Vanya adalah putri kesayangan Hendra, seorang pria kaya yang memuja status sosial dan kasta di atas segalanya. Hidup Vanya terjepit dalam aturan emas ayahnya yang kaku, hingga sebuah tabrakan di pasar mengubah dunianya selamanya.
Arlan adalah pemuda liar, mandiri, dan hanya berbakti pada ibunya, Sujati. Sebagai seorang peternak dan penjual susu, Arlan dianggap "sampah" oleh Hendra. Namun, Arlan tidak pernah menundukkan kepala. Ia justru menantang dunia Vanya yang palsu dengan kejujuran dan cinta yang membara.
Saat cinta mulai tumbuh di antara perbedaan kasta, Hendra menyiapkan rencana keji untuk memisahkan mereka. Perpisahan tragis, pengorbanan nyawa, hingga munculnya Rayhan, seorang tentara gagah yang menjadi bagian dari cinta segitiga yang menyakitkan, akan menguji janji mereka.
Ini bukan sekadar cerita cinta biasa. Ini adalah tentang janji yang ditulis dengan air mata. Apakah Arlan dan Vanya bisa memenuhi Janji Cinta Selamanya mereka di tengah badai kasta dan rahasia masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: KEMBALINYA SANG PEWARIS
BAB 31: KEMBALINYA SANG PEWARIS
Langit di atas Punjab berubah menjadi abu-abu pekat, seolah mencerminkan gejolak yang kembali membara di hati Arlan. Setelah serangan mendadak di pasar desa, Arlan menyadari satu kenyataan pahit: sejauh mana pun dia berlari, bayang-bayang masa lalu akan selalu menemukan celah untuk mengejarnya. Dia menatap tangannya yang sedikit lecet akibat perkelahian tadi, lalu menatap Ibu Sujati yang sedang mengemas pakaian dengan tangan gemetar.
"Kita tidak bisa terus seperti ini, Bu," ucap Arlan dengan nada yang sangat rendah namun penuh ketegasan. "Bersembunyi hanya memberi mereka waktu untuk menyusun rencana yang lebih kejam. Jika mereka ingin perang, maka aku akan memberikan mereka perang di tanah yang mereka banggakan."
Sujati menatap putranya. Dia melihat perubahan besar. Arlan yang dulu penuh kelembutan kini memiliki api yang sama dengan ayahnya saat masih muda—api seorang pejuang yang tidak akan berhenti sebelum keadilan ditegakkan. "Apa yang akan kau lakukan, Nak? Kembali ke Delhi berarti masuk kembali ke kandang singa."
"Aku tidak akan kembali sebagai pengungsi, Bu. Aku akan kembali sebagai pemilik sah dari apa yang mereka curi," jawab Arlan. Dia teringat kembali pada setiap hinaan Suman dan setiap pukulan Hendra. Luka-luka itu kini bukan lagi beban, melainkan bahan bakar untuk keberaniannya.
Sementara itu, di sebuah hotel mewah di pinggiran Delhi, Hendra Kashyap sedang menyesap cerutu mahalnya dengan raut wajah yang penuh kepuasan. Dia baru saja dibebaskan karena "kurangnya bukti primer" yang secara ajaib menghilang dari arsip kepolisian setempat. Kekuasaan uang dan jaringan gelapnya masih bekerja dengan sangat baik.
Di depannya, seorang pria berseragam militer namun tanpa tanda pangkat duduk dengan sikap santai. Dia adalah Kolonel Vikram, mantan rekan kerja ayah Rayhan yang memiliki dendam lama terhadap keluarga Vashishth karena pernah dilaporkan atas kasus korupsi logistik.
"Rayhan sudah menemukan surat wasiat itu, Hendra," ucap Vikram dengan nada serak. "Jika dia berhasil membawa Arlan ke pengadilan militer dengan surat itu, kau tidak hanya akan kehilangan harta di Simla, tapi kau akan membusuk di penjara seumur hidup. Dan aku... namaku akan ikut terseret karena aku yang menandatangani perpindahan tanah itu secara ilegal dulu."
Hendra mengepalkan tangannya, membuat abu cerutunya jatuh berserakan. "Rayhan terlalu idealis. Dia pikir seragamnya bisa melindunginya dari dunia nyata. Aku sudah mengirim orang ke Punjab, tapi Arlan berhasil meloloskan diri. Anak itu punya nyawa sembilan."
"Jangan remehkan dia lagi," Vikram memperingatkan. "Dia punya darah Vashishth. Dan sekarang, dia punya alasan untuk membencimu lebih dari apa pun. Kita harus memancingnya keluar. Dan satu-satunya umpan yang akan membuatnya berlari ke pelukan kita adalah putri kesayanganmu, Vanya."
Di kediaman Vashishth, suasana semakin mencekam. Rayhan baru saja menerima kabar bahwa Hendra dibebaskan. Dia membanting berkas di mejanya dengan amarah yang meluap. Dia menyadari bahwa musuhnya bukan hanya seorang pria tua yang licik, tapi sistem yang sudah korup di sekelilingnya.
Vanya masuk ke ruang kerja dengan wajah cemas. "Rayhan, aku mendengar kabar dari gerbang. Para penjaga bilang ada instruksi baru dari markas pusat untuk mencabut perlindungan khusus di rumah ini. Apa yang terjadi?"
Rayhan mendekati Vanya, memegang bahunya dengan erat. "Vikram... pria itu sedang bergerak. Dia menggunakan pengaruhnya untuk mengisolasiku. Vanya, dengarkan aku. Kau harus tetap di dalam rumah. Jangan pergi ke mana pun tanpa pengawalan pribadiku. Aku merasa Hendra akan melakukan sesuatu yang sangat nekat."
Vanya menatap suaminya. Dia melihat beban yang begitu besar di mata Rayhan. "Kenapa semua ini terjadi, Rayhan? Kenapa kejujuran harus dibayar dengan ketakutan seperti ini?"
"Karena kebenaran adalah ancaman terbesar bagi orang-orang yang membangun hidupnya di atas kebohongan," jawab Rayhan. "Tapi aku berjanji padamu, aku akan menemukan Arlan sebelum mereka menemukannya."
Namun, ucapan Rayhan terlambat.
Sebuah deru mobil jeep militer terdengar di halaman depan. Bukan pasukan Rayhan, melainkan unit dari kepolisian militer yang dipimpin oleh perwira suruhan Vikram. Mereka membawa surat perintah untuk menggeledah rumah Rayhan atas tuduhan "penyalahgunaan wewenang dan penyembunyian dokumen negara".
Rayhan keluar dengan kepala tegak. "Ini gila! Atas dasar apa kalian menggeledah rumah seorang Mayor?!"
"Perintah atasan, Mayor Rayhan. Kami menerima laporan bahwa Anda menyembunyikan surat wasiat ilegal yang dapat memicu konflik agraria," jawab perwira itu dengan wajah dingin.
Saat rumah digeledah dan perhatian semua orang teralih, sebuah bayangan bergerak di taman belakang. Hendra tidak menunggu lama. Dia tahu Rayhan akan sibuk dengan urusan hukumnya. Di tengah kekacauan itu, seorang pelayan yang sudah disuap oleh Hendra memberikan isyarat pada Vanya untuk menemuinya di paviliun dengan alasan ada "pesan rahasia dari Arlan".
Vanya, yang didorong oleh kerinduan dan rasa khawatir pada Arlan, terjebak dalam jebakan tersebut. Saat dia sampai di paviliun, bukan Arlan yang dia temukan, melainkan Hendra yang sudah menunggunya dengan senyum mengerikan.
"Halo, Putriku sayang," bisik Hendra sambil membekap mulut Vanya dengan saputangan berbau menyengat. Vanya berusaha meronta, namun kesadarannya perlahan hilang.
Arlan sampai di stasiun kereta Delhi pada tengah malam. Dia hanya membawa satu tas kecil dan amarah yang dingin. Dia segera menuju sebuah telepon umum dan menelpon nomor pribadi Rayhan yang masih ia ingat.
"Rayhan, ini aku," ucap Arlan saat telepon diangkat.
Suara Rayhan terdengar sangat panik di ujung sana. "Arlan?! Kau di mana? Syukurlah kau menelpon. Arlan, dengarkan aku baik-baik... Vanya hilang. Hendra membawanya tepat di bawah hidungku saat kepolisian militer menggeledah rumah ini."
Arlan mencengkeram gagang telepon hingga buku jarinya memutih. Amarahnya meledak, namun dia tetap berusaha tenang. "Di mana dia membawanya, Rayhan? Beritahu aku lokasi gudang atau tempat persembunyian yang biasa Hendra gunakan di kota ini."
"Aku sedang melacak sinyal mobilnya, tapi mereka sangat lihai. Arlan, jangan bertindak bodoh. Kau adalah sasaran utamanya!"
"Dia menculik Vanya untuk memancingku, Rayhan. Dan dia berhasil," suara Arlan bergetar karena emosi. "Aku tidak akan menunggu prosedur militermu yang lambat. Aku akan menemuinya dengan caraku sendiri. Kirimkan lokasinya ke nomor ini dalam lima menit, atau kau akan menemukan mayat kami berdua besok pagi."
Arlan menutup telepon. Dia berdiri di tengah keramaian stasiun, menatap lampu-lampu kota yang seolah menjadi saksi bisu atas takdirnya yang kembali berdarah. Dia mengambil sebuah pisau lipat dari tasnya, membukanya, dan menatap pantulan matanya di bilah logam tersebut.
"Hendra Kashyap... kau melakukan kesalahan besar dengan menyentuh Vanya lagi," gumam Arlan. "Malam ini, aku akan menunjukkan padamu apa yang terjadi ketika seorang pria yang sudah kehilangan segalanya memutuskan untuk membalas dendam."