Perjodohan itu bukan untuknya. Hanya saja, dia terpaksa pergi ke desa untuk menikah dengan pria desa yang sama sekali tidak ia kenali sebelumnya. Semua gara-gara adiknya kabur karena tidak ingin dinikahkan dengan pria desa tersebut. Dan yang paling menyakitkan adalah, sang adik kabur bersama pacar yang seharusnya akan menjadi tunangan Airin dalam waktu dekat.
Akan kah kepergian Rin bisa menciptakan kebahagiaan setelah badai besar itu datang padanya? Lalu, bagaimana dengan sambutan Mbayung atas kehadiran Rin yang datang untuk menikah dengannya? Bagaimana pula kehidupan adik dan mantan pacar yang telah mengkhianati Rin selanjutnya? Ayok! Ikuti kisah mereka di KETIKA KOTA BERTEMU DESA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KKBD Part *12
Keesokan harinya, Rin benar-benar ikut Bayu ke sawah. Karena dia memang ingin melihat kondisi tempat dia tinggal seperti apa. Saat pertama Rin datang, semua mata petani langsung terfokus padanya.
Maklum, dia adalah gadis kota yang asing. Tentu saja kedatanganya akan langsung menarik perhatian orang-orang. Di tambah pula karena kedatangan itu adalah kedatangan pertamanya. Sudah pasti ia akan jadi pusat perhatian.
"Rin. Kamu bisa duduk di sana," ucap Bayu sambil mengarahkan telunjuk ke gubuk tempat biasanya dia beristirahat.
Rin menoleh mengikuti arah tangan Bayu.
"Oh, iya. Baiklah. Tapi ... Bay. Apakah, aku tidak bisa melakukan sesuatu? Ah, maksudku, adakah yang bisa aku kerjakan di sini?"
Bayu tidak langsung menjawab. Tentu saja pria itu sedang bingung sekarang. Apa yang bisa Rin kerjakan? Dia juga tidak tahu apa. Karena hati Bayu sendiri masih tidak yakin, kalau Rin bisa melakukan sesuatu di tanah lapang yang panas ini.
"Itu ... aku ... entahlah. Sepertinya, belum ada yang bisa kamu lakukan, Rin. Mungkin, nanti ada. Tapi sekarang, masih belum."
"Ah, baiklah. Jika ada yang bisa aku bantu, katakan saja."
"Baik."
Bayu terus melakukan pekerjaannya di tanah lapang. Rin yang duduk di dalam gubuk, semakin lama merasa semakin bosan. Akhirnya, dia putuskan untuk kembali ke rumah.
"Bay. Aku masih gak punya kerjaan?"
Bayu menggelengkan kepalanya. Rin pun kembali berucap setelah jawaban dengan isyarat itu dia terima. "Ya sudah kalo gitu, sebaiknya, aku pulang saja. Karena di rumah, masih ada yang bisa aku kerjakan."
"Ya sudah kalo gitu, terserah kamu saja."
"Mm ... kalo begitu, aku pulang ya."
"Iya. Hati-hati jalannya. Jalan pematang licin."
"Iya."
Rin pun beranjak. Sesaat setelah kepergiannya, para petani yang melihat kepergian Rin langsung angkat bicara.
"Sudah pulang?"
"Siapa?'
"Gadis kota, istrinya Bayu."
"Sepertinya sudah. Namanya juga anak kota. Mana tahan lama-lama dia di sawah yang panas ini."
"Mm ... kadang aku kasihan sama Bayu. Dia pria yang baik, tapi kok ya malah menikah dengan anak kota yang gengsinya beda sama anak desa."
"Ya ... itulah orang tua yang tidak memikirkan masa depan anaknya. Demi hubungan, tanpa pikir panjang lagi malah mengorbankan kehidupan masa depan anak. Kasihan."
"Iya. Kalau dipikir-pikir, Bayu lebih cocok sama Melati kan?"
"Benar tuh. Aku pikir juga begitu. Andai saja tidak ada wasiat perjodohan dengan gadis kota itu, aku yakin kalau mereka akan bersama."
Begitulah obrolan beberapa ibu-ibu petani lain yang berada di ujung sawah yang cukup jauh dari Bayu. Mereka membicarakan Rin yang datang dari kota, yang dianggap tidak cukup cocok untuk Bayu. Padahal yang Bayu sendiri rasakan mungkin tidak sama dengan yang mereka pikirkan. Sungguh, manusia terlalu suka ikut campur urusan manusia yang lainnya.
...
Rin yang pulang duluan tadi telah selesai menyiapkan makan siang untuk mereka berdua. Dengan tatapan puas, Rin melihat makan makan kecil yang ada di dapur itu.
"Hm ... untung juga aku pulang duluan. Jadinya, bisa makan sebelum Bayu pulang."
Rin melihat ke arah jam dinding yang ada di tengah ruangan. "Masih cukup lama untuk Bayu pulang."
Rin pun memilih untuk melihat ponsel yang dia letakkan di dalam laci dari lemari kecil yang ada di samping ranjang. Barang yang dulunya sangat berharga bagi Rin, sekarang malah dia sembunyikan. Jarang sekali benda pipih itu dia sentuh.
Itu sangat jauh berbeda ketika dia tinggal di kota dulu. Setiap saat, benda itu akan selalu ada di dekatnya. Sebentar-sebentar, layar itu akan dia lihat. Singkatnya, benda itu adalah teman yang paling dekat.
Tapi, di desa jauh berbeda. Karena keterbatasan jaringan. Listrik yang juga tidak senormal di kota. Yah, singkatnya, ponsel bukan lagi barang yang paling penting buat Rin. Tidak mudah memang, tapi kenyataannya, sekarang dia sudah cukup mampu untuk beradaptasi dengan dunia barunya ini.
Saat Rin menyalakan layar ponsel, tiba-tiba ia melihat beberapa pesan singkat yang masuk. Salah satu dari mamanya. Pesan singkat yang pertama, pertanyaan tentang kabar. Lalu, pesan singkat berikutnya langsung membuat hati Rin gemuruh tak terkira.
*Rin. Yara sudah pulang, Nak. Dia pulang ke rumah bersama Marvel. Rin, mama yakin kamu sekarang sudah bisa melepaskan Marvel, bukan?*
Rin tersenyum perih. Kata melepaskan kembali menggoreskan luka lama yang sebenarnya, sama sekali belum sembuh. Luka yang masih basah, digoreskan kembali. Rasanya sakitnya langsung menumpuk.
*Rin. Jangan marah pada adikmu. Karena sebenarnya, dia juga tidak berniat untuk menyakiti hatimu, Nak. Dia hanya berniat untuk kabur. Lalu, Marvel membantunya.*
Pesan berikutnya yang membuat Rin tertawa kecil sambil menjatuhkan air mata. "Membantu? Ha ha. Itu lucu. Sangat-sangat lucu."
Rin meletakkan ponsel dengan layar telungkup di atas meja. Hatinya perih. Hidupnya sudah berubah sangat jauh, tapi mereka semua tidak menganggap itu dengan serius. Sungguh kenyataan yang sangat menyakitkan.
Tubuh Rin jatuh perlahan, terduduk di samping ranjang. Luka itu sangat amat nyata. Kenapa begitu? Kenapa kesalahan adiknya dianggap normal oleh orang-orang yang dia sayangi? Padahal, kesalahan itu telah membuat semua mimpi yang dia bangun runtuh tanpa sisa.
Rin menangis sambil memeluk lututnya dengan erat. Saat itu, Bayu pulang dari sawah. Ketika ia tidak melihat Rin ada di dapur, pria itu langsung mencarinya hingga ke kamar.
Pintu kamar Rin terbuka, hanya perlu berdiri diambang nya saja sudah bisa melihat isi yang ada di dalam kamar tersebut. Bayu pun bisa melihat Rin yang ada di dalam kamar tersebut tanpa perlu membuka pintu.
"Rin. Kamu kenapa?"
Rin yang sedang menangis langsung menoleh. "Bayu."
Rin yang sangat butuh tempat untuk bersandar itu tanpa pikir panjang menghambur ke dalam pelukan Bayu. "Bayu .... "
"Rin."
Pelukan itu berlangsung beberapa saat lamanya. Hingga akhirnya, Rin sadar akan apa yang sedang dia lakukan. Dia pun melepaskan pelukan itu secara perlahan.
"Maaf. Aku .... "
"Kenapa minta maaf? Kamu bisa berbagi dengan ku. Bukankah, kita ini ... teman."
Rin menatap Bayu. Lalu, dia beranjak sedikit menjauh. Rin duduk di atas ranjang. Lalu Bayu ikut duduk di kursi kayu yang ada di depan jendela.
"Rin."
"Bayu. Yara sudah pulang."
"Pulang?"
Rin mengangguk. "Iya."
"Lalu? Kenapa kamu menangis?"
"A-- aku .... "
"Aku tahu kamu terluka, Rin. Tapi, kamu tidak perlu membuang air matamu karena seseorang yang tidak pantas. Jika mereka tidak menginginkan mu, biarkan saja. Karena, masih banyak orang lain lagi yang siap memberikan yang terbaik hanya untukmu."
Rin terdiam dengan tatapan lekat tertuju pada Bayu. Entah kenapa, ucapan itu membuat Rin merasa lebih lega. Padahal, kata itu bukan janji manis. Melainkan, hanya nasehat sederhana. Tapi itu cukup mampu untuk membuat hatinya yang perih jadi sedikit lebih baik.