Menjadi guru tampan dan memiliki karisma over power memang tidak mudah. Dialah Adimas Aditiya, guru muda yang menjadi wali kelas sebuah kelas yang anehnya terlalu hidup untuk disebut biasa.
Dan di sanalah Rani Jaya Almaira berada. Murid tengil, manis, jujur, dan heater abadi matematika. Setiap ucapannya terasa ringan, tapi pikirannya terlalu tajam untuk diabaikan. Tanpa sadar, justru dari gadis itulah Adimas belajar banyak hal yang tak pernah diajarkan di bangku kuliah keguruan.
Namun karena Rani pula, Adimas menemukan jalannya rumahnya dan makna cinta yang sebenarnya. Muridnya menjadi cintanya, lalu bagaimana dengan Elin, kekasih yang lebih dulu ada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LIXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30. Memberi Pelajaran
Rani akhirnya memasak, dan Adimas mengambil sayuran dari belakang rumahnya. Beberapa kali Adimas melihat pemandangan yang dia tunggu selama 4 tahun, dan kini terjadi di rumahnya.
Rani yang memasak, dan dirinya yang menunggu. Adimas kini melayang dalam lamunannya, bagaimana bila di masa depan mereka punya anak? Adimas akan bermain bersama mereka dan Rani memasak. Adimas menyembunyikan wajahnya sembari menunduk, kedua pipinya memerah dan bibirnya menahan senyum yang hampir meledak.
Kurang dari satu jam semua masakan matang, nasi juga sudah matang dan Rani tersenyum pada Adimas menaruh semua masakannya di atas meja. Masakan yang dibuat Rani nampak normal, Adimas menghela napas kasar.
Mereka makan bersama dalam keheningan, dan Adimas kembali memperhatikan Rani yang sedang membereskan piring yang dia cuci. Merapikan dapurnya dengan baik hingga kembali seperti semula.
"Kayanya aku harus cek bengkel sebentar, Ran," akhirnya Adimas bersuara, Rani mengangkat pandangannya dan mengangguk.
"Nanti jam 4 sore aku jemput lagi," ucap lagi Adimas, Rani sejenak terdiam dan akhirnya menggeleng pelan.
"Aku gak ikut, Mas, maaf sebelumnya. Tapi saat ini aku belum bisa melakukannya," ucap Rani, Adimas terdiam. Dia tahu bila dirinya bahkan belum mendapatkan restu dari Ibu dan Kakeknya Rani. Adimas akhirnya tersenyum dan mengangguk. Dia menghargai keputusan Rani, dan mencoba legowo.
"Gak papa, aku berangkat deh, Ran. Assalamu'alaikum, calon istri." Adimas pun berangkat, padahal dia ingin berlama-lama bersama Rani, namun Rani sendiri justru nampak kikuk dan tidak nyaman.
Adimas mengerti perasaan gundah Rani, kini Adimas memperhatikan sekeliling. Seorang pria yang sejak tadi mengikutinya berada di zona aman CCTV rumahnya.
"Nekat juga ya," gumam Adimas, dia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Bang, masih di Bali?" tanya Adimas to the point, Tamam yang dihubunginya kala itu.
"Iya, apa mau kawin lari atau kawin paksa, mau nyulik calon istri? Minta tips-nya nih? Atau mau ngehamilin duluan aja?" cerocos Tamam, Adimas memijit pelipisnya linu mendengar semua hal kotor itu.
"Astaghfirullah, Bang, gak gitu konsep hidupku yang lurus ini. Ada orang yang ngikutin kami sampai Pakuan, Bang. Namanya Hanan, tolong awasi dia." pinta Adimas, Tamam yang memang hanya terlatih memukul dan menghajar orang sejenak terdiam.
"Kamu salah orang, minta sama David." ucap Tamam, terdengar jelas nada malas dari suaranya. Adimas menghela napas panjang.
"Masalahnya dia harus langsung dibombardir, Bang." ucap lagi Adimas, Tamam terdiam.
"Ya sudahlah," ucap Tamam akhirnya, Adimas meninggalkan tempat tersebut.
Dia akhirnya sampai di bengkel miliknya, para pekerjanya menyapa satu demi satu saat Adimas melintas.
"Pembukaannya mau ada acara apa? Gak usah ribet-ribet." tambah Adimas lagi, Arya tak ada di sana. Menurut kabar angin, saat ini Arya dengan sangat ugal-ugalan sedang mengejar gadis kecil yang seharusnya jadi keponakannya.
"Loh, kata Bos mau sekalian ngenalin calon istri." heran seorang montir, Adimas mengibaskan tangannya.
"Gak jadi," tukas Adimas, montir itu mengangkat alisnya bingung.
"Ditolak, Bos?" tanyanya kepo, Adimas mendelik ke arah bawahannya itu.
"Matamu ditolak!" gertak Adimas kesal, dia akhirnya memulai acara opening bengkelnya. Secara simbolis juga dia memotong pita.
Tak ada yang berkesan, karena hampir setiap Minggu dia potong pita. Jadi sudah cukup biasa bagi Adimas. Menjelang malam hari, Tamam memberi informasi bila orang-orangnya sudah melakukan tugas mereka.
.
.
Hanan siang itu memang tidak percaya pada Adimas, benarkah Adimas itu orang kaya? Atau hanya pinjam mobil orang saja.
Alhasil, Hanan mengikuti Adimas dan ternyata dia memang orang kaya. Bahkan orang yang disuruh untuk menyelidiki Adimas kini menghilang tanpa jejak.
Hanan bersama sopirnya memperhatikan rumah Adimas yang ditinggal, dan Hanan bisa memastikan bila Rani kini tinggal di kediaman itu.
"Bos, kami sudah berada di sekitar rumah Tuan Muda Adimas." Suara telepon masuk ke dalam ponsel Tamam.
"Buat tikus itu ketakutan." ucap Tamam pada anak buahnya, sebisa mungkin Tamam akan membuat Hanan menyesal karena sudah mengikuti adik bungsunya.
Biu!
Suara tembakan yang senyap, namun kaca depan mobil Hanan langsung pecah dan kini sebuah peluru menyasar ke arah tepi telinga Hanan, menggores telinganya.
"Argh!" pekik Hanan saat merasakan perih menjalar di telinganya.
Biu!
Tembakan yang senyap dan terarah kembali menyasar, dan kini hampir mengenai kening Hanan, dan berhasil memotong beberapa rambutnya.
"Tuan muda, Anda tidak apa-apa?" tanya sopir Hanan, Hanan nampak ketakutan. Matanya bergetar hebat dan tangannya dipenuhi darah.
"Tinggalkan tempat ini! Cepat!" pekik Hanan, sopir itu langsung meninggalkan tempat tersebut dengan cepat.
Dua orang yang ditugaskan Tamam tentu saja tidak tinggal diam. Tidak menggunakan tembakan kini. Mereka melemparkan paku di bawah mobil yang melaju cepat, alhasil mobil itu kehilangan kendali.
Cekiiit!
Suara rem terdengar, sayang rem itu justru membuat mobil kian tak terkendali. Dan mobil itu berputar di sekitar jalan area persawahan, dan akhirnya nyungsep di sawah warga.
Kedua orang yang ditugaskan Tamam segera bergerak, menyalakan korek pada bensin yang keluar dari mobil tersebut. Api seketika berkobar ganas, kedua orang itu melakukan sesuai perintah Tuan mereka. Mereka tidak akan membunuh kedua orang itu, namun hanya memberi pelajaran saja.
Hanan dan sopirnya nampak keluar dari dalam mobil dan kini terlihat lemas di pinggir jalan, wajah Hanan pucat melirik kiri dan kanan. Kedua orang itu akhirnya mendekat dengan tampilan mereka yang biasa, dan nampak terkejut dengan apa yang terjadi.
"Astaghfirullah, Aya naon ieu a?" Tanya orang yang tadi menembak telinga Hanan.
"Eta getihan Kitu, astaghfirullah. Goat di cabean amih tereh waras." Ucap temannya, maksudnya cepat pakai cabai biar cepat sembuh.
"Heeh, yeh urang mawa cabe." Keduanya saling berpandangan.
"Buru di ubarkeun," Hanan yang masih melamun tak begitu memperhatikan, tau-tau telinganya terasa panas seolah dibakar. Beberapa warga juga ikut datang dan tidak ada yang menyalahkan dua orang itu.
"Apa ini! Apa kalian ingin membunuhku!" pekik Hanan, beberapa warga yang melihat itu nampak menatap Hanan.
"Dicabean?" kata warga sekitar, kedua orang itu mengangguk.
"Bukan mau membunuh, biar darahnya cepat saat (kering)." ucap warga lain, dan di pedesaan hal itu sudah lumrah. Gatal-gatal saja bisa sembuh hanya dengan 7 pucuk cabai. Percaya tidak?
"Tah sombong pisan (banget) jadi orang benghar (kaya) karasa tah, didieumah kang aya sebab akibat. Mun Aya yang berniat goreng (jelek) di lembur ieu, tangtu bakal cilaka (celaka)." Tegas warga lain, Rani yang mendengar keriuhan keluar dari rumah Adimas dan dari belakang rumah itu dia melihat sebuah mobil terbakar dahsyat.
"Ada apa ya?" gumam Rani khawatir, dia berjalan masuk kembali ke rumahnya. Sayang dia belum meminta nomor ponsel Adimas dan hanya bisa menelepon Elyra untuk menanyakan nomor itu terlebih dahulu.
Ya Allah malam² ngajak ditahan sambil batuk² 🤣🤣🤣
dasar Aryaaaaa astaghfirullah 🤣
pingin denger cerita Rani, yg ayah nya menjodohkan Rani sampai nangis gitu.
apa ibu nya Rani gak cerai dan jadi satu sama istri muda suaminya, kalau benar gak rela bgt aku.
dah 3 bab tapi masih kurang rasanya 😁
tetap ngakak walaupun mirip Gilang, tapi ngakak nya di tahan sampe perut sakit, mlm² di kira mba Kunti kalau ngakak 🫢
kayaknya banyak mengandung bawang