NovelToon NovelToon
Pura-Pura Jadi Supir

Pura-Pura Jadi Supir

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Konglomerat berpura-pura miskin / Menyembunyikan Identitas / Perjodohan
Popularitas:9.4k
Nilai: 5
Nama Author: SunRise510k

Di usianya yang ke-33, Raditya Mahardika harus menerima perjodohan konyol dengan Bianca Adyatama, gadis 20 tahun yang masih kuliah dan merupakan putri rekan bisnis keluarganya. Ragu dan curiga, Raditya punya rencana gila: menyamar menjadi supir di rumah keluarga Adyatama.
Sebagai 'Rio', supir barunya, Radit menyaksikan realitas yang mengejutkan. Bianca bukan hanya manja, tapi juga arogan dan suka merendahkan orang.
Namun, di tengah kekecewaannya, mata Radit justru tertuju pada sosok lain: Kirana Adyatama. Kakak Bianca yang berusia 27 tahun. Di mata keluarganya, Kirana hanyalah barista kafe, bahkan sering diperlakukan seperti pelayan. Tapi, di balik seragam kafe dan senyum hangatnya, Kirana menyimpan rahasia besar.
Mana yang akan dipilih Radit? Calon istri yang dijodohkan, atau kakak yang menyimpan mutiara tersembunyi? Bagaimana jika rahasia penyamarannya terbongkar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Mobil antik Mercedes-Benz Fintail itu kembali membelah jalanan Surabaya yang mulai merambat padat. Sisa-sisa aroma bumbu pecel masih tertinggal tipis di dalam kabin, namun pikiran Raditya Mahardika sudah melayang jauh mendahului laju kendaraan. Di balik kacamata bening yang dipakainya sebagai atribut penyamaran, matanya sesekali melirik Kirana Adytama yang duduk tenang di sampingnya. Wanita itu tampak sibuk memeriksa sebuah daftar di ponselnya, raut wajahnya sangat fokus namun tetap memancarkan kelembutan.

Setelah menempuh perjalanan sekitar dua puluh menit menuju pinggiran kota yang lebih asri, mereka tiba di sebuah gerbang kayu besar yang nampak kokoh namun ramah. Panti Lansia Kasih Mulia. Itulah tempat yang dikelola oleh Pak Zaenal, sosok yang sudah lama bekerja sama dengan Kirana dalam misi kemanusiaan yang tersembunyi ini.

Begitu mobil berhenti, seorang pria paruh baya dengan kemeja safari rapi menyambut mereka dengan senyum lebar. Pak Zaenal nampak sangat menghormati Kirana, bukan karena hartanya, melainkan karena konsistensi wanita itu selama bertahun-tahun.

"Neng Kirana, alhamdulillah sampai juga. Para orang tua di dalam sudah menanyakan sejak tadi," sapa Pak Zaenal hangat.

Kirana turun dengan gerakan anggun namun cekatan. "Maaf agak terlambat, Pak Zaenal. Tadi kami mampir ke panti asuhan dulu. Oh ya, perkenalkan, ini Mas Rio, yang membantu saya hari ini."

Raditya turun dan langsung mengulurkan tangan. "Rio, Pak."

Pak Zaenal menyambut jabat tangan itu dengan erat. "Mas Rio, postur Anda gagah sekali untuk seorang supir. Terima kasih sudah membantu Neng Kirana mengangkut kebutuhan para lansia."

Raditya hanya tersenyum tipis, mencoba tetap berada dalam karakternya. Mereka bertiga, dibantu oleh beberapa relawan perawat, mulai memindahkan barang-barang dari mobil pick-up yang mengikuti mereka. Berdus-dus suplemen kesehatan, susu khusus lansia, hingga paket pakaian hangat diturunkan dengan rapi.

Saat memasuki area utama panti, suasana tenang dan damai langsung menyergap. Langit-langit bangunan yang tinggi dan taman di tengah area memberikan sirkulasi udara yang sejuk. Di sana, puluhan lansia sedang beraktivitas; ada yang berjemur, ada yang berbincang, dan ada yang sekadar duduk melamun menatap taman.

Raditya tertegun saat melihat Kirana langsung menghampiri seorang nenek yang duduk di kursi roda dekat jendela besar. Nenek itu nampak sangat lemah, wajahnya pucat karena sedang sakit. Tanpa ragu, Kirana mengambil semangkuk bubur hangat dari meja kecil di sampingnya.

Wanita itu berlutut di lantai agar sejajar dengan sang nenek. Kirana meniup perlahan sesendok bubur, memastikan suhunya pas sebelum menyuapkannya dengan sangat sabar.

"Nenek Sumi, ayo makan sedikit ya biar tenaganya pulih. Kirana bawakan sari kurma juga hari ini," ucap Kirana dengan nada bicara yang begitu lembut, hampir seperti bisikan seorang ibu kepada anaknya.

Raditya yang berdiri tidak jauh dari sana mendadak merasakan sesak di dadanya. Pemandangan itu menghantam memorinya dengan keras. Ingatannya melesat kembali ke belasan tahun silam, saat almarhumah neneknya masih hidup. Raditya ingat bagaimana neneknya selalu memanjakannya di tengah kerasnya didikan Papi dan Mami sebagai pewaris tunggal. Ia ingat momen-momen terakhir sebelum neneknya pergi, saat ia sendiri yang menyuapi neneknya di rumah sakit.

Melihat Kirana merawat orang asing dengan ketulusan yang sama, Raditya menyadari satu hal: Kirana bukan sedang berakting. Tidak ada kamera, tidak ada media, dan tidak ada anggota keluarga Adytama yang melihat. Kirana melakukannya murni karena panggilan hati.

"Mas Rio, kok melamun?"

Suara serak seorang pria tua membuyarkan lamunan Raditya. Di sampingnya, seorang kakek berusia sekitar 70 tahun bernama Kakek Jati sudah duduk di bangku kayu panjang sambil memperhatikannya.

"Eh, maaf Kek," ujar Raditya sambil ikut duduk di samping kakek tersebut.

Kakek Jati terkekeh kecil, matanya menatap ke arah Kirana yang masih sibuk menyuapi Nenek Sumi.

"Neng Kirana itu malaikat tanpa sayap, Mas Rio. Jarang ada anak muda, apalagi cantik dan kelihatan orang berada, mau meluangkan waktu menyuapi orang tua yang bahkan bukan keluarganya sendiri. Dia dermawan, tidak sombong."

Raditya mengangguk pelan. "Iya, Kek. Mbak Kirana memang... berbeda."

Kakek Jati menepuk pundak Raditya dengan tangan yang sudah keriput namun terasa hangat.

"Mas Rio juga cocok sekali mendampingi Neng Kirana. Mas ini ganteng, kelihatan orang baik-baik, tatapan matanya tegas tapi teduh. Kalian berdua itu serasi kalau berdiri berdampingan. Mas Rio supirnya, ya?"

Raditya sedikit tersentak mendengar kata 'serasi'. "Saya baru mulai bekerja, Kek."

"Hahaha, tidak apa-apa. Jodoh itu tidak melihat status, Mas. Yang penting hati. Saya doakan ya, semoga Mas Rio bisa terus menjaga Neng Kirana. Wanita seperti dia harus dijaga baik-baik oleh laki-laki yang punya hati besar juga. Amin ya, Mas?" Kakek Jati menatap Raditya penuh harap.

Mendengar doa yang begitu tulus dari seorang kakek yang asing baginya, Raditya tidak sanggup untuk tidak tersenyum. Sesuatu yang hangat mengalir di hatinya—perasaan yang tidak pernah ia dapatkan saat dijodohkan dengan Bianca yang manja dan hanya memikirkan kemewahan.

"Amin, Kek. Terima kasih doanya," jawab Raditya mantap. Ia tidak peduli jika doa itu untuk Rio si supir, karena pada akhirnya, ia tetaplah pria yang sama di balik penyamaran itu.

Tak lama kemudian, Kirana mendekat ke arah mereka setelah menyelesaikan tugasnya. Wajahnya nampak sedikit berkeringat, namun matanya berbinar bahagia. Beberapa helai rambutnya yang ikatannya mulai longgar jatuh di sisi wajahnya, memberikan kesan cantik yang alami dan tidak dibuat-buat.

"Kakek Jati, jangan goda Mas Rio terus ya, nanti dia takut dan tidak mau mengantar saya lagi," canda Kirana sambil tertawa kecil.

"Lho, Kakek tidak menggoda, Neng. Kakek cuma bicara fakta," balas Kakek Jati sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Raditya.

Raditya bangkit berdiri, ia merasa sangat terhormat berada di lingkaran kehidupan Kirana yang seperti ini.

"Mbak Kirana, apa sudah selesai? Atau ada yang perlu saya bantu lagi?"

Kirana melihat jam tangannya. "Sudah cukup untuk hari ini, Mas Rio. Kasihan Pak Zaenal dan para perawat kalau kita terlalu lama di sini, mereka harus lanjut merawat yang lain. Kita harus segera ke kafe, ada beberapa stok kopi yang harus saya cek."

Sebelum berpamitan, Kirana sempat menyelipkan sebuah amplop cokelat ke tangan Pak Zaenal secara diam-diam—meskipun mata tajam Raditya tetap bisa menangkap gerakan itu. Raditya menduga itu adalah dana tambahan untuk perawatan Nenek Sumi yang sedang sakit.

"Mas Rio," panggil Kirana saat mereka berjalan menuju mobil.

"Ya, Mbak?"

"Terima kasih sekali lagi ya. Hari ini Mas Rio banyak membantu. Saya tahu ini mungkin bukan pekerjaan supir yang Mas Rio bayangkan," Kirana menatapnya dengan rasa tidak enak hati.

Raditya membuka pintu mobil untuk Kirana. Sebelum wanita itu masuk, Raditya menatap matanya dalam-dalam—tatapan misterius yang membuat Kirana sempat terpaku sejenak.

"Justru ini hari kerja terbaik saya selama 33 tahun hidup, Mbak Kirana. Saya tidak menyangka bisa melihat Surabaya dari sisi yang sehangat ini," ujar Raditya tulus.

Kirana tersenyum tipis, pipinya sedikit bersemu merah mendengar ucapan Rio. Ia masuk ke dalam mobil dengan perasaan yang campur aduk. Siapa sebenarnya Rio ini? Bicaranya tertata, pembawaannya tenang, dan ia tidak nampak terbebani dengan semua kegiatan sosial yang melelahkan ini.

Saat Mercedes-Benz tua itu mulai meninggalkan panti lansia, Raditya kembali mengemudi menembus jalanan Surabaya. Namun kali ini, ia tidak lagi merasa seperti seorang CEO yang sedang terpaksa menyamar. Ia merasa seperti seorang pria yang baru saja menemukan kepingan puzzle yang hilang dari hidupnya.

Pikiran Raditya mulai menyusun rencana. Ia tidak bisa hanya diam. Melalui ponsel pintarnya yang ia sembunyikan di saku kargo, ia mengirimkan pesan suara singkat kepada asisten pribadinya.

"Bram, hubungi Pak Zaenal dari Panti Kasih Mulia. Atas nama yayasan Mahardika Peduli, berikan bantuan renovasi untuk area taman dan kamar perawatan mereka. Pastikan mereka mendapatkan fasilitas medis terbaik. Lakukan dalam diam, jangan ada media."

Raditya menoleh sekilas ke arah Kirana yang kini mulai memejamkan mata sejenak karena kelelahan. Di bawah sinar matahari pagi yang menerobos kaca mobil, Kirana nampak begitu tenang. Raditya bersumpah dalam hati, ia akan melindungi rahasia wanita ini, sebagaimana ia melindungi rahasianya sendiri.

***

1
Ma Em
Raditya sdh terpikat dgn pesona Kirana , Raditya lbh baik sudahi penyamaran mu dan terus terang saja bahwa kamu sdh menyukai Kirana .
shabiru Al
masa gak nyadar sama perasaan nya sendiri,, raditya sudah jatuh cinta sama kirana
Nda
novelmu luar biasa thor
merry
Kirana cinta mu dit 😄😄😄 mky kmu melakukan hal. plg gila yg blm kmu lakukan,, klien triliunann kmu abaikn demi Kirana
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
🤗
Desi Santiani
double up thor seruuu bgttt
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up trs
shabiru Al
nah lho kayaknya kirana bakalan tau siapa rio sebenarnya
Reni Anjarwani
lanjut thor
Reni Anjarwani
bagus bgt ceritanya , doubel up thor
shabiru Al
waaahhh pertemuan apa ya,, sama siapa ya,, bianca kah ? atau kirana ?
shabiru Al
benar2 tipe perempuan yang merepotkan bianca itu
shabiru Al
jangan lama2 dong nyamar nya,, dah tau kan gimana bianca dan kirana spt apa
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
✦͙͙͙*͙*ᴍs.ʀ͠ᴇɴᴀ✨: up setiap jam 8 pagi, kak 😊
total 1 replies
shabiru Al
cocok banget visualnya
shabiru Al
udah mulai condong ke kirana nih
shabiru Al
buseeett holang kaya mah bebas ya...🤭
Ma Em
Semoga yg pertama Rio adalah Raditya bkn Bianca tapi Kirana , Bianca biar dia kerja magang di perusahaan nya Raditya tanpa tau Raditya adalah Rio agar Bianca TDK cari perhatian pada Rio .
merry
tu kn gk adil msk ank dr istri pertama yg kaya tdr dikmr biasa sdgkn ank dr bini kedua hdp penuh kemewahan,,, Bpk haris jg knp diem ajj si
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!