Menjadi guru tampan dan memiliki karisma over power memang tidak mudah. Dialah Adimas Aditiya, guru muda yang menjadi wali kelas sebuah kelas yang anehnya terlalu hidup untuk disebut biasa.
Dan di sanalah Rani Jaya Almaira berada. Murid tengil, manis, jujur, dan heater abadi matematika. Setiap ucapannya terasa ringan, tapi pikirannya terlalu tajam untuk diabaikan. Tanpa sadar, justru dari gadis itulah Adimas belajar banyak hal yang tak pernah diajarkan di bangku kuliah keguruan.
Namun karena Rani pula, Adimas menemukan jalannya rumahnya dan makna cinta yang sebenarnya. Muridnya menjadi cintanya, lalu bagaimana dengan Elin, kekasih yang lebih dulu ada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LIXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34. Aku Pulang
Rani yang sudah melakukan salat malamnya merapikan mukena miliknya, dia berjalan ke ranjang. Rambut panjangnya nampak terurai indah.
Rani kembali terlelap malam ini, Rani tetaplah Rani yang tidurnya seperti kebo. Dia tak sadar saat Adimas perlahan masuk ke kamarnya.
Adimas sendiri sejenak tertegun di kamar yang biasanya dia tinggali, gadis itu terlelap dengan damai. Tangan Adimas terulur dan tubuhnya menunduk. Tangan Adimas menyentuh helaian rambut Rani dengan sangat hati-hati, dia mengusap pipi Rani dengan lembut dan tersenyum setelahnya.
“Bidadariku, aku pulang.” Bisik Adimas, dia mengecup kening Rani singkat dan keluar lagi dari kamar itu. Rasa lelah dan kantuk Adimas telah memenuhi matanya. Adimas turun dari lantai dua dan merebahkan tubuhnya di atas sofa lantai satu.
Pagi itu Rani merasakan ada yang aneh pada tubuhnya, azan subuh berkumandang dan suara di dapur terdengar berisik. Rani pikir itu si Mbok yang sudah datang pagi-pagi, karena katanya nanti siang dia harus ikut hantaran keluarganya yang mau nikah jadi dia akan datang lebih awal.
Rani salat subuh dan mengaji dulu, dia mengikat rambutnya dan keluar kamar. Saat tidak ada Adimas dia memang sering keluar kamar tanpa menggunakan kerudung.
“Mbok, kok pagi-pagi sudah ke sini. Rani sudah bilang biar Rani saja hari ini yang masak.” Rani punya kebiasaan baru sekarang, pegangan tangga yang kokoh itu sering digunakan oleh Rani untuk melakukan seluncuran saat pagi hari. Ingat, mau setinggi apa pun ilmu Rani, Rani ya tetaplah Rani yang suka melakukan hal gila dan tidak terpikirkan oleh orang lain.
“Mbok, pa—”
“Pagi, sayang,” sapa Adimas, Rani langsung membulatkan matanya. “Pantesan pegangan tangga jadi licin dan bersih, ternyata ada yang ngepel tiap pagi ya.” Sindir lagi Adimas.
“Aaaaa!” Teriak Rani, dia langsung berlari ke lantai dua, Adimas hanya terkekeh melihat kekasihnya yang panik akibat rambutnya tidak ditutup.
Kurang dari sepuluh menit Rani sudah turun lagi, sekarang dia turun dengan cara yang benar. Dia menuruni anak tangga satu demi satu, Adimas sejenak menatap Rani dengan senyum menggodanya.
“Apa lihat-lihat!” Pekik Rani kesal, Adimas tertawa dibuatnya.
“Karena punya mata,” jawab Adimas asal, Rani menggelembungkan kedua pipinya kesal, tangannya terkepal siap menghajar Adimas.
“Mas! Minta maaf sekarang!” Teriak lagi Rani, Adimas mengangkat bahunya ringan seolah dirinya tak punya salah apa pun.
“Kenapa harus minta maaf, emang aku salah apa, Ran?” Tanya lagi Adimas setengah menggoda.
“Mas sudah lihat rambut aku, watados banget!” Kesal Rani, Adimas tersenyum.
“Ini rumahku, aku datang ke sini dan melihat rambutmu yang tidak ditutup. Aku melihat karena punya mata, dan kenapa kamu marah, hem? Salah siapa coba? Kan kamu, sayang, yang nggak menutup rambutmu.” Adimas tersenyum penuh kemenangan.
“Iiigh!” Kesal Rani lagi, Adimas tertawa dan melangkah maju mendekat ke arah Rani.
“Bilang, selamat datang dong.” Pinta Adimas, Rani memalingkan wajahnya.
“Kenapa ngambek gitu, sini cium tangan dan bilang selamat datang.” Pinta lagi Adimas, Rani kini menatap tajam pada Adimas, kedua matanya melotot memperjelas warna cokelat terang dari mata itu.
“Aduh, cantiknya matamu, sayang.” Puji lagi Adimas, Rani kembali memalingkan wajahnya dan berjalan ke belakang punggung Adimas.
“Ngambek? Mau dibujuk? Sini aku bujuk dengan pelukan, aku puk-puk sekalian.” Pinta Adimas merentangkan kedua tangannya.
“Aku yang masak, Mas diam di sana. Jangan aneh-aneh pikirannya dan mulutnya tolong bisa sedikit dikontrol, Mas.” Ucap Rani, dia berusaha mati-matian menyembunyikan semburat merah di pipinya.
“Kita nikah, seminggu lagi, Yank. Nanti siang, sayangku pulang dulu ke Bukittinggi sama Mommy dan Daddy. Nanti aku nyusul, katanya harus pingitan dulu.” Ucap Adimas bingung, apa itu pingitan pikirnya? Empat tahun kurangkah pingitan mereka?
“Ayah sama Bunda di sini, Mas?” Girang Rani, Adimas menggeleng.
“Janjian di bandara sih, tapi tenang saja ya. Kamu pasti aman, Daddy juga yang akan bicara pada Papah mertuaku.” Ucap Adimas, Rani mengangguk patuh.
“Jam berapa, Mas?” Tanya Rani, Adimas sejenak menatap jam tangannya.
“Jam sembilan, sayang. Sarapan dulu. Nggak usah bawa apa-apa ke sana. Mamah yang siapin, dan kamu jangan nakal. Di sana banyak santri yang tampan, pakai masker saja kalau perlu. Pakai kacamata, aku nggak mau berbagi dengan orang lain, mata kamu terlalu cantik buat dilihat.” Amanat Adimas panjang lebar, Rani sejenak terdiam melihat kompor yang menyala. Nasi sudah masak rupanya, ada makanan yang sudah dibuat juga.
Ikan sarden, ayam goreng, dan sambal terasi kemasan. Rani tersenyum, tidak bisa masak bukan berarti tak bisa melakukan apa pun, meski semuanya dibuat dengan mudah. Tapi Rani sadar bila Adimas mungkin bersusah payah membuat semua itu.
“Terima kasih, Mas,” gumam Rani, Adimas tersenyum melihat gerak bibir Rani.
“Ayo sarapan dulu, Yank, nanti aku anterin ke bandara.” Ucap Adimas, Rani mengangguk dan duduk di meja makan setelah merapikan makanan untuk sarapan mereka.
Rani keluar rumah hanya membawa tas selempang kecilnya, dengan kerudung merah muda dan gamis terusan warna biru laut, ada bunga-bunga kecil di bagian bawah baju Rani.
“Nih, di bandara nanti wajib dipakai.” Adimas menyerahkan masker dan sebuah kacamata hitam dan jangan lupa topi yang siap menutupi wajah Rani. Rani menjawab dengan anggukan dan berjalan ke arah mobil di belakang Adimas.
Adimas mulai mengemudi, sesekali dia juga mencuri pandang pada Rani. Dan mereka sampai di bandara tepat waktu, Adimas menggunakan topi dengan nama Adimas di depannya, begitu pun dengan Rani yang menggunakan topi Adimas, yang jelas atas nama Adimas juga. Kacamata hitam mereka pakai, dan Rani juga menggunakan masker.
Adimas tersenyum melihat kepatuhan Rani padanya, dia senang dan juga bahagia. Seorang penatua adat nampak berada di bandara bersama keluarga besar Ghiffari.
“Rani!” Teriakan Elyra dan bocah mungil berusia dua tahun berlari ke arah Rani.
“Lyra!” Teriak Rani lagi, keduanya berpelukan. Rani akan membuka maskernya karena akan berbicara dengan Elyra, namun Adimas langsung menatap matanya pada Rani dengan tajam.
“Hahaha, ya ampun belum sah saja posesifnya keterlaluan sekali ya, Aa Dimas?” Tawa Elyra, Rani merasakan kedua pipinya memanas. Untunglah wajahnya tertutup masker hingga tak terlihat oleh siapa pun.
“Baiknya kamu juga ikut, Dim, biar pekerjaanmu dipegang dulu David.” Tuan Ghiffari memberi pendapat, Adimas tersenyum dan menggeleng pelan.
“Tidak, Dad, aku akan berangkat nanti saja.” Ucap Adimas lagi, dia harus menyelesaikan sesuatu di sana.
“Tapi, pingitan harus dilakukan dengan banyak rangkaian sebelumnya. Dan ada baiknya kamu juga ikut serta.” Tetua adat, ah bisa dibilang dia adalah tetua keluarganya. Dia adalah saudara dari kakek Adimas yang sudah tiada.
“Tapi, nanti sore aku berangkat.” Ucap Adimas, dia berusaha tersenyum lembut pada calon istrinya yang seolah membujuk juga.
“Ingat, jangan nakal.” Adimas mengusap kepala Rani, sontak Rani mundur menghindari sentuhan Adimas.
“Beh, Masyaallah ukhti. Beda banget ya tingkahnya, say?” Elyra menyenggol tangan Rani.
“Enggak kok, Ly, aku sama saja.” Ucap Rani dengan senyumnya yang tersembunyi.
happy ending 👏👍
makasih thor, sukses terus dgn karya-karyanya di novel 💪
selamat menempuh hidup baru Adimas dan Rani, semoga SaMaWa dan cepat dikasih momongan 🤲
awas Adimas jangan nyosor dulu mentang² berdua doang, inget mau sholat ashar berjamaah 🤣
huaaaaaa nyesek bacanya 😭😭😭