Enam tahun pengabdian dan cinta jarak jauh (LDR) berakhir sia-sia bagi Aurora. Ia didepak begitu saja lewat pesan singkat, diblokir dari seluruh aspek kehidupan sang mantan, dan digantikan oleh sosok "penjual kesedihan" yang ahli memanipulasi simpati. Luka itu dibawa pulang ke Medan, terkubur di balik kesuksesan yang ia bangun dalam diam.
Tiga tahun berlalu, ego sang mantan akhirnya runtuh. Di bawah tekanan kebutuhan penelitian S3 ibunya di pedalaman Bukit Lawang yang keras dan rawan, ia terpaksa menelan ludah sendiri (mengubungi kembali nomor yg dulu ia blokir). Ia mengharapkan bantuan, mungkin sedikit rasa iba.
Namun, yg ia temukan bukanlah mantan kekasih yg meratapi nasib.
Aurora menerima permintaan itu dengan senyum paling tenang. Bukan dengan amarah, ia menyambut mereka dengan kemewahan yg tak pernah mereka bayangkan. Sebuah Hiace VVIP dengan kursi pijat elektrik menanti di bandara, dikawal oleh sahabat2 loyal dan seorang fotografer yg siap mengabadikan penyesalan sang mantan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranu Kallanie Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemarahan Ayah
Hujan deras yang mengguyur tiba-tiba seolah menambah kelam suasana di dalam Hiace. Di tengah keheningan yang mencekam pasca pengakuan Rico, tiba-tiba terdengar suara decitan ban yang beradu dengan aspal basah.
CITTT! Bang Ucok menginjak rem sedalam-dalamnya.
Mobil terhenti mendadak. Semua orang yang terlelap tersentak bangun dengan wajah linglung dan panik. Di depan sana, di bawah sorot lampu mobil yang menembus tirai hujan, terlihat segerombolan pemuda desa dengan wajah sangar dan pakaian lusuh menghadang jalan sempit itu.
Beberapa di antaranya membawa balok kayu, wajah mereka menunjukkan permusuhan yang nyata.
"Aduh, gawat... ini pemuda Desa Hulu. Mereka terkenal sangat menutup diri dan benci orang asing," bisik Bang Ucok dengan suara gemetar, tangannya mencengkeram kemudi.
Siska langsung pecah tangisannya, ia memeluk lengan Ibu Adrian dengan tubuh gemetar hebat. Sementara itu, Sherly mulai beraksi dengan drama "suci"-nya.
Sambil terisak kencang, ia mulai meracau.
"Ya Allah... ini pasti teguran karena kita kurang zikir selama di jalan! Mas Adrian, ini semua karena kita bersama orang-orang yang nggak menutup aurat, makanya kita kena bala! Istighfar kalian semua!" seru Sherly dengan suara melengking.
Ayah Adrian yang sudah berada di puncak kesabarannya sejak di masjid tadi, menoleh ke belakang dengan mata memerah.
"DIAM KAMU, SHERLY! Adrian! Kondisikan pacarmu ini! Jangan sampai mulutnya bikin kita semua habis dikeroyok di sini!" bentak Ayah Adrian hingga Sherly terdiam membatu karena shock.
Di tengah kegilaan itu, Aurora yang baru saja bangun dan masih tampak sedikit lemas, justru menunjukkan ketenangan yang luar biasa. Ia menghela napas panjang, merapikan rambutnya sebentar, lalu menatap Rian.
"Bang Rian, tolong siapkan payung. Saya mau turun," ucap Aurora tenang dan elegan, seolah di luar sana bukan ancaman maut yang menunggu.
Saat Aurora hendak membuka pintu, Adrian secara naluriah menahan lengan mantan kekasihnya itu.
"Ra, jangan! Mereka berbahaya, kamu lihat sendiri wajah-wajah mereka. Jangan gila!"
Aurora menoleh, menatap mata Adrian yang dipenuhi ketakutan. Ia memberikan senyum lembut—senyum yang sangat berwibawa.
"Ayo, Adrian... kamu juga ikut turun. Kamu laki-laki, kan? Temani aku," ucapnya pelan namun menantang harga diri Adrian.
Adrian tertegun. Dengan jantung berdegup kencang karena takut sekaligus dorongan untuk melindungi Aurora, ia akhirnya mengangguk. Mereka bertiga—Aurora, Adrian, dan Rian—turun ke bawah guyuran hujan lebat.
Aurora berjalan paling depan. Di bawah payung besar yang dipegang Rian, ia melangkah mendekati pemimpin pemuda yang bertubuh paling besar.
Adrian berdiri di samping Aurora, tubuhnya menegang, siap pasang badan jika ada serangan.
Namun, yang terjadi justru di luar dugaan.
Aurora melepaskan kacamata hitamnya, menatap pemimpin pemuda itu tepat di matanya dengan binar yang ramah namun penuh kharisma.
"Selamat sore, Abang-abang sekalian. Maaf jika kehadiran kami mengganggu ketenangan desa ini," suara Aurora mengalun lembut namun tegas, mengalahkan suara rintik hujan.
"Saya Aurora, putri dari Pak Andre. Kami ke sini membawa niat baik untuk penelitian dan membantu kelestarian alam di sini. Kami sangat menghormati adat desa ini, itulah sebabnya kami berhenti untuk meminta izin."
Mendengar nama "Pak Andre" disebut dan melihat ketulusan serta kecantikan luar biasa yang terpancar dari wajah Aurora yang basah terkena sedikit percikan hujan, para pemuda yang semula ganas itu tampak terpaku.
Pemimpin mereka perlahan menurunkan balok kayunya. Kharisma Aurora seolah membius amarah mereka.
"Kau... putrinya Pak Andre yang sering bantu sekolah di bawah?" tanya si pemimpin pemuda dengan suara yang mendadak melunak.
"Benar, Bang. Saya ke sini membawa keluarga besar saya," jawab Aurora sambil tersenyum manis.
Seketika, suasana berubah drastis. Pemimpin pemuda itu malah mengangguk hormat.
"Maafkan kami, Kak. Kami pikir kalian orang kota yang mau merusak hutan kami. Kalau Kak Aurora yang datang, kami akan kawal sampai ke tujuan. Mari, biar kami antarkan ke rumah Kepala Suku untuk prosesi perizinan adat supaya perjalanan kalian aman."
Adrian yang berdiri di sampingnya hanya bisa terpana. Ia melihat bagaimana para pemuda yang tadi menyeramkan itu kini justru bersikap sangat sopan kepada Aurora.
Ia menyadari satu hal lagi: pengaruh Aurora di wilayah ini bukan hanya soal uang, tapi soal dihormati karena budi baiknya yang sudah mengakar jauh sebelum perjalanan ini dimulai.
Dari dalam mobil, Ayah dan Ibu Adrian melihat pemandangan itu dengan rasa takjub sekaligus malu yang kian mendalam.
Sementara Sherly hanya bisa menggigit bibir di pojok kursi, merasa bahwa semua "dakwahnya" tadi benar-benar terlihat konyol dibandingkan dengan aksi nyata Aurora yang menyelamatkan nyawa mereka semua.
Pintu otomatis Hiace tertutup dengan bunyi klik yang mantap, memutus suara deras hujan di luar. Adrian kembali ke kursinya dengan baju yang sedikit basah, sementara Aurora duduk dengan tenang di baris tengah, mengusap butiran air di lengannya dengan tisu yang diberikan Sarah.
Suasana di dalam mobil mendadak sunyi, namun ketegangannya jauh lebih terasa daripada sebelum mereka turun. Ayah Adrian menarik napas panjang, lalu menoleh ke arah Aurora dengan binar mata yang penuh rasa bangga dan haru.
"Aurora... Ayah benar-benar tidak tahu harus bilang apa," ujar Ayah Adrian, suaranya terdengar berat karena emosi.
"Tadi itu benar-benar luar biasa. Kalau bukan karena ketenanganmu, kharismamu, dan budi baikmu pada warga di sini, entah apa yang akan terjadi pada kita. Kamu benar-benar perempuan yang berkelas, Nak. Tidak hanya cantik wajah, tapi nyalimu dan cara bicaramu itu menunjukkan kualitas manusia yang sebenarnya."
Nenek Adrian mengangguk mantap.
"Benar, Pak. Aurora ini memang berlian. Semakin ditekan, semakin bersinar."
Sherly yang merasa "panggungnya" direbut lagi, tidak tahan untuk tidak berkomentar. Dengan suara yang gemetar karena kesal dan dibuat-ibu sedih, ia berbisik pada Adrian namun cukup keras untuk didengar,
"Iya... hebat ya. Mungkin karena sudah biasa bergaul dengan orang-orang kasar di hutan, makanya bisa akrab. Kalau aku kan memang dididik untuk lemah lembut dan takut pada situasi berbahaya seperti itu..."
Mendengar bisikan itu, kesabaran Ayah Adrian yang sudah tipis sejak kejadian di masjid tadi akhirnya meledak. Beliau memutar tubuhnya sepenuhnya ke arah kursi belakang, menatap Sherly dengan tatapan yang membuat nyali siapa pun menciut.
"CUKUP, SHERLY!" bentak Ayah Adrian.
Suaranya menggelegar di dalam kabin mobil yang sempit, membuat Siska dan Ibu Adrian tersentak kaget.
"Ayah... tenang, Yah," Adrian mencoba menenangkan, namun Ayahnya langsung mengangkat tangan, memberi isyarat agar Adrian diam.
"Tidak, Adrian! Kamu diam!" Ayah Adrian kembali menatap Sherly yang kini mulai menangis sesenggukan.
"Sherly, dengarkan saya baik-baik. Sejak kita berangkat, saya sudah mencoba bersabar dengan segala tingkah lakumu. Kamu berulang kali menyerang Aurora dengan kata-kata yang kamu bungkus dengan bungkus agama, seolah-olah kamu yang paling suci di sini!"
"Tapi Om, aku cuma mau mengingatkan..." sela Sherly sambil terisak.
"Mengingatkan apa?!" potong Ayah Adrian tajam.
"Kamu bicara soal kewajiban wanita muslimah, tapi lisanmu terus-terusan menyakiti orang yang sedang memuliakan kita di rumahnya sendiri! Kamu menyebut dia tidak menutup aurat, tapi kamu sendiri tidak bisa menutup busuknya hatimu dari rasa iri! Tadi di depan sana, saat nyawa kita terancam, kamu hanya bisa menangis dan menyalahkan orang lain. Sementara Aurora, wanita yang kamu rendahkan itu, dia turun menghadapi bahaya untuk menyelamatkan nyawamu juga!"
Sherly menutupi wajahnya dengan tangan, tangisannya semakin kencang, namun Ayah Adrian belum selesai.
"Saya malu, Sherly. Saya malu pada diri saya sendiri dan saya malu pada keluarga Aurora karena Adrian membawa wanita yang tidak tahu cara berterima kasih seperti kamu ke perjalanan ini. Kalau kamu masih mau ikut sampai ke Bukit Lawang, tutup mulutmu! Berhenti merasa paling benar dan mulailah belajar bagaimana menjadi manusia yang tahu budi. Paham?!"
Sherly tidak bisa menjawab, ia hanya mengangguk kecil di tengah isakannya. Adrian hanya bisa mematung, tidak berani membela kekasihnya karena ia tahu setiap kata yang diucapkan ayahnya adalah kebenaran yang mutlak.
Ibu Adrian pun hanya terdiam, menyadari bahwa pembelaannya terhadap Sherly selama ini adalah sebuah kesalahan besar.
Di baris tengah, Aurora tetap diam, menatap ke luar jendela yang buram karena hujan, seolah ia tidak mendengar keributan yang terjadi di belakangnya—sebuah bentuk keanggunan yang paling menyakitkan bagi siapa pun yang membencinya.
aurora ni kepribadian ganda ato gimana sih kadang dingin kadang welcome😭
nyesel banget deh tu si adrian lebih milih ulet bulu kaya sherly
semoga endingnya aurora gak usah balikan sama adrian deh...