NovelToon NovelToon
SANDIWARAS: Satu Kursi Tersedia

SANDIWARAS: Satu Kursi Tersedia

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Angst / Romansa
Popularitas:250
Nilai: 5
Nama Author: Hayra Masandra

Kasyaira Lawana (Aira) adalah seorang gadis "Punggelan". Dalam mitos Jawa, dia adalah anak bungsu yang ditakdirkan menjadi saksi kematian seluruh anggota keluarganya. Hidup mandiri di rumah tua yang sunyi, Aira tumbuh menjadi sosok samudera: menampung segala duka, bersikap dingin untuk melindungi diri, dan percaya bahwa mencintai berarti membunuh. Dia yakin dirinya memiliki Ain—sebuah pandangan "hasad" tak sengaja yang sanggup mendahului takdir untuk melenyapkan apa pun yang dia sayangi.

"Namaku Lawana, Kara. Samudera itu luas, tapi dia selalu sendirian di titik terdalamnya. Jangan datang, atau kamu akan kedinginan." — Aira

"Aku Bagaskara, Aira. Tugasku adalah bersinar. Kalaupun aku harus tenggelam di samuderamu, setidaknya aku pernah membuat airmu terasa hangat." — Kara

"Tuhan tidak sedang menghukummu dengan kehilangan. Dia hanya sedang mengosongkan tanganmu, agar kamu punya ruang untuk menggenggam tangan-Nya." — Pesan Sang Kiai

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hayra Masandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Diagnosa Yang Tak Terbaca

Pagi itu, "orbit" sekolah terasa benar-benar miring bagi Aira. Gerbang sekolah yang biasanya riuh dengan deru motor sport hitam milik Kara, kini sunyi. Tidak ada siluet tegap yang berdiri di depan ruang OSIS, dan yang paling menyesakkan, kursi di samping Aira di laboratorium biologi tetap kosong meski bel sudah berbunyi lama.

Aira tidak bisa fokus. Setiap kali ada pengumuman lewat pelantang suara, jantungnya seolah ingin melompat keluar. Ia takut mendengar nama Kara disebut sebagai "berita duka".

"Kara nggak masuk, Syai. Katanya kena tifus parah, sampai harus dirawat di Rumah Sakit Medika," bisik Rini saat jam istirahat.

Dunia Aira seakan runtuh. Tifus? Ataukah itu hanya bahasa medis untuk menutupi sesuatu yang lebih mistis? Aira merogoh buku saku cokelat dari tasnya. Jemarinya gemetar di atas layar ponsel. Setelah berperang dengan rasa takut selama hampir dua jam, ia akhirnya memberanikan diri.

Ini adalah pertama kalinya Aira mengirim pesan duluan.

Aira: Kara... Rini bilang kamu di rumah sakit. Apa... apa ini karena aku? Maafkan aku.

Hanya butuh tiga menit sampai ponselnya bergetar.

Kara: Jangan mulai lagi, Lawana. Ini karena aku kebanyakan makan seblak level 10 pas rapat kemarin, bukan karena matamu. Dokter bilang aku butuh istirahat karena terlalu disiplin jadi manusia. Jangan nangis, ya. Datang ke sini kalau kamu nggak mau aku makin sakit karena rindu.

Aira menggigit bibirnya, menahan tangis sekaligus senyum tipis yang muncul secara ajaib. Tanpa pikir panjang, sepulang sekolah, ia langsung menuju Rumah Sakit Medika.

Kamar 304 tercium aroma disinfektan dan jeruk. Aira berdiri ragu di ambang pintu sebelum akhirnya masuk. Ia melihat Kara terbaring di ranjang dengan infus menancap di tangan kirinya. Matanya tertutup perban tipis sebelah, sementara mata satunya tampak sayu namun langsung berbinar saat melihat sosok Aira.

"Wah, samudera akhirnya datang ke daratan rumah sakit," sapa Kara, suaranya lemah tapi tetap berusaha jenaka.

Aira duduk di kursi samping ranjang, meletakkan sekantong buah apel di meja. "Berhenti bercanda, Kara. Kamu pucat sekali."

"Pucat itu keren, Aira. Kayak aktor film horor yang sering kamu takuti," Kara mencoba duduk bersandar. Aira refleks membantu mengganjal punggung Kara dengan bantal. Sentuhan itu singkat, tapi membuat jantung Aira berdebar tak karuan.

"Kamu beneran nggak apa-apa?" tanya Aira lirih, matanya menatap perban di mata Kara.

"Cuma iritasi ringan kata dokter. Efek kelelahan dan mungkin debu lab," bohong Kara demi menenangkan Aira, padahal ia tahu kondisinya lebih rumit. "Tapi hei, sisi baiknya, aku jadi punya alasan buat nggak ikut ujian Matematika besok."

Aira tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar sangat murni di telinga Kara. "Ketua OSIS yang disiplin ternyata senang bolos ujian juga?"

"Hanya kalau alasannya masuk akal," Kara meraih sebuah apel dari kantong yang dibawa Aira. "Kupas-in dong. Tangan asisten lab kan biasanya terampil."

Aira menurut. Ia mulai mengupas apel dengan telaten. Suasana di kamar itu mendadak menjadi sangat hangat dan ringan. Tidak ada perdebatan tentang mitos, tidak ada ketakutan akan kutukan. Hanya ada dua remaja yang sedang menikmati waktu yang dicuri dari kerasnya takdir.

"Aira," panggil Kara saat Aira menyodorkan potongan apel.

"Ya?"

"Terima kasih sudah datang. Dan terima kasih sudah mengirim pesan duluan. Itu lebih ampuh dari obat apa pun yang dikasih suster tadi."

Aira menunduk, wajahnya memerah. "Aku cuma... takut kamu beneran padam."

"Matahari nggak akan padam secepat itu, Lawana," Kara mengunyah apelnya dengan puas. "Apalagi kalau samuderanya secantik ini."

Sore itu, mereka berbincang tentang banyak hal ringan. Tentang guru biologi pengganti yang membosankan, tentang Rini yang hampir jatuh di kantin, hingga tentang kucing liar di sekolah yang sering diberi makan oleh Kara. Untuk beberapa jam, Aira lupa bahwa ia adalah "anak pembawa sial". Di mata Kara, ia hanyalah seorang gadis yang sedang menjenguk temannya.

Namun, saat Aira hendak pamit pulang, Kara memegang ujung jemari Aira.

"Besok datang lagi?" tanya Kara dengan nada kekanakan yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun.

Aira tersenyum, kali ini tanpa beban. "Iya. Aku akan bawakan buku saku itu. Kita selesaikan catatan inventaris yang tertunda di sana."

Aira keluar dari ruang perawatan dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Namun, di lorong rumah sakit, ia berpapasan dengan dokter yang baru saja memeriksa Kara. Sang dokter tampak berbicara serius dengan orang tua Kara di kejauhan, dan Aira sempat menangkap kata "...gangguan saraf optik yang belum diketahui penyebabnya."

Langkah Aira terhenti. Senyumnya perlahan pudar. Cahaya di kamar 304 tadi memang sangat terang, namun kegelapan di luar sana ternyata masih setia menanti di balik pintu.

***

Aira berdiri mematung di balik pilar lorong rumah sakit. Suara bising rumah sakit—kereta dorong pasien, langkah kaki suster, dan bunyi mesin monitor—seolah teredam oleh detak jantungnya sendiri yang kencang. Di kejauhan, ia melihat Ibu Kara, seorang wanita yang tampak anggun namun kini wajahnya penuh guratan cemas, sedang mendengarkan penjelasan dokter.

"Kami sudah melakukan CT Scan dan tes darah menyeluruh," suara dokter itu terdengar samar namun jelas bagi Aira yang menajamkan pendengaran. "Secara fisik, saraf optiknya tampak sehat. Tapi ada tekanan yang tidak terdeteksi secara klinis yang membuat penglihatannya menurun drastis. Ini aneh, Bu. Seolah-olah tubuhnya menolak untuk melihat."

Tangan Aira yang memegang tas sekolah gemetar hebat. Tubuhnya menolak untuk melihat.

Bukankah itu yang ia takutkan selama ini? Bahwa kehadirannya akan membutakan sang Matahari? Bahwa cahaya Kara akan diserap habis oleh kegelapan samudera miliknya?

Aira ingin lari kembali ke kamar 304, menarik Kara keluar, dan menyuruhnya menjauh darinya selamanya. Namun, ia teringat janji Kara semalam. Janji matahari yang tidak akan tenggelam.

"Aku harus kuat," bisik Aira pada dirinya sendiri. "Kalau Kara berjuang untuk tidak padam, aku harus belajar untuk tidak menelan cahayanya."

Keesokan harinya, Aira datang lagi. Kali ini ia tidak membawa wajah mendung. Ia sengaja memakai jepit rambut kecil pemberian Mbok Darmi—satu-satunya benda "berwarna" yang ia punya. Ia masuk ke kamar Kara dengan senyum yang ia latih di depan cermin selama satu jam.

"Wah, asisten lab datang lagi!" seru Kara. Kali ini ia tidak lagi memakai perban, tapi kacamata hitam yang membuatnya tampak seperti agen rahasia.

"Kenapa pakai kacamata hitam di dalam ruangan?" tanya Aira sambil meletakkan buku saku cokelat di meja.

"Biar keren, Aira. Lagipula, cahaya lampu rumah sakit ini terlalu silau buat mataku yang berharga ini," Kara bercanda, namun Aira tahu itu untuk menutupi fakta bahwa matanya kini sangat sensitif terhadap cahaya.

Aira duduk dan mulai membacakan catatan-catatan kecil dari sekolah. Ia menceritakan bagaimana kelas menjadi sangat membosankan tanpa interupsi pertanyaan-pertanyaan kritis dari Ketua OSIS. Kara mendengarkan dengan saksama, sesekali ia tertawa dan mengoreksi beberapa hal.

"Aira," panggil Kara di tengah bincang-bincang mereka.

"Ya?"

"Bisa tolong bacakan sesuatu dari buku saku itu? Bukan soal lab. Tapi apa yang kamu tulis di halaman-halaman terakhir semalam."

Aira tertegun. Ia memang sempat menulis sesuatu saat ia tidak bisa tidur karena memikirkan kondisi Kara. Ia membuka halaman itu dengan ragu.

"Bacakan, Lawana. Aku ingin dengar suara samudera hari ini," pinta Kara lembut.

Aira menarik napas panjang, lalu mulai membaca dengan suara rendah yang bergetar:

"Matahari bilang dia tidak akan tenggelam. Dia bilang dia hanya bersembunyi untuk terbit kembali. Aku mulai percaya. Tapi, Matahari... jika cahayamu mulai habis karena menyinariku, berjanjilah untuk tidak memaksakan diri. Karena samudera ini bisa belajar untuk mencintai kegelapannya sendiri, asal kamu tetap utuh di langit sana."

Hening sejenak. Kara terdiam di balik kacamata hitamnya. Ia bisa merasakan ketulusan dan ketakutan Aira yang bercampur menjadi satu dalam tulisan itu.

"Janji ditolak," ujar Kara tiba-tiba, suaranya mantap.

Aira mendongak bingung. "Maksudnya?"

"Aku nggak akan membiarkan kamu mencintai kegelapan sendirian lagi, Aira. Kalau cahayaku habis, kita akan cari bintang-bintang lain bersama. Tapi aku nggak akan membiarkanmu sendirian lagi di palung itu."

Kara mengulurkan tangannya, mencari-cari posisi tangan Aira di meja. Aira dengan lembut menyambutnya, membiarkan jemari Kara menggenggam jemarinya. Genggaman itu tidak lagi terasa panas karena demam, tapi terasa hangat oleh keyakinan.

"Jangan dengerin dokter atau orang lain yang bilang aku 'sakit', Aira. Aku cuma lagi transisi. Matahari juga butuh waktu buat ganti warna pas senja, kan?"

Aira tersenyum, kali ini matanya ikut tersenyum. "Iya, Kara. Aku percaya."

Di luar jendela kamar rumah sakit, burung gereja yang sempat Aira lihat mati di teras rumahnya seolah terlupakan. Di dalam ruangan itu, ada sesuatu yang lebih kuat dari mitos dan diagnosa medis yang sedang tumbuh—sebuah harapan yang pelan-pelan mulai berani menantang takdir.

1
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!