NovelToon NovelToon
Satu Rasa Yang Tak Pergi

Satu Rasa Yang Tak Pergi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Anak Yatim Piatu
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ms.Una

Seri ke-satu

Clara Ayudita tak pernah menyangka bahwa perpisahan tiba-tiba akan menjadi awal dari kehilangan terbesar dalam hidupnya. Noel Baskara laki-laki yang selama ini menjadi rumah, sandaran, dan tempat segala rencana masa depan bermuara tiba-tiba menghilang tanpa penjelasan.

Satu pesan singkat dan senyum palsu di hari perpisahan menjadi kenangan terakhir yang ia punya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ms.Una, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kembali bangkit

“Tidak, Clara… sudah bisa bertahan sejauh ini saja kau sudah menjadi orang yang hebat,” ucap Natan pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh debur ombak yang menghantam batu-batu pemecah gelombang.

“Cukup bertahan lebih lama lagi… dan aku yakin kalau semua ini akan berakhir,” lanjutnya, lebih lembut, seolah takut kalimatnya sendiri melukai sesuatu yang sudah retak di dalam diri Clara.

Clara masih terisak di pelukan Natan. Tangisnya tidak lagi sekadar air mata, tetapi seperti tubuh yang kelelahan memikul beban bertahun-tahun. Bahunya naik turun, napasnya tersengal, jemarinya mencengkeram ujung jas Natan seperti orang yang hampir tenggelam dan akhirnya menemukan sesuatu untuk berpegangan.

Natan mengusap lembut surai hitam Clara yang berantakan tertiup angin malam. Tangannya hangat, sabar, tidak menuntut apa pun.

“Menangis saja sampai kamu bosan,” bisiknya lagi. “Aku akan di sini menemanimu.”

Clara memejamkan mata. Kata-kata itu sederhana, tapi entah mengapa justru membuat dadanya semakin nyeri. Karena dulu, kalimat seperti itu pernah ia dengar dari orang yang kini bahkan tak sanggup menatapnya.

Ia terisak lagi.

“Aku capek, Kak…” suaranya parau. “Capek pura-pura kuat… capek bilang aku baik-baik saja… padahal tiap lihat dia rasanya seperti ditinggalkan lagi untuk kedua kalinya…”

Tubuhnya gemetar, bukan karena dingin, tetapi karena luka yang tak pernah benar-benar sembuh.

“Aku sudah berusaha move on… aku sudah berusaha sibuk… aku sudah berusaha jadi orang yang baru…” suaranya patah. “Tapi kenapa satu tatapan dia saja bisa bikin semuanya runtuh…”

Natan tidak menjawab. Ia hanya mempererat pelukannya sedikit, memberi ruang bagi Clara untuk hancur tanpa dihakimi.

Di bawah langit malam yang gelap, Clara akhirnya membiarkan dirinya rapuh sepenuhnya. Tidak ada senyum kosong, tidak ada pura-pura tegar, tidak ada kalimat “aku baik-baik saja.” Hanya seorang perempuan yang terluka karena cinta pertamanya berubah menjadi orang asing tanpa penjelasan.

Ia membiarkan ombak menyaksikan, membiarkan angin membawa suaranya, membiarkan rasa sakit itu keluar perlahan meski ia tahu, besok ia tetap harus bangkit lagi dan berjalan seperti biasa.

Tapi malam ini, ia memilih untuk tidak kuat.

Setelah beberapa menit Clara mengeluarkan air matanya, kini tangisannya mulai sedikit reda, ia perlahan melepaskan pelukan Natan dan baru menyadari jas serta kemeja pria itu basah oleh air matanya.

“Maaf… sudah membuat baju kakak basah,” ucap Clara sambil tergugu, suaranya masih bergetar.

Natan ikut melepaskan pelukannya, mendadak merasa canggung karena tadi ia memeluk Clara tanpa banyak berpikir. Ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Harusnya aku yang minta maaf karena sudah bersikap kurang ajar.”

Clara menggeleng pelan, wajahnya masih basah, mata sembab dan bengkak tak bisa ia sembunyikan.

“Mungkin yang aku butuhkan itu sebuah pelukan, Kak… karena setelah orangtuaku meninggal hanya Noel yang pernah memelukku, menenangkanku ketika aku sangat rindu dengan mereka. Dan sekarang tidak ada yang memelukku lagi. Mungkin karena itu emosiku tak mampu keluar dengan baik.” Ia menelan ludah, menahan sisa tangis yang masih menggantung di tenggorokannya.

“Terima kasih sudah mau mendengarkanku, Kak.”

Natan tersenyum tulus, “Apa sekarang sudah lebih nyaman?”

Clara mengangguk pelan lalu menghela napas panjang, menatap laut yang gelap dengan garis ombak putih samar diterpa cahaya bulan. Angin segar menyapu wajahnya, mengeringkan sisa air mata di pipinya.

“Sedikit… tapi aku akan terus berusaha menjadi versi Clara yang lebih baik.” Ia menoleh ke arah Natan.

“Jalanku masih panjang, kan Kak?”

“Iya,” jawab Natan mantap.

“Dan aku akan menemanimu untuk menggapai mimpimu.”

Clara tersenyum tipis, lalu menunduk melihat kakinya yang kotor oleh pasir putih.

“Tolong jangan berjanji apa pun padaku, Kak.”

Natan terdiam sesaat, lalu berkata pelan.

“Aku tidak memaksamu untuk percaya… tapi aku akan menyelesaikan janji yang aku buat.”

Tak lama setelah itu, mereka kembali ke mobil. Waktu menunjukkan pukul delapan malam ketika mobil Natan meninggalkan bibir pantai.

“Kamu benar-benar nggak mau makan?” tanya Natan sambil fokus menyetir.

“Enggak, Kak. Aku kenyang. Mungkin kembung gara-gara angin laut,” jawab Clara mencoba bercanda.

Natan tersenyum kecil melihat Clara yang sudah jauh lebih tenang dibanding satu jam lalu.

“Maaf ya, Clar… kalau bukan karena aku yang memberitahumu tentang kompetisi itu, kamu nggak akan mengalami hal seperti ini.”

Clara menggeleng pelan.

“Kak Natan, aku malah berterima kasih. Kalau bukan karena Kak Natan, apa mungkin aku akan bertemu Bu Raisa?” Ia menatap ke depan, lampu-lampu jalan berpendar di kaca mobil.

“Semenjak SMA, salah satu keinginanku adalah menjadi penulis di Aksara Langit.”

Ia terdiam beberapa detik sebelum melanjutkan dengan suara lebih pelan.

“Soal Noel… mau bagaimana pun aku mengelak, takdir pasti akan menemukan kami. Entah saat dia menikah, atau saat dia membawa anaknya jalan-jalan.”

Kalimat itu terdengar tenang, tapi ada getar tipis yang hanya bisa ditangkap oleh orang yang benar-benar memperhatikan.

Kini pikiran Clara terasa lebih terbuka, meski hatinya masih perih. Setidaknya ia tak perlu lagi menunggu dan mengharapkan laki-laki itu seperti tahun-tahun sebelumnya. Ia mulai memahami bahwa kepergian Noel bukan sekadar pengkhianatan, melainkan pilihan hidup yang tak lagi melibatkan dirinya. Bahwa mungkin Noel sudah memiliki seseorang yang ia dambakan, dan Clara tak lagi termasuk di dalamnya.

Ia menerima itu pelan-pelan dan tertatih, seperti berjalan di atas pecahan kaca.

Malam itu, di dalam mobil yang melaju perlahan menembus jalanan kota Jakarta, Clara tidak lagi berharap Noel akan kembali. Ia tidak lagi menunggu pesan, tidak lagi membayangkan penjelasan. Yang tersisa hanya kenangan dan rasa sakit yang perlahan ia peluk sebagai bagian dari hidupnya.

Dan untuk pertama kalinya, Clara mencoba benar-benar mengikhlaskan kepergian Noel dari hidupnya.

1
falea sezi
bkin Clara g menye Thor bikin dia move on dan bahagiain diri sendiri jual. rmh tinggal. tempat lain biar bebas dr. keluarga toxic
falea sezi
lupain Noel. Clara laki. yg bisanya manut bapak nya itu g bs mandiri
falea sezi
move on Clara qm. berhak bahagia dengan nathan lupain. masa. lalu
falea sezi
pasti Noel cwok lemah plin plan g cocok ma Clara moga aja nathan bisa bkin Clara. move on lahh males liat Clara gini kesannya kayak menye menye
Una.: tenang ya kak clara orang yang kuat, terimakasih sudah baca 🤗
total 1 replies
falea sezi
move on Clara siapa tau Noel mu ngilang karena di jodohkan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!