Sepuluh tahun lalu, hujan merenggut segalanya dari seorang gadis lima belas tahun. Tanah longsor menelan kedua orang tuanya tanpa jejak, memaksanya tumbuh sebelum waktunya. Sejak hari itu, Nala belajar satu hal: hidup bukan tentang memilih, tapi tentang bertahan.
Bersama adiknya, Niskala, ia pindah ke ibu kota dengan harapan masa depan yang lebih baik. Namun kenyataan jauh lebih kejam. Pendidikan dirampas, masa kecil dipaksa hilang, dan mereka harus berdiri di lampu merah menjual tisu demi bertahan hidup. Hingga suatu malam, dengan uang receh yang dikumpulkan diam-diam selama bertahun-tahun, Nala memilih kabur—membawa satu-satunya hal yang tak boleh hancur: mimpi adiknya.
Di kota yang tak pernah benar-benar peduli, Nala bekerja tanpa henti. Pagi sebagai kasir, siang di minimarket, malam menjadi barista, bahkan memasak mi di warnet sempit yang pengap. Tubuhnya lelah, perutnya sering kosong, tapi satu hal tak pernah goyah: Niskala harus tetap sekolah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saqila nur sasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebagai pengganti
“mungkin ini bukan versi diriku yang paling disukai semua orang, namun inilah versi yang akhirnya bisa bernafas tanpa harus meminta ijin”
***
Dari dekat, kontras itu terasa nyata. Jas mahal dengan potongan presisi. Jam tangan berkilau elegan. Sepatu kulit mengilap tanpa noda. Dan di hadapannya Nala dengan apron sederhana, sepatu yang mulai aus, wajah lelah yang belum sempat benar-benar pulih dari tangis.
Pertanyaan-pertanyaan memenuhi kepalanya.
Siapa dia?
Kenapa mencari aku?
Apa mungkin salah orang?
Rasanya hampir mustahil pria seperti ini datang untuknya. Dunia mereka terlihat terlalu berbeda untuk bersinggungan.
Pria itu menyandarkan punggungnya dengan tenang.
“Kamu Nala?” tanyanya akhirnya.
“Ya,” jawabnya singkat.
Suasana di antara mereka hening beberapa detik. Di sekitar mereka, suara mesin espresso dan denting sendok terdengar samar, tapi meja itu terasa seperti ruang terpisah dari dunia luar. Pria itu tidak langsung melanjutkan ucapannya.
Ia justru memasukkan tangannya ke dalam saku dalam jasnya, lalu mengeluarkan sebuah amplop tipis berwarna cokelat tua. Gerakannya tenang. Terukur. Seperti seseorang yang sudah memikirkan momen ini sejak lama.
Ia membuka amplop itu perlahan dan mengeluarkan selembar foto. Foto lama. Sedikit lusuh di sudutnya. Warna-warnanya sudah memudar, seperti tersentuh waktu terlalu sering. Ia mendorong foto itu ke arah Nala.
Nala menunduk.
Di sana—dua bayi perempuan. Kembar. Dibedong kain putih tipis. Wajah mereka hampir identik. Mata terpejam. Tangan kecil mengepal. Foto itu jelas bukan foto baru. Ada tekstur usia di kertasnya.
Nala mengernyit.
Ia mengangkat wajahnya, menatap pria itu dengan kebingungan yang tak disembunyikan.
“Maaf… saya tidak mengerti,” ucapnya pelan.
Pria itu tidak langsung menjawab. Ia justru mengangkat tangannya dan menunjuk salah satu bayi di foto tersebut.
“Yang ini,” katanya tenang.
Nala kembali melihat foto itu.
“Adalah kamu.”
Jantung Nala seperti berhenti sepersekian detik.
“Apa?” suaranya hampir tak terdengar.
Tatapan pria itu tidak goyah. “Kamu adalah salah satu dari bayi kembar itu.”
Dunia terasa miring. Nala menatap lagi foto tersebut, kali ini lebih lama. Ia mencari sesuatu—ciri, tanda, bukti—apa pun yang masuk akal.
“Tapi…” napasnya mulai tak stabil. “Saya tidak punya saudara kembar.”
Setidaknya, itulah yang ia tahu sepanjang hidupnya. Pria itu menyilangkan tangannya di atas meja.
“Kamu tidak diberitahu,” ucapnya datar.
Kata-kata itu membuat tengkuk Nala terasa dingin.
Pikirannya berputar cepat.
Ini tidak masuk akal. Tidak mungkin. Orang tuanya meski hidup mereka sederhana tidak pernah menyebut soal anak kembar. Tidak pernah ada cerita seperti itu. Tidak pernah ada bayangan bahwa hidupnya menyimpan rahasia sebesar ini.
“Atau,” lanjut pria itu pelan, “mungkin kamu memang tidak ditakdirkan untuk tahu… sampai sekarang.”
Nala mengangkat wajahnya perlahan. Matanya tajam, meski hatinya mulai goyah.
“Bapak siapa sebenarnya?” tanyanya lagi, kali ini lebih tegas.
Ia merasa seperti sedang ditarik masuk ke sesuatu yang terlalu besar untuk dipahami dalam satu malam. Setelah kehilangan pekerjaan, kehilangan tas, kehilangan rasa tenang—sekarang ia harus menerima kemungkinan bahwa hidupnya sendiri mungkin bukan seperti yang ia kira.
Foto itu masih tergeletak di antara mereka.
Dua bayi. Dua kehidupan.
Dan satu rahasia yang baru saja dibuka.
Nala menelan ludah.
Jika yang pria itu katakan benar maka pertanyaannya bukan hanya siapa dia.
Tapi juga siapa sebenarnya dirinya?
Pria itu kembali membuka amplopnya. Kali ini bukan foto bayi. Ia menggeser selembar foto lain ke arah Nala.
Seorang gadis.
Wajahnya—Nala membeku.
Gadis dalam foto itu memiliki garis wajah yang sama. Bentuk mata yang sama. Hidung, bibir, bahkan lekuk alisnya… seperti cermin dengan versi yang dipoles lebih sempurna.
Bedanya hanya satu.
Gadis itu mengenakan gaun mahal. Rambutnya ditata rapi dengan gelombang lembut. Senyumnya lebar, percaya diri, berdiri di latar belakang rumah besar yang tampak seperti halaman majalah.
Itu seperti melihat dirinya… di dunia yang berbeda.
Nala mengangkat wajahnya perlahan, napasnya terasa pendek.
“Siapa ini?” suaranya hampir tak stabil.
“Arsha Andhikara,” jawab pria itu tenang. “Anak saya.”
Hening.
“Dan,” lanjutnya tanpa ragu, “kamu juga anak saya.”
Kalimat itu jatuh seperti petir.
Nala merasa lantai di bawahnya hilang sesaat. Ia menatap foto itu lagi, lalu menatap pria tersebut. Mencari kebohongan. Mencari celah.
Namun pria itu justru mengeluarkan satu foto lagi.
Foto pernikahan.
Ia dan seorang wanita muda yang wajahnya—
Itu ibunya.
Lebih muda. Tersenyum. Berdiri di samping pria yang kini duduk di depannya.
Nala merasakan dunia berputar pelan.
“Anak kembar itu adalah anak kami,” jelas pria tersebut dengan nada yang tetap stabil, terlalu stabil untuk sebuah pengakuan sebesar ini. “Arsha ikut dengan saya. Kamu ikut dengan ibumu.”
Setiap kata seperti palu yang mengetuk kesadarannya. Ia teringat lelaki yang selama ini ia panggil Ayah. Yang membesarkannya dengan cara sederhana. Yang bekerja keras meski tidak pernah banyak bicara.
Bukan ayah kandungnya?
Dan ibunya… merahasiakan semua ini?
“Kami berpisah,” lanjut pria itu singkat. “Keadaan tidak memungkinkan waktu itu. Saya mencari kalian. Bertahun-tahun. Saya ke desa tempat ibumu tinggal. Baru beberapa bulan terakhir saya menemukan jejakmu.”
Nala tidak tahu harus merasakan apa lebih dulu.
Marah?
Hancur?
Bingung?
Semuanya bercampur.
Namun pria itu tidak berhenti di sana.
Ia menatap Nala lebih dalam.
“Saya tidak datang hanya untuk memperkenalkan diri,” katanya akhirnya. Ada sesuatu di nada suaranya sekarang. Lebih tajam. Lebih praktis.
Nala merasakan firasat buruk.
“Arsha,” lanjutnya, “sedang dalam perjodohan dengan keluarga besar rekan bisnis saya.” Nala tidak langsung mengerti arah pembicaraan ini.
“Semuanya sudah diatur sejak lama. Tapi sekarang situasinya… rumit.” Ia menyandarkan punggungnya, menatap Nala seperti sedang menilai.
“Saya ingin kamu menggantikan Arsha.”
Kalimat itu tidak masuk akal.
“Menggantikan…?” Nala berbisik.
“Dalam perjodohan itu.”
Sunyi total. Suara mesin kopi, suara pelanggan, semuanya seperti menjauh. Nala menatap pria itu dengan mata yang kini bukan hanya bingung—tapi terluka.
“Bapak baru menemukan saya,” suaranya bergetar, “dan hal pertama yang Bapak minta adalah… saya menikah menggantikan orang lain?”
Pria itu tidak menunjukkan emosi. Seperti ini hanya transaksi.
“Kamu dan Arsha identik,” katanya logis. “Pernikahan itu lebih bersifat kesepakatan keluarga. Tidak banyak yang akan menyadari.”
Nala merasakan napasnya tercekat.
Di satu sisi ia baru tahu bahwa pria yang membesarkannya bukan ayah kandungnya. Bahwa hidupnya selama ini berdiri di atas rahasia yang ibunya simpan rapat. Di sisi lain ayah kandungnya muncul bukan untuk memeluk, bukan untuk meminta maaf, bukan untuk menebus tahun-tahun yang hilang.
Tapi untuk memintanya menggantikan seseorang.
Seperti bidak.
Seperti solusi.
Seperti cadangan.
Hatinya yang sudah retak malam ini kini benar-benar terasa pecah.
“Ayah saya,” suaranya pelan tapi tegas, “adalah orang yang membesarkan saya.” Ia menatap pria itu lurus-lurus.
“Bukan Bapak.”
Untuk pertama kalinya, ada sedikit perubahan di mata pria itu. Tapi hanya sedikit. Nala menunduk sebentar, menatap foto bayi kembar itu lagi.
Dua kehidupan.
Satu tumbuh dalam kemewahan.
Satu bertahan dalam kesederhanaan.
Dan kini keduanya dipertemukan bukan oleh rindu.
Melainkan oleh kepentingan.
Dadanya kembali sesak lebih dalam dari sebelumnya.
Malam ini, ia kehilangan banyak hal.
Dan sekarang ia juga kehilangan kepastian tentang siapa dirinya sebenarnya.
Pria itu akhirnya bersandar lebih tegak.
“Nama saya Baskara Andhikara.”
Namanya diucapkan tanpa ragu. Tanpa gentar. Seolah nama itu memang terbiasa membawa bobot. Nala diam. Ia menatap pria yang kini resmi menyebut dirinya sebagai ayah kandungnya. Namun anehnya, tak ada rasa hangat sedikit pun di dadanya.
Hanya jarak.
“Saya tahu kehidupanmu,” lanjut Baskara tenang. “Saya tahu kamu bekerja di dua tempat. Saya tahu adikmu mendapat surat peringatan kampus. Saya tahu kamu baru saja kehilangan pekerjaan paruh waktu.”
Napas Nala tersendat.
Bagaimana dia bisa tahu… sejauh itu?
“Saya juga tahu,” sambungnya, “bahwa kamu sedang membutuhkan uang.”
Kalimat itu terasa seperti disentil tepat di titik paling rapuh dalam dirinya. Baskara menyilangkan tangan di atas meja.
“Saya akan memberikanmu lima puluh juta rupiah setiap bulan.” Angkanya disebut dengan ringan. Seolah lima puluh juta hanyalah angka kecil dalam percakapan sore.
“Asalkan kamu menggantikan Arsha.”
Sunyi.
Lima puluh juta.
Uang sebanyak itu bahkan tak pernah terlintas dalam bayangan Nala. Dengan jumlah itu, ia bisa melunasi tunggakan kampus Kala. Membayar kontrakan setahun. Mengganti semua yang hilang malam ini. Bahkan lebih.
Namun cara uang itu ditawarkan—
Seperti harga.
Nala mengangkat wajahnya perlahan.
“Kenapa bukan Arsha saja yang menikah?” tanyanya, suaranya tidak lagi goyah, tapi dingin. “Kenapa harus mencari saya? Kenapa harus serumit ini?”
Baskara menatapnya tanpa emosi berarti.
“Situasinya rumit.”
“Rumit bagaimana?” Nala menekan.
“Kamu tidak perlu tahu detailnya,” jawabnya singkat. “Yang perlu kamu tahu hanya satu—kamu cocok. Secara fisik, secara usia. Perjanjian akan dibuat jelas. Hak dan kewajiban tertulis. Kamu tidak akan dirugikan.”
Tidak akan dirugikan.
Seolah ini kesepakatan bisnis biasa.
“Arsha tidak bisa menjalani pernikahan itu saat ini,” lanjut Baskara. “Dan keluarga pihak sana tidak boleh tahu ada perubahan. Maka solusi terbaik adalah kamu.”
Solusi.
Kata itu menusuk. Nala tersenyum kecil. Tapi itu bukan senyum bahagia. Itu senyum seseorang yang baru saja memahami posisinya.
Bukan sebagai anak.
Sebagai solusi.
Sebagai pengganti.