Seorang laki-laki yang sudah lama mencintai seseorang dalam diam, berhasil menikahinya tapi bukan dengan hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pasaribu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pemakaman
Langit sore itu mendung, seolah ikut menunduk. Tanah pemakaman masih basah, bau tanah bercampur dengan doa-doa yang lirih. Di sepanjang jalan menuju pemakaman, deretan papan bunga berdiri berjajar rapi. Warna- warni cerahnya justru terasa kontras dengan suasana duka.
Tulisan-tulisan besar terbaca jelas,
“Turut Berduka Cita Atas Berpulangnya Damar”
(Keluarga Besar PT Aruna Pratama).
Keluarga Damar berdiri paling depan. Ibunya memeluk foto Damar erat-erat, bahunya gemetar. Ayahnya berdiri tegak di samping suaminya, tapi matanya kosong, menatap liang yang perlahan ditutup tanah.
Di sisi lain, Naya berdiri bersama keluarganya. Wajahnya pucat , matanya sembab, tapi tidak ada air mata yang jatuh. Seolah seluruh tangisnya sudah habis sejak hari Damar pergi.
Doa-doa dipanjatkan.
Angin bergerak pelan, menggoyangkan pita hitam yang terikat di papan-papan bunga.
Satu persatu pelayat maju dan mulai menabur bunga.
Teman- teman kantor Damar maju. Mereka mengenakan pakaian hitam rapi, wajah-wajah profesional yang hari ini runtuh dengan kehilangan.
“Dia orang baik,”bisik salah satu rekan kerjanya.
“Selalu datang paling pagi,”sahut yang lain pelan
“Perusahaan kehilangan orang baik,”ucap salah satu dari mereka lirih.
“Dan Naya kehilangan segalanya,”sahut lain nyaris tak terdengar.
Naya mendengarnya tapi tak menoleh.
Tak jauh dari mereka, seorang laki-laki berdiri sedikit terpisah. Jas hitamnya sederhana namun berkelas. Wajahnya tenang, nyaris tak berekspresi. Dialah CEO perusahaan tempat Damar bekerja, sosok yang jarang terlihat di acara pribadi karyawan.
Namun hari itu, ia datang.
Bukan karna jabatan.
Bukan karna formalitas.
Tatapannya sejak tadi tertuju pada Naya.
Ia memperhatikan cara Naya menggenggam ujung bajunya sendiri , seolah menahan diri agar tidak runtuh. Memperhatikan punggungnya yang lurus tapi rapuh. Memperhatikan bagaimana Naya berdiri di hadapan makam Damar tanpa bersandar pada siapapun.
CEO itu melangkah maju saat gilirannya menabur bunga. Ia berdiri di depan makam, menunduk singkat.
“Terimakasih atas kerja kerasmu,” gumamnya pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri.
Saat ia berbalik, pandangannya kembali jatuh pada Naya. Untuk sesaat, mata mereka bertemu.
Naya tidak bereaksi. Tidak tersenyum. Tidak menunduk. Hanya menatap kosong, lalu mengalihkan pandangannya kembali ke makam Damar.
CEO itu berhenti melangkah.
Dalam diamnya, ada satu pikiran yang terucap.
"Dia....kehilangan lebih dari sekadar seseorang."
Ia memilih mundur, kembali berdiri di tempat semula. Tidak mendekat. Tidak menyapa. Hanya mengamati seperti selama ini, dalam senyap.
Sore semakin turun. Pelayat mulai berkurang. Bahkan keluarga Damar sudah tak ada disana.
Namun Naya masih berdiri di sana.
“Sayang,,,,ayok pulang.”bisik ibunya pelan
“Ibu, duluan saja, tunggu aku di mobil”
Ayahnya mengusap kepala putrinya perlahan, "Jangan lama-lama ya, Nak." ucapnya lembut.
Naya tetap berdiri dalam diam.
Ayah, Ibunya meninggalkan Naya sendiri. Hanya Naya yang tinggal di tempat pemakaman itu.
Di tangannya, setangkai bunga putih yang sejak tadi ia genggam terlalu erat. Kelopaknya sedikit layu, bukan karna waktu, tapi karna jemarinya yang gemetar.
Naya melangkah pelan.
Satu langkah.
Lalu berhenti.
Matanya menatap nama Damar yang terukir. Huruf-huruf itu nyata, terlalu nyata untuk sesuatu yang ia ingin sangkal.
Ia berlutut.
Tanah di bawah lututnya lembap, dingin, tapi Naya tidak peduli. Ia menghela napas panjang, napas yang terdengar patah di tengah jalan.
“Dam.....aku tak pernah minta bunga, kamu juga tak pernah minta bunga, ta-tapi......” suaranya nyaris tak keluar.
“Ini yang pertama,” Naya menunduk sebentar, lalu mengangkat wajahnya kembali, "Tapi ini bukan yang terakhir, aku akan datang kembali membawa bunga untuk kamu," Naya berusaha tersenyum.
Dengan tangan yang bergetar, Naya meletakkan bunga itu di atas tanah makam. Ia merapikannya perlahan, seolah Damar masih bisa merasakannya.
Untuk beberapa detik, Naya hanya diam.
Tak ada tangis.
Tak ada isak.
Lalu bahunya bergetar.
Air mata jatuh satu-satu, menetes ke tanah yang baru ditimbun. Naya menunduk, menahan suara yang ingin pecah.
“ Aku masih disini, Dam.....”bisiknya lirih.
“ta-tapi.....tapi kamu nggak.”
Tangannya menyentuh tanah itu, pelan, ragu, seolah ingin memastikan bahwa yang ia hadapi benar-benar nyata.
Di kejauhan, seseorang masih berdiri.
CEO itu belum pergi. Ia menyaksikan dari jarak aman, tidak mendekat, tidak ingin mengganggu. Saat melihat Naya berlutut dan meletakkan bunga itu, rahangnya mengeras.
Bukan karna dingin.
Tapi karna sesuatu yang menusuk diam-diam.
Saat Naya akhirnya berdiri, ia menyeka air matanya dengan punggung tangan. Wajahnya tetap tenang, tapi matanya menyimpan luka yang belum sembuh.
Ia menatap makam Damar sekali lagi. Lama.
"aku pulang ya, Dam. Aku pasti akan datang lagi. Aku janji." gumamnya sendiri.
Lalu berbalik.
Tanpa tahu bahwa di belakangnya, ada sepasang mata yang menyimpan tekad untuk tetap memperhatikan, bukan untuk menggantikan, bukan untuk masuk paksa. Melainkan untuk menjaga jarak dari kesedihan yang masih terlalu dalam.