NovelToon NovelToon
Ratu Yang Memilih Takdirnya

Ratu Yang Memilih Takdirnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Cintapertama
Popularitas:733
Nilai: 5
Nama Author: Anaya Barnes

Arcelia Virellia pernah menjadi putri yang hidup dalam kemewahan. Namun ketika bisnis keluarganya berada di ambang kehancuran, ia dijadikan alat transaksi melalui pernikahan politik dengan pewaris keluarga Ravert.
Pernikahan yang seharusnya menyelamatkan segalanya justru menghancurkan hidupnya.
Dihina keluarga suami…
Diabaikan oleh pria yang menjadi suaminya sendiri…
Dan ketika kematian misterius merenggut nyawa suaminya, Arcelia dituduh sebagai pembawa sial dan diusir tanpa belas kasihan.
Semua orang mengira hidupnya telah berakhir.
Namun tiga tahun kemudian, seorang investor misterius muncul dan mulai menguasai dunia bisnis elit kota. Tidak ada yang tahu identitasnya… sampai wanita itu kembali muncul dengan nama yang membuat masa lalu mereka bergetar.
Arcelia telah kembali.
Bukan lagi sebagai putri yang patuh…
Melainkan ratu yang siap menagih semua pengkhianatan.
Karena bunga mawar mungkin terlihat indah…
Tapi mereka lupa bahwa mawar selalu memiliki duri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anaya Barnes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25

Langit Lumin malam itu tidak berbintang. Awan menggantung rendah, seperti menekan kota dari atas.

Arcelia berdiri di depan cermin kamarnya. Ia tidak benar-benar melihat bayangannya. Ia mengamati napasnya sendiri. Masih ada sisa getaran dari semalam.

Halus. Tapi konsisten.

Degup itu tidak hilang.

Seperti denyut kedua di dalam tubuhnya.

Ponselnya bergetar.

Kaelion:

“Aku di luar.”

Arcelia tidak menjawab.

Ia hanya mengambil jaket tipisnya dan keluar pelan tanpa membangunkan siapa pun.

Di Halaman Rumah

Mobil Kaelion terparkir di bawah pohon besar dekat pagar. Ia berdiri bersandar, tangan di saku, wajahnya serius seperti biasa.

Tidak ada sapaan manis.

Tidak ada basa-basi.

“Kau yakin?” tanyanya saat Arcelia mendekat.

Arcelia menatapnya lurus.

“Kalau aku bilang tidak, kau tetap akan membawaku, kan?”

Kaelion tidak menyangkal.

“Itu bukan tempat yang aman.”

Arcelia menghela napas.

“Rumahku juga tidak terasa aman lagi.”

Hening sesaat.

Lalu Kaelion membuka pintu mobil.

Perjalanan

Mereka tidak menuju pusat kota. Mobil bergerak menjauh. Lampu jalan semakin jarang.

Gedung-gedung tinggi berganti dengan bangunan tua dan gudang-gudang lama.

Arcelia memperhatikan jalan yang makin asing.

“Kita ke mana?”

“Distrik lama. Bagian yang sudah ditutup sejak renovasi besar dua puluh tahun lalu.”

“Kenapa ditutup?”

Kaelion menjawab pelan. “Karena sesuatu ditemukan di bawahnya.”

Arcelia tidak bertanya lagi.

Ia bisa merasakannya.

Semakin dekat.

Degup itu semakin jelas.

Gerbang Tua

Mobil berhenti di depan pagar besi berkarat. Bangunan di belakangnya terlihat seperti bekas stasiun bawah tanah.

Lampunya mati.

Sangat sepi.

Kaelion membuka pagar dengan kunci kecil dari sakunya.

“Kau sering ke sini?” tanya Arcelia.

“Tidak.”

“Lalu kenapa kau punya kuncinya?”

“Karena keluargaku yang menutupnya.”

Kalimat itu membuat Arcelia terdiam.

Mereka masuk. Langkah kaki mereka menggema di lorong beton yang panjang.

Udara lembap.

Bau besi tua dan debu.

Lampu darurat menyala redup. Setiap langkah terasa seperti turun lebih dalam dari sekadar tanah.

Arcelia memegang dinding sesaat.

Degup itu sekarang jelas.

Seirama.

Seolah tempat ini… hidup.

Tangga Menuju Bawah Tangga spiral membawa mereka turun lebih jauh.

Kaelion berjalan lebih dulu.

Arcelia mengikuti.

Semakin turun, udara makin berat. Sampai akhirnya mereka tiba di sebuah ruang besar berbentuk lingkaran.

Dan Arcelia berhenti. Di tengah ruangan itu... Terukir simbol raksasa di lantai batu.

Lingkaran.

Retakan di tengahnya.

Persis seperti yang ia lihat.

Napasnya tercekat.

“Itu…” suaranya melemah.

Kaelion menatap simbol itu dengan tenang.

“Segel Inti.”

Retakan di tengah simbol tampak lebih terang dari yang lain. Bukan cahaya besar... Tapi cukup untuk terlihat. Seolah garis tipis yang menyala pelan.

Arcelia melangkah mendekat tanpa sadar.

“Jangan terlalu dekat,” ucap Kaelion cepat.

Tapi sudah terlambat.

Saat kakinya menginjak bagian dalam lingkaran, udara bergetar keras. Simbol itu menyala terang.

Cahaya merambat mengikuti garis retakan. Degupnya berubah menjadi dentuman.

BOOM.

Suara berat menggema.

Arcelia terdiam di tengah lingkaran.

Matanya membesar. Ia tidak melihat ruangan lagi. Ia melihat batu hitam raksasa yang sama seperti penglihatannya semalam.

Retakan itu kini lebih besar.

Dan dari dalamnya, ada suara, bukan kata... Tapi panggilan.

Jangkar…

Arcelia menggigil. “Apa itu?” bisiknya.

Kaelion berdiri di luar lingkaran.

Wajahnya tegang.

“Arcelia, keluar dari situ.”

Ia mencoba melangkah mundur.

Tapi kakinya terasa berat. Seolah lantai menahannya. Cahaya retakan merambat ke arah kakinya.

Bukan melukai.

Tapi menyatu.

Kaelion bergerak cepat.

Ia masuk ke lingkaran dan menarik tangan Arcelia dengan kuat. Sentuhan itu memutus aliran cahaya. Simbol meredup drastis.... Arcelia tersungkur ke lutut.

Napasnya terengah. “Aku mendengarnya…” suaranya bergetar. “Ia tahu namaku.”

Kaelion terdiam beberapa detik.

“Itu tidak mungkin.”

“Tapi itu terjadi.”

Ia menatap simbol itu lagi.

Retakan kini terlihat sedikit lebih lebar dibanding saat mereka datang.

“Ini bukan hanya segel,” gumam Arcelia pelan. “Ini seperti… pintu.”

Kaelion mengepalkan rahangnya. “Kalau ini pintu, maka kita tidak tahu apa yang ada di sisi lain.”

Hening.

Debu halus turun dari langit-langit. Dan untuk pertama kalinya, sesuatu bergerak di bawah simbol itu.

Bukan cahaya.

Bukan bayangan. Tapi siluet gelap yang samar, seperti bayang-bayang yang mencoba menembus permukaan batu.

Arcelia menatapnya tanpa berkedip. “Kaelion…”

Ia menunjuk ke tengah lingkaran. Siluet itu berhenti. Seolah sadar sedang diawasi. Lalu perlahan… menghilang.

Simbol kembali redup.

Degupnya melemah.

Namun tidak hilang.

Setelahnya

Mereka berdiri dalam diam.

“Ini baru awal,” ucap Kaelion pelan.

Arcelia masih memegang dadanya. “Kalau ini baru awal… maka apa yang akan terjadi selanjutnya?”

Kaelion menatap retakan itu lama. “Jika retakan itu terbuka sepenuhnya… sesuatu akan keluar.”

“Dan kalau keluar?”

Ia menoleh ke Arcelia. “Maka perusahaan ayahmu, kota ini, mungkin seluruh struktur yang kita kenal… hanya akan jadi dampak kecil.”

Arcelia menelan ludah.

Angin dingin berhembus dari bawah simbol.

Tidak wajar.

Tidak alami.

Dan jauh di atas kota, lampu di beberapa gedung pusat bisnis mendadak padam satu per satu. Seolah sesuatu mulai menyedot energi.

Segel belum hancur.

Tapi ia sudah bernapas. Beberapa detik setelah siluet itu menghilang, ruangan kembali sunyi. Debu yang tadi berjatuhan kini melayang pelan di udara, seperti tertahan oleh sesuatu yang tidak terlihat.

Arcelia masih berdiri di tepi lingkaran batu.

Tangannya sedikit gemetar. “Apa kau lihat itu?” tanyanya tanpa memalingkan wajah.

Kaelion tidak langsung menjawab.

Ia memperhatikan permukaan simbol. Retakan di tengahnya kini tidak lagi tipis. Garis itu seperti… bernapas.

“Iya,” jawabnya akhirnya. “Aku melihatnya.”

Arcelia menoleh cepat. “Kau juga melihat siluet itu?”

Kaelion mengangguk pelan. “Dan itu bukan ilusi.”

Hening kembali menyelimuti ruang bawah tanah itu.

Arcelia menatap simbol di lantai. “Aku pikir ini cuma energi. Cuma kekuatan yang tidak stabil.”

“Ini lebih dari itu.”

“Apa maksudmu?”

Kaelion melangkah perlahan mendekati retakan. Kali ini ia berhenti sebelum memasuki lingkaran.

“Segel ini dibuat untuk menahan sesuatu yang punya kesadaran.”

Kata itu membuat udara terasa lebih berat.

“Kesadaran?” ulang Arcelia pelan.

“Bukan sekadar kekuatan liar. Tapi sesuatu yang bisa… berpikir.”

Degup itu kembali terdengar.

Tidak keras... Tapi cukup untuk terasa di tulang.

Arcelia memejamkan mata.

Ia mencoba fokus. Dan kali ini, ia tidak melawan. Ia membiarkan dirinya tenggelam sedikit dalam resonansi itu.

Suara itu kembali.

Jangkar…

Ia menarik napas dalam.

“Apa yang kau mau?” bisiknya tanpa sadar.

Kaelion langsung menoleh. “Kau bicara dengan siapa?”

Arcelia membuka mata perlahan. “Dengan yang ada di bawah sana.”

Seolah merespons, cahaya retakan bergetar tipis.

Kaelion melangkah mendekat, suaranya lebih rendah.

“Jangan memberi respons.”

“Aku tidak bisa pura-pura tidak mendengarnya.”

“Kau tidak tahu apa yang kau hadapi.”

Arcelia menatapnya tajam. “Dan kau tahu?”

Pertanyaan itu membuat Kaelion terdiam.

Untuk pertama kalinya sejak mereka turun ke sini, ketegangan di antara mereka bukan karena simbol. Tapi karena ketakutan yang tidak diucapkan.

“Ayahku pernah bilang,” ucap Kaelion pelan, “bahwa setiap segel punya harga.”

“Harga apa?”

“Kesadaran manusia.”

Arcelia mengerutkan dahi.

“Jelaskan.”

Kaelion menatap retakan itu. “Segel ini tidak berdiri sendiri. Ia terhubung dengan garis darah tertentu.”

Arcelia merasa dadanya mengencang.

“Keluarga Virellia.”

“Dan Ravert.”

Hening.

Degup itu makin selaras. Seperti dua nada yang akhirnya menemukan irama yang sama.

“Jadi ini bukan kebetulan kita di sini bersama,” gumam Arcelia.

“Tidak pernah.”

Arcelia melangkah satu inci lebih dekat ke lingkaran.

“Kau bilang segel bereaksi pada kesadaranku.”

“Ya.”

“Berarti ia tidak hanya menahan sesuatu.”

Kaelion menatapnya.

“Katakan.”

Arcelia menelan ludah. “Segel itu menggunakan aku.”

Kalimat itu menggantung di udara. Retakan menyala lebih terang sesaat.

Kaelion langsung meraih pergelangan tangannya.

“Arcelia, cukup.”

Sentuhan itu kali ini berbeda.

Lebih kuat.

Lebih protektif.

“Kalau kau terus membuka dirimu, ia akan menemukan celah.”

“Celah apa?”

Kaelion tidak langsung menjawab.

Lalu perlahan berkata, “Celah untuk menyeberang.”

Kata itu membuat kulit Arcelia meremang. Ia menatap simbol sekali lagi. Dan tiba-tiba, siluet gelap itu muncul lagi.

Kali ini lebih jelas.

Tidak sepenuhnya berbentuk manusia. Tapi cukup untuk menunjukkan kontur bahu… dan kepala. Ia seperti berdiri tepat di balik permukaan batu.

Mengamati.

Arcelia tidak bergerak.

Matanya terpaku.

Siluet itu perlahan mengangkat sesuatu, seperti tangan. Dan menyentuh sisi retakan dari dalam.

BOOM.

Dentuman keras mengguncang ruangan.

Langit-langit bergetar.

Kaelion langsung menarik Arcelia mundur.

“Ayo pergi!”

Retakan menyala terang, cahaya menjalar cepat mengikuti garis lingkaran. Udara berputar seperti pusaran kecil.

Arcelia merasakan panas di telapak tangannya.

Ia menunduk. Di kulitnya, muncul garis tipis bercahaya.

Persis pola retakan simbol itu.

Kaelion membeku, “Itu tidak mungkin…”

Arcelia menatap tangannya sendiri.

Cahaya itu tidak melukai.

Tapi terasa seperti cap.

Seperti penanda.

Siluet di bawah simbol berhenti bergerak.

Seolah puas.

Kemudian perlahan… memudar kembali. Cahaya di lantai meredup. Degupnya melemah.

Ruangan kembali sunyi. Hanya napas mereka yang terdengar.

Arcelia mengangkat wajahnya. “Apa itu?” suaranya lebih stabil sekarang.

Kaelion menatap garis bercahaya di tangannya. “Itu bukan serangan.”

“Lalu?”

“Itu pengakuan.”

Kata itu membuat Arcelia terdiam. “Pengakuan apa?”

Kaelion menatap retakan yang kini sedikit lebih terbuka. “Ia mengenalimu.”

Hening panjang.

Udara masih berat, tapi tidak seagresif tadi.

Arcelia menggenggam tangannya, mencoba menyembunyikan cahaya yang perlahan memudar.

“Kalau ia mengenaliku… berarti ia sudah lama menunggu.”

Kaelion mengangguk pelan.b“Dan ulang tahun kamu mungkin bukan kebetulan.”

Arcelia menoleh cepat.

“Maksudmu—”

“Usia tujuh belas. Titik transisi. Energi keluarga dalam satu rumah pada satu waktu.”

Arcelia mengingat momen lilin padam.

Getaran pertama.

Retakan kedua.

“Kita memicunya,” bisiknya.

Kaelion tidak menyangkal.

“Tapi belum terlambat.”

Arcelia menatapnya.

“Kau yakin?”

Kaelion melihat kembali ke simbol itu.

Retakan masih ada. Lebih jelas dari sebelumnya. Dan jauh, sangat jauh di dalam batu, seolah ada sesuatu yang tersenyum.

“Belum,” jawabnya akhirnya.

“Tapi kita tidak punya banyak waktu.”

Di atas kota Lumin, malam terasa lebih sunyi dari biasanya.

Beberapa lampu jalan berkedip. Beberapa sistem listrik mengalami gangguan kecil yang tak terjelaskan. Belum cukup besar untuk panik... Tapi cukup untuk menjadi pertanda.

Segel belum hancur.

Namun ia sudah memilih jangkar. Dan kini, ia tahu namanya.

1
Anaya Barnes
siap kaka
makasih udah mampir🙏
mfi Pebrian
aku dah mampir yah.....cerita nya bagus.....tetap semangat.
jangan lupa mampir juga di novel aku judul nya"Dialah sang pewaris"di tunggu yah....
Raine
jujur ceritanya bagus, tapi sedikit bosan untuk saya, narasi author di setiap bab selalu mengulang kalimat dengan arti yg sama, kayak udah baca tadi trus di baca ulang lagi dan lagi
mfi Pebrian: mampir kak di novel saya"Dialah sang pewaris"
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!