"Kamu aman di sini, Aura. Dunia luar itu jahat, hanya saya yang tidak akan pernah menyakitimu."
Kalimat itu adalah mantra sekaligus kutukan bagi Aura. Di usia 21 tahun, Arfan seharusnya menjadi pelindung, tapi baginya, Arfan adalah bayangan yang menelan kebebasannya. Setiap langkah Aura diawasi, setiap napasnya harus berizin.
Aura terjebak di antara dua pilihan, mencintai pria yang rela mati demi menjaganya, atau membenci pria yang perlahan membunuh jiwanya dalam sangkar emas bernama kasih sayang.
Ketika rahasia di balik sikap posesif Arfan mulai terkuak, sanggupkah Aura melarikan diri? Atau justru ia akan selamanya terkunci dalam Penjara Cinta yang ia bangun sendiri?
"Sebab bagiku, kehilanganmu adalah satu-satunya dosa yang tidak bisa kumaafkan." — Arfan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Patriciaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 - Kecelakaan 2
Di tengah kegelapan gudang yang mencekam, Aura hanya bisa mendekap tubuh Arfan yang kian mendingin. Suaranya sudah habis untuk berteriak minta tolong. Ia merasa dunianya seolah ikut berhenti berputar bersama napas Arfan yang kian tipis.
"Kak, bertahan... aku mohon..." isak Aura, wajahnya tenggelam di bahu Arfan yang bersimbah darah.
Tiba-tiba, sorot lampu mobil yang sangat terang membelah kegelapan dari arah gerbang gudang. Suara decitan ban terdengar kasar, disusul oleh derap langkah kaki yang terburu-buru. Tiga buah mobil hitam besar berhenti tepat di depan reruntuhan.
Beberapa pria berbadan tegap dengan setelan hitam langsung melompat turun. Salah satunya, seorang pria paruh baya yang tampak sangat profesional, berlari paling depan dengan wajah cemas yang tertahan. Dia adalah Pak Johan, asisten sekaligus orang kepercayaan Arfan yang selama ini bertugas memantau keamanan sang pelukis lewat pelacak GPS di jam tangan Arfan.
"Tuan Arfan!" teriak Pak Johan kaget melihat bosnya terkapar.
Ia segera memberi isyarat pada tim medis pribadi yang selalu bersiaga di salah satu mobil. Dengan sigap, mereka mengangkat tubuh Arfan ke atas tandu. Aura sempat terpaku, tangannya masih memegang ujung kemeja Arfan seolah takut pria itu akan hilang.
"Nona Aura, mari ikut kami. Anda juga terluka," ucap Pak Johan dengan nada tegas namun tenang. Ia membantu Aura berdiri, menuntunnya masuk ke mobil cadangan sementara Arfan dilarikan ke dalam mobil ambulans pribadi milik galeri.
Sepanjang perjalanan yang gila itu, Aura hanya bisa menatap kosong ke arah tangannya yang merah. Suara sirine di depannya terasa seperti mimpi buruk. Begitu sampai di rumah sakit swasta kelas atas milik kolega Arfan, pria itu langsung dilarikan ke IGD.
Lorong rumah sakit itu terasa begitu panjang dan dingin, aroma karbol yang tajam menusuk indra penciuman Aura, menambah rasa mual yang sedari tadi ia tahan. Ia duduk di kursi besi yang kaku, tepat di depan pintu IGD yang lampu merahnya masih menyala. Baju seragamnya masih menyisakan bercak kecokelatan, darah Arfan yang sudah mengering.
Di genggamannya, ponsel Arfan terasa sangat berat. Aura menatap layar kunci ponsel itu. Dadanya sesak. Foto dirinya yang sedang tertawa diam-diam di perpustakaan sekolah menjadi latar belakang ponsel itu.
"Segitunya kamu merhatiin aku, Kak?" bisik Aura lirih. Ia merasa takut, tapi melihat kondisi Arfan yang kritis di dalam sana, rasa takut itu kalah oleh rasa iba.
Aura menarik napas panjang, mencoba menstabilkan tangannya yang masih gemetar. Ia membuka daftar kontak. Hanya ada sedikit nama di sana, dan matanya tertuju pada satu nama Mama Saya.
Dengan harapan ada keluarga yang datang menemani Arfan, Aura menekan tombol panggil.
Tuuuut... Tuuuut...
Hanya dalam dua kali nada sambung, telepon diangkat. Namun, belum sempat Aura mengucap salam, sebuah suara wanita dari seberang sana langsung membentak dengan nada yang sangat tajam dan penuh kebencian.
"Berhenti mencari saya, Arfan! Kamu anak tidak tahu diri! Sudah saya bilang, jangan pernah telepon saya lagi kalau kamu cuma mau mengemis perhatian!"
Bip. Sambungan diputus secara sepihak.
Aura terpaku. Ia menjauhkan ponsel itu dari telinganya, menatap layarnya dengan tatapan tidak percaya. "Tante...?" gumamnya kosong. Air matanya kembali jatuh. Bagaimana bisa seorang ibu berbicara sekejam itu pada anaknya?
Aura tidak menyerah. Ia kembali menekan nomor itu. Arfan bisa saja mati malam ini, dan ibunya harus tahu.
Begitu telepon kembali diangkat, Aura langsung berteriak parau di sela isak tangisnya. "Tante, tolong! Ini bukan Kak Arfan, ini Aura! Tante, Kak Arfan kecelakaan... dia kritis, kepalanya luka parah karena nolongin aku! Tolong ke sini, Tante... Kak Arfan butuh Tante..."
Hening sejenak di seberang sana. Aura mengira wanita itu akan menangis atau menanyakan lokasi rumah sakit. Namun, yang terdengar kemudian justru suara tawa sinis yang sangat dingin, lebih dingin dari suhu ruangan rumah sakit ini.
"Lalu kenapa kalau dia kritis? Harusnya kamu biarkan saja dia mati di sana. Saya malah bersyukur kalau hari ini dia benar-benar mati dan berhenti jadi noda di hidup saya! Jangan telepon lagi!"
Tut... tut... tut...
Ponsel itu merosot dari tangan Aura, jatuh menghantam lantai dengan suara yang memekakkan kesunyian koridor. Aura menutup mulutnya dengan kedua tangan, tangisnya pecah sejadi-jadinya. Ia meringkuk di kursi tunggu, tergugu sendirian.
Ternyata, di balik kegilaan dan obsesi Arfan, ada luka sedalam samudera yang pria itu simpan. Arfan yang terlihat sempurna, Arfan yang kaya raya, ternyata adalah seorang anak yang dibuang dan didoakan mati oleh ibunya sendiri.
Di detik itu, Aura menyadari satu hal yang mengerikan, saat ini, di dunia ini, Arfan tidak punya siapa-siapa lagi selain dirinya.
Aura menatap telapak tangannya. Bukan cuma merah karena darah Arfan, tapi ternyata ada luka goresan panjang di lengannya yang terus merembeskan cairan merah. Rasa perihnya baru terasa sekarang, menyengat seiring dengan detak jantungnya yang tak beraturan.
"Nona, Anda juga terluka parah. Jangan biarkan luka itu infeksi," Pak Johan bersuara, langkahnya mendekat, mencoba menuntun Aura dengan sangat hati-hati.
Aura menggeleng lemah, matanya masih terpaku pada pintu IGD yang tertutup rapat. "Aku nggak apa-apa, Pak. Kak Arfan lebih butuh bantuan."
"Tuan Arfan sudah ditangani oleh dokter terbaik di negeri ini, Nona. Tapi Anda..." Pak Johan menjeda kalimatnya, menatap nanar pada seragam sekolah Aura yang carut-marut. "Jika Anda pingsan di sini, itu hanya akan mempersulit keadaan. Tuan Arfan... dia sangat teliti soal Anda. Dia bisa tahu jika ada satu saja luka baru di tubuh Anda yang tidak segera diobati."
Kalimat itu terdengar seperti ancaman halus, tapi Aura tahu itu benar. Arfan memang seobsesif itu.
"Ikut saya sekarang, atau saya harus memanggil perawat untuk membawa tandu untuk Anda juga?" Pak Johan memberikan pilihan yang tidak bisa ditolak.
Akhirnya, dengan langkah gontai dan kepala yang mulai terasa berputar, mungkin karena benturan di mobil tadi, Aura mengikuti Pak Johan. Mereka tidak pergi ke ruang tunggu umum. Pak Johan membawanya ke sebuah ruangan VIP yang lebih mirip kamar hotel daripada ruang perawatan.
Seorang perawat wanita sudah menunggu di sana dengan peralatan lengkap. Begitu Aura duduk di tepi ranjang, perawat itu mulai membersihkan luka di lengan dan pelipis Aura.
"Ssshh..." Aura meringis saat cairan antiseptik menyentuh kulitnya.
"Tahan sebentar, Nona. Lukanya cukup dalam," ucap perawat itu lembut.
Aura memejamkan mata. Di tengah rasa perih itu, bayangan Arfan yang memutar tubuhnya untuk jadi tameng kembali muncul. Arfan yang rela kepalanya dihantam besi demi Aura tetap utuh. Kenapa? Kenapa Arfan harus berkorban sejauh itu untuk orang yang selalu mengusirnya?
"Pak Johan..." panggil Aura lirih di tengah perawatan.
"Ya, Nona?"
"Kenapa Kak Arfan nggak punya siapa-siapa lagi? Maksudku... Tante tadi... kenapa dia sejahat itu?"
Pak Johan terdiam cukup lama, membelakangi Aura sambil menatap jendela besar yang menampilkan gemerlap lampu kota yang dingin. "Ada rahasia yang memang seharusnya tetap terkunci, Nona. Tapi yang perlu Anda tahu... Tuan Arfan adalah hasil dari sebuah luka yang tidak pernah disembuhkan. Dan Anda... Anda adalah satu-satunya obat yang dia percaya bisa menutup luka itu."
Aura tertegun. Obat? Bagaimana bisa dia menjadi obat bagi seseorang yang justru menjadi racun dan ketakutan dalam hidupnya selama ini?
Bersambung.....
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰