mengantongi ponsel pinjaman itu dan berpamitan kepada orang tuaku, aku pun berangkat.

Meski sebenarnya berat hati, aku harus kembali ke rumah mertua—tempat yang jujur saja, sangat tidak kusukai.

Sebelum masuk ke kamar, aku sempat mengecek catatan kehamilanku. Ternyata, besok adalah jadwal pemeriksaan rutin ke dokter.

"Oke," gumamku dalam hati. Aku pun bergegas mempersiapkan barang-barang untuk pulang. Di sepanjang perjalanan menuju rumah mertua, suasana kembali hening.

Tak ada satu pun kata yang keluar dari mulutku; aku hanya tenggelam dalam pikiranku sendiri.

Aku teringat pemeriksaan sebelumnya, dokter bilang janin dalam kandunganku belum menunjukkan reaksi yang signifikan, sehingga diputuskan untuk kontrol ulang minggu ini.

"Mas, besok kita cek kandungan ke rumah sakit ya," ucapku saat Ahmad masuk ke kamar. Ia kemudian duduk dan berbaring di atas kasur, namun raut wajahnya tampak menunjukkan tanda-tanda tidak suka mendengar ajakanku.

Malam itu, setelah menunaikan salat, aku memutuskan untuk langsung tidur lebih awal karena tidak merasa lapar.

Malam ini tepat kehamilanku memasuki usia 8 bulan; hanya tinggal sebulan lagi menuju hari persalinan.

Tiba-tiba, sekitar pukul satu dini hari, aku terbangun. Saat menoleh ke samping, aku hanya menemukan bantal guling. Suamiku tidak ada di sana.

Tas dan ponselnya pun sudah raib. Aku sudah bisa menebak ke mana dia pergi, namun aku memilih untuk tidak memedulikannya lagi.

Aku pun beranjak mengambil air wudhu untuk melaksanakan salat malam, memohon pertolongan kepada Allah agar segalanya dilancarkan hingga hari persalinan nanti.

Baru saja aku hendak mulai mengaji, tiba-tiba perutku berbunyi. Si Kecil di dalam kandungan pun terasa sangat aktif, seolah ikut memberi tanda bahwa ia lapar.

Aku pun beranjak ke dapur dan menemukan masih ada sisa nasi dan telur.

Karena air di termos habis—mungkin habis dipakai untuk menjamu tamu suamiku tadi—aku harus memasak air terlebih dahulu. Rencananya, aku ingin membuat teh hangat sekaligus memasak mi instan.

Kali ini, aku tidak hanya menyeduh mi, tapi memasaknya setengah matang bersama dua butir telur rebus yang juga kubuat setengah matang.

"Hmmm, enak ini. Sabar ya, Nak... Semoga dua telur dan mi ini cukup untuk mengganjal perut sampai besok siang," bisikku sambil mengelus perut.

Makan mi kali ini terasa cukup mengenyangkan meski tanpa nasi, apalagi ditambah dua butir telur kesukaanku.

Aku menikmati makan malam yang sangat larut itu di jam setengah dua dini hari, saat suasana di luar masih gelap gulita.

Setelah kenyang, aku menutupnya dengan menyeruput teh hangat pelan-pelan, menikmati ketenangan malam sendirian.

Tiba-tiba, Ibu mertuaku keluar dari kamar, sepertinya hendak ke kamar mandi. Aku pun menyapanya dengan sopan.

"Mak, mau makan?" tawarku. Beliau hanya tersenyum tipis sambil mendekat.

"Makan apa kamu?" tanyanya kemudian.

"Makan mi sama telur sisa yang aku beli kemarin, Mak. Mamak mau makan juga? Biar aku gorengkan telur," tawarku lagi, karena stok mi instan sudah habis dan hanya tersisa satu bungkus yang sedang kumakan.

"Enggak usah, Mamak cuma tanya saja. Ya sudah, Mamak mau ke kamar mandi dulu terus lanjut salat," jawabnya sambil berlalu meninggalkanku sendirian di dapur.

Aku melirik jam di ponsel, sudah menunjukkan pukul 03:38 dini hari. Sebentar lagi waktu Subuh tiba.

Begitu suara azan mulai berkumandang, aku segera mengambil air wudhu dan menunaikan salat di kamar. Mertuaku memang tidak mengizinkanku pergi ke masjid saat masih gelap seperti ini.

Setelah perut kenyang dan kewajiban salat tertunaikan, aku merebahkan tubuh di atas kasur. Rasanya sungguh nyaman dan damai, justru di saat suamiku tidak ada di rumah.

"Huh, enak sekali rasanya tanpa ada suami," gumamku dalam hati sambil menikmati ketenangan itu hingga perlahan mataku terpejam.

Bersambung....

1
WinnyLiam
👍🏻
Melsha: terimakasih
total 1 replies
Efan Taga
aku mampirrrr
Melsha: terimakasih udah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!