NovelToon NovelToon
Dari Sampah Menjadi Penguasa Semesta

Dari Sampah Menjadi Penguasa Semesta

Status: sedang berlangsung
Genre:Kultivasi Modern / Kelahiran kembali menjadi kuat / Pemain Terhebat
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Jullsr red

Di bawah langit kelabu yang digelayuti takdir dan dendam yang belum terbalas, Lin Zhantian melangkah memasuki babak baru dalam perjalanan kultivasinya. Setelah menanggung penghinaan panjang yang menggerogoti martabat keluarganya, ia kini berdiri di ambang perubahan besar—bukan lagi sebagai pemuda lemah yang dipandang rendah, melainkan sebagai bara api yang tersembunyi di balik abu.

Bab ini menyoroti pergulatan batin Lin Zhantian saat ia menyadari bahwa kekuatan sejati tidak hanya lahir dari teknik dan energi spiritual, tetapi juga dari tekad yang tak tergoyahkan. Di tengah tekanan klan, tatapan sinis para tetua, serta bayang-bayang kejeniusan para rivalnya, ia menemukan secercah peluang—sebuah warisan kuno yang seolah memilihnya sebagai penerus.

Namun, jalan menuju kejayaan tidak pernah sunyi dari ujian. Energi liar yang mengamuk di dalam tubuhnya hampir merobek meridiannya, menguji batas ketahanan fisik dan jiwanya. Dalam kesunyian malam, saat semua orang terlelap dan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jullsr red, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 — Konflik di Gerbang Hutan

Di belakang pegunungan keluarga Lin, terbentang sebuah hutan yang luas dan rimbun, bagaikan lautan hijau yang berdesir di bawah belaian angin gunung. Pepohonan tinggi menjulang, batangnya tua dan kokoh, seolah telah menjadi saksi bisu perjalanan generasi demi generasi keluarga itu. Di antara akar-akar yang meliuk dan semak-semak yang lebat, terkadang tersembunyi anugerah langka dari alam—tanaman obat spiritual yang mengandung energi langit dan bumi. Barang siapa beruntung menemukannya, ia akan memperoleh bantuan besar dalam jalur kultivasi.

Karena itulah, setiap kali waktu senggang datang, para generasi muda keluarga Lin kerap berbondong-bondong menuju hutan ini, berharap takdir berpihak pada mereka. Hutan ini, meskipun liar dan penuh bahaya kecil, justru menjadi tempat paling hidup bagi kaum muda keluarga tersebut—tempat persaingan, harapan, dan ambisi bertaut menjadi satu.

Pada hari itu, di pintu masuk hutan, kerumunan telah terbentuk. Sekelompok remaja berdiri melingkar, wajah mereka menunjukkan campuran rasa ingin tahu, tegang, dan sedikit kecemasan. Usia mereka rata-rata belasan tahun—darah muda yang masih panas, hati yang belum sepenuhnya matang, namun telah terpapar kerasnya persaingan dunia kultivasi.

Di tengah lingkaran itu, beberapa sosok bertubuh kekar berdiri menghadang jalan. Sikap mereka arogan, kaki terentang seakan menancap di tanah, menutup akses sepenuhnya. Di hadapan mereka, berdiri seorang gadis kecil dengan pakaian berwarna lembut yang kini ternoda lumpur.

Gadis itu bernama Qing Tan.

Wajahnya bagaikan lukisan yang diukir oleh tangan dewa—alis melengkung indah, mata jernih bercahaya, kulit putih bak salju musim dingin. Meski usianya masih muda, pesonanya telah memancarkan aura yang membuat siapa pun terdiam sejenak. Saat ini, kedua matanya yang penuh kecerdasan dan semangat menatap tajam ke arah pemimpin kelompok penghadang.

Di tangan kecilnya yang sedikit kotor oleh tanah, ia menggenggam erat sebatang tanaman berwarna merah menyala. Tanaman itu memancarkan aroma samar yang hangat, seperti bara api yang tersembunyi dalam abu.

Itu adalah Rumput Matahari Merah.

“Lin Shan, jangan keterlaluan!” seru Qing Tan dengan suara jernih, namun mengandung bara kemarahan.

Remaja yang dipanggil Lin Shan itu berusia sekitar empat belas atau lima belas tahun. Wajahnya menyimpan senyum sinis, kedua lengannya terlipat di dada. Tatapannya menilai Qing Tan dengan kesombongan yang tidak disembunyikan.

“Heh, Rumput Matahari Merah itu sudah kami temukan kemarin. Kami hanya menunggu hari ini untuk mengambilnya. Kau yang mencuri milik kami, lalu berani mengatakan aku keterlaluan?” balasnya sambil tertawa kecil.

Qing Tan menggigit bibirnya. Pipinya memerah oleh amarah. “Kau berbohong! Aku yang bersusah payah menemukannya. Jika benar kau tahu sejak kemarin, mengapa kau tidak mengambilnya saat itu juga? Apakah kau sengaja menunggu orang lain memetiknya?”

Lin Shan tersenyum makin lebar. “Aku tidak berbohong. Qing Tan, serahkan Rumput Matahari Merah itu, dan aku akan membiarkanmu pergi.”

“Jangan harap!”

Gadis itu mengeratkan genggaman pada tanaman tersebut. Dalam hatinya, ia teringat sosok yang selama ini berlatih tanpa mengenal lelah—Lin Zhantian.

Beberapa bulan lagi, perbandingan kekuatan keluarga Lin akan digelar. Jika Lin Zhantian tidak menunjukkan peningkatan berarti, bukan hanya harga dirinya yang hancur, tetapi juga hati kedua orang tuanya akan kembali tercabik oleh bisikan dan ejekan. Qing Tan memahami hal itu lebih dari siapa pun.

Itulah sebabnya, selama beberapa hari terakhir, ia diam-diam datang ke hutan ini, mencari tanaman spiritual untuk membantu peningkatan kultivasi Lin Zhantian. Kini, setelah bersusah payah menemukan Rumput Matahari Merah, bagaimana mungkin ia menyerahkannya begitu saja?

“Kalau begitu,” ujar Lin Shan sambil menyeringai, “kau mungkin harus bermalam di sini hari ini. Tadi aku melihat Lin Changqiang berlari pergi. Mungkin ia memanggil Lin Zhantian? Bagus juga. Terakhir kali aku belum puas memukulinya.”

Ucapan itu membuat wajah Qing Tan berubah pucat. Ia tahu benar, setiap kali Lin Zhantian dan Lin Shan bertemu, perkelahian tak terhindarkan. Dan setiap kali pula, Lin Zhantian yang menderita kekalahan.

“Serahkan Rumput Matahari Merah itu padaku, dan aku tidak akan menyentuhnya. Bagaimana?” goda Lin Shan dengan penuh kemenangan.

Air mata berputar di pelupuk mata Qing Tan, tetapi ia menahannya dengan keras kepala. Setelah menarik napas dalam-dalam, ia melemparkan tanaman itu dengan gerakan penuh kemarahan.

“Ambil!”

Lin Shan tertawa puas dan melangkah maju untuk menangkapnya. Namun tepat ketika jarinya hampir menyentuh batang merah itu, sebuah sosok melesat dari kerumunan.

Tubuh itu menghantam Lin Shan dengan keras, membuatnya terguling dua kali di tanah sebelum akhirnya berhenti dalam keadaan kacau.

Kerumunan terdiam.

Di tengah debu yang belum sepenuhnya turun, berdirilah seorang remaja dengan tatapan dingin.

Lin Zhantian.

Lin Shan bangkit dengan wajah merah padam, kotor oleh tanah dan amarah. “Berani sekali kau, Lin Zhantian! Sepertinya pukulan terakhirku belum cukup membuatmu belajar!”

Qing Tan segera mengambil Rumput Matahari Merah yang terjatuh dan melemparkannya kembali ke arah Lin Shan. “Tanamannya sudah kau dapatkan! Apa lagi yang kau inginkan?”

“Aku mau tanamannya. Dan hari ini, aku juga mau menghajarnya,” jawab Lin Shan dingin.

Lin Zhantian tersenyum tipis, senyum yang mengandung ejekan. Ia menarik Qing Tan ke belakangnya, lalu melangkah maju.

“Tanamannya aku mau. Dan orangnya juga akan kupukul hari ini.”

Kerumunan gempar.

Lin Shan tertawa terbahak. “Apa otakmu rusak karena terlalu sering dipukul?”

Namun Lin Zhantian tidak menjawab dengan kata-kata. Ketika Lin Shan menyerbu dengan kepalan tangan penuh tenaga menuju dadanya, Lin Zhantian tidak menghindar. Ia mengangkat tangan dan menyambut pukulan itu secara langsung.

Benturan terdengar seperti batu menghantam batu.

Mata Lin Shan melebar.

Kulit Lin Zhantian… tidak lebih lunak darinya.

“Tingkat Keempat Tempering Tubuh?!” desisnya.

Setengah bulan lalu, Lin Zhantian masih berada di Tingkat Kedua. Kini ia telah melonjak dua tingkat? Tidak masuk akal!

Namun Lin Shan menggertakkan giginya. “Walau begitu, kau tetap bukan tandinganku!”

Ia menarik kembali tinjunya dan berteriak, “Tinju Batu Runtuh!”

Bayangan tinju berlapis-lapis menghujani udara, seperti batu-batu besar jatuh dari tebing tinggi. Angin dari serangan itu membuat pakaian para penonton berkibar.

Namun di mata Lin Zhantian, jurus itu penuh celah.

Ia mengaktifkan Tinju Penetrasi Punggung.

Suara letupan keras terdengar satu demi satu saat lengannya bergerak. Satu, dua, tiga…

“Empat letupan?!” seseorang berteriak kaget.

Pada letupan keempat, tinju Lin Zhantian menghantam kedua lengan Lin Shan.

Dentuman keras menggema.

Formasi Tinju Batu Runtuh hancur. Lin Shan terdorong mundur, langkahnya kacau, sebelum hampir terjatuh di hadapan semua orang.

Namun tepat saat tubuhnya akan menghantam tanah, sebuah tangan muncul dari belakang dan menahannya dengan ringan.

“Saudara!” seru Lin Shan dengan gembira.

Sosok yang berdiri di belakangnya memiliki aura lebih matang, tatapan tajam, dan tekanan yang jauh lebih berat daripada Lin Shan.

Kerumunan berubah pucat.

Kedatangan orang ini menandai bahwa konflik kecil antara generasi muda… telah berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya.

Angin di pintu hutan berdesir lebih dingin.

Langit seolah menahan napas.

Dan di tengah pusaran takdir yang mulai berputar, Lin Zhantian berdiri tegak—tidak lagi sebagai remaja yang selalu kalah, tetapi sebagai seseorang yang perlahan membuka jalannya menuju puncak kekuatan.

1
REY ASMODEUS
bagusss
REY ASMODEUS
aku suka permulaan untuk sebuah nama : DENDAM , tapi setelah itu ? apa tujuanmu wahai Lin zhatian?
anggita
ikut ng👍like aja👌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!