Di balik rak-rak kayu ek yang menjulang tinggi, Genevieve Isolde Clara adalah cahaya yang tak pernah padam. Sebagai pustakawan, ia dikenal karena senyumnya yang merekah bagi siapa saja dan keramahannya yang membuat siapa pun merasa diterima. Namun, keceriaan itu hanyalah tirai tipis yang menutupi luka batin yang sangat dalam. Genevieve adalah ahli dalam berpura-pura—ia membalut rasa sakitnya dengan tawa, memastikan dunia melihatnya sebagai gadis yang paling bahagia, meski hatinya perlahan hancur dalam kesunyian.
Kehidupan Genevieve yang penuh kepura-puraan terusik ketika Valerius Theodore Lucien muncul. Valerius adalah seorang pria dengan aura bangsawan kuno, pucat, dan memiliki tatapan yang seolah bisa menembus waktu—ia adalah seorang vampir yang telah hidup berabad-abad. Sejak pertama kali melihat Genevieve, Valerius merasakan sesuatu yang janggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Undangan yang Tak Terhindarkan
Suara pengeras suara dari pusat kota terdengar sayup-sayup hingga ke dalam rak-rak buku perpustakaan yang padat. Pengumuman itu sudah sangat akrab di telinga penduduk: Pesta Topeng Tahunan. Sebuah perayaan megah yang diadakan di balai kota tua, di mana strata sosial melebur di balik topeng-topeng indah, dan lantai dansa dipenuhi oleh bisikan-bisikan rahasia.
Selama ini, bagi Genevieve, pesta itu hanyalah gangguan suara yang merusak jam tidurnya.
Berkali-kali Julian datang dengan senyum penuh harap, membawakan brosur atau bahkan membicarakan setelan jas yang akan ia kenakan, namun jawaban Genevieve selalu sama: gelengan kepala dan alasan bahwa ia lebih suka ditemani buku-bukunya.
Namun siang ini, ada yang terasa berbeda.
Gumpalan kegelisahan di perutnya sejak terbangun tadi tidak mau pergi. Saat pengumuman itu berkumandang, matanya tanpa sengaja menatap ke arah bayangan di sudut ruangan yang entah kenapa terasa lebih pekat dari biasanya.
"Pesta topeng..." bisiknya pelan.
Pikiran tentang pesta itu biasanya membuatnya jenuh, namun kali ini, bayangan tentang berdansa di bawah keremangan lampu kristal dengan wajah yang tertutup topeng memberikan sensasi aneh.
Ada bagian dari dirinya—mungkin bagian yang telah "tercemar" oleh sentuhan dingin Valerius—yang merasa bahwa malam ini bukanlah malam untuk tidur lelap.
Tiba-tiba, seorang anak kecil yang tadi sedang membaca di pojokan menghampirinya. Anak itu membawa sebuah kotak tipis berwarna hitam beludru yang entah sejak kapan ada di atas meja baca kosong.
"Kak, ini jatuh dari meja sebelah sana," ucap anak itu polos.
Genevieve mengerutkan kening. Meja itu kosong sejak tadi. Dengan tangan yang sedikit dingin, ia membuka kotak itu.
Di dalamnya terdapat sebuah topeng renda hitam yang sangat halus, dihiasi dengan permata merah darah yang berkilau tajam di tengahnya. Tidak ada catatan, tidak ada nama pengirim.
Hanya ada aroma mawar liar yang sangat kuat menyeruak dari dalam kotak itu.
Genevieve mendaki anak tangga menuju loteng dengan langkah berat, bermaksud untuk mengabaikan topeng hitam itu dan menenggelamkan diri dalam tidurnya yang tertunda. Namun, begitu pintu kayu lotengnya berderit terbuka, napasnya tertahan di kerongkongan.
Di sudut kamarnya, tepat di bawah pantulan cahaya matahari yang mulai condong ke barat, sebuah manekin kayu yang entah sejak kapan ada di sana kini mengenakan sebuah gaun yang tampak mustahil untuk dimiliki oleh seorang penjaga perpustakaan sederhana seperti dirinya.
Gaun itu berbahan sutra berwarna merah marun yang sangat pekat—hampir mendekati warna hitam—dengan aksen renda emas di bagian pinggang dan garis leher yang rendah.
Kainnya jatuh dengan sempurna, berkilau lembut seolah-olah ditenun dari kelopak bunga mawar yang baru dipetik. Di sampingnya, sepasang sepatu tumit tinggi yang senada tertata rapi.
"Dari mana semua ini berasal?" bisiknya, suaranya bergetar antara kekaguman dan kengerian.
Ia mendekat, jemarinya yang gemetar menyentuh permukaan gaun itu. Dingin. Sama dinginnya dengan tangan yang membelainya dalam tidur semalam. Saat ia mengangkat bagian lengan gaun itu, sebuah kartu kecil terjatuh dari lipatan kain.
"Jangan biarkan keindahan ini tersembunyi di bawah selimutmu yang membosankan, Genevieve. Aku ingin melihatmu bersinar di antara kerumunan manusia yang fana itu. Datanglah, atau aku sendiri yang akan memakaikannya padamu."
Ancaman itu terasa nyata di setiap kata yang tertulis dengan tinta emas yang elegan. Genevieve menatap gaun itu, lalu beralih ke cermin besar di kamarnya. Bayangan dirinya yang lusuh, dengan hidung yang masih sedikit memerah karena demam, tampak sangat kontras dengan kemewahan gaun tersebut.
Lantai kayu loteng berderit di bawah kakinya saat Genevieve berbalik, memunggungi gaun merah marun yang seolah memiliki nyawanya sendiri itu. Ia harus segera turun. Di luar, suara lonceng kota mulai berdentang, menandakan jam operasional toko-toko telah berakhir.
Satu per satu pengunjung perpustakaan—anak-anak kecil yang tadi memenuhi ruangan serta para mahasiswa—mulai merapikan buku mereka dan beranjak pergi, terburu-buru untuk bersiap menyambut malam yang paling ditunggu tahun ini.
Suasana perpustakaan yang tadinya riuh kini perlahan kembali ke sunyi yang mencekam.
Debu-debu beterbangan di antara berkas cahaya sore yang memanjang di lantai. Genevieve mengunci pintu depan dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Ia biasanya sangat menyukai saat-saat tenang seperti ini, namun kali ini, kesunyian itu terasa menekan.
Setiap sudut rak buku yang gelap seolah-olah sedang membisikkan nama gaun itu.
Ia mencoba menyibukkan diri dengan merapikan kursi-kursi yang berantakan, berusaha menepis bayangan tentang bagaimana gaun merah itu akan membalut lekuk tubuhnya. Namun, setiap kali ia melewati cermin besar di dekat meja sirkulasi, ia melihat dirinya sendiri—seorang gadis yang tampak lelah namun memiliki rahasia di balik syal lehernya.
"Pesta kegembiraan," gumamnya sinis. "Lalu kenapa aku merasa ini adalah pesta untuk menghantarkanku ke lubang singa?"
Matahari mulai tenggelam, mengubah warna langit menjadi ungu keemasan yang dramatis. Genevieve tahu, dalam hitungan jam, musik orkestra akan mulai membahana dari balai kota. Dan ia juga tahu, Valerius bukan tipe makhluk yang menerima kata "tidak" sebagai jawaban.
keren
cerita nya manis