Di bawah langit kelabu yang digelayuti takdir dan dendam yang belum terbalas, Lin Zhantian melangkah memasuki babak baru dalam perjalanan kultivasinya. Setelah menanggung penghinaan panjang yang menggerogoti martabat keluarganya, ia kini berdiri di ambang perubahan besar—bukan lagi sebagai pemuda lemah yang dipandang rendah, melainkan sebagai bara api yang tersembunyi di balik abu.
Bab ini menyoroti pergulatan batin Lin Zhantian saat ia menyadari bahwa kekuatan sejati tidak hanya lahir dari teknik dan energi spiritual, tetapi juga dari tekad yang tak tergoyahkan. Di tengah tekanan klan, tatapan sinis para tetua, serta bayang-bayang kejeniusan para rivalnya, ia menemukan secercah peluang—sebuah warisan kuno yang seolah memilihnya sebagai penerus.
Namun, jalan menuju kejayaan tidak pernah sunyi dari ujian. Energi liar yang mengamuk di dalam tubuhnya hampir merobek meridiannya, menguji batas ketahanan fisik dan jiwanya. Dalam kesunyian malam, saat semua orang terlelap dan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jullsr red, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 — Benih Yuan
Di kedalaman sumsum tulangnya, sesuatu yang baru telah lahir.
Di antara rongga-rongga tulang yang selama ini sunyi dan gelap, kini mengalir seutas energi yang tak kasatmata, bergerak perlahan namun penuh wibawa. Energi itu bukan sekadar aliran kekuatan biasa; ia laksana benih ilahi yang baru saja ditanam oleh takdir, memancarkan denyut halus yang menggema hingga ke setiap inci tubuhnya. Dari pusat sumsum itu, sensasi kekuatan yang tak terlukiskan menyebar, menjalari tulang, meresap ke otot, menembus urat, dan akhirnya memenuhi seluruh raga seperti matahari yang bangkit mengusir malam panjang.
Lin Zhantian membuka matanya.
Pada detik itu juga, dunia seakan berubah warna.
Sorot matanya bergetar oleh kegembiraan yang nyaris tak tertahankan. Ia dapat merasakan dengan jelas—bukan lagi sekadar dugaan samar—bahwa di dalam tubuhnya, telah terbentuk sesuatu yang selama ini hanya ia dengar dalam cerita para tetua klan: Benih Yuan.
“Jadi… inikah Benih Yuan itu…”
Suara hatinya bergetar.
Di saat yang sama, indra persepsinya seakan diperluas. Udara di sekelilingnya, yang sebelumnya tampak biasa dan kosong, kini memperlihatkan rahasia tersembunyi. Di antara hembusan angin dan debu tipis, ia merasakan adanya partikel-partikel energi halus yang mengambang—energi yang serupa dengan apa yang kini berdenyut di dalam sumsum tulangnya.
Yuan Li.
Energi Langit dan Bumi.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia benar-benar menyentuh gerbang dunia kultivasi yang sesungguhnya.
Lin Zhantian berdiri perlahan. Dadanya naik turun, namun bukan karena lelah—melainkan karena luapan emosi yang terlalu besar untuk dibendung. Bertahun-tahun ia menggembleng diri dalam kesunyian, memeras keringat dan darah dalam latihan tanpa henti. Dibantu cairan spiritual dari jimat batu misterius, ia bertahan melewati penderitaan yang tak terhitung.
Dan hari ini…
Ia akhirnya menapakkan kaki di ambang sejati jalan kultivasi.
Tawa panjang meledak dari dadanya, menggema di antara pepohonan dan tebing batu. Itu bukan tawa kesombongan, melainkan pekikan kemenangan seorang pemuda yang berhasil menembus belenggu nasibnya sendiri.
Namun dunia kultivasi tak pernah memberi ruang terlalu lama bagi euforia.
Tak jauh darinya, seekor kalajengking-harimau—binatang buas dengan tubuh kekar dan mata merah menyala—menggeram pelan. Sejak tadi makhluk itu mengawasinya, dan kini ia merasakan sesuatu yang berbeda dari pemuda di hadapannya. Aura yang memancar dari tubuh Lin Zhantian membuat naluri liarnya bergetar.
Akan tetapi, naluri takut bukanlah sifat alami binatang buas.
Dengan raungan rendah yang mengguncang tanah, makhluk itu menghentakkan kedua kakinya, lalu melesat seperti anak panah yang terlepas dari busurnya, menerjang lurus ke arah Lin Zhantian.
Angin busuk berbau darah menerpa wajahnya.
Namun kali ini, dunia terasa lambat.
Di mata Lin Zhantian, gerakan yang sebelumnya tampak secepat kilat kini seperti diperlambat oleh kekuatan tak terlihat. Ia dapat melihat jelas lintasan lompatan makhluk itu, sudut serangan, bahkan ketegangan otot di bawah kulitnya.
“Inikah… Tingkat Keenam Penempaan Tubuh…”
Matanya bersinar semakin terang.
Dengan satu langkah ringan menyamping, ia menghindari terjangan maut itu seolah sedang menari di atas garis tipis bahaya. Pada saat yang sama, telapak tangan kanannya terangkat. Cahaya redup berkilat sekilas di telapak itu—nyaris tak terlihat oleh mata biasa—namun cukup untuk memadatkan Yuan Li yang baru lahir.
Lalu, ia mengayunkan tangannya.
“Crass!”
Suara berat dan mengerikan terdengar.
Telapak tangannya menembus bulu tebal dan kulit keras kalajengking-harimau itu seolah menembus kain basah. Darah panas menyembur, mewarnai udara dengan kabut merah pekat. Dalam satu serangan, tangannya menembus leher makhluk buas itu, menghancurkan kehidupan yang bersemayam di dalamnya.
Tubuh besar itu membeku sesaat, sebelum akhirnya roboh menghantam tanah dengan suara keras.
Sunyi.
Hanya bau darah yang perlahan menyebar.
Lin Zhantian menatap tangannya sendiri, napasnya tertahan.
“Yuan Li… sekuat ini…”
Ia menarik napas dalam-dalam. Perbedaan antara Tingkat Kelima dan Keenam Penempaan Tubuh benar-benar seperti jurang antara langit dan bumi. Kini ia memahami mengapa orang-orang selalu berkata bahwa setelah Benih Yuan terbentuk, seorang kultivator benar-benar memasuki dunia yang berbeda.
Ia tak bisa menahan rasa ngeri yang samar.
Beruntung kala itu ia tidak bertarung dengan Lin Hong. Jika tidak, dengan kekuatan seperti ini, ia mungkin telah menderita kekalahan yang memalukan.
Setelah membersihkan darah di tangannya dengan daun-daun kering, ia melangkah menuju tempat Buah Zhu Kristal tumbuh. Buah itu berkilau seperti permata merah jernih, memancarkan aroma lembut namun memikat.
Ramuan spiritual tingkat tiga.
Nilainya sangat tinggi. Biasanya hanya ditemukan di pedalaman pegunungan yang dalam dan berbahaya.
Hari ini, keberuntungan benar-benar memihaknya.
Namun saat tangannya menyentuh buah itu, jimat batu misterius yang tergantung di dadanya tiba-tiba memancarkan kehangatan lembut.
Ia tertegun.
Mengeluarkan jimat itu, ia merasakan sesuatu yang baru. Persepsinya yang kini lebih tajam membuatnya sadar bahwa jimat tersebut memancarkan daya hisap halus. Energi tipis dari Langit dan Bumi di sekitarnya tersedot masuk ke dalamnya.
“Cairan spiritual itu… mungkinkah hasil serapan energi Langit dan Bumi oleh jimat ini?”
Pikirannya bergerak cepat.
Ketika ia mendekatkan Buah Zhu Kristal ke jimat itu, tiba-tiba daya hisapnya melonjak tajam. Dalam sekejap, buah itu terlepas dari genggamannya dan tersedot masuk ke dalam jimat.
Lenyap.
Hilang tanpa jejak.
Lin Zhantian terpaku.
Apakah… jimat ini memakan buah?
Namun sebelum ia sempat mencerna keterkejutannya, cahaya merah menyala di lekukan jimat. Cahaya itu makin terang, lalu memadat menjadi dua butir pil kecil sebesar kacang merah yang jatuh ke telapak tangannya.
Pil itu hangat dan bercahaya lembut.
Di dalamnya, ia merasakan energi yang jauh lebih murni dan padat dibandingkan cairan spiritual yang pernah ia kumpulkan sebelumnya.
Ia terdiam lama.
Satu Buah Zhu Kristal… berubah menjadi dua pil energi murni.
Efeknya bahkan lebih kuat dari buah aslinya.
Mata Lin Zhantian bersinar oleh ambisi yang baru.
Jika ia dapat memperoleh lebih banyak ramuan spiritual tingkat tinggi, lalu memurnikannya melalui jimat ini, maka kecepatan kultivasinya akan melampaui siapa pun di klan!
Namun realitas segera menamparnya.
Ramuan tingkat tiga bukanlah sesuatu yang mudah ditemukan. Percobaannya dengan ramuan tingkat satu hanya menghasilkan butiran kecil tak beraturan dengan efek yang jauh lebih lemah. Jelas, untuk menciptakan pil seperti ini, diperlukan bahan berkualitas tinggi.
Dan bahan seperti itu… sangat langka.
Tanpa akses ke sumber daya klan, ia hanya bisa mengandalkan usahanya sendiri.
Akhirnya, ia menenangkan diri.
Ambisi boleh membara, tetapi langkah harus tetap mantap.
Selama ia dapat menonjol dalam Pertandingan Klan mendatang, maka ia akan memperoleh hak untuk menikmati sumber daya keluarga secara terbuka. Saat itu, jalannya akan jauh lebih lapang.
Dengan tekad baru, ia kembali memusatkan diri pada latihan.
Hari demi hari berlalu.
Musim panas yang terik perlahan meredup, digantikan oleh angin gugur yang sejuk. Sementara itu, Benih Yuan di dalam sumsum tulangnya kian menguat. Energi itu mulai mendesak keluar, berusaha menembus batas tulang dan mengalir ke dalam meridian.
Saat Benih Yuan sepenuhnya memasuki jalur meridian, itulah saat ia mencapai Tingkat Ketujuh—Pemurnian Yuan Memasuki Nadi.
Namun jalan itu masih panjang.
Meski dibantu cairan spiritual jimat batu, ia tetap membutuhkan waktu dan ketekunan.
Di tengah perubahan musim dan derap waktu, satu peristiwa besar semakin mendekat.
Pertandingan Klan Keluarga Lin.
Ajang yang akan menentukan kehormatan, masa depan, dan nasib banyak generasi muda.
Dan bagi Lin Zhantian, itu bukan sekadar pertandingan.
Itu adalah panggung kebangkitannya.
Takdirnya… akan segera diuji.