NovelToon NovelToon
Di Balik Darah Yang Kucinta

Di Balik Darah Yang Kucinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Sci-Fi
Popularitas:840
Nilai: 5
Nama Author: Phida Lee

Axel Bahng adalah dokter jenius yang percaya bahwa semua racun memiliki penawar — hingga satu kesalahan kecil mengubah cinta dalam hidupnya menjadi mimpi buruk yang tak bisa disembuhkan.

Tunangan yang paling ia cintai, Lusy Kim, tanpa sengaja meminum racikan eksperimen ilegal buatannya. Sejak hari itu, tubuh Lusy tak lagi mengenali rasa lapar seperti manusia. Saat kelaparan menyerang, kesadarannya hilang, digantikan naluri brutal yang hanya bisa diredakan oleh darah.

Demi melindungi Lusy dari dunia — dan dunia dari Lusy — Axel menyekapnya dalam ruang rahasia di bawah rumahnya, mempertaruhkan karier, moral, dan kewarasannya sendiri. Ia mencuri darah dari rumah sakit, membohongi keluarga, dan melawan hukum, yakin bahwa cinta dan sains akan menemukan jalan keluar.

Namun seiring waktu, kebohongan runtuh satu per satu. Ketika kebenaran akhirnya terungkap, tak ada lagi yang bisa diselamatkan — bukan reputasi, bukan keluarga, bukan bahkan cinta itu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phida Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Udara di ruang tamu keluarga Bahng terasa lebih ringan dari biasanya, seolah lapisan tebal yang selama ini menekan dada semua orang telah sedikit terangkat. Dua koper besar berwarna perak berdiri tegak di sudut ruangan. Koper itu adalah simbol keberangkatan yang akan memberi jeda sementara, sekaligus penangguhan hukuman mati yang selama ini membayangi kepala Axel dengan bayangan yang tak terhindarkan.

Tuan Kim menjabat tangan Tuan Bahng dengan erat, jari-jari yang kuat menyatu seperti dua struktur baja yang saling mengunci. Kedua pria itu saling menatap dengan pandangan penuh dengan rasa hormat dan pemahaman yang sudah terbentuk selama bertahun-tahun. Setelah itu, Tuan Kim beralih menatap Axel yang berdiri di sisi meja, pakaian jasnya rapi namun wajahnya tampak sedikit pucat di bawah sinar matahari.

Tatapannya tidak lagi setajam tempo hari ketika mereka masih berdebat tentang proyek riset Lusy—melainkan melunak oleh guratan kelelahan yang jelas terlihat dan kepercayaan yang tulus dari seorang ayah kepada calon menantunya. Hal itu justru membuat ulu hati Axel berdenyut dengan rasa nyeri yang menusuk, karena ia tahu bahwa kebohongan yang telah ia bangun selama ini telah menjadi struktur yang begitu raksasa hingga ia sendiri merasa kerdil dan tidak berharga di bawah bayang-bayangnya.

"Kami harus berangkat sore ini, Axel. Urusan penutupan bisnis cabang di Sydney ternyata lebih rumit dari dugaan pengacaraku. Ada beberapa masalah dengan hak milik tanah dan perjanjian kerja yang harus kita selesaikan secara langsung. Kami tidak bisa membiarkan aset-aset keluarga itu terbengkalai jika benar-benar ingin menetap di sini selamanya dan melihat Lusy membangun keluarga baru."

Nyonya Kim mendekat dengan langkah lembut, memegang lengan Axel dengan jemari yang gemetar sedikit meskipun ia berusaha tampak tenang. Wajahnya yang sudah mulai menunjukkan bekas usia tetap cantik dengan riasan yang sederhana, namun mata nya penuh dengan rasa khawatir dan rasa cinta yang mendalam kepada putrinya.

"Tolong, Axel... jaga Lusy dengan baik ya. Aku tahu dia sangat sibuk dengan risetnya di tempat terpencil itu, selalu melupakan waktu makan dan istirahat karena terlalu fokus pada pekerjaannya. Pastikan dia makan dengan benar setiap hari, ya? Katakan padanya bahwa Ibunya sangat merindukannya dan tidak bisa sabar untuk bertemu dengannya lagi. Kami hanya akan pergi dua atau tiga minggu saja, tidak lebih lama dari itu."

"Tentu, Ma." Suara Axel keluar dengan nada yang dibuat baik-baik saja. Ia memberikan senyum lembut, meskipun rasanya seperti wajahnya sedang diregangkan oleh sesuatu yang keras dan tidak nyaman. "Kalian tidak perlu khawatir tentang apa-apa. Lusy berada di tangan yang paling aman. Aku akan memastikan dia mendapatkan perawatan terbaik yang bisa aku berikan dan tidak akan membiarkan apa-apa menyakitinya."

𝘒𝘦𝘣𝘰𝘩𝘰𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘦-1001.

Batin Axel menjerit, merasa seperti ada duri yang menusuk perutnya setiap kali ia mengucapkan kata-kata yang tidak benar. Di balik wajahnya yang terlihat tenang, ia bisa merasakan keringat dingin merembes perlahan di punggungnya, menembus kain jasnya dan membuat kulitnya merasa gatal dan tidak nyaman.

"Kami menitipkannya sepenuhnya padamu, Axel." Tuan Kim menepuk bahu Axel dua kali dengan tangan yang kuat. "Saat kami kembali nanti, tidak akan ada lagi alasan untuk menangguhkan proyek risetnya atau gangguan sinyal yang membuat kami sulit menghubunginya. Kita akan langsung meresmikan tanggal pernikahan kalian di depan keluarga dan teman-teman dekat. Aku ingin melihat putriku berjalan di atas altar sebelum musim dingin ini berakhir dan salju mulai mencair total."

Mendengar kata 'pernikahan' keluar dari mulut Tuan Kim, Axel merasa seolah-olah seluruh oksigen di ruangan itu tiba-tiba lenyap tanpa jejak.

Pernikahan. Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi? Bagaimana mungkin seorang monster yang saat ini meringkuk dalam kesusahan di ruang isolasi bawah tanah bisa berjalan dengan anggun di atas altar yang penuh dengan bunga dan lilin? Bagaimana ia bisa memakaikan cincin kawin pada jemari yang kini telah berubah bentuk, memiliki kuku-kuku hitam tajam yang selalu haus akan darah dan siap menusuk setiap makhluk hidup yang mendekatinya?

"Tentu, Pa. Aku juga sangat menantikannya." Jawab Axel dengan suara yang sangat pelan, menelan ludah yang tiba-tiba terasa sepahit empedu di tenggorokannya. Ia harus menggunakan seluruh kekuatannya untuk menjaga ekspresi wajahnya agar tetap tenang dan tidak menunjukkan sedikit pun kekacauan yang sedang terjadi di dalam pikirannya.

Setelah serangkaian perpisahan yang sentimental, mobil hitam keluarga Kim akhirnya meluncur perlahan dari halaman kediaman Bahng, membelah lapisan salju yang mulai mencair dan meninggalkan jejak ban yang jelas di permukaan tanah. Axel berdiri di ambang pintu dengan tangan yang menggenggam palang pintu dengan kuat, menatap jejak ban mobil itu hingga akhirnya menghilang di tikungan jalan yang jauh di kejauhan. Di sampingnya, Doni menghela napas panjang, seperti bunyi ban yang kempis setelah melepaskan udara yang terkumpul di dalamnya selama lama.

"Mereka sudah pergi, Axel. Kita punya waktu dua minggu. Dua minggu tanpa harus menjawab pertanyaan yang tidak ada habisnya atau interogasi dari mereka tentang kondisi Lusy. Kita bisa bekerja dengan lebih leluasa sekarang."

Namun, Axel tidak merasa lega seperti ayahnya. Ia justru merasa seperti seorang narapidana yang baru saja mendapatkan penangguhan eksekusi, hanya untuk menyadari bahwa tiang gantungan yang akan menimpanya sedang diperkuat dengan bahan yang lebih kokoh dan tidak bisa dihancurkan. Setiap detik yang berlalu bukanlah waktu yang bisa dinikmati—melainkan hitungan mundur yang semakin dekat dengan akhir yang mengerikan. Ia berbalik tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada ayahnya, langkahnya cepat berjalan menuju arah ruang tamu belakang yang menyembunyikan pintu masuk ke lemari rahasia yang mengarah ke laboratorium bawah tanah.

Di bawah tanah, hawa dingin yang menusuk tulang menyambutnya dengan erat, menyertai bau khas larutan kimia dan alkohol yang selalu ada di ruangan itu. Lampu neon berwarna hijau muda menerangi lorong yang sempit, menciptakan bayangan yang bergoyang-goyang di dinding beton saat Axel melangkah lebih jauh ke dalam.

Ana sedang sibuk menyeka permukaan kaca isolasi yang telah kusam karena uap napas Lusy yang keluar setiap saat, menggunakan kain lembut yang dibasahi dengan larutan pembersih khusus agar tidak meninggalkan bekas noda. Ia menoleh ketika mendengar suara langkah kaki Axel, memberikan senyum yang lemah namun penuh dengan pengertian.

Axel berdiri di sisi kaca, menatap tunangannya yang terbaring di atas brankar khusus dengan ekspresi wajah yang penuh dengan kesedihan dan tekad yang semakin kuat. Lusy sedang merintih dalam tidurnya yang tidak nyaman, suara itu lebih mirip dengkingan lemah seekor predator yang sekarat daripada suara manusia yang sedang dalam mimpi buruk. Tubuhnya yang terikat tetap menunjukkan gerakan kecil yang tidak terkendali, seperti sedang berjuang melawan sesuatu yang ada di dalam dirinya sendiri.

"Waktu kita makin menipis, Ana. Dua minggu. Hanya dua minggu sebelum mereka kembali dan datang untuk menagih janji pernikahan itu yang telah mereka buat."

Ia mengepalkan tangannya hingga buku jari dan kuku-kukunya memutih akibat tekanan yang diberikan, otot-otot di lengannya menonjol dengan jelas. Kepergian keluarga Kim memang memberinya ruang napas yang sangat dibutuhkan untuk bekerja tanpa gangguan—tanpa harus khawatir akan kunjungan mendadak atau panggilan yang terus-menerus. Namun pada saat yang sama, hal itu juga memperpendek jarak antara rahasia besar yang mereka sembunyikan dengan ledakan yang akan menghancurkan reputasi keluarga mereka dan kewarasan semua orang yang terlibat.

Jika dalam waktu empat belas hari ia tidak menemukan cara yang efektif untuk mengembalikan kemanusiaan Lusy dan menyembuhkan tubuhnya dari mutasi yang mengerikan itu, maka pernikahan yang dijanjikan tidak akan pernah menjadi pesta bahagia yang penuh dengan tawa dan ucapan selamat—melainkan sebuah upacara pemakaman masal bagi semua harapan dan kewarasan yang masih mereka miliki.

"Siapkan sampel darah manusia yang baru. Kita tidak punya waktu lagi untuk gagal atau berpikir dua kali. Setiap jam yang kita sia-siakan adalah hari tambahan bagi penderitaan yang ia rasakan dan semakin dekat dengan akhir yang kita semua takuti."

Ana hanya mengangguk, memahami sepenuhnya bahwa waktu sudah menjadi barang yang sangat berharga dan tidak bisa lagi dihabiskan untuk percobaan yang tidak pasti. Ia mulai bergerak menuju lemari pendingin yang menyimpan sampel darah yang telah mereka kumpulkan dengan cara yang sangat terbatas dan penuh dengan risiko, sambil memikirkan betapa beratnya beban yang harus ditanggung oleh Axel sebagai orang yang paling mencintai Lusy dan harus bertanggung jawab atas segala sesuatu yang terjadi padanya. Di balik kaca isolasi, Lusy masih merintih dengan suara yang lemah, seolah merasakan bahwa waktu yang diberikan untuknya semakin sedikit dan akhir yang tidak diketahui semakin dekat dengan cepat.

.

.

.

.

.

.

.

ㅡ Bersambung ㅡ

1
Phida Lee
Ajukan kontrak dan jangan lupa rajin promosi juga bang..
massie-masbro
mantap bang🔥 btw tutor novel bisa rame gimana bng aku masih pemula, ajukan kontrak kah?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!