Gurial Tempest
Di hari kelulusannya sebagai Knight Kerajaan Gurial Tempest, seorang wanita berusia 22 tahun akhirnya siap mengabdikan diri untuk melindungi tanah airnya.
Namun langit runtuh sebelum ia sempat memulai.
Sebuah meteor menghancurkan ibu kota. Dari balik kehancuran itu, pasukan misterius bernama Invader merebut kerajaan dalam sekejap. Di antara api dan puing-puing, sang Knight selamat—dan memikul satu tugas mustahil: menyelamatkan Little Princess serta Ratu Vexana.
Perjalanan yang seharusnya menjadi awal pengabdian berubah menjadi perjuangan mempertahankan harapan, mencari para Hero, dan menghadapi kebenaran tentang dunia yang tidak sesederhana hitam dan putih.
Dari kehancuran kerajaan, badai baru pun dimulai.
Inilah awal kisah Gurial Tempest.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raffa zahran dio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 : Tinggal kan aku sendiri.
Lapangan ibu kota Teatan terbentang luas, debu dan reruntuhan menari di udara akibat ledakan dan serangan sebelumnya. Udara panas bercampur bau logam terbakar dan cairan hijau yang bocor dari kandang raksasa, menempel di baju Chika dan helmnya. Cahaya matahari yang memantul di gedung-gedung retak membuat bayangan serangga raksasa semakin menakutkan.
Serangga itu menatap Chika dengan mata merah besar, carapace hijau berkilau seperti permata beracun. Cairan hijau di bawahnya masih menahan warga kota, beberapa tampak setengah tenggelam, panik, namun Chika tidak sempat menoleh: hatinya hanya tertuju pada target.
“Tidak… Aku… aku tidak bisa kalah sekarang!” Chika menelan ludah, helmnya bergetar saat ia menatap serangga itu. Tangannya mengeras di gagang Lumina, perisai di lengan kiri berdenyut seperti jantung yang hidup.
Dengan satu lompatan, Chika mengeluarkan pistol pengait Marianne. WHIZZ-CLANG! pengait menancap di punggung serangga, Chika menarik tubuhnya meluncur cepat, udara berdesir kencang WHOOSHHHH, dan mendarat tepat di punggung serangga.
“LUMINOUS STRIKE!” teriaknya, pedang Lumina diayunkan menebas sayap serangga. Cahaya biru listrik memancar deras dari bilah pedang, ZZZZZ-KRAKK! dan sayap itu terbelah dengan suara keras CRAAACKK-THUD!.
Serangga meraung, darah hijau berceceran, tapi sayap itu—seperti energi magis—tumbuh kembali dalam hitungan detik. Chika terlempar ke tanah dengan suara THOOM!, debu beterbangan di sekelilingnya, dan ia merasakan setiap otot tubuhnya nyeri. Napasnya terengah-engah, tubuhnya gemetar, tapi matanya tetap bersinar: “Aku… knight yang dipilih… Hero Sword… aku tidak boleh kalah!”
Dengan tekad itu, Chika bangkit. Helmnya bergeser sedikit, memperlihatkan mata yang berapi-api, bibirnya terkepal tegang, wajahnya kotor karena debu dan darah hijau dari serangga. Ia menatap Lumina: gagang emas, bilah baja besar yang berdenyut dengan aliran listrik pekat ZZZZZ-BRRRRR-KKKK!.
“PERISAI LUMINA! AKTIF!” Suara mekanik dari perisai menggelegar WHHHHRRRRR-KLANG!, Chika mengayunkan perisai, menangkis serangan ekor serangga yang memukul ke arah dadanya THOOM-CRASH!, tubuhnya berputar, mendarat sempurna di tanah, pasir dan reruntuhan beterbangan di sekitarnya.
Serangga itu mengangkat kaki depannya, hendak menumbuk Chika, tapi Chika melakukan AERIAL SPIN SLASH, melompat ke udara, memutar tubuh, pedang menyapu menebas carapace. “TAKE THIS! LUMINOUS SWEEP!!” suara pedang ZZZZZ-KRAK-SSHHH! memecah udara.
Chika menendang reruntuhan bangunan untuk melompat lebih tinggi, menghindari siraman cairan hijau yang meluncur SPLORCH-CRASH!, jatuh di sisi lain dengan tubuh membungkuk, pedang dan perisai siap menghadapi serangan berikutnya. Ia menjerit, wajahnya menunjukkan kelelahan tapi mata tetap fokus: “Aku harus menyelamatkan mereka… warga… Eric… Jhonny…”
Serangga itu menyerang dengan sayapnya, menghempas tanah WHOOM-CRASH, debu dan puing beterbangan tinggi, tapi Chika melakukan LUMINA VAULT, memantul di reruntuhan sambil menebas sayap lain, listrik biru mengalir deras ZZZZZ-KRAKK!.
Namun satu serangan ekor serangga menghantam perisainya dengan keras CLANG-THWACK!, membuat Chika terlempar lagi, tubuhnya berguling THUMP-THUMP, helmnya menabrak batu, tapi ia menggigit bibir, darah samar menetes. Napasnya tersengal, lututnya gemetar, tapi tangannya tetap memegang Lumina: “Aku knight yang dipilih… Hero Sword… aku tidak boleh menyerah…”
Dengan satu tarikan napas dalam, Chika berdiri, mata membara, dan energi Hero Sword mengalir deras melalui tubuhnya. “LUMINOUS RISING!!” Cahaya biru pekat menyelimuti pedang dan perisainya, aliran listrik memancar deras dari bilah ke udara ZZZZZ-BRRR-KRAKK!, mengangkat reruntuhan ringan di sekitarnya seperti badai kecil.
Ia menebas lagi, kali ini dengan kombinasi LUMINA DOUBLE SLASH diikuti SHIELD IMPACT STRIKE, menghantam sayap serangga yang sekali lagi memanjang, suara CRASH-KRAKK-BZZZZ bergema. Serangga meraung, tubuhnya goyah, akhirnya cairan hijau di bawahnya pecah SPLASH-CRRRAAAK!, warga yang sempat terkurung terhempas ke tanah dengan suara THUD-THUMP-CRASH!, namun mereka semua selamat, tergeletak tapi bernapas, beberapa menjerit lega.
Chika terengah, tubuhnya penuh luka, baju sobek, darah kering di wajah. Lututnya lemas, tangannya gemetar memegang Lumina, helmnya miring. Tapi saat matanya melihat Eric berlari ke arah Jhonny, adrenalinnya kembali memuncak. Ia menegakkan tubuh, tersenyum kikuk tapi bertekad: “Tidak peduli seberapa besar lawannya… aku… knight yang dipilih… aku akan menyelamatkan semuanya!!”
Dengan satu lompatan panjang melewati reruntuhan, Chika menebas bagian belakang serangga dengan LUMINA FINAL THRUST, aliran listrik pekat menghantam tubuhnya ZZZZZ-KRRRAKK-BZZZZ!, membuat serangga terjerembab ke tanah dengan gemuruh THOOM-CRASH-CRRRAAK!, mengepulkan debu dan reruntuhan ke udara.
Chika terjatuh, napasnya memburu, tubuhnya gemetar, tapi matanya bersinar penuh kemenangan. Ia tersenyum bodoh, meski wajahnya penuh luka dan kotoran. Sekitar terlihat warga Teatan mulai bangkit, bertepuk tangan sambil menjerit lega, beberapa menahan tangis.
“H…hew… selamat… semuanya… lumayan capek juga ya…” Chika menghela napas sambil tersenyum kikuk, perisai dan Lumina masih berkilau, aliran listrik perlahan memudar, tapi aura pahlawan terpancar dari tubuhnya.
Di kejauhan, Eric menghampiri Jhonny, memeluk anaknya dengan lega, sementara Chika menatap mereka, napas masih memburu, lutut lemah, tapi hatinya ringan—pertarungan epik itu baru saja usai, dan Teatan masih aman… untuk saat ini.
...----------------...
Lapangan ibu kota Teatan yang sebelumnya ramai kini dipenuhi kepulan debu, reruntuhan gedung, dan bau logam hangus. Warga yang selamat tergeletak di tanah, beberapa merintih, beberapa memeluk anak-anaknya. Cairan hijau yang menahan mereka pecah, mengucur deras dengan suara SPLORCH-CRRRAAAK!, meninggalkan bau menyengat. Di tengah kekacauan itu, serangga raksasa yang baru saja hancur tiba-tiba menggeliat, tubuhnya berubah bentuk, carapace hijau menjadi lebih gelap, duri-duri tajam muncul, dan sayapnya berkilau seperti kaca berlapis energi—mutasi yang menakutkan.
Eric mengerjap, napasnya tersengal melihat mutasi itu. Tubuhnya gemetar, kaki menapak di tanah retak. “Apa… apa-apaan ini?!” suaranya pecah, mata membesar menatap monster yang kini tampak lebih kuat dan lebih cepat.
Di saat yang sama, di atas atap gedung pemukiman yang retak, Marianne duduk di kursi pengendali mesil kayu, tangannya menempel di tuas, mata membara. “MENJAUH DARI SAHABATKU!!” teriaknya, suaranya nyaring menembus debu dan angin, tubuhnya mencondong ke depan saat menembakkan peluru peledak dari meriam mesil. BOOM-CRASH! Ledakan menyambar sayap serangga, debu beterbangan, serpihan logam dan kayu beterbangan di udara.
Princes kecil, berdiri di samping Marianne, tangan mungilnya memegang pengendali cadangan, napas tersengal-sengal, matanya berbinar campur panik dan semangat. “AKU TIDAK AKAN DIAM SAJA SAAT CHIKA BERJUANG!!” Ia menekan tuas, tembakan kayu dan peledak meluncur WHIZZ-BOOM!, mengenai kepala serangga tepat di bagian mata.
Serangga meraung, suara RRAAAWWWRRR-KRAAAK! bergemuruh, guncangan membuat atap mesil bergoyang hebat. Marianne, kaget, terlempar ke belakang sedikit, segera memeluk Princes agar tidak terpental dari atap. Tubuhnya menekuk, menahan napas, tangan memeluk sahabat kecilnya erat—mata Marianne basah, gigi terkepal, dada bergetar.
Namun tiba-tiba, serangga itu menoleh, matanya yang merah menyala terkunci pada Jhonny, yang sedang membantu warga bangkit dari reruntuhan. Jhonny menatap serangga dengan wajah pucat, langkahnya membeku di tanah, tak bisa menghindar.
Chika, yang berada beberapa meter di belakang, menatap Jhonny, napasnya tersengal, otot-otot tegang. Ia melompat, ingin mencegat serangga itu WHOOOOSH!, namun dadanya terasa sesak, lututnya gemetar, dan tubuhnya jatuh tersungkur THUD-THUMP!. Helmnya bergeser, menampakkan mata besar yang dipenuhi rasa takut bercampur rasa bersalah.
“JHONNY!!” Eric berteriak, suaranya pecah, wajah panik, tangan menggenggam pedang erat, langkahnya cepat mendekat ke arah anaknya. Tanpa berpikir, Eric melompat di depan Jhonny, mendorongnya ke samping, namun kaki runcing serangga menusuk perutnya dengan CRUNCH-THWACK!. Darah memercik, Eric menjerit, tubuhnya tersentak mundur, wajah pucat terpaku karena rasa sakit.
“ERIC!!” Marianne berteriak keras, air matanya tumpah, tubuhnya melesat ke depan mesil, tangannya memeluk Princes untuk menahan mereka agar tidak terlempar oleh getaran guncangan. Jantungnya berdetak kencang, napasnya terengah, wajah memerah karena amarah bercampur panik.
Jhonny menjerit, mata membesar, suara bergetar: “Tidak… tidak… Ayah!!” Tubuhnya kaku, kaki terpaku di tanah, tangan mengepal, wajah pucat memutih karena takut kehilangan ayahnya.
Chika, terbaring di tanah, mata terbelalak, tangan gemetar menggenggam Lumina. “A… Aku… gagal… ya?” bibirnya bergetar, helm sedikit miring menampakkan pipi basah debu dan keringat, air mata samar menetes. Rasa bersalah menyelimuti hatinya, seluruh tubuhnya terasa lemas.
Serangga itu, entah kenapa, memutar tubuhnya dan melempar Eric ke samping THUD-CRASH!, menabrak pemukiman warga. Debu beterbangan, atap pemukiman roboh sedikit, teriakan warga terdengar panik bercampur histeris.
Marianne, menyaksikan sahabatnya terluka, amarahnya meledak. Tubuhnya menegang, gigi terkepal, air mata mengalir deras. “Kau… kau tidak akan menyentuhnya lagi!!” Ia menekan tuas mesil, kaki menjejak kuat, tubuh condong ke depan, wajahnya merah, energi kemarahan hampir membuat mesil bergetar hebat.
“MISSILE BARRAGE!!” teriaknya, peluru peledak berserakan BOOM-CRASH-BANG!, menghantam serangga itu dari semua sisi. Serangga meraung, tubuhnya bergetar, carapace retak, duri-duri rontok, suara pecah bergemuruh KRAKK-CRRRASH-ZZZZZ!.
Tidak puas, Marianne mengarahkan meriam kayu, mengeluarkan tembakan bertubi-tubi WHIZZ-BOOM-BANG!, tubuh mesil bergerak gesit di atas atap. Serangga itu meraung lagi, tubuhnya hancur berkeping CRRRRAAAASH-THUD-KRACK!, pecahan carapace beterbangan di udara, suara ledakan kayu dan logam bersahut-sahutan.
Di tengah asap dan reruntuhan, Chika berusaha bangkit. Tubuhnya penuh luka, kaki gemetar, perisai dan Lumina masih di tangan, napas tersengal, tapi matanya bersinar: tekadnya kembali muncul. Ia berjalan, langkahnya tertatih tapi mantap, menembus debu dan reruntuhan, menuju Eric yang tergeletak, darah menetes, napas pendek.
“Eric… jangan… jangan mati… aku… aku akan menyelamatkanmu…” Chika bergumam, wajahnya penuh luka, helm bergeser, mata membara dengan keputusasaan bercampur semangat. Setiap langkah membuatnya nyeri, tapi aliran listrik Lumina berdenyut di tangannya ZZZZZ-BRRRR-KRAKK!, seolah pedang dan perisai itu memberinya kekuatan tambahan.
Warga Teatan yang selamat menatap dengan kagum, beberapa berteriak lega, beberapa menahan air mata, saat Marianne menatap serangga yang hancur, dan Chika berlari ke arah Eric dengan langkah penuh tekad.
Debu beterbangan, asap menyelimuti lapangan, reruntuhan gemerisik CRRRACK-THUMP-BOOM!, tapi Chika tetap bergerak, setiap otot tubuhnya tegang, wajahnya kotor tapi matanya menatap satu tujuan: menyelamatkan sahabatnya, dan memastikan kota Teatan aman dari kehancuran.
---
Debu masih beterbangan di lapangan ibu kota Teatan, sisa reruntuhan bergelayut di atap-atap bangunan, aroma asap dan logam hangus masih menyengat. Marianne melompat dari atap gedung dengan gesit, kaki menapak di puing dengan suara CRACK-THUD!, dan segera menopang tubuh Eric yang tak berdaya. Tubuhnya hangat tapi rapuh di tangan Marianne, matanya menatap Eric dengan intens, suara bergetar saat ia berteriak, “Eric… Aku mohon… BUKA MATA MU!!”
Tapi Eric tetap tak bergerak, napasnya tersengal, wajah pucat tertutup debu dan darah kering. Di samping mereka, Jhonny berjalan pincang, langkahnya goyah, wajah memucat, memegang perut ayahnya dengan tangan kecil tapi kuat. Matanya berair, bibir bergetar, suara gemetar: “Ayah… maafkan aku… Aku jadi beban ayah… Aku mohon…”
Chika, meski tubuhnya penuh luka, masih berusaha berjalan dengan langkah pincang, menempelkan tangannya ke dinding bangunan yang retak untuk menopang diri. Debu menempel di bajunya, helm sedikit miring, wajahnya penuh keringat dan lecet. Princes turun dari tangga, berlari menembus reruntuhan dengan kaki kecilnya thump-thump, suaranya tercekik di antara tangisan: “Chika!! Kamu tidak apa-apa?!”
Chika menoleh, tersenyum kikuk tapi lesu, kepala menunduk, napasnya tersengal. Ia mengangguk lemah, suara serak, “Aku… tidak apa-apa… tapi… Eric?”
Eric, dengan suara nyaris hilang di tengah napas tersengal, membuka matanya sedikit. Suaranya parau dan pelan, “Marianne… uhuk… sepertinya… waktuku… tidak lama lagi…”
Mendengar itu, Marianne gemetar, tangan mengepal, tubuhnya menegang, air mata membanjir, ia berteriak sekuat tenaga, “JANGAN KATAKAN ITU!! KAU BODOH YA!!”
Jhonny menunduk, memeluk ayahnya, wajahnya memerah, air mata menetes deras. Suara putus asa bercampur gemetar, “Ayah… jangan tinggalkan aku…”
Eric menatap Marianne, tangan gemetar menyentuh pipi gadis itu. Matanya lembut tapi penuh luka, suara pelan namun tegas, “Marianne… setelah… istri ku tiada… aku merencanakan menjadikanmu… ibu pengganti Jhonny… Setelah nafasku hilang… aku mohon… jaga Jhonny seperti anakmu sendiri… dan satu hal lagi…”
Marianne terisak lebih keras, tubuhnya terguncang, kaki hampir tak mampu menahan. Eric mencondongkan tubuhnya sedikit, tersenyum lemah, “Marianne… aku… mencintaimu… dan… berjuanglah… sebagai Hero ke dua… yang ditakdirkan oleh… pedang pusaka Havenload itu…”
Seketika, napas Eric berhenti. Mata Marianne melebar, tubuhnya menekuk, lutut hampir menyentuh tanah, tangan gemetar menahan tubuh Eric. Suara Jhonny pecah, teriak keras: “TIDAK!!!”
Chika menatap tubuh Eric yang kini diam, wajahnya berubah menjadi kehampaan, air mata mengalir samar di pipi, rahang terkatup rapat. Ia merasa gagal, lututnya lemah, bahunya gemetar. Princes segera memeluk Chika, menempelkan wajahnya ke dadanya, tubuh kecilnya bergetar sambil menangis pelan, mencoba menahan putus asa Chika: “Chika… jangan putus asa… kau masih… masih Hero…”
Namun Jhonny, meski tubuhnya lemah dan terluka, berdiri perlahan, wajahnya memerah karena amarah dan kesedihan, mata memancarkan kemarahan yang membara. Ia mendorong Marianne dengan kekuatan kecilnya, suara gemetar tapi tegas: “MENJAUH DARI AYAH KU!! KAU TAK PANTAS BERADA DI DEPAN MAYAT AYAH KU!!”
Marianne menunduk, tubuhnya gemetar, kaki hampir tak mampu menahan, tapi matanya menatap Jhonny, suara tertahan: “Jhonny… aku…”
Jhonny menyodorkan pistol kecil ke kepala Marianne, tangan gemetar tapi tegas: “Jangan bicara lagi!” Suasana sunyi sejenak, hanya suara desiran angin dan reruntuhan bergesekan WHISH-CRRUNCH…
Dengan napas tersengal, Jhonny mengangkat tubuh ayahnya ke gerobak, langkahnya pincang tapi mantap, wajahnya memucat, tangan kecilnya gemetar menahan berat tubuh Eric. Ia berbisik sambil menatap Marianne, suara dipenuhi kebencian bercampur duka: “Aku… membencimu… Marianne…”
Gerobak perlahan bergerak menjauh, debu terangkat di belakangnya, Jhonny menatap ke belakang sesekali, matanya basah, bibir bergetar. Marianne berdiri terpaku, tubuhnya lemas, dada bergetar, tangannya gemetar.
Chika, masih pincang, menempelkan tangannya ke reruntuhan gedung untuk menopang tubuh, perlahan mendekati Marianne. Matanya bersinar samar di bawah helm, bibir bergetar: “Marianne…”
Marianne mundur beberapa langkah, menundukkan kepala, tubuhnya gemetar, air mata membasahi pipinya. Suara serak dan putus asa: “Tinggalkan… aku sendiri… aku mohon…”
Ia berjalan perlahan, menunduk, langkahnya berat di atas reruntuhan yang retak CRRUNCH-THUMP, debu beterbangan di kaki, tubuhnya mengecil di antara bayangan gedung yang hancur, perlahan menghilang dari pandangan Chika dan Princes.
Chika menatap punggung Marianne yang menjauh, bahunya gemetar, perisai dan Lumina di tangannya bergetar samar ZZZZZZ-BRRRR, rasa gagal menyelimuti hatinya. Princes menempel di sampingnya, tubuh mungilnya menahan Chika agar tidak roboh, wajahnya basah, mata menatap punggung Marianne yang hilang dengan duka.
Di lapangan, sisa reruntuhan dan warga yang selamat terlihat menatap hening, beberapa meneteskan air mata, angin meniup puing dan debu ke udara, meninggalkan sunyi yang pekat, hening kecuali suara tangisan Jhonny yang menembus keheningan sniffle-sniffle.