Valentine dan Valerie, si Twins V, telah tumbuh menjadi dua wanita dewasa dengan kepribadian unik yang selalu membuat orang-orang di sekitar mereka geleng-geleng kepala. Kepolosan, keberanian, dan cara berpikir mereka yang di luar nalar kerap menghadirkan tawa sekaligus kekacauan, terutama bagi kedua orang tua mereka.
Di tengah candaan tentang keinginan cepat menikah, mimpi-mimpi aneh, dan celetukan tak terduga, Twins V terus membawa kejutan baru. Lalu, keseruan dan kekacauan apa lagi yang akan mereka ciptakan selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Korban
Savitri masih nampak dia di tempatnya karena seketika otaknya tak bisa di pakai untuk berpikir. Hari ini semua rencananya tak berjalan dengan semestinya bahkan sekarang anaknya juga dalam bahaya karena tenyata mereka salah dalam mencari musuh.
Mereka tak menyangka malah akan terlibat dengan Zurra dan juga Altezza, dua orang yang tak pernah bisa di sentuh siapapun. Dan yang lebih mengejutkan lagi mereka ingin mengerjai putri kesayangan mereka yang tak lain tak bukan adalah tunangan Arlo.
Tapi sepertinya jika mau kabur pun sudah tak akan bisa karena mereka sudah menjadi tahanan Zurra dan Altezza.
Tak lama setelah Zurra mengatakan itu semua, Altezza beserta Mahessa naik ke atas ruangan tempat Zurra berada. Mulyono yang sedang terluka pun sudah di seret ke sana memakai pintu khusus yang terhubung dengan ruangan Zurra.
Brukkk....
Anak buah Altezza melempar tubuh Mulyono di sebelah Savitri. Anggota Altezza melemparkannya dengan keras dan tanpa perasaan yang membuat Savitri berteriak keras.
"Apa yang kalian lakukan pada suamiku?
Kenapa kalian begitu kejam?" teriak Savitri pada mereka semua.
"Kejam mana sama kalian yang menipu banyak orang dengan memperjual belikan berlian palsu dan membuat usaha orang lain bangkrut sehingga mereka kehilangan semua yang mereka miliki. Dan tak hanya itu saja, banyak korban kalian yang sampai menghabisi nyawa mereka sendiri karena stres dan juga yang tak bisa bangkit berdiri lagi. Jadi apa yang gue lakukan ini termasuk kejam? Apa gue juga harus menghabisi kalian langsung sekarang?" ucap Mahessa sinis.
Savitri terdiam dengan balasan yang di berikan oleh Mahessa kepadanya, bahkan Mulyono pun sudah tak bisa mengelak lagi saat semua bukti kejahatannya di buka secara langsung oleh Mahessa sesaat sebelum mereka berpindah ke ruangan milik Zurra saat ini.
"Jadi apa lagi yang kalian inginkan saat ini? Apa kalian juga ingin melihat bagaimana putri kesayangan kalian menuai apa yang dia rencanakan juga?"
Tubuh Mulyono dan Savitri menegang karena mereka berdua tahu apa yang di rencanakan Rubi untuk memisahkan Arlo dan Ale. Savitri nampak ketakutan karena sudah jelas Rubi akan menghadapi kesusahan setelah ini karena Rubi baru melakukan ini dan dia harus menghadapi keturunan Altezza dan juga Zurra.
Semua orang yang ada di sana tak berani ikut campur karena sejak awal memang Savitri sudah terlihat sekali tingkah lakunya dan saat ini mereka sekeluarga tinggal menunggu hitungan mundur kehancuran mereka karena ulah mereka sendiri.
Arlo yang sejak tadi diam menunggu para orang tua selesai bicara tiba tiba berdiri dari duduknya dan membuat semua orang menoleh ke arahnya.
"Mau kemana?" tanya Mahessa penasaran.
"Mau susulin Ale pa, mungkin mereka sudah mulai bermain karena ini udah hampir setengah jam sejak Ale pamit pergi ke kamar mandi." jawab Arlo sambil melangkah pergi dari sana.
Saat melewati Savitri dan Mulyono, Arlo hanya melirik mereka sinis dan tak berniat untuk menegur mereka atau berbicara apapun dengan mereka berdua. Di dalam otaknya hanya ada Ale saat ini dan apa yang di lakukan Ale kepada mereka semua.
"Baiklah, pergilah dan jangan biarkan Ale bermain terlalu lama." sahut Mahessa lagi.
Arlo tak menanggapi sang papa dan langsung melenggang pergi begitu saja.
Mahessa yang melihat kelakuan putranya mendengus kesal, ingin sekali dia menjitaknya tapi jika dia melakukannya dia akan mendapat omelan dari Mischa.
*
Di sisi lain, Ale hanya mengikuti permainan yang Rubi ciptakan dan dia pun juga ingin melihat apa yang di siapkan Rubi untuknya.
Ale juga tahu jika Rubi mengikutinya tapi dia bersikap seolah dia tak mengetahuinya dan membiarkan Rubi merasa menang.
Ale juga sudah memberi kode kepada semua anggota Altezza dan Mahessa untuk tidak mengambil tindakan terlebih dahulu jadi mereka hanya mengawasi mereka saja yang ingin mencelakai Ale, nona muda mereka.
Dan... benar saja tak lama dari belakang Ale ada yang memukul tengkuk Ale dengan keras.
Duk...
"Argh...."
Ale sempat memekik karena pukulan di tengkuknya dan matanya mulai buram dan tak lama Ale menutup matanya dengan erat.
Orang suruhan Rubi segera membawa Ale ke tempat yang sudah mereka siapkan, tapi saat mereka sampai di sana ternyata Arlo sudah duduk manis di sana dengan seringaian yang muncul di wajah tampannya.
"Mau kalian bawa kemana tunangan gue?" tanya Arlo datar dan dingin.
"Si-siapa lo? Apa yang lo lakuin di sini?" tanya salah satu dari mereka tergagap.
Arlo berdecak kesal kepada mereka karena menurutnya mereka sangat bodoh dan telinga mereka tidak bisa mendengar apa yang dia tanyakan tadi.
"Kalian tuli ya? Gue udah tanya tadi, kalian mau bawa kemana tunangan gue?" tanya Arlo lagi.
"Heh anak muda mendingan lo pergi dari sini sebelum kami melakukan kekerasan sama lo!"
ancam orang itu dengan keras.
Ctak....
Arlo segera menjentikkan jarinya untuk memanggil anak buah sang papap untuk segera mengambil alih Ale yang ada pada mereka. Arlo tak rela jika Ale terlalu lama di pegang mereka.
Beberapa preman yang di suruh Rubi tadi mengerutkan kening mereka heran melihat Arlo yang tenang sejak tadi. Tapi dari belakang mereka ada seseroang yang menepuk pundak mereka bergantian.
Pukkk...pukkkk.....
Mereka menoleh bersamaan dan membelalakan matanya. Bagaimana tidak di belakang mereka ada banyak laki laki yang berdiri memandangi mereka dengan wajah yang sangar dan menakutkan. Mereka semua nampak gemeteran melihat mereka semua.
"Si-siapa lo sebenarnya?" tanya mereka lagi pada Arlo.
Arlo tersenyum miring ke arah mereka dan menatap mereka dengan jijik.
"Yakin lo mau tahu siapa gue?" sahut Arlo balik bertanya.
"Gue ARLO FEDERICK SYAILENDRA dan yang sedang kalian bawa itu VALERIE ATHENA DHANURENDRA,"
Glek...
Brukkk....
"Awww....."
"Sialan kalian, sakit banget..." rintih Ale saat badannya di jatuhkan ke lantai dan membuat Arlo mengerjapkan matanya karena terkejut. Bagamana tidak, tadi Ale masih pingsan dan sekarang tiba tiba terbangun, itu yang membuat Arlo terkejut.
"Kok udah siuman?" tanya Arlo cengo.
Semua anggota Altezza serta Mahessa langsung melongo mendengar pertanyaa Arlo yang absurd.
Ale bangun sendiri dengan perasaan kesalnya mendengar pertanyaan konyol sang tunangan.
"Kamu kenapa nggak bantuin aku sih, malah diam aja kayak gitu!" omel Ale pada Arlo.
Arlo yang tersadar langsung gelagapan dan berdiri dari duduknya. Dia segera menghampiri Ale dan membantunya untuk berdiri. Arlo juga melihat semua badan Ale, memeriksa setiap jengkalnya untuk memastikan jika Ale baik baik saja dan tak ada luka yang serius di sana. Tapi ada luka memar yang terlihat di leher Ale meskipun hanya sedikit saja.
"Sakit?" tanya Arlo pelan.
Dia mengusap leher Ale yang memar itu dan meniupnya lembut sementara anggota mereka berbalik badan tak ingin melihat apa yang di lakukan tuan muda dan nona muda mereka saat bermesraan seperti itu. Dunia serasa milik mereka berdua dan ssesaat mereka lupa jika ada urusan yang masih harus mereka kerjakan saat ini.
"Ehem.... bos, eh, nona muda, tuan muda anu..."
Salah satu dari anggotanya segera menyela apa yang di lakukan Ale dan Arlo.
"Apa?" hardik Arlo datar.
"Itu, anu tuan muda... itu mereka bagaimana jadinya? Apa yang harus kami lakukan? Dan lagi bisa kan tuan muda dan nona muda mesra mesraannya nanti aja di mansion? Di sini kami banyak yang masih jomblo tuan muda," ucap salah satu anggota itu lirih.
"Hah?"
Mulut Ale melongo mendengar curhatan anggota papinya itu tapi kemudian dia mendengus kesal.
"Bilang aja kalian minta jodoh iya 'kan? Emang nggak bisa ya cari jodoh sendiri? Kan banyak itu mbak mbak jamu yang sering lewat depan mansion?" ceplos Ale asal.
Otak semua orang loading mendengar ocehan Ale tentang mbak jamu yang di maksud, terutama Arlo karena dia tak pernah sekalipun melihat ada orang keliling di sekitar mansion yang berada jauh dari pemukiman banyak orang.
"Sayang kamu nggak salah ngomong 'kan? Mbak jamu yang mana?" tanya Arlo lagi.
Ale terdiam sejenak dan baru sadar jika dia salah bicara, karena semua anggota yang saat ini ada di sini adalah yang dari mansion bukan dari markas.
"Lah lupa, kalian kan bukan dari markas, heheh..." ucap Ale cengengesan.
Arlo menggeleng pelan tapi kemudian pandangannya segera beralih ke arah para preman yang sejak tadi mereka cueki.
"Berani sekali kalian memukul Ale? Gue jaga dia sepenuh hati tapi kalian malah menggores kulitnya dengan sengaja. Mau mati kalian?" Hardik Arlo keras.
Beberapa preman itu mengkerut mendengar kemarahan Arlo kepada mereka sedangkan Ale masih diam memandangi mereka semua. Dan tak lama dia mendapatkan ide untuk membalas mereka yang sudah memukulnya tadi.
"Arlo, bawa mereka ke markas aja, aku mau mereka saling pukul untuk mengetahui siapa dari mereka yang paling kuat. Dan yang terkuat nanti bakal dapat hadiah dari aku. Gimana?" usul Ale pada Arlo.
Arlo menaikkan sebelah alisnya merasa heran dengan kata kata Ale, dia sampai menyipitkan matanya melihat ke arah Ale. Tapi melihat Ale berwajah usil dan mengeluarkan wajah tengilnya Arlo akhirnya mengangguk.
"Baiklah tuan putri, permintaan di kabulkan." jawab Arlo lagi.
"Kalian dengar kan? Kalian bawa mereka sekarang dan sisanya bawa orang suruhan kalian untuk datang kemari!" perintah Arlo tegas.
Semua anggota Arlo segera melaksanakan apa yang di katakan Arlo dan membawa mereka melalui jalan rahasia yang di punya hotel itu. Sedangkan Rubi sudah menunggu di tempat yang tersembunyi tanpa tahu apa yang terjadi. Dia sudah menggerutu karena orang suruhannya sangat lama sekali mengabari apa yang mereka lakukan pada Ale sudah selesai apa belum.
Drttt...drtt....
Ponsel yang dia bawa bergetar dan ada pesan masuk yang memberitahu jika Ale sudah dalam genggaman para preman yang dia suruh untuk mencelakai Ale.
Agar Rubi lebih percaya ada foto Ale yang sedang di ikat di atas ranjang dalam keadaan pingsan. Dan itu membuat Rubi tertawa bahagia karena dengan begini Arlo bisa meninggalkan Ale karena melihat Ale yang sudah tidur bersama orang lain. Dan dengan begitu dia akan bisa masuk ke dalam hidup Arlo dengan mudahnya.
"Hahah rasain gadis sombong, lo udah salah pilih lawan. Karena gue yang tetap akan jadi pemenangnya. Siapa lo yang cuma gadis gembel aja berani sekali bertunangan dengan Arlo yang notabene anak orang kaya. Cuma gue yang pantas bersama dia bukan lo yang cuma ingin naik derajat aja." gumam Rubi dengan sombongnya.
Dan dengan rasa percaya diri yang tinggi Rubi berjalan ke arah ruangan di mana Ale di sekap tanpa tahu apa yang akan terjadi kepadanya.
Ceklek....
Rubi yang datang dengan senyum lebar mematung di depan ruangan saat melihat siapa yang berada di atas ranjang saat ini. Di sana di atas ranjang ada Ale yang sedang rebahan di peluk Arlo dengan posesif yang menatap nya dengan seringaian yang menakutkan.
"Lo-lo? Bagaimana bisa?" tanya Rubi tergagap.
"Kenapa? Kaget lo?" sahut Ale cepat.
Rubi menggelengkan kepalanya pelan, tapi sesaat dia kemudian tersadar jika rencananya gagal dan dia ingin sekali kabur dari sana tapi dari arah belakang muncul seseorang yang mendorong nya dengan keras sehingga membuat tubuh Rubi terjerembab ke depan dan jatuh tersungkur ke lantai.
"Aw.... Arghhh..." teriak Rubi kencang.
Dan tak lama pintu ruangan itu tertutup dengan keras dengan semua anak buah Arlo ada di sana berbaris rapi seperti semula.
Rubi di tarik paksa oleh anggota Arlo dan dia pun nampak memberontak tapi dia kalah kuat dengan anggota Arlo saat ini.
"Lepasin berengsek, jangan sentuh gue sama tangan kotor lo itu!!!" teriak Rubi keras.
"Ck, ck....." Ale berdecak pelan mendengarnya.
"Hah, lo terlalu berisik buat jadi perempuan yang berpura pura anggun, dan lo emang nggak pantas dengan image anggun yang selama ini lo bangun dalam karir lo. Padahal kenyataannya lo melakukan segala cara agar lo bisa bertahan di dunia model. Tapi gimana kalau gue bakal bikin lo lebih terkenal lagi setelah ini?" tawar Ale pada Rubi.
Rubi memandang Ale mulai ketakutan karena wajah Ale sudah berbeda dari pada Ale yang dia lihat di ruangan sang mama tadi.
"Lepasin gue atau mama papa gue bakal nuntut lo dan lo bakal di jeblosin ke penjara!!!" ancam Ruby lagi.
Dan Tiit....
Di depan Rubi nampak layar monitor yang menyala yang menunjukkan keberadaan orang tua Rubi yang sedang berlutut di lantai bahkan di sana ada papanya Rubi yang masih terluka dengan banyak cairan kenthal berwarna merah yang merembes tanpa bisa di cegah.
Mata Rubi melotot melihat itu semua, dia tak menyangka kejadiannya akan seperti ini saat ini.
"Mama, papa!" teriak Rubi keras.
Rubi menatap Ale dan Arlo secara bergantian, matanya menatap tajam ke arah mereka seolah ingin menghabisi mereka berdua.
"Apa yang kalian lakuin pada orang tua gue?
Mereka nggak salah, kenapa bisa kalian bisa bersikap seperti itu pada orang tua hah?" teriak Rubi lagi.
Ale menaikka sebelah alisnya mendengar kata kata Rubi, ingin sekali dia tertawa saat Rubi seperti itu dan menyalahkan Ale serta Arlo yang bisa berbuat seperti itu kepada kedua orang tua tak tahu aturan itu.
"Nggak salah lo ngomong kayak gitu? Bukannya lo juga tahu kejahatan apa yang di lakukan kedua orang tua lo selama ini? Dan lagi mereka berdua seperti itu bukan ada masalah sama kami berdua, tapi mereka ada masalah dengan kedua orang kami!"
Rubi menaikan sebg elah alisnya bingung, kedua orang tua Ale serta Arlo, apa maksudnya. Jika orang tua Arlo, Rubi sudah mengetahuinya tapi orang tua Ale yang mana? Itu yang ada di benak Rubi saat ini.
Dan sesaat Rubi nampak berpikir dan kemudian matanya membola dengan sempurna. Dia lalu melihat ke arah Ale dan bergantian ke arah Zurra serta Altezza yang ada di sana dan nampak jika cara pandang mereka sama.
"Lo- lo nggak mungkin anak mereka 'kan?
Nggak nggak ini cuma pasti kebetulan 'kan?"
Rubi mulai ketakutan saat memikirkan semua kemungkinan yang ada saat ini. Dan dia menatap Ale yang menatapnya remeh. Ale masih diam di tempatnya bersama dengan Arlo sampai suara dari layar monitor itu menginterupsinya.
"Al, jangan lama lama bermain di sana, sebentar lagi kakakmu akan pulang. Dia akan mengamuk nanti jika kita semua tak ada di mansion, di tambah dia tak di ajak bermain. Kami semua akan pergi setelah ini membawa dua manusia tak berguna ini ke markas jadi segera selesaikan urusan kalian!"
ucap Zurra dari layar monitor itu.
"Baiklah mami, kalian bisa pergi terlebih dahulu dan kirim saja mereka ke markas. Setelah ini selesai aku dan Arlo akan segera menyusul tapi kemungkinan kami akan langsung ke markas setelah ini karena aku sudah mengirim beberapa orang ke sana untuk buka ring tinju." jawab Ale santai.
Semua orang tua yang ada di sana saling pandang karena bingung dengan maksud Ale ring tinju tapi pasti Ale sedang memberi hukuman kepada seseorang sampai mengirimnya ke markas.
"Baiklah hati hati di jalan dan mami tunggu di mansion, Mami dan tante Mahessa akan memasak makanan kesukaan kalian nanti jadi segera lah kembali ke mansion."
Ale dan Arlo mengangguk dan Rubi mulai panik saat kedua orang tuanya di bawa pergi oleh Zurra dan yang lainya.
"Tidak, kalian mau bawa kemana orang tuaku!!! teriak Rubi.
Tapi Ale langsung mematikan langsung mematikan layar monitor itu dan membuat Rubi semakin marah. Dia menatap tajam ke arah Ale tapi dia tak bisa berkutik karena pundaknya di cekal oleh anak buah Arlo.
"Gue bakal balas kalian semua!" teriak Rubi kencang.
"Lo bakal bisa balas gue kalau lo bisa keluar hidup hidup dari tempat ini!" balas Ale cepat.
"Apa maksud lo?" tanya Rubi bingung.
Ale turun dari ranjang dan berjalan ke arah Rubi pelan. Dia berdiri di depan Rubi dan meraih dagu Rubi serta mencengkeramnya erat yang membuat Rubi meringis kesakitan.
"Lo berniat bikin gue di gilir dan di ajak bermain banyak orang 'kan agar Arlo jijik sama gue dan dia bakal ninggalin gue? Tapi lo salah sasaran, lo terlalu bodoh dalam bermain peran jadi mafia di sini karena lo nggak pernah nyari tahu siapa sebenarnya lawan yang bakal lo jatuhin. Mungkin sebelumnya lo dengan mudah nipu orang di luar sana dengan mulut manis lo itu. Lo juga rela naik ke ranjang beberapa orang untuk muasin kesenangan dunia lo. Tapi lo lupa jika di dunia ini juga ada hukum tabur tuai. Ya, anggap saja saat ini gue sebagai jembatan mereka yang lo udah lo sakiti untuk balas perbuatan lo sama mereka!" ucap Ale panjang lebar.
Mata Rubi terus menatap tajam ke arah Ale dan ingin sekali mengajaknya berduel satu lawan satu tapi pandangan itu membuat Ale terkekeh menertawakan semua kebodohan Rubi sejak tadi.
"Mami dan papi gue selalu ngingetin gue dan kakak untuk tidak jahat pada orang lain terlebih dahulu, tapi mereka mengajarkan satu hal pada kami berdua. Mata di balas mata, dan gigi di balas gigi. Awalnya gue pengen ngasih lo keringanan dengan semua hinaan lo karena gue kasihan sama lo, tapi ternyata lo suruh orang untuk berbuat hal tak menyenangkan sama gue, jadi bukan salah gue kan kalau gue balas perbuatan lo saat ini juga. Pembalasan gue balas dengan kontan bukan?" ucap Ale sambil menghempaskan wajah Rubi.
Wajah Rubi sampai tertoleh ke samping karena saking kerasnya apa yang di lakukan Ale kepadanya. Dia sempat meringis pelan saat wajahnya tergores kuku Ale.
Setelah mengatakan itu, Arlo juga turun dari ranjang dan berjalan menghampiri Ale.
"Mereka udah pada datang, jadi lebih baik cepat di lakukan aja dan kita segera pergi dari sini. Leher kamu harus segera di kompres setelah ini sayang," ucap Arlo lembut.
Ale mengangguk dan tak lama dia memberi kode pada anggota Arlo untuk melakukan apa yang di suruh Arlo tadi sementara dia mengajak Arlo untuk keluar karena tak mungkin jika Arlo akan melihat apa yang di lakukan anggotanya pada Rubi.
Terkesan jahat sebenarnya tapi itu hukuman yang pantas untuknya.
Tak lama juga dari kejauhan Arlo melihat beberapa ibu ibu yang datang ke ruangan itu dengan wajah beringas membawa berbagai bahan dapur yang membuat Arlo bergidik ngeri apalagi bubuk cabai dan beberapa bahan lainnya.
Sebelum mereka benar benar masuk dari dalam ruangan itu terdengar jeritan yang memekakan telinga dari Rubi, dan setelah beberapa saat raungan kesakitan juga keluar dari mulut Rubi dan tak hanya itu tangisan yang menggema di lantai atas itu membuat Arlo bergidik ngeri.
"Serem banget kalau musuhnya ibu ibu komplek gitu. Kamu dapat dari mana sayang?" tanya Arlo penasaran.
"Bukan aku yang nyari tapi mama kamu, katanya mereka semua adalah korban dari suami yang selama ini di goda oleh Rubi dan membuat anak anak mereka terlantar. Tak hanya itu ada beberapa dari mereka yang juga depresi dan saat ini mereka ada di yayasan mami juga mama kamu." jawab Ale miris.
"Selalu ada manusia yang tak bisa bersyukur di dunia ini." sahut Arlo pelan.
Ale mengangguk dan tak lama dari itu anggota Arlo mengabarkan keadaan Rubi yang sudah mengenaskan dan kemungkinan sudah tak bernapas.
"Urus sisanya dan buang ke tempat biasa, amankan mereka yang bermasalah dan ingat bersihkan tempat itu jangan sampai ada yang tersisa!" perintah Arlo pada anggotanya.
"Ayo pergi sayang, kita langsung ke klinik terdekat!"
to be continued...